
Terlihat kedai kopi sudah mulai sepi. Tidak heran, waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam, para supir truk harus kembali bergegas untuk menghindari kepadatan jalan tol di pagi hari. Ailey dan ayahnya tampak sibuk berbenah sebelum kembali ke rumah.
“Kamu seharusnya menemani Kevin saja di rumah. Gara-gara kamu ke sini, Kevin pulang 'kan ke Jakarta! Bapak tidak apa-apa, lho di kedai sendiri.” Kata ayah.
“Bapak ini aneh. Anak perempuannya masa disuruh berduaan terus sama laki-laki? Bapak sama sekali tidak sayang, ya sama aku?” Katanya kesal.
"Hahaha. Soalnya Kevin kelihatan pria baik-baik dan bukan pria sembarangan. Dia sepertinya tulus padamu.”
"Bapak bicara apa, sih?” Timpalnya malu.
"Tapi, Milo boleh juga. Bapak, sih yes mau yang mana pun.” Katanya menggoda sambil menyikut lengan anaknya.
Ailey tidak mengindahkan ucapan ayahnya tersebut. Selain dia tidak ingin terlihat salah tingkah, dia juga tidak mau keceplosan berbicara soal Milo yang ternyata adalah malaikat.
“Anakku sudah dewasa rupanya.” Sambung ayah sambil menghela napas.
Suara air dari keran menyela pembicaraan sejenak. Ayah yang sedang mencuci gelas-gelas bekas minum segera mengelapnya dan menaruhnya di rak kayu.
“Bapak tidak menyesal kamu merantau ke Jakarta. Banyak perubahan dalam diri kamu, nak.” Lanjutnya.
“Maksudnya, Pak?” Tanya Ailey.
"Kamu tahu sendiri, 'kan semenjak kejadian buruk yang menimpamu itu, kamu menjauh dari kehidupan sosial dan hanya berkutat pada diri sendiri. Bahkan, kamu enggan untuk berteman dengan laki-laki.” Jelas ayah.
Ailey terdiam. Dia menuju ke kursi yang ada di depan ayahnya lalu duduk. Kedua tangannya dia jadikan sandaran untuk menopang dagunya seolah tidak ingin melewatkan ucapan dari ayah.
__ADS_1
“Nak, kamu sudah tumbuh menjadi wanita dewasa. Pasti banyak yang terjadi di Jakarta hingga membentukmu menjadi manusia yang kuat seperti ini.”
“Bapak sebenarnya ingin berkata apa? Jujur saja, tidak usah berbelit-belit.” Kata Ailey tidak sabaran.
Ayah menghela napasnya panjang, “Bapak tahu ada yang tidak beres sehingga kamu pulang ke rumah.”
Tatapan mata tajam sang ayah bagai menembus relung hati Ailey. Sebenarnya, wanita itu tidak ingin menceritakan secara detil terkait apa yang sesungguhnya terjadi. Hal ini untuk menghindari kekhawatiran yang akan dirasakan oleh ayahnya. Tetapi, tampaknya ikatan ayah dengan anak itu memang tak terbantahkan hingga ayah dapat mengetahui bahwa anaknya menyembunyikan sesuatu.
"Pak, sepertinya Ailey mau menyerah saja untuk mengadu nasib di Jakarta.” Katanya tercekat.
Terdengar seperti hal yang serius, ayah beranjak dari tempat cucian dan duduk di sebelah anak semata wayangnya itu. Tangannya yang sudah keriput menepuk-nepuk punggung Ailey seakan memberikan isyarat untuk melepaskan beban yang ada.
“Ailey tidak mampu jika harus berkompetisi dengan orang-orang kaya di sana. Aku pikir, aku bisa bertoleransi terhadap perlakuan buruk yang aku terima. Tapi, semakin aku pendam, semakin pedih rasanya.” Ujar Ailey dengan suara gemetar.
“Toleransi itu tidak sama dengan memendam semuanya sendiri. Terkadang, Tuhan mengirimkan kita orang-orang yang bersedia membantu kita tanpa pamrih, yang bisa menjadi tempat kita bercerita. Bapak rasa, kamu sudah memilikinya.”
“Kamu ingat waktu pertama kali kamu divonis mengidap HIV?” Tanya ayah dengan lemah lembut.
Ailey mengangguk sambil menahan air matanya untuk tidak mengalir.
"Waktu itu kamu masih terlalu muda untuk dapat menerima kenyataan. Kamu mengunci diri di kamar berhari-hari hingga suatu waktu, kamu melihat seekor burung pipit dengan sayap abu-abu yang terluka bertengger di depan kaca jendela.”
“Burung pipit abu-abu...” Ailey teringat akan cerita ayahnya tersebut dan sosok Milo dengan sayap kusamnya terlintas di benak wanita itu.
“Masih ingat dengan apa yang kamu lakukan kala itu?” Tanya ayah.
__ADS_1
“Aku... membawanya masuk dan merawat lukanya sampai sembuh.” Jawabnya.
Sang ayah tersenyum lembut memperhatikan anaknya yang telah tumbuh menjadi wanita dewasa. Genggaman tangannya semakin erat seperti sedang mengalirkan kekuatan besar untuk Ailey.
“Kamu mengira kamu yang menolong burung itu. Sesungguhnya, burung itulah yang menolong kamu. Setelah sayapnya sembuh, kamu melepaskannya dan membiarkannya terbang tinggi. Ekspresi wajahmu saat itu sangat puas dan bahagia. Lihat, bahkan Tuhan bisa memakai binatang untuk memulihkan hidup manusia!” Ujarnya.
Air mata pun berlinang di pipi Ailey. Dia tidak sanggup menahan tangisnya lagi. Namun, kali ini tangisan yang diberikan adalah tangisan syukur dan bahagia. Kepulangannya yang dia anggap sebagai pelarian, justru membawa hikmah yang menyejukkan.
“Pak, maafkan Ailey jika Ailey sering membuatmu khawatir.” Katanya sambil terisak-isak.
“Bapak sudah tidak khawatir lagi. Sekarang kamu memiliki orang-orang yang peduli padamu dan bisa kamu andalkan. Untuk apa Bapakmu ini mengkhawatirkan anakku yang sudah besar ini?” Ujarnya menenangkan. “Bapak tahu kamu masih ingin menyelesaikan beberapa hal di Jakarta, bukan?”
Ailey menatap wajah ayahnya yang penuh ketulusan. Sungguh, tak ada satu hal pun yang bisa dia sembunyikan dari ayah.
“Kembalilah ke Jakarta. Kejarlah impianmu! Bapak akan selalu mendoakanmu dari sini.” Lanjut ayah dengan senyuman yang melegakan.
"Bapak...” Ailey lalu memeluk ayahnya untuk melepaskan semua kegusaran yang melingkupinya. Tidak ada satu kata yang mampu mengungkapkan kebahagiannya kala itu. Semuanya sudah terdengar di dalam hati sang ayah secara ajaib, bagaikan benang yang terajut rapi yang menghubungkan hati keduanya.
Mereka berdua saling berpelukan dengan berlinang air mata seakan setiap tetesannya adalah masalah hidup yang berguguran. Satu per satu beban yang dipikul Ailey seolah meninggalkannya dan tergantikan dengan kekuatan yang diberikan oleh kasih sayang seorang ayah.
“Kamu hanya perlu ingat bahwa kamu sudah jauh lebih kuat dari sebelum kamu pergi merantau. Pasti semuanya akan baik-baik saja. Percaya saja!” Kata ayah menyemangati.
"Bagaimana mungkin aku bisa meninggalkan Bapak setelah Bapak berbicara seperti ini? Terima kasih, Pak! Terima kasih.” Balas Ailey sambil memeluk ayahnya dengan erat.
"Sudah, pikirkanlah hidupmu. Bapak akan baik-baik saja.” Katanya sambil menepuk punggung anak perempuannya tersebut. “Oh, iya. Jangan lupa untuk menentukan pilihanmu! Milo atau Kevin?” Bisik ayah.
__ADS_1
“Bapak, masih saja bisa-bisanya menggodaku dalam keadaan seperti ini.” Timpal Ailey sambil tertawa,
Awan membuka jalannya bagi terang sang bulan. Setiap pancaran sinarnya menembus hingga ke relung hati Ailey. Dia sadar, dia tidak pernah sendiri. Buat apa takut? Buat apa gusar? Selama doa dipanjatkan oleh sang ayah, kekuatan untuk menopang hidupnya bertambah berkali-kali lipat. Burung pipit dan Milo, apakah mereka memiliki keterkaitan satu dengan yang lain? Entahlah, tapi kepakan sayap yang sama selalu menunjukkan jalan bagi Ailey untuk bisa bertahan dan menempuh hari esok.