Engelskraft: Cinta Malaikat Terbuang

Engelskraft: Cinta Malaikat Terbuang
Kepak Sayap Burung Pipit


__ADS_3

Tiga hari telah berlalu setelah mukjizat yang dialami oleh ayah Kevin. Ailey bekerja seperti biasa di kafe Engelskraft, tetapi ada satu hal yang tidak biasa. Milo tidak pernah terlihat lagi semenjak malam itu. Biasanya pemilik Engelskraft tersebut selalu datang untuk memantau usahanya, namun dia tidak pernah berkunjung satu kali pun.


Selain itu, pengunjung kafe juga tidak seramai biasanya. Antrean tidak lagi tampak, hanya beberapa orang yang terlihat minum kopi atau pun melakukan pertemuan di sana. Apa aura malaikat Milo yang selama ini menarik banyak pengunjung? Pikir Ailey.


“Lagi-lagi sepi. Di saat seperti ini bukankah bos kita seharusnya tidak menelantarkan kita? Huh.” Ferdi mengeluh dari balik meja bar.


“Biasanya tangan ini selalu sibuk menjamu pengunjung, tapi sudah hampir 2 jam tidak ada pengunjung yang datang.” Timpal Ailey.


“Suasana kafe jadi berbeda sekali saat bos tidak ada. Bosan.” Ujar Ferdi.


Mereka berdua hanya bertopang dagu sambil menunggu ada tamu yang datang. Suasana kafe yang sepi menurunkan semangat mereka.


“Ai, kamu tidak berpikir untuk kembali bekerja di Abram Elektronik? Aku dengar sekarang toko itu ramai, lho. Sepertinya nasib bisnis kafe ini mendadak tertukar dengan toko tersebut.” Keluh Ferdi tak bersemangat.


Ailey menghela napas panjang. Bukannya tidak pernah terpikir untuk kembali bekerja di Abram, apalagi dia sudah mendapat restu dari ayah Kevin sehingga bukan sesuatu yang mustahil untuk bekerja kembali di sana melalui jalur dalam. Tetapi dia masih menghargai Milo yang memberikan pekerjaan di kafenya dan sungkan untuk mengundurkan diri.


“Mario juga tidak bersemangat semenjak pak bos tidak datang lagi. Kerjaan dia hanya duduk di kursi yang biasa pak bos duduki. Huh, mau jadi apa kafe ini?” Tambahnya.


Ailey melongok ke bagian outdoor kafe dan melihat Mario duduk di sana termenung. Wajahnya terlihat lesu dan tidak bertenaga. Sepertinya ada yang sedang dipikirkan olehnya. Rasa penasaran menghampiri wanita itu. Ia berjalan menuju tempat Mario berada.


“Sudah tiga hari Milo tidak datang ke kafe.” Kata Ailey pada Mario yang sedang melamun.


“Oh, iya…” Mario hanya menjawab singkat dengan pandangan kosong.


“Sebenarnya apa yang terjadi?” Tanya Ailey cemas melihat sikapnya yang tidak biasa.


“Kembalilah bekerja.” Kata Mario menghindar.


Ailey kesal melihat tingkah pria itu. Dia tidak mengindahkan perintahnya dan langsung duduk di sebelah Mario. Mario melihatnya dengan heran.


“Kamu pasti tahu sesuatu. Apa yang terjadi padanya?”


“Untuk apa kamu menanyakan hal tersebut? Kamu sudah kembali pada CEO Abram itu, ayahnya juga sudah sembuh dengan ajaib. Jadi, tidak perlu memikirkan yang lain. Kebahagiaan sudah di depan matamu, Ai.” Kata Mario cuek.


Perkataan tersebut membuat hati Ailey semakin dongkol. Bukan jawaban seperti itu yang ingin ia dengar.


“Bagaimana aku bisa bahagia jika tahu bahwa kondisi Milo tidak baik-baik saja setelah usahanya untuk menyembuhkan ayah Kevin?!”


“Eh, kamu kok tahu?” Mario kaget tidak percaya atas pengakuan Ailey.


“Iya. Aku ada saat Milo sedang berdoa dan menyembuhkan ayah Kevin.” Kata Ailey tegas sambil menatap Mario dengan penuh rasa bersalah.


Mario tertegun. Dia melihat Ailey sedang menahan tangisnya karena tahu bahwa ketidakhadiran Milo saat ini akibat kekuatan malaikatnya. Seharusnya tidak boleh ada manusia yang tahu campur tangan malaikat terhadap hidup orang bumi.


“Mario, tolong beritahu aku apa yang sebenarnya terjadi padanya.” Ailey memohon dengan mata berkaca-kaca. Terbesit wajah pucat Milo di malam itu.

__ADS_1


“Jangan begitu! Aku tidak sanggup melihat perempuan menangis.” Kata Mario kesal.


“Kamu tahu Milo dimana, ‘kan? Bawa aku ke tempatnya. Aku ingin memastikan dia baik-baik saja.”


Sambil menghela napas panjang, Mario tak memiliki pilihan lain selain mengiyakan Ailey. Dia paham seberapa cemasnya Ailey pada temannya itu. Lalu, Mario menjentikkan jarinya. Seketika itu juga, waktu berhenti berputar hingga tidak ada lagi manusia yang mampu bergerak di sekitarnya, kecuali Ailey.


“Apa yang kamu lakukan?” Tanya Ailey kaget.


“Kamu ingin tahu kondisinya, bukan? Aku akan mengantarmu.”


Mario berdiri dari kursi dan cahaya menyilaukan terpancar dari tubuhnya. Sayap berwarna putih bersih mencuat dari punggungnya. Akhirnya, Mario menunjukkan wujud malaikatnya pada Ailey.


“Ayo, ikut aku!” Katanya sambil mengulurkan tangannya dengan cahaya yang masih berpendar.


Sambil mengagumi sayap putih yang sempurna, Ailey menjawab uluran tangannya. Kemudian, Mario mengepakkan sayap dan membawa Ailey terbang dengan kecepatan penuh.


***


Mario menurunkan Ailey di depan pintu sebuah vila megah di tengah hutan. Mata wanita itu menunjukkan kekaguman sekaligus heran atas keberadaan bangunan tersebut yang dikelilingi oleh pohon-pohon besar yang tinggi. Ia memperhatikan ke sekelilingnya, namun ia tak menemukan satu manusia pun di sana.


“Ini adalah markasku dan Milo.” Kata Mario membuyarkan lamunan Ailey.


“Aku tak tahu kalau malaikat juga punya markas.” Timpalnya.


Ailey memasuki vila tersebut. Lampu di dalam ruangan tidak ada yang menyala. Kegelapan hanya tersisih oleh beberapa lilin yang menyala di beberapa sudut. Dia berjalan perlahan dengan sangat hati-hati.


“Kenapa tidak menyalakan lampu?” Tanya Ailey.


“Milo yang menyuruhku demikian. Aku akan melakukan apapun itu yang membuatnya lebih nyaman.” Jawab Mario.


Ailey kembali melangkahkan kakinya sambil ditemani oleh Mario yang berjalan di sebelahnya. Sedikit demi sedikit, cahaya lilin semakin banyak terlihat. Tak jauh dari hadapannya, terlihat Milo yang sedang meringkuk di lantai yang hanya beralas karpet.


“Milo!” Teriak Ailey lalu berlari menghampirinya. “Milo, kamu kemana saja?” Tanya Ailey cemas sambil berderai air mata.


Milo yang terkulai lemas membuka matanya dan melihat sosok perempuan yang dicintainya ada di sana. Bagaikan tidak memiliki tenaga, dia hanya memberikan senyuman kecil sambil berusaha memegang pipi Ailey.


“Milo, apa yang terjadi denganmu? Mengapa kamu kurus begini?” Ailey terus menangis melihat kondisi Milo yang memprihatinkan. Ia langsung menggenggam tangan malaikat tersebut dan menaruhnya di pipi yang basah karena air mata.


Mukanya pucat dan terlihat tirus. Tangannya lunglai sampai Ailey harus menahannya agar tidak terjatuh. Tubuhnya kurus dan lemas, seperti tidak bernyawa.


“Mario, kenapa kamu membawanya ke sini?” Kata Milo dengan suara yang sangat kecil.


“Maafkan aku. Hanya ini yang bisa aku lakukan untukmu.” Jawabnya.


“Ailey…” Gumam malaikat itu.

__ADS_1


“Kenapa? Kenapa kamu jadi seperti ini?” Derai air mata tak tertahankan mengalir deras di pipi Ailey.


“Tidak perlu khawatir. Aku bahagia karena sudah selesai menjalankan hukumanku.” Jawabnya lirih.


“Apa maksudmu? Hukuman macam apa ini?” Protes Ailey.


Mario membuang mukanya karena tidak kuat mendengar perbincangan menyedihkan itu. Sebagai malaikat, dia pun tidak bisa berbuat apa-apa dan hanya bisa berdiri di sana tak berdaya.


“Ailey, berbahagialah dengan Kevin.” Kata Milo terbata-bata.


Dalam penglihatan Ailey, tubuh fisik Milo mulai kehilangan wujudnya. Samar-samar penglihatannya dapat menembus apa yang ada di belakang tubuh malaikat itu. Perlahan-lahan tubuh Milo mulai menghilang sambil memancarkan cahaya putih.


“Mario! Apa yang terjadi pada Milo? Mario!!” Teriak Ailey penuh kepanikan.


“Di hari ketiga, dia akan terangkat ke surga. Sudah waktunya.” Jawab Mario sambil menangis terisak.


“Tidak! Kalian berdua jangan mempermainkanku! Milo! Milo!” Ailey berteriak histeris melihat tubuh Milo yang mulai kehilangan wujudnya.


“Ailey, sekali lagi maafkan aku apabila pernah merusak hidupmu.” Ucapnya sambil menitikkan air mata.


“Aku sudah memaafkanmu! Aku sudah memaafkanmu! Jadi, tolong jangan menghilang! Tetaplah di sini bersamaku!” Teriak Ailey meronta.


Bagaikan mendengar kata-kata yang indah, Milo memejamkan matanya. Senyuman dia ukir di sudut bibirnya. Wajahnya terlihat sangat damai.


“Tidak! Kamu bahkan belum mengepakkan sayapmu yang ketiga kalinya untukku. Bukankah kamu harus menunjukkan sayapmu kembali sebelum akhirnya pulang ke rumah Tuanmu? Milo!!!”


Seluruh wujud fisiknya telah menghilang sepenuhnya. Cahaya malaikat itu pun pudar dan tak terlihat lagi. Sunyi, sepi, yang terdengar hanya suara hembusan napas dan tangisan pedih Ailey.


“Milo. Kenapa kamu pergi dengan cara seperti ini?” Ailey terpejam sambil menangis tersedu-sedu menyaksikan kepergian malaikat pelindungnya.


“Ailey, Milo sudah selesai menjalankan tugasnya. Dia sudah kembali ke rumah Tuan.” Kata Mario menenangkan.


Cahaya lilin dimatikan oleh Mario satu per satu. Ia lalu menyalakan lampu yang ada di seluruh vila tersebut hingga tidak ada lagi kegelapan yang bersemayam.


Chirp chirp chirp.


Suara seekor burung terdengar. Ailey membuka matanya yang sembab karena air mata. Sambil memfokuskan penglihatannya ke karpet tempat Milo terbaring, samar-samar ia melihat seekor burung pipit kecil bersayap kusam sedang menatapnya.


“Burung pipit.” Gumam Ailey dan Mario bersamaan.


Ia teringat akan burung pipit yang pernah ia rawat saat masih remaja dulu. Entah mengapa, ia yakin bahwa burung pipit yang sama ada di hadapannya. Apalagi terdapat bekas luka yang mirip di sayapnya. Ailey lalu mengangkat dengan lembut burung tersebut di atas telapak tangannya. Dia tersenyum melihat bola mata burung pipit itu yang tampak polos dan penuh kasih.


“Milo.” Panggil Ailey pada burung itu.


Chirp chirp chirp. Kemudian burung itu bernyanyi merdu sambil mengepakkan sayap kecilnya dan terbang pergi.

__ADS_1


__ADS_2