
Menjelang 3 hari sebelum tanggal gajian, Ailey dan Siti diminta berkumpul di kantor Abram Corporation. Dalam sebuah ruangan meeting, tim marketing dan tim operasional sudah duduk dengan laptop masing-masing yang terbuka. Mereka terlihat bersemangat.
Lina, sebagai pimpinan tim operasional melihat Ailey dan Siti di depan pintu dan mempersilahkannya masuk dan duduk di dalam. Salah seorang wanita yang terlihat lebih tua dari Lina segera berdiri dan menyapa mereka.
“Jadi ini SPG yang mengurus toko elektronik kita di Mall Abram City? Salam kenal, saya Silvia, pimpinan tim marketing Abram.” Sapa Silvia dengan ramah.
“Salam kenal, Bu Silvia.” Jawab Ailey dan Siti secara serempak.
“Ngomong-ngomong, ada apa, ya memanggil kami berdua?” Tanya Siti dengan sopan.
“Oh, maaf kami belum memberitahu kalian agenda hari ini. Kami ingin memberitahu kalian mengenai strategi marketing untuk toko elektronik kami di Mall Abram City.” Jawabnya dengan bersemangat.
“Kami membutuhkan kalian untuk dapat bekerja sama dalam menaikkan penjualan toko tersebut selama periode payday. Jadi, tolong dengarkan baik-baik!” Sambung Lina tegas.
Silvia segera maju ke depan ke layar televisi yang sudah terhubung dengan materi presentasi di laptopnya. Dia memaparkan kampanye marketing yang akan dilakukan selama periode payday. Dari materi tersebut, Engelskraft menjadi salah satu poin penting dalam rencananya tersebut.
“Pak Kevin sudah berhasil negosiasi dengan pemilik Engelskraft untuk dapat berkolaborasi saat tanggal gajian nanti. Kita akan mengadakan promosi besar-besaran dengan diskon hingga 50% bagi pengunjung Engelskraft yang melakukan pembelian atas cheesecake di sana.” Jelas Silvia dengan mata berbinar-binar.
“Saya yakin kalian tahu jika Engelskraft merupakan salah satu tenant kita yang menyumbang traffic terbanyak di Mall Abram City. Dengan strategi ini, setidaknya akan meningkatkan pengunjung toko kita sebanyak 50%. Jadi, saya ingin kalian bersungguh-sungguh saat kampanye ini berjalan.” Lanjut Lina menyambung Silvia yang tengah menjelaskan.
Semangat Ailey dan Siti terpompa begitu mendengar Silvia dan Lina yang begitu berapi-api. Seakan percaya diri atas strategi tersebut, Ailey spontan mengangguk memberikan tanda setuju. Di dasar hatinya yang paling dalam, Ailey akan berusaha semaksimal mungkin untuk mensukseskan rencana perusahaannya tersebut untuk mempertahankan toko yang hampir gulung tikar.
“Satu lagi, saya tidak ingin menemukan ada yang bolos lagi di jam kerja!” Lina memperingatkan dengan keras sambil memandang Ailey dengan tajam.
Ailey menelan ludahnya. Dia tahu, Lina sedang membicarakan dirinya yang sudah beberapa kali bolos saat jam kerja. Merasa bahwa pekerjaannya bukanlah hal yang main-main, Ailey kembali mengangguk dan membalas tatapan Lina. Lina terlihat puas melihat reaksi anak buahnya tersebut.
__ADS_1
“Bagaimana, kalian siap?” Silvia bertanya meyakinkan.
“Siap, Bu!” Jawab Ailey dan Siti serentak.
“Jika kalian berhasil memperoleh pendapatan di atas target yang ditetapkan selama kampanye tersebut, saya akan memberikan bonus kepada kalian.” Lanjut Silvia memberikan semangat, “Mari kita semua bekerja sama dengan baik mulai saat ini.”
***
Ailey yang sedang makan malam di warteg dekat kosannya mengingat kembali hasil meeting tadi siang. Sambil mengunyah tempe orek dan sayur buncis, otaknya masih bekerja karena bersemangat untuk menyambut kampanye periode gajian. Jika dia berhasil meningkatkan penjualan, bukan hanya karirnya yang terselamatkan, tapi dia juga akan mendapatkan bonus atas penghargaannya.
“Mikirin apa, sih? Hati-hati tersedak!” Suara Milo terdengar dari sebelahnya.
“Milo? Ngapain kamu di sini?” Hampir saja Ailey menyemburkan makanan yang ada di mulut karena kaget.
“Makan. Kamu pikir aku sedang apa di warteg?” Jawab Milo jahil.
“Rumahku tidak jauh dari sini. Lalu karena lapar, aku mampir saja ke tempat makan terdekat yang bisa kulihat.” Jawabnya santai. “Baru pulang dari mall?”
“Iya, kamu juga?” Ailey bertanya balik.
“Tidak, aku ada urusan di tempat lain hari ini. Jadi, tidak sempat ke mall.” Jawabnya.
“Eh, kamu tahu ‘kan kalau perusahaanku akan melakukan kampanye dengan kafe mu?” Lanjut Ailey bertanya.
“Oh, sudah diumumkan, ya. CEO mu yang mengemis-ngemis padaku untuk berkolaborasi dengan Engelskraft. Padahal dengan uang dan brand image yang dia miliki, seharusnya dia bisa berkolaborasi dengan brand lain yang lebih terkenal dari Engelskraft, lho.” Jawab Milo menjelaskan.
__ADS_1
“Hei, jangan merendah begitu! Kafe mu itu lagi hits banget, tahu! Nggak kalah dari brand-brand lain yang sudah lebih dulu ada.” Balas Ailey.
“Ya, mungkin saja! Aku rasa, campur tangan Tuhan lah yang membuat kafe ku seperti sekarang ini.” Kata Milo sambil mengedipkan matanya.
“Jelas saja Tuhan baik padamu, 'kan kamu malaikat.” Goda Ailey.
“Hahaha! Kamu masih tidak percaya aku malaikat? Lagipula, Tuhan itu memang baik kepada semua makhluknya, termasuk manusia.” Kata Milo bijak.
“Aku kadang tidak bisa membedakan kamu bohong atau tidak. Sekilas aku hampir mempercayaimu jika kamu seorang malaikat. Hahaha!” Balas Ailey sambil menggelengkan kepalanya.
Milo hanya bisa membalasnya dengan senyuman manis di pipinya. Sambil menyeruput teh hangat yang ada di hadapannya, Milo memperhatikan Ailey yang tertawa dengan lepas. Di dekat bibir Ailey terlihat ada sebutir nasi yang menempel. Milo yang tahu bahwa Ailey tidak menyadarinya karena sibuk tertawa mengulurkan tangannya dan menyeka butiran nasi tersebut dengan ruas jari telunjuknya.
Seketika Ailey menghentikan tawanya dan menatap Milo terpaku. Mukanya memanas karena merasakan sentuhan lembut dari jari pria yang ada di depannya. Segera setelah butiran nasi itu tersapu, Ailey menundukkan wajahnya sambil mengusap bibirnya dengan telapak tangannya.
“Ma…maaf. Ada butiran nasi yang menempel.” Kata Milo tidak enak.
“Kamu…kamu harusnya bisa bilang saja padaku, tidak perlu seperti ini.” Balas Ailey terbata-bata sambil menutupi wajahnya yang merah merona.
Suasana kedua orang itu terlihat canggung di tengah warteg yang lumayan ramai malam itu. Keduanya saling memalingkan muka karena merasa malu atas apa yang barusan terjadi. Milo bahkan tidak sanggup memulai pembicaraan kembali karena jantungnya berdegup cukup kencang karena sentuhan jari di bibir Ailey.
“A…aku sudah selesai makannya. Aku pulang duluan, ya.” Pamit Ailey dan bergegas meninggalkan Milo di warteg.
Milo hanya terdiam mematung, tak sanggup membalas sepatah kata pun. Tangannya sedikit gemetar karena lemas atas perbuatannya sendiri.
“Mas, itu temannya belum bayar.” Ibu penjaga warteg mengingatkan Milo dari balik etalase.
__ADS_1
“Hah? Ya, ampun! Biar aku yang bayar saja. Maaf, ya Bu!” Kata Milo panik.
Temaram malam hari saat itu meninggalkan bekas yang hangat di hati Milo. Padahal, ada aturan yang membelenggu dirinya untuk tidak boleh jatuh hati. Sebuah peraturan yang tidak boleh dilanggarnya untuk tetap dapat bertahan hidup di dunia.