Engelskraft: Cinta Malaikat Terbuang

Engelskraft: Cinta Malaikat Terbuang
Hujan dan Kisahnya


__ADS_3

Hari pertama bekerja sukses diselesaikan oleh Ailey. Setelah mengganti baju kerjanya dan mengenakan sepatu kets miliknya, Ailey memutuskan untuk berkeliling sebentar di Mall Abram City. Ini pertama kalinya ia berada di dalam mall terbesar se-Indonesia itu. Selama ini, dia hanya tahu tempat high-end itu dari televisi. Sungguh bangganya Ailey bisa bekerja di sana hingga dia tidak ingin menyia-nyiakan hari pertamanya bekerja tanpa melihat-lihat seluruh tenant yang ada.


Mall Abram City terbagi menjadi empat bagian besar, yaitu fashion & jewelry, hobby & gadget, café & restaurant, entertainment dimana masing-masing menempati lantai 1, 2, 3, dan 4. Sejak didirikannya mall ini, harga properti di sekitar naik hingga tiga kali lipat karena banyak orang menjadikan Mall Abram City sebagai pusat destinasi hiburan dan juga bisnis. Setiap hari, tempat itu selalu dipadati oleh pengunjung, baik yang hanya sekedar makan bersama keluarga hingga pertemuan bisnis.


Pandangan Ailey teralihkan begitu melewati sebuah kafe bernama Engelskraft dengan nuansa gothic yang sarat akan wangi kayu cendana. Sebenarnya dia tidak begitu suka dengan apapun yang bernuansa gelap dan mistis, namun wangi cendana yang semerbak menarik perhatiannya. Ia melangkah memasuki kafe tersebut. Dari kejauhan, dia melihat sesosok pria yang perawakannya familiar sedang duduk di sudut kafe.  Pria tersebut balas melihat Ailey dan mengunci tatapan wanita tersebut.


“Milo?” Gumam Ailey begitu menyadari siapa pria yang tengah duduk sendirian itu.


“Hai, Ailey!” Milo berdiri dan melambaikan tangannya seolah memang sedang menunggu kedatangan Ailey.


Ailey menyambut panggilan Milo dan berjalan ke arahnya. Kenapa bisa bertemu dengan pria itu lagi? Apakah ini sebuah kebetulan atau memang sudah direncanakan entah oleh siapa?


“Ayo, silahkan duduk!” Sapa Milo ramah.


“Kamu sering ke sini?” Tanya Ailey sambil menggeser kursi dan duduk persis di depan Milo.


“Tidak juga, sebenarnya ini kali pertama aku ke sini.” Jawab Milo.


“Kamu tidak sedang menguntitku ‘kan?” Ailey bertanya penuh curiga.


“Hahaha! Tenang saja, aku bukan pria seperti itu, kok.” Timpal Milo dengan santai.


“Baguslah! Karena kebetulan yang aneh sekali selama 2 hari berturut-turut bertemu denganmu yang notabene merupakan orang asing bagiku.” Kata Ailey.


Milo hanya tersenyum kecil dengan gugup. Sambil menggaruk-garuk kepalanya, Milo menatap ke jendela mencoba mengalihkan pandangan.


“Kemarin kamu pergi cepat sekali seperti hilang ditelan bumi.” Sambung Ailey penasaran.


“Oh, aku ada urusan mendadak jadi aku langsung terbang berpindah tempat dan tidak sempat memberitahumu.” Ujar Milo dengan polos.


“Omonganmu ngaco lagi. Memangnya kamu punya sayap seperti burung?” Ucap Ailey tidak percaya.


“Ah, iya kamu tidak percaya dengan perkataanku kemarin, ya. Tidak apa-apa juga, sih.” Jawab Milo.

__ADS_1


“Begini…,” Ailey menghela napas sejenak. “Sebenarnya aku ingin meminta maaf kepadamu kalau kemarin aku kelewatan, tapi km begitu cepat pergi."


Milo terdiam mendengar pengakuan Ailey. Ia tertawa kecil sambil menggelengkan kepalanya. “Sesuai dugaanku, kamu benar-benar wanita yang baik. Tidak perlu meminta maaf begitu. Harusnya aku yang minta maaf karena pergi begitu saja tanpa berpamitan. Pasti kamu mengira aku orang aneh seperti psikopat atau semacamnya.”


"Bagaimana tidak? Mana ada orang normal yang blusukan hingga masuk ke dalam timbunan sampah. Melihat kamu bisa nongkrong di kafe begini, sudah dipastikan kamu bukan pemulung yang suka mengais sampah kotor.” Terang Ailey.


"Hahahahaha, kritis sekali ya kamu. Hahaha.”Milo tertawa terbaha-bahak mendengar celotehan Ailey.


Mereka berdua tampak menikmati perjumpaan kali itu. Batasan-batasan orang asing seakan terangkat begitu saja. Ailey yang semula antipati dengan Milo, terlihat mulai mengikuti gaya bicara Milo. Jika orang lain tidak tahu yang sebenarnya terjadi, pasti mereka berdua dianggap teman lama dengan hanya melihatnya dari jauh.


Tidak terasa hari sudah semakin gelap. Ailey yang sedang seru berbincang dengan Milo dikagetkan oleh suara petir yang menggelegar.


"Tampaknya aku harus segera pulang. Bisa berabe kalau kehujanan di jalan.” Ucap Ailey.


“Mau aku antar?” Kata Milo.


"Tidak usah, aku tidak mau merepotkanmu.” Jawab Ailey sungkan.


“Lagi-lagi imajinasimu terlalu tinggi. Hati-hati, Tuhan bisa saja menghukummu karena berbicara yang tidak-tidak!” Timpal Ailey.


“Aku lebih kenal Tuhan daripada kamu. Lagipula, tampaknya aku sudah terbiasa dengan hukuman-Nya.” Balas Milo berbisik dengan penuh kehati-hatian.


"Hahaha! Laki-laki gila! Ya sudah, aku pulang dulu, ya!” Seru Ailey sambil berdiri dari kursi yang didudukinya.


"Baiklah, hati-hati di jalan!” Milo membalas, “Ngomong-ngomong, terima kasih sudah menemaniku ngobrol panjang lebar, ya. Hehe."


Ailey bergegas keluar dari kafe sambil melambaikan tangannya untuk berpamitan pulang. Entah kenapa, Ailey merasa senang sekali setelah berbincang dengan Milo. Mungkin karena selama ini ia kurang bersosialisasi akibat stres karena menganggur.


Betul saja, begitu keluar dari Mall Abram City, hujan besar langsung mengguyur Jakarta. Ailey yang takut masuk angin langsung berteduh kembali di lokasi drop off. Dia melihat jam di tangannya yang sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Perasaan kalut menyelimuti Ailey. Bila pulang terlalu malam, tentunya jalanan akan semakin sepi. Kecemasan menghinggapinya jikalau kejadian jaman sekolahnya terulang kembali.


Detik berganti menjadi menit. Pengunjung sudah mulai meninggalkan mall tersebut dengan kendaraan-kendaraan pribadinya. Suasana yang tadinya ramai perlahan mulai sepi. Hanya hujaman air hujan yang terdengar.


“Kok, masih di sini?” Milo mengagetkan Ailey yang sedang termenung menatap hujan.

__ADS_1


“Ah, Milo! Bagaimana aku bisa pulang? Hujannya deras sekali dan aku lupa membawa payung.” Keluh Ailey.


“Kamu tidak memesan taksi online?” Tanya Milo memastikan.


“Sejujurnya, aku sedang berhemat.” Jawab Ailey malu.


“Sudah kubilang, aku antar saja!” Milo memaksa untuk pulang bersama.


“Terbang maksudmu? Jangan mengada-ada! Cape dengarnya, tau!” Balas Ailey.


"Hahaha tidak terbang, kok. Aku ada mobil. Kamu tunggu di sini, ya.” Ujar Milo sambil bergegas menuju parkiran.


Ailey heran dengan kebaikan pria itu. Baru 2 hari berkenalan, tapi Milo tidak keberatan untuk mengantarnya pulang. Sebenarnya, Ailey merasa sungkan untuk diantar oleh orang yang baru dikenal tapi daripada tidak bisa pulang, ia tidak memiliki pilihan lain.


Suara klakson mobil menderu dari kejauhan. Sebuah mobil SUV berwarna putih mendekat dan berhenti di depan Ailey.


“Silahkan naik.” Sahut Milo dari dalam mobil.


Ailey membuka pintu penumpang di depan dan segera masuk ke dalam mobil. Lalu tercium wangi parfum mobil yang sangat khas. Bau kayu cendana.


“Bau kayu cendana ini mirip sekali dengan yang ada di kafe tadi?” Ailey bertanya penasaran.


“Apakah kamu tidak suka baunya? Wah, kalau begitu aku harus mengganti parfum ruangan di mobil dan kafe juga, ya.”


“Hah? Maksudmu?” Ailey bertanya keheranan.


"Oh, aku belum cerita, ya. Engelskraft itu adalah bisnis kecil-kecilan milikku. Hehe.” Jawab Milo dengan malu-malu.


“Serius?!!!” Ailey kaget terbelalak.


"Terserah mau percaya atau tidak. Cepat kenakan sabuk pengamanmu.” Ujar Milo.


Sembari menembus derasnya hujan, Ailey bertanya dalam hati tentang siapa sebenarnya pria yang mengantarnya pulang itu. Pertemuan pertama di tempat pembuangan sampah, pertemuan kedua di sebuah café yang diakuinya sebagai bisnis miliknya. Dua situasi yang sangat bertolak belakang

__ADS_1


__ADS_2