Engelskraft: Cinta Malaikat Terbuang

Engelskraft: Cinta Malaikat Terbuang
Perdebatan Nurani


__ADS_3

Alarm ponsel membangunkan Ailey di pagi hari. Dengan sigap dia mandi dan bersiap untuk berangkat kerja. Tiga bulan telah berlalu sejak pertama kali dirinya bekerja di Abram. Hal ini membuatnya sudah terbiasa dengan rutinitas harian sebagai SPG di sana. Beberapa kali ia sempat meragukan dirinya sendiri apakah bisa melalui masa percobaan karena sentimen negatif yang diberikan oleh atasannya. Namun, siapa yang menyangka bahwa karyawan kecil seperti Ailey mampu bertahan melewati banyak kesulitan di tempatnya bekerja hingga akhirnya resmi menjadi pegawai kontrak di Abram Elektronik.


Sambil menyusun aura positif di dalam hatinya, Ailey menjejakkan kaki keluar dari kosannya. Seakan melihat hantu, dia terperanjat menemukan CEO-nya berdiri di hadapannya. Tepat di depan pintu gedung kosnya.


“Pak Kevin?” Sahut Ailey kaget.


“Hai.” Sapanya canggung.


“Bapak ngapain di sini?” Tanya Ailey sambil menyeret pria itu menjauh dari kos.


“Oh, ngapain ya? Saya ingin mengajakmu berangkat bareng ke Mall Abram City. Hehehe.” Jawab Kevin sambil malu-malu.


“Dari mana Bapak tahu alamatku?” Lanjut Ailey.


“Mudah sekali, saya punya akses ke sistem personalia perusahaan.” Jawabnya tanpa ragu. “Surprise!”


“Sungguh mengejutkan, sih. Terima kasih tapi aku bisa berangkat sendiri.”


“Hei, jangan begitu! Saya sudah capek-capek ke sini untuk menjemputmu. Sempat dua kali nyasar karena salah masuk gang, kamu tidak kasihan?” Kata Kevin beralasan.


“Pak, saya tidak pernah meminta Bapak menjemput saya. Lagipula apa kata orang nanti jika tahu Bapak ke kampung seperti ini.” Balas Ailey.


“Anggap saja ini untuk membalas janji saya yang gagal waktu itu untuk mengantarmu pulang. Tidak perlu sungkan.”

__ADS_1


Ailey terdiam sebentar. Dia ingat waktu itu Kevin pernah ingin mengantarnya pulang. Tapi karena ada telepon mendadak yang mengharuskan pria itu pergi, jadinya Ailey batal diantar pulang oleh mobil sport mewahnya.


“Kalau Bu Lina tahu bagaimana? Saya tidak enak, Pak.” Kata Ailey cemas.


“Tidak perlu khawatir. Asalkan kamu tidak memberitahunya, semua akan baik-baik saja.” Jawab Kevin santai.


“Tapi dia tunangan Bapak, lho. Jawaban Bapak tadi seakan-akan menempatkan saya sebagai selingkuhan Bapak. Menyeramkan!” Ailey merespon sambil memeluk kedua lengannya memberikan kesan jijik.


“Wah, perempuan tukang ge-er seperti kamu ini memang menyebalkan. Saya hanya bersikap baik pada karyawan saya sendiri.” Kilahnya.


“Yakin? Bapak pernah menjemput Siti?” Ujar Ailey sambil mengernyitkan alisnya.


Kevin hanya membalas dengan mengangkat bahunya sedikit sambil mengalahkan pandangannya ke arah lain. Sungguh laki-laki iseng, sengaja memberikan kode ambigu yang dapat membuat orang lain salah tanggap.


Kevin menghela napas dan tersenyum kecil, “Perempuan pada umumnya tidak akan pernah menolak ajakan saya. Ternyata kamu memang berbeda, ya. Begini saja, saya akan tetap mengantarmu karena saya sudah di sini. Supaya tidak ada rasa tidak nyaman dengan pegawai lain, saya akan menurunkanmu di lampu merah terdekat dari mall.”


“Apa semua CEO sama sepertimu, selalu menggampangkan banyak hal, Pak? Hahaha.” Timpal Ailey sambil tertawa. Dia tidak menyangka Kevin akan memberikan solusi semudah itu tanpa rasa aneh sedikit pun.


“Baiklah, hari ini saja, ya. Ngomong-ngomong mobil Bapak dimana?” Lanjut Ailey bertanya.


"Saya parkir di pinggir jalan raya. Saya tidak berani masuk ke dalam gang, takut lecet.” Jawab Kevin.


Cuaca pagi itu cukup cerah, ditambah dengan dua anak muda yang saling merespon kehadiran satu sama lain dengan hati berbunga. Sejujurnya, Ailey berniat untuk menghindar dari Kevin agar tidak terjadi kesalahpahaman dengan atasannya. Tetapi, kemunculan CEO yang tiba-tiba tersebut agaknya membuat hati perempuan itu luluh. Ailey pun menyadari bahwa perilaku CEO-nya tersebut tidak wajar diberikan kepada seorang karyawan biasa seperti dirinya. Namun apa daya, tampaknya dia juga menikmati saat-saat bersama dengan Kevin.

__ADS_1


Siaran radio dari mobil mewah Kevin terdengar sangat jernih akibat head unit dan subwoofer yang andal di kelasnya. Ditemani oleh alunan lagu romantis yang diputar oleh radio DJ membuat keduanya yang duduk bersebelahan terlihat gugup.


“Penyiar radionya kenapa memutar musik seperti ini, sih? Harusnya musik yang semangat di pagi hari.” Ujar Kevin sambil memegang kemudi.


“Ganti saja, Pak daripada komplain terus.” Timpal Ailey.


Dengan cekatan, Kevin segera memindahkan saluran radio. Beberapa kali mengganti siaran, lagu yang diputar masih saja seputar percintaan. Tampaknya Kevin mulai kesal dan akhinya membiarkan lagu-lagu romantis mengalun di dalam mobilnya. Ailey yang melihat tingkah gugup bosnya itu segera memalingkan mukanya ke arah jendela untuk menyembunyikan tawanya.


Tiba-tiba alarm dari ponsel Ailey berbunyi dan memecah suasana canggung keduanya. Ailey yang baru ingat bahwa jam minum obatnya telah berubah segera mematikan alarm dengan panik. Akibat kemarin lupa minum obat di jam yang semestinya, Ailey harus menyesuaikan jam minum obatnya perlahan agar bisa kembali ke waktu yang biasanya.


“Barusan ada telepon tidak kamu angkat?” Tanya Kevin yang tidak menyadari bahwa suara nyaring itu adalah suara alarm.


"Bukan, Pak. Itu alarm ponsel saya.” Jelas Ailey.


“Alarm? Kamu biasanya bangun jam segini? Gawat juga punya karyawan yang suka bangun siang.” Goda Kevin sambil tertawa.


Ailey hanya terdiam mendengar candaan CEO-nya tersebut. Dia sibuk memikirkan bagaimana caranya untuk meminum obat tanpa diketahui oleh Kevin. Jika pria itu tahu bahwa Ailey adalah pengidap HIV, bisa-bisa dia dikeluarkan dari perusahaannya detik itu juga. Bagai didukung oleh semesta, seorang pengemis menghampiri mobil Kevin yang sedang berhenti karena lampu merah. Ailey melihat peluang untuk segera meminum obat begitu Kevin meladeni pengemis yang sedang meminta-minta di sebelahnya. Saking paniknya, Ailey tidak sengaja menjatuhkan satu butir obat ke kursi penumpang yang didudukinya. Lebih parahnya, ia tidak menyadari bahwa ada obat yang terjatuh di mobil bosnya itu.


“Saya turunkan kamu di sini saja, ya. Tidak apa-apa 'kan?” Tanya Kevin begitu sampai di lampu merah terdekat dari Mall Abram City.


“Iya, tidak apa-apa, Pak. Terima kasih banyak, ya.” Kata Ailey sambil membuka pintu penumpang. Sebelum menutup pintu, Ailey mengingatkan kembali untuk tidak menjemputnya, "Lain kali jangan jemput saya lagi, ya. Bapak tahu 'kan betapa menyeramkannya Bu Lina.” Sambung Ailey sambil menutup pintu setelahnya.


CEO Abram tersebut tersenyum kecil melihat karyawannya itu berlari meninggalkan mobilnya. Ia memperhatikan dengan seksama sosok belakang Ailey yang tampak ringkih namun penuh semangat. Jantungnya semakin berdebar kencang hingga menimbulkan tanda tanya. Perasaan apakah yang hinggap di dadanya? Dalam hati dia bersikeras menampik bahwa itu adalah perasaan cinta. Dia masih menggunakan logikanya bahwa kejayaan perusahaannya adalah yang nomor satu. Tidak mungkin dia menyukai karyawan biasa yang tidak akan membawa keuntungan sedikit pun pada bisnisnya.

__ADS_1


“Apa, sih yang sedang kupikirkan? Bodoh sekali jika aku menyukai wanita seperti itu.” Gumamnya sambil menginjak pedal gas.


__ADS_2