Engelskraft: Cinta Malaikat Terbuang

Engelskraft: Cinta Malaikat Terbuang
Malaikat Pelindung


__ADS_3

Suara jangkrik dan gemerisik dedaunan mulai terdengar. Lampu jalan bersinar mengusir gelapnya malam. Padahal baru jam 7 tetapi keramaian sudah menghilang dari pandangan. Berbeda sekali suasana di kampung dengan perkotaan.


Milo berjalan beriringan di samping Ailey sambil menyamakan langkah dengan wanita itu. Seolah ingin selalu menjaganya, dia tidak mengijinkan keberadaan dirinya berjarak lebih dari beberapa sentimeter dari Ailey.


“Ayahmu tidak ikut pulang?” Tanya Milo.


“Dia akan menyusul setelah selesai mengobrol dengan teman-teman supir truknya. Maklum, kampung semakin sepi karena banyak orang pindah ke kota. Jadi, Bapak menggunakan kesempatan yang ada di kedai untuk bersosialisasi.”


“Betul juga, ya. Padahal masih jam segini, tapi sudah jarang terlihat manusia berkeliaran.” Balasnya.


“Begitulah. Suasana yang sangat tenang, bukan?” Sambung Ailey.


Mereka berdua menyusuri jalan setapak dengan hati-hati. Sekalipun penerangan jalan sudah menyala, tetapi karena jarang perumahan dan gedung, area kampung tersebut tidak cukup cahaya. Makanya, Ailey sangat takut untuk berjalan sendirian di malam hari. Apalagi setelah kasus yang menimpanya dulu.


“Milo, apakah kamu malaikat pelindungku?” Tanya Ailey secara random.


“Eh? Kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu?” Milo balik bertanya.


Ailey menghentikan langkahnya. Tatapan matanya terpaku pada sebuah jalan kecil yang diapit oleh kebun jagung di sebelahnya. Dia termangu memandang kegelapan yang ada di sana. Bahkan, tidak ada penerangan sama sekali yang menyisir jalan setapak tersebut.


“Di sana, tempat kejadian buruk itu menimpaku.” Gumam wanita itu lirih sambil memandang gelapnya kebun itu.


Sang malaikat berwujud manusia itu tercekat mendengarnya. Dia menoleh ke arah kebun gelap tersebut. Seperti sebuah film yang tayang dengan jelas, memori pemerkosaan itu terlintas dengan cepat di mata batin Milo. Hatinya ikut merasakan kepedihan yang dialami Ailey.


“Aku tidak akan pernah bisa lupa dengan tempat kejadian ini meskipun sudah bertahun-tahun lamanya. Sampai saat ini, bekasnya masih belum terkubur rapat.” Jelasnya.


“Sebaiknya kita segera pulang. Tidak baik lama-lama di luar pada malam hari.” Kata Milo berusaha mengalihkan pembicaraan.


Tiba-tiba kedua tangan Ailey memeluk lengan Milo dengan erat. Kepalanya dia senderkan di bahu bidang milik sang malaikat dengan nyaman. Suasana dingin malam itu terasa menghangat.


“Lalu secara mendadak kamu hadir di saat hidupku sedang terpuruk. Kamu selalu ada di saat aku sedang bersedih. Apakah kamu malaikat pelindungku?” Tanyanya kembali dengan tulus.


Milo menghela napasnya sambil tersenyum, “Jika itu yang kamu pikirkan tentangku, maka terjadilah.”

__ADS_1


Mendengar perkataan sang malaikat, perasaan Ailey menjadi sangat aman dan nyaman. Pelukan tangannya semakin erat seolah tidak ingin melepaskan malaikat tersebut. Baru kali ini di hidupnya, dia bisa merasa aman dengan seorang laki-laki selain ayahnya. Setidaknya, itu yang dilihatnya dari wujud sang malaikat.


Mereka berdua kembali menyusuri jalan yang temaram karena sinaran cahaya lampu. Kebun jagung yang penuh kegelapan ditinggalkan begitu saja meskipun kenangannya masih membekas di hati perempuan itu. Sekalipun pengalaman pahit tersebut masih menghantuinya, kini dia percaya bahwa ada satu sosok yang selalu ada untuknya untuk menutup kepahitan tersebut.


Setelah sampai di gang rumah, terlihat seorang pria tinggi dan tegap berdiri di depan pintu rumah Ailey seolah sedang menunggu kedatangannya. Pria itu menoleh dan melihat wanita itu sedang berjalan mendekat.


“Pak Kevin?” Sapa Ailey keheranan begitu melihat mantan bosnya ada di depan rumahnya.


“Hai, Ailey!” Balas Kevin namun matanya terpaku pada tangan Ailey yang melingkar di lengan Milo.


Merasa diperhatikan, Ailey segera melepas tangannya dari lengan sang malaikat. Milo yang merasakan kegugupan di hati wanita itu merasa tidak nyaman dengan kehadiran Kevin.


“Apa yang kamu lakukan di sini?” Tanya Milo dengan ketus.


“Oh, maaf. Tidak sepantasnya saya berkunjung tanpa kabar dan mengganggu kalian berdua.” Kata Kevin tidak enak.


“Tolong jangan salah paham! A, aku… aku…” Ailey terlihat gelagapan.


“Ailey, kamu tidak perlu sopan terhadap orang yang sudah memecatmu secara tidak hormat.” Protes Milo kesal.


“Oleh sebab itu, saya ke sini jauh-jauh untuk meminta maaf pada Ailey. Sebagai CEO, saya sadar telah memperlakukan karyawan-karyawan saya dengan semestinya. Mewakili Lina, saya ingin meminta maaf yang sebesar-besarnya karena telah mempermalukanmu di hadapan orang-orang.” Katanya dengan suara parau sambil membungkukkan badannya sedalam mungkin.


“Pak Kevin…” Gumam Ailey melihat pemandangan yang tak biasa dari bos besar Abram.


“Sungguh tidak tahu malu. Masih berani-beraninya kamu datang ke sini! Jika kamu memang benar-benar minta maaf, lakukanlah sesuatu untuk memperbaikinya. Bukankah kamu seorang CEO?” Timpal Milo dengan penuh emosi.


Ailey membalikkan badannya dan menahan Milo yang sedang tersulut emosi. Matanya memancarkan rasa belas kasihan hingga membuat sang malaikat tak mampu berkata apa-apa.


“Milo, pulanglah. Biar aku sendiri yang membereskan ini.” Kata Ailey dengan lembut.


“Tapi…”


“Pulanglah, aku tidak apa-apa. Terima kasih karena telah menemaniku seharian dan mengantarku ke rumah.” Sambungnya dengan senyuman manis terukir di bibirnya.

__ADS_1


Sang malaikat melihat keteguhan hati dari wanita tersebut. Dia tahu, bagaimana pun juga dia tidak akan mampu menyaingi sang CEO. Malaikat dan manusia memiliki dunia yang berbeda, tentu dia harus mengalah melihat Ailey lebih memilih Kevin daripada dirinya. Meskipun hatinya sakit, tapi dia tidak ingin menambah beban wanita itu.


“Baiklah, aku pulang. Tapi ingat, jika terjadi sesuatu padamu, aku tidak akan pernah memaafkan manusia ini!” Katanya sambil memandang tajam ke arah Kevin. Perlahan, Milo memundurkan langkahnya dan semakin jauh dari pandangan. Akhirnya hanya tersisa dua anak manusia di sana.


***


Milo berjalan dengan langkah lemas ke jalan besar. Di sana, Mario sudah menunggunya dengan mobil terparkir rapi di sisi jalan. Mukanya kasihan melihat raut wajah rekannya itu.


“Sudah aku bilang jangan terlalu ikut campur pada urusan manusia. Mereka punya kehendak bebas sendiri.” Ujar Mario.


“Nasibku sungguh menyedihkan, ya. Di saat orang-orang mengagumi keindahan malaikat di pameran seni Angel in Us, aku malah mengagumi manusia perempuan biasa yang lebih mengagumi manusia laki-laki itu.”


“Dari awal kamu sudah tahu ‘kan bahwa malaikat dan manusia memang tak bisa bersatu. Itu sudah hukum alam.” Lanjut Mario.


“Sampai kapan pun, aku hanya malaikat pelindung baginya.” Gumam Milo dengan suara lirih.


Mario yang melihat kekecewaan di mata rekannya itu hanya bisa menepuk pundaknya. Dengan sopan, dia mengajak Milo masuk ke dalam mobil. Milo hanya bisa mengikuti instruksi dengan tidak berdaya sambil duduk di kursi penumpang.


Sambil menyalakan mesin, Mario menghela napas panjang sambil menggelengkan kepala. Baginya, kasus percintaan yang dialami rekannya tersebut jauh lebih kompleks dari yang ada di novel-novel buatan manusia.


“Milo, aku sudah tahu misimu di dunia ini. Sebaiknya jangan membuat misimu sendiri berantakan.”


“Kamu tahu?” Milo menoleh ke arah kursi pengemudi dan melihat wajah Mario yang serius.


Mario membalas tatapan Milo dengan tajam dan melanjutkan perkataannya, “Saat itu, kamu masih di bawah perintah Lucifer sebagai fallen angel untuk menjatuhkan moral manusia di bumi. Kamu adalah dalang dibalik niat si pemerkosa yang merenggut keperawanan Ailey. Kamu yang menghasut sekumpulan pria paruh baya itu untuk merusak hidup Ailey. Bukan begitu?”


Milo tertegun mendengar penjelasan tersebut. Sudah lama sekali dia ingin mengubur cerita itu dari hidupnya, namun kini diperjelas kembali oleh teman malaikatnya.


“Misi yang diturunkan padamu adalah karma yang harus kamu tuntaskan kepada wanita itu.” Mario berhenti sejenak. Dia menelan ludah dan melanjutkan, “Misimu sebenarnya adalah memastikan Ailey hidup bahagia dengan membuatnya bersatu dengan Kevin.” Sambungnya.


Hati sang malaikat hancur mendengar ucapan tersebut. Sebenarnya sudah lama dia tahu tujuannya hidup di dunia manusia untuk membalas perbuatannya sendiri, namun baru saat itu dia merasakan kepedihan yang luar biasa apabila mendengarnya kata demi kata secara verbal. Air mata menetes dan jatuh ke pipinya. Dia merasa tidak mampu menyelesaikan misi tersebut. Daripada disebut sebagai misi, mungkin hukuman adalah kata yang tepat untuk menggambarkan tujuannya tersebut. Bagaimana sang malaikat yang sedang jatuh cinta rela untuk membuat wanita yang dicintainya mencintai pria lain?


"Ingat, Milo. Malaikat hanya bisa menaruh cintanya pada Tuan yang menciptakannya. Kamu harus tahu batasanmu." Kata Mario sambil menginjak pedal gas.

__ADS_1


Kepulan asap knalpot meninggalkan jejak di keheningan malam. Bersamaan dengan mobil yang melaju cepat, logika sang malaikat beradu dengan perasaannya. Karena sebagai makhluk yang ditakdirkan untuk melayani Tuhan, perasaan yang dimiliki oleh Milo merupakan sebuah hukuman besar yang tidak pernah disangka.


__ADS_2