Engelskraft: Cinta Malaikat Terbuang

Engelskraft: Cinta Malaikat Terbuang
Karyawan Baru


__ADS_3

Kafe Engelskraft terlihat sibuk seperti biasanya. Antrean manusia mengular hingga melewati tenant lain yang ada di sebelahnya. Sepertinya kepopuleran kafe tersebut masih belum berhenti sekalipun telah lewat berbulan-bulan lamanya.


“Ferdi, kamu tidak lihat di meja nomor lima masih ada noda kopi? Cepat bereskan sebelum aku memanggil nomor antrean berikutnya!” Perintah Mario.


“Kamu itu seperti bosku saja, di sini level kita sama! Mending kau juga menyuruh anak baru itu. Pengunjung kita sedang ramai-ramainya, lho.” Balas Ferdi sambil memegang kain lap, bersiap untuk menuruti perintah rekannya.


“Hmm, kalau kamu tidak mau dipecat oleh bos, jangan seenaknya menyuruh si anak baru kesayangan pak bos!” Ujar Mario.


“Tapi…” Kata Ferdi bingung.


“Ada yang membicarakanku?” Kata Ailey mendekat.


“Nah, ini si anak baru! Mohon dibantu! Hehehe.” Teriak Ferdi sambil menyerahkan kain lap ke tangan Ailey kemudian lari meninggalkan mereka.


Ailey memegang kain lap di tangannya tanpa tahu apa-apa. Dia terlihat mengenakan seragam karyawan Engelskraft dengan rambut yang terikat. Mukanya terlihat bingung karena tidak ada brief apa pun di hari pertama dia bekerja di sana.


“Sudah, biar Ferdi saja yang mengerjakannya. Kamu duduk saja di belakang!” Kata Mario.


“Sudah setengah hari aku tidak melakukan apa-apa. Aku juga ingin membantu pekerjaan kalian.” Keluh Ailey.


“Kamu benar-benar tidak bisa diam, ya. Bisa berabe urusannya kalau Milo tahu kamu ikut bekerja.”


“Justru aku diajak Milo untuk membantu pekerjaan di sini. Kenapa aku malah seperti pengangguran yang memakai seragam karyawan?” Protesnya.


Mario hanya menarik napas tanpa tahu harus membalas apa. Dia merebut kain lap yang dipegang wanita itu dan berjalan ke arah meja yang butuh dibersihkan. Ailey ditinggalkan berdiri seorang diri di depan meja bar dengan wajah kesal. Matanya menyusuri setiap sudut kafe berusaha mencari pemiliknya. Tidak butuh waktu lama, sosok Milo tertangkap oleh penglihatannya. Dia sedang duduk di bagian outdoor kafe sambil membaca buku. Dengan sigap, Ailey bergegas menemuinya.

__ADS_1


“Milo!” Sahutnya di depan sang malaikat yang sedang bersantai.


Milo yang sedang membaca buku dengan serius langsung teralihkan oleh suara Ailey yang terdengar kesal. Dia meletakkan bukunya di atas meja dan melihat wanita itu sedang berdiri di sebelahnya.


“Ya, Ailey? Bagaimana hari pertamamu bekerja di sini? Ada yang bisa dibantu?” Tanya Milo.


“Kamu merekrut aku untuk menjadi karyawanmu, ‘kan? Kenapa aku tidak diperbolehkan untuk bekerja?”


Milo memperhatikan kekesalan yang dipancarkan dari raut wajah wanita itu. Dia menarik senyuman lalu berdiri menghadap Ailey.


“Memang betul, tapi aku tidak ingin kamu kerepotan di sini. Biarkan Mario dan Ferdi yang meng-handle semuanya.” Jelasnya tidak masuk akal.


“Sebulan lalu kamu bilang padaku untuk membantuku mendapatkan pekerjaan di Jakarta. Aku sangat menghargai ajakanmu untuk bekerja di kafemu ini. Tapi jika aku hanya bengong-bengong di sini, lebih baik aku mencari pekerjaan lain!” Protesnya.


“Tidak perlu marah seperti itu. Kamu sudah cukup lelah dengan pengalaman burukmu di Abram beberapa bulan lalu. Kamu juga begitu giat membantu ayahmu di kedai. Sudah sewajarnya aku membiarkanmu bersantai sejenak.” Lanjut Milo.


“Aku tidak peduli dengan perkataanmu barusan. Aku akan tetap melakukan pekerjaanku di sini secara profesional.” Katanya sambil meninggalkan Milo.


Perkataan tersebut membuat Milo tersenyum dengan lega. Dia sadar bahwa Ailey sudah kembali seperti semula, penuh dengan semangat dan pantang menyerah. Meskipun ia tahu bahwa niat utama wanita itu bukan untuk berada di dekatnya, namun ia sangat bahagia bisa melihat Ailey setiap hari di kafe miliknya.


Tanpa basa-basi, Ailey merebut kain lap yang sedang digunakan oleh Mario untuk membersihkan meja pengunjung. Ia memperlihatkan ekspresinya yang kuat dan tidak terbantahkan hingga Mario yang melihatnya hanya bisa diam keheranan.


“Kamu kerjakan hal yang lainnya saja. Biar aku membersihkan meja ini.” Ucapnya tegas.


“Tapi, Milo…” Kata Mario terbata-bata.

__ADS_1


“Tenang saja, jika Milo memarahimu karena aku ikut bekerja, aku akan mematahkan sayapnya yang kusam itu. Kamu jangan takut!” Sela Ailey.


Seketika itu juga, Mario merasa segan dengan keteguhan hati yang dimiliki Ailey. Dia tidak menyangka ada manusia yang bersikeras untuk bekerja padahal diijinkan untuk bersantai saja dan masih akan digaji.


“Kenapa masih melihatku seperti itu? Sudah, kerjakan yang lain sana!” Ucap Ailey hingga membuat Mario takut dan segera menjauh darinya.


Mario segera menghampiri Milo yang sedang fokus pada buku bacaannya. Dia mengambil buku tersebut tanpa ijin dan menutupnya, lalu duduk di sebelah rekan malaikatnya itu.


“Wanita itu benar-benar tidak takut akan apa pun, ya.” Ujar Mario.


“Hehehe. Itu lah yang aku suka darinya. Dia tidak takut mati atas apa yang sudah menjadi pendiriannya. Dia sangat menarik, ‘bukan?” Balasnya.


“Aku mengerti kenapa kamu begitu menyukainya. Tapi kamu harus fokus pada misimu. Ingat, jangan sampai perasaan sukamu padanya menghalangimu untuk menjadi malaikat Tuan yang sejati. Kamu tidak mau sayapmu kembali putih bersih?”


“Bla bla bla. Iya, aku tahu! Tidak perlu mengingatkanku terus. Bosan.”


“Bersabar, ya dengan temanmu ini. Kamu tidak lupa, ‘kan kalau misiku adalah menjagamu agar tidak keluar dari jalur? Jadi, aku tidak akan pernah bosan untuk mengingatkanmu!” Balas Mario.


Milo mengalihkan tatapannya dan menerawang ke langit biru yang ada di atasnya. Sebagai malaikat yang telah membawa malapetaka kepada manusia, dia harus membayar harga atas apa yang telah diperbuatnya. Sekalipun ia harus mengorbankan perasaannya sendiri.


“Ngomong-ngomong, selain tugasmu mengingatkanku, bukankah kamu juga memiliki tugas lain sebagai karyawan di Engelskraft? Mengapa kamu duduk-duduk di sini?” Tanya Milo dengan sinis.


“Benar juga. Kalau begitu, saya kerja dulu, ya pak bos!” Ujarnya sambil mengangkat pantatnya dari kursi.


“Kerja yang benar dan awasi Ailey untukku.” Kata Milo dengan tegas.

__ADS_1


Hari itu menjadi sebuah lembar baru bagi Engelskraft. Dengan tambahan personil seorang perempuan, tentunya keseharian mereka tidak akan sama lagi. Apalagi bagi Ailey, pekerjaan barunya di kafe tersebut akan menjadi ujung tombak dalam menunjukkan kepiawaiannya bekerja tanpa harus dihantui oleh stigma negatif tentang penyakitnya. Tekadnya sudah bulat, dia ingin menyelesaikan permasalahan yang pernah terjadi padanya di Abram. Dengan doa restu sang ayah, dia memiliki kekuatan ekstra untuk berani menunjukkan mukanya di hadapan orang-orang Abram.


__ADS_2