Engelskraft: Cinta Malaikat Terbuang

Engelskraft: Cinta Malaikat Terbuang
Dua Pengusaha Muda


__ADS_3

Engelskraft, kafe kekinian yang sedang viral di seluruh media sosial mulai memamerkan cahaya lampunya. Ferdi dan Mario terlihat sedang bersiap-siap untuk membuka kafe pagi itu. Dengan sigap, Mario mengelap seluruh meja dan kursi yang ada di sana, tanpa menyisakan satu noda sedikit pun karena baginya pelanggan adalah raja. Tentu saja, dia ingin seluruh pengunjung yang datang nanti dapat dengan nyaman duduk di sana. Ferdi juga tidak ingin kalah, dia memasang banner promo di depan pintu masuk dan mengganti POP berukuran A5 dengan aset gambar terbaru yang terpajang di setiap meja.


“Selamat pagi!” Sapa Milo dengan semangat sambil memasuki kafe.


“Pagi bosku!” Balas Ferdi dan Mario serentak.


“Wah, promonya sudah mulai hari ini, ya! Bakalan makin ramai, ini.” Celetuk Milo.


“Iya, sepertinya hari ini akan lebih sibuk dari biasanya.” Tegas Mario.


“Pak, ngomong-ngomong kemarin CEO Abram datang ke sini dan ingin bertemu dengan Bapak.” Kata Ferdi.


“Oh, ya? Kamu tidak memberitahunya kalau saya datang hari ini ‘kan?” Tanya Milo.


Ferdi menelan ludah, tampaknya dia telah membuat keputusan yang salah kemarin. “Hmm… Sayangnya saya beritahu dia, Pak. Dia akan datang ke sini lagi hari ini. Hehe.” Jawabnya cengengesan.


“Aduh, aku paling malas bertemu dengan orang asing dan basa-basi. Ya sudah, mau bagaimana lagi.” Kata Milo kecewa.


Mario menyenggol sikut Milo, berusaha untuk mengingatkannya bahwa tak baik menunjukkan sikap seperti itu. “Milo, profesional sedikit, dong. CEO Engelskraft tidak boleh bersungut-sungut begitu.” Bisiknya.


“Sssst! Di sini aku adalah bosmu, yang sopan sedikit. Panggil Pak Milo, seperti itu!” Milo terlihat tidak nyaman dengan obrolan mereka. “Sudahlah, jangan sampai Ferdi tahu bahwa sebenarnya kita adalah satu spesies dan sudah kenal lama. Bisa-bisa timbul kecemburuan sosial karena adanya nepotisme di sini.” Lanjutnya perlahan.


Ferdi terlihat mencuri pandang ke arah mereka berdua, seakan tahu sedang dibicarakan. Namun, sebagai karyawan baru, dia merasa tidak enak untuk bergabung dalam obrolan itu. Apalagi ada CEO Engelskraft, Ferdi makin sungkan untuk SKSD. Terkadang, Ferdi merasa iri dengan Mario karena kedekatannya dengan pimpinannya tersebut. Sebagai seorang yang lumayan introvert, dia ingin sekali memiliki bakat alami seorang ekstrovert yang dapat mingle dengan mudahnya seperti Mario. Sayangnya, dia tidak tahu saja bahwa Mario memang sudah mengenal Milo sejak lama.


“Fer, jangan melamun! Nanti kesambet, lho. Ayo, segera selesaikan tugasmu! Lima menit lagi kafe mau dibuka.” Kata Milo membuyarkan lamunan Ferdi.

__ADS_1


Segeral setelah Ferdi dan Mario kembali bekerja, Milo mengeluarkan ponsel dari sakunya. Tanpa berpikir panjang, dia melakukan pencarian mengenai CEO Abram Corp. Sambil membaca berita-berita yang muncul tentangnya, muncul perasaan kurang mengenakkan di hatinya. Tampaknya, pertemuan pertamanya dengan Kevin hari ini harus membuatnya sangat berhati-hati.


***


Ailey terlihat bediri termenung di depan toko, sambil sesekali melongo ke arah Engelskraft. Sepertinya dia melihat Milo masuk ke kafe itu sehingga membuyarkan konsentrasinya. Siti yang menyadari tingkah tak biasa Ailey berjalan menghampirinya.


“Hayo, lagi memantau siapa?” Tanya Siti mendadak hingga membuat Ailey terperangah.


“Oh, hanya meninjau Engelskraft saja, kok. Apakah hari ini akan ramai seperti biasanya?” Jawab Ailey seadanya.


“Tampaknya kamu tertarik sekali dengan kafe baru itu. Hmmm.” Kata Siti dengan tatapan curiga, “Pasti ada hal lain yang membuatmu begitu kepo dengan Engelskraft.”


“Kamu bicara apa, sih? Hahaha.” Ailey terlihat canggung.


“Andai toko kita juga seramai kafe itu.” Siti menghela napasnya panjang.


Siti menoleh ke kanan dan kiri untuk memastikan tidak ada orang di sekitar mereka berdua. Dengan perlahan, Siti mendekatkan dirinya ke sebelah Ailey. Hembusan napasnya terdengar gugup.


“Begini, aku dengar penjualan kita terus menurun beberapa bulan belakangan. Kabarnya, jika penurunan ini terus berlangsung selama lima bulan ke depan, toko kita akan gulung tikar.” Bisik Siti.


“Hah?! Serius?!” Ailey terperangah.


“Ssst!! Jangan keras-keras!” Siti segera menutup mulut Ailey dengan tangannya.


“Bercandaannya gak lucu sama sekali. Kamu ‘kan tahu aku baru masuk kerja, masa akan pengangguran lagi dalam waktu dekat?” Protes Ailey dengan mengecilkan volum suaranya.

__ADS_1


“Semoga saja hanya kabar burung. Tapi yang jelas, kalau kita bisa menaikkan penjualan, pastinya toko elektronik ini akan baik-baik saja.” Jawabnya dengan bijak.


Ailey merasa tidak nyaman dengan berita yang didengarnya. Baru saja dia ingin membanggakan dirinya di depan ayah terkasih saat pulang kampung nanti. Dia tidak sampai hati jika harus memberitahu ayahnya apabila toko tempatnya bekerja gulung tikar.


“Tapi rasanya tidak mungkin, kinerja perusahaan Abram ‘kan sangat baik. Pasti lini bisnisnya yang lain dapat membantu kelangsungan toko elektronik di cabang kita.” Ailey menyampaikan pendapatnya, seolah tidak bisa menerima kabar burung yang beredar.


“Ya, kita berdoa saja semoga kabar tersebut tidak benar.” Balas Siti.


Sementara di Engelskraft, Kevin terlihat berdiri di depan kafe baru tersebut dengan penuh semangat, berharap dia dapat menemui Milo hari ini juga. Ferdi segera menyambut CEO Abram tersebut dengan senyuman dan gesture yang sangat sopan.


“Selamat pagi, Pak Kevin! Silahkan masuk, Pak Milo sudah menunggu Anda di dalam.” Sambut Ferdi dengan hangat.


Setibanya di dalam kafe, Kevin langsung diantar ke meja Milo. Milo yang terlihat sedang memainkan ponselnya menyadari kedatangan CEO Abram tersebut. Dengan sigap, dia berdiri dari kursi tempatnya duduk dan mengulurkan tangan ke hadapan Kevin.


“Salam kenal, saya Milo. Pemilik sekaligus CEO Engelskraft.” Sapa Milo dengan tangan yang terulur tegas.


“Saya Kevin, senang berkenalan dengan Anda!” Balas Kevin menyambut jabatan tangan dari Milo.


Jabatan tangan kedua pengusaha muda itu mengubah aura seisi ruangan. Keduanya bertatapan mata dengan tajam. Ferdi yang mengantarkan Kevin merasakan tajamnya suasana yang terbentuk dan mengijinkan dirinya sendiri untuk meninggalkan mereka berdua. Mario yang berdiri tak jauh dari sana memandang mereka dengan awas seakan berjaga-jaga apabila ada ketegangan yang akan muncul.


“Genggaman yang sangat kuat, sungguh kepribadian yang penuh percaya diri.” Kata Milo yang masih menjabat tangan Kevin.


“Begitukah? Saya anggap itu sebagai pujian.” Balas Kevin sambil melepas genggaman tangannya perlahan.


“Ada apa gerangan sampai CEO perusahaan ternama seperti Anda mencari saya?” Tanya Milo dengan suara yang tegas.

__ADS_1


“Saya hanya ingin mengobrol saja dengan pemilik kafe yang sukses membawa keramaian ke mall saya ini. Saya yakin, banyak yang bisa saya pelajari dari Anda.” Jawab Kevin tanpa memalingkan pandangan tajamnya sedikit pun dari mata Milo.


Ferdi yang sudah berada di sebelah Mario menggenggam pundak rekan kerjanya itu dengan was-was. Mario hanya membalas genggamannya dengan menarik Ferdi menjauh, seolah memberitahunya untuk tidak terlalu mengkhawatirkan pimpinannya. Biarlah itu menjadi percakapan antar dua orang pengusaha muda, karyawan biasa seperti mereka tidak perlu ikut campur.


__ADS_2