Engelskraft: Cinta Malaikat Terbuang

Engelskraft: Cinta Malaikat Terbuang
Perasaan yang Menggantung


__ADS_3

Sambil memperhatikan Siti yang sedang bekerja merapikan bon pembayaran, Ailey duduk dengan manisnya tanpa berusaha untuk mengintip layar komputer yang ada di depannya. Sekalipun rasa ingin tahu menguasai dirinya, namun ia bukan karyawan toko Abram Elektronik lagi yang bisa seenaknya melihat isi komputer toko.


“Memangnya shift-mu sudah selesai?” Tanya Siti sambil mengetik jumlah yang tertera di bon.


“Belum. Aku ijin sebentar karena kamu bilang bahwa Kevin memiliki jadwal berkunjung ke toko hari ini.” Jawab Ailey.


“Repot sekali romansa kalian. Kamu tinggal telepon dia saja untuk memastikan kapan dia datang. Tidak perlu menunggu di sini.” Katanya.


“Maunya, sih begitu. Tapi teleponku tidak dia angkat. Pesan yang aku kirim pun lama sekali dibalasnya.”


“Tumben sekali. Bukannya CEO itu menggebu-gebu sekali terhadapmu?” Lanjut Siti bertanya.


“Entahlah. Sepertinya memang ada yang berubah.” Ujar Ailey.


Tidak lama setelah percakapan mereka berdua, Kevin terlihat memasuki toko dengan pandangan kaget karena melihat ada Ailey di situ. Kakinya ingin berputar dan pergi dari sana tapi hal itu akan membuat dirinya terlihat jelas bahwa ia sedang menjauhi wanita itu.


Ailey bangun dari duduknya tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Matanya lurus memandang pria itu dengan tatapan sedih. Mereka berdua berdiri terdiam tanpa mendekati satu sama lain. Siti yang merasakan kecanggungan saat itu akhirnya memilih untuk menyingkir dan membiarkan kedua orang itu berbicara.


“Kamu… tidak bekerja?” Tanya Kevin basa-basi.


“Aku ijin sebentar untuk menemuimu.” Jawab Ailey.


Mereka berdua kembali terdiam. Tidak tahu harus memulai pembicaraan seperti apa, Kevin mengambil arah lain untuk melihat-lihat kondisi toko.


“Kevin.” Panggil Ailey menyadari pria tersebut sedang menghindarinya. “Apa yang terjadi pada kita?” Lanjutnya bertanya.


Pria itu membalikkan badannya tanpa menjawab. Namun, langkahnya terhenti seolah ada yang menahannya untuk tetap berada di sana.


“Jika ada yang mengganggu pikiranmu, kamu bisa membicarakannya denganku.” Kata Ailey lembut.


“Tidak ada yang harus aku bicarakan saat ini.” Kata Kevin tanpa menoleh.

__ADS_1


“Lalu aku harus bagaimana menghadapimu?” Tanya wanita itu lirih.


Kevin masih berdiri terpaku. Dia menghela napas panjang, “Maaf.” Kemudian ia berjalan pergi dari sana tanpa meninggalkan jawaban apapun.


Mata Ailey berkaca-kaca. Keinginan untuk mengejar CEO itu sangat besar, tapi entah mengapa kakinya tidak mau menuruti kemauannya. Dia hanya bisa terdiam menyaksikan punggung Kevin yang perlahan menjauh dari pandangannya.


***


Hujan mengguyur Jakarta dengan derasnya. Semerbak bau tanah basah menusuk hingga ke indera penciuman. Deru knalpot bis kota dengan suara cipratan air yang menggenang menemani kepedihan yang dirasakan Ailey. Wanita itu duduk di halte bis sambil menyembunyikan tangisannya dengan rambut yang tergerai di sisi wajahnya. Kepalanya menunduk ke bawah berusaha untuk menenangkan hatinya yang sakit. Baginya, penolakan yang jelas akan lebih baik daripada menerka-nerka karena perasaan yang menggantung.


“Ternyata kamu di sini. Aku kira kamu membolos kemana.” Suara Milo terdengar mendekat.


Malaikat berwujud manusia itu duduk di sebelah Ailey sambil memandang hujan yang turun tiada henti. Dia menyaksikan kesedihan dari bahu wanita yang rapuh itu. Dia tahu Ailey sedang menangis, sekalipun suara gemerisik hujan menyamarkan senggukan wanita itu.


“Aku akan pergi jika kamu tidak mau diganggu.” Katanya.


“Jangan! Tetaplah di sini.” Balas Ailey dengan suara bergetar.


Perkataan tersebut membuat Ailey semakin tak mampu membendung tangisnya. Masih dengan kepala menunduk, dia menangis terisak-isak seolah berlomba dengan suara hujan yang turun. Perih yang dirasakan di hatinya keluar dengan spontan melalui tiap bulir air mata yang menetes.


Milo duduk dengan sabar menunggu tangisan itu berhenti. Dia menyenderkan punggungnya ke belakang sambil mendengarkan tangisan pilu dari mulut wanita itu. Sesungguhnya, dia ingin memberitahu Ailey tentang apa yang dialami oleh Kevin sehingga sikapnya berubah. Tetapi, dia tidak tahu cara menyampaikannya dengan benar tanpa menyakiti hati Ailey.


***


Tetesan air hujan mulai berhenti. Disusul dengan langit sore yang memancarkan warna oranye yang indah. Dinginnya hembusan angin malam mulai berhembus dan terasa menusuk kulit seolah mencoba untuk menyapu kesedihan yang dirasakan Ailey.


“Sudah enakan?” Tanya Milo melihat Ailey yang mulai tenang.


“Iya. Terima kasih, ya sudah menemaniku.” Jawabnya sambil mengusap wajahnya yang masih sembab karena air mata.


“Kalau boleh aku memberimu nasehat, terkadang kita tidak tahu apa yang sedang dialami oleh orang lain. Sayangnya, pola pikir manusia yang sempit cenderung menghakimi apa yang tampak di luar. Mungkin ada hal-hal yang memang tidak bisa diutarakan olehnya. Jadi, tidak ada salahnya untuk mengambil jeda sejenak dan memberikan waktu untuk Kevin.” Kata Milo bijak.

__ADS_1


Ailey menoleh melihat malaikat itu yang terlihat malu-malu dalam memberikan nasehatnya. Kedamaian meliputi sekujur tubuh wanita tersebut hingga membuatnya tersenyum. Mata yang berkaca-kaca mulai berbinar-binar.


“Sayang sekali, ya kamu malaikat. Jika tidak, mungkin aku akan kepincut sama kamu.” Ujar Ailey.


Kata-kata tersebut membuat wajah Milo memerah. Dia menegakkan badannya yang sudah bersandar santai dari tadi. Sambil berpura-pura meregangkan otot di seluruh tubuhnya, Milo menyembunyikan perasaan yang gembira setelah mendengar ucapan dari Ailey tersebut.


“Sebagai malaikat, aku pasrah saja dengan penolakanmu. Mana mungkin aku bersaing dengan si manusia CEO itu.” Balasnya sok cool.


“Ah, kamu sensitif sekali. Jangan dimasukkan ke dalam hati!” Goda Ailey sambil menyikut lengan Milo.


“Sudahlah, aku menyesal menemanimu.”


“Malaikat, kok ngambek. Jangan ngambek, dong!” Kata Ailey.


“Jangan seenaknya pada bosmu! Sudah untung aku tidak memecatmu karena bolos kerja hari ini.” Balas Milo.


“Jahat sekali! Aku masih trauma, lho dengan kasus pemecatanku beberapa bulan lalu.” Timpal Ailey menyudutkan Milo.


“Aku salah terus. Wanita memang selalu benar.” Kata Milo kesal.


Mereka berdua saling tertawa terbahak-bahak mendengarkan guyonan masing-masing yang agak menyentil satu sama lain. Diiringi dengan matahari yang perlahan menutup diri, perasaan kalut pada Ailey mulai tersingkir dan terlupakan. Mungkin memang tepat bila Milo disebut sebagai malaikat pelindungnya. Ia selalu ada di saat apapun dan mampu meringankan beban yang dipikul Ailey.


“Milo, jangan pernah meninggalkanku, ya!” Lanjut Ailey.


“Kamu bicara apa, sih? Suatu saat aku harus kembali ke surga.” Jawabnya.


“Tidak boleh! Aku akan berdoa pada Tuhan, supaya dia selalu memberimu tugas yang berhubungan denganku. Jadi, kamu tidak akan bisa kembali ke surga.” Kata Ailey penuh semangat.


“Terserah kamu saja.” Ucap Milo tersipu malu.


Mereka beranjak dari halte bis dan meninggalkan tempat yang sudah mulai padat itu. Langkah kaki orang-orang yang pulang kerja mulai meramaikan suasana. Satu per satu lampu jalan mulai berpendar mengusir kegelapan. Sama seperti kehadiran Milo yang mampu mengusir kesedihan dari hati Ailey.

__ADS_1


__ADS_2