Engelskraft: Cinta Malaikat Terbuang

Engelskraft: Cinta Malaikat Terbuang
Sebutir Obat


__ADS_3

Udara dingin berhembus di keheningan malam. Gemerisik daun terdengar jelas hingga masuk ke dalam rumah. Di sebuah vila terpencil di tengah hutan, terdapat dua malaikat yang saling menatap tajam satu dengan yang lain. Cahaya lampu yang temaram hanya terlihat di satu sisi ruangan tempat mereka saling berhadapan. Sepertinya cahaya redup itu disengaja agar tidak mencolok dari kejauhan.


“Milo, sejujurnya aku penasaran dengan misi yang sedang kamu jalankan. Tuan menyuruhku untuk tidak terlalu ikut campur, cukup hanya membantumu untuk tetap berada di jalan-Nya. Tetapi, melihat gelagatmu yang semakin terobsesi dengan Ailey, aku tidak bisa mendiamkannya.” Ujar Mario dengan sayap putih bersih yang melekat di punggungnya.


Milo tidak merespon perkataan Mario. Dia hanya duduk di sofa dengan sayap kusamnya. Sesekali dia memperhatikan sayap milik rekannya tersebut yang berwarna putih mengkilap.


“Milo, misiku adalah membuatmu tetap berada di jalan kebenaran. Aku rasa kamu sudah terlalu jauh melibatkan perasaanmu pada wanita itu.” Lanjutnya.


“Perasaan apa? Misiku memang melibatkan Ailey, mau tidak mau aku harus dekat dengannya, bukan?” Protes Milo.


“Kamu tahu ‘kan jika Ailey mengidap HIV?” Tanya Mario.


Milo menganggukkan kepalanya dengan muka sebal karena merasa terusik dengan pertanyaan tersebut, “Itu adalah rahasia terbesar Ailey yang dia pendam sejak lama.” Katanya.


“Lantas kenapa kamu memberitahukan padanya bahwa rahasia tersebut sedang berada di ujung tanduk? Biarkan saja manusia-manusia itu yang menentukan takdirnya sendiri, kita tidak perlu ikut campur.” Jelas Mario.


“Aku tidak memberitahukan secara spesifik, kamu tenang saja.” Jawab Milo kesal.


“Bagaimana pun juga kamu sudah menyalahi aturan! Malaikat tidak boleh membocorkan nasib seseorang. Biarkan itu menjadi rahasia milik Tuan kita. Manusia, mereka harus menerka nasibnya dan mengambil keputusan sendiri untuk mengusahakan jalan hidupnya. Selama Tuan belum menyuruh kita untuk memberitahukan apa pun pada manusia, sebaiknya kamu tutup mulut.” Tegas Mario meluruskan.


Kedua malaikat itu terdiam. Suara Mario tersengal tanda emosi yang mendidih. Dia segigih itu mengingatkan Milo karena apabila misinya gagal untuk menjaga Milo di jalan-Nya, dia akan kena hukuman dari yang disebutnya sebagai Tuan.


“Terima kasih sudah mengingatkanku,” kata Milo. “Tapi, apakah kamu tahu kenapa aku sekhawatir ini pada Ailey?”


Mario menggelengkan kepalanya. Suasana hening kembali terjadi selama beberapa menit seolah Milo ingin mengutarakan sesuatu yang sangat berat. Sambil menghirup napas panjang, jawaban Milo membuat rekannya tersebut terkejut.


“Karena aku harus bertanggung jawab terhadap penderitaan wanita itu. Aku yang menyebabkan Ailey terkena HIV.”


Mario terkejut mendengar kalimat tersebut. Dia melangkahkan kakinya ke belakang dan terduduk di lantai. Emosi yang tidak terkontrol membuatnya tidak bisa mempertahankan sosok malaikat pada dirinya.

__ADS_1


“Ceritanya panjang.” Sambung Milo.


***


Sebuah cangkir teh yang terletak di atas meja dengan sepiring biskuit terlihat sangat melengkapi satu sama lain. Dihiasi vas bunga yang begitu menawan, meja tersebut menunjukkan keindahannya. Suara jepretan kamera terdengar berulang kali untuk menangkap momen indah tersebut.


“Lanny, kamu serius ingin menjadi fotografer?” Tanya Lina pada adiknya yang sedang sibuk memotret cangkir teh yang sangat manis.


“Iya, aku akan mengejar mimpiku. Aku tidak mau seperti kamu yang harus memenuhi ekspektasi keluarga Marliani.” Jawab Lanny ketus.


“Mulai lagi. Aku sudah lelah bertengkar denganmu.” Kata Lina.


“Kevin, bagaimana hasil fotoku?” Tanya Lanny gembira sambil memperlihatkan hasil foto dari kamera DSLRnya.


“Hmmm. Not bad. Tapi, hasilnya seperti foto-foto di instagram, ya. Hehe.” Jawab Kevin yang duduk di sebelah Lina.


“Kevin, kamu masih ingat obat yang aku temukan di mobilmu?” Tanya Lina mengganti topik pembicaraan.


“Iya, kenapa?”


“Aku sudah mengeceknya ke temanku yang bekerja di laboratorium. Hasilnya mengejutkan!” Katanya sambil mengeluarkan plastik berisi sebutir obat ARV dari tasnya.


“Memangnya, itu obat apa?” Tanya Kevin penasaran.


“Ini adalah obat untuk treatment penderita HIV.”


“Hah? Kevin sakit? Kamu kena HIV?” Teriak Lanny spontan.


“Astaga, mana mungkin! Itu bukan obatku. Najis sekali jika harus berurusan dengan penyakit seperti itu. Kamu jangan ngomong sembarangan!” Sanggah Kevin sambil menjitak kepala gadis itu.

__ADS_1


“Kasar sekali, memangnya penderita HIV segitu buruknya?” Timpal Lanny.


“Itu penyakit menular. Membayangkannya saja membuatku jijik.” Ujar pria itu.


“Kalau ini bukan obatmu, lantas obat siapa? Coba ingat baik-baik siapa saja yang menumpang di mobilmu.” Lina mencoba mengingatkan.


“Waktu itu direktur bank A pernah menumpang, lalu teman kuliahku juga sempat aku jemput untuk ke acara reuni. Lalu…” Kevin terdiam. Dia tidak melanjutkan kalimatnya karena terkejut akan sesuatu. Selain orang-orang yang telah disebutnya, dia ingat bahwa pernah menjemput Ailey dengan mobilnya.


“Lalu apa?” Desak Lina.


“Oh, tidak apa-apa. Kalau ini memang obat yang begitu penting, aku harus mengembalikan kepada pemiliknya. Nanti aku coba hubungi mereka satu per satu.” Jawabnya mengelak.


“Tapi bukankah HIV tidak bisa disembuhkan? Untuk apa fungsi obat ini?” Tanya Lanny penasaran.


“HIV memang belum ada obat penawarnya. Tetapi, obat ARV ini mampu menekan laju pertumbuhan virusnya sehingga pengidap HIV dapat hidup selayaknya orang sehat.” Jelas Lina meniru penjelasan temannya yang bekerja di laboratorium.


Sambil mendengarkan obrolan dua bersaudara itu, pandangan Kevin mengawang tidak jelas. Siapakah pemilik obat itu? Pikirnya. Wajah Ailey tersirat di benaknya, namun dia masih belum sepenuhnya yakin. Yang pasti, sekujur tubuhnya merinding karena pernah semobil dengan penderita HIV.


“Lanny, kenapa kamu memperhatikan obat ini sampai segitunya?” Tegur Lina saat menyadari adiknya memperhatikan obat tersebut tanpa bergeming.


“Hmmm. Sepertinya aku tidak asing dengan obat ini. Dimana, ya aku pernah melihatnya?” Kata perempuan itu polos.


“Temanmu ada yang HIV?” Lanjut Lina.


“Tidak ada. Tapi aku yakin pernah melihatnya di suatu tempat.” Sambungnya sambil meletakkan dagunya di atas meja.


“Dari pada menebak-nebak, aku akan tanyakan langsung ke orang-orang yang pernah menumpang di mobilku. Sini obatnya aku yang bawa.” Potong Kevin.


Obat ARV itu dimasukkannya ke dalam saku kemeja Kevin. Sambil berpikir dengan keras, rasa was-was menyelimuti dirinya. Jika bukan dari salah satu temannya, kemungkinan besar obat itu adalah milik Ailey, pikirnya. Padahal dia sudah merasa nyaman dengan karyawannya tersebut, namun dia juga tidak berani terlalu dekat dengan pengidap HIV. Pria itu merasa bahwa HIV adalah penyakit menular yang mengerikan. Tampaknya orang kaya seperti Kevin pun masih memiliki pemikiran yang kolot tanpa pengetahuan mumpuni terkait penyakit ini. Padahal selama sekolah, pendidikan seksual telah didapatnya termasuk pengetahuan tentang penyakit HIV. Namun, tampaknya pria itu belum bisa menerima keberadaan pengidap HIV di sekitarnya.

__ADS_1


__ADS_2