Engelskraft: Cinta Malaikat Terbuang

Engelskraft: Cinta Malaikat Terbuang
Ide Cemerlang


__ADS_3

Siti tengah sibuk menjelaskan beberapa produk elektronik kepada pengunjung. Sesekali dia menoleh ke belakang ke arah ruangan karyawan yang berada di pojok belakang toko. Beberapa menit yang lalu, Kevin menyambangi toko tersebut dengan muka kesal, diikuti oleh Ailey dari belakang dan masuk ke ruang karyawan. Siti yang menyadari bahwa Ailey tertangkap basah tidak ada di toko saat jam kerja hanya bisa diam dengan cemas dan berdoa agar temannya itu tidak dipecat.


“Apa maksudnya kehebohan tadi di Engelskraft?” Tanya Kevin dengan nada interogasi.


“Maaf, saya hanya ingin menarik pengunjung datang ke toko kita.” Jawab Ailey ragu.


“Ada yang menyuruhmu seperti itu?” Lanjut Kevin bertanya.


Ailey menggelengkan kepalanya. Sebisa mungkin dia tidak ingin banyak bicara karena takut salah menjawab. Bisa-bisa karirnya berhenti saat itu juga jika mengkonfrontasi seorang CEO.


“Kamu tahu bahwa promosi di bisnis orang lain tanpa seijinnya bisa berdampak buruk bagi kita? Jika mereka merasa terganggu lalu menuntut kita dan meminta ganti rugi, apa yang akan kamu lakukan?”


Ailey hanya menundukkan kepalanya. Kedua tangannya terkatup rapat di depan pahanya. Sebuah gesture yang menunjukkan rasa patuh dan pasrah. Dia tahu bahwa seharusnya dia tidak melakukan hal tersebut seenak dirinya sendiri.


“Kamu bisa ganti rugi?” Kevin bertanya kembali dengan marah.


“Maaf, Pak! Saya mengaku salah. Saya tidak akan mengulanginya lagi.” Jawab Ailey panik.


“Sepertinya Lina salah merekrut kamu. Karyawan yang tidak mau mendengarkan atasannya pasti selalu melakukan hal-hal tidak becus yang dapat merugikan perusahaan.” Tambah Kevin seolah tidak puas dengan permintaan maaf Ailey.


“Saya hanya ingin berpromosi di tempat ramai saja, Pak karena toko kita tidak banyak pengunjungnya. Jika kita bisa mendapatkan setidaknya 50% saja dari pengunjung Engelskraft, bukan tidak mungkin 10% nya akan melakukan transaksi di toko kita, bukan?” Ailey mencoba menjelaskan.

__ADS_1


Kevin terdiam. Penjelasan Ailey yang masuk ke telinganya langsung tercerna secara otomatis di otaknya. Baginya, kalimat tersebut bukanlah kalimat pembelaan seorang karyawan yang takut dipecat, tapi sebuah strategi marketing yang dapat dimatangkan lagi. Kevin mengendurkan urat-uratnya yang tegang. Sambil memandangi Ailey yang terlihat cemas dan penuh rasa bersalah, dia memikirkan sebuah ide.


“Kolaborasi.” Gumam Kevin.


“Eh?” Ailey yang tidak mendengar suara bosnya itu dengan jelas terlihat penasaran melihat wajah Kevin yang tiba-tiba bersemangat.


“Kamu kembali lah bekerja. Lain kali tidak ada kata maaf untukmu.” Kata Kevin.


“Terima kasih, Pak.” Ailey lalu keluar dari ruangan tersebut dan menyusul Siti yang berjaga di luar.


Kevin masih terdiam di ruang karyawan sambil menyilangkan tangan di depan dadanya. Dalam diamnya, sebenarnya dia sedang memikirkan gagasan-gagasan cemerlang yang datang dari kelakuan Ailey yang sembrono. Tampaknya, Ailey tidak sepenuhnya bodoh di mata Kevin. Hal ini yang membuatnya melunak dan membiarkan Ailey tetap bekerja di sana.


***


“Sorry, menunggu lama, ya?” Kata Kevin masuk dengan tergesa-gesa.


“Oh, tidak apa. Tumben sekali kau mengajakku meeting mendadak. Bukannya, kamu ada urusan di mall, ya?” Tanya Lina.


“Justru itu! Aku mendapatkan ide bagus. Ayo berkolaborasi dengan Engelskraft!” Kata Kevin bersemangat.


“Tunggu dulu! Sebaiknya kau menjelaskannya terlebih dulu padaku. Aku sama sekali tidak mengerti.” Respon Lina kaget.

__ADS_1


“Engelskraft sedang naik daun di mall kita. Ayo kita gunakan kesempatan ini untuk meningkatkan jumlah pengunjung di toko elektronik kita juga!” Jelas Kevin dengan singkat dan padat.


“Tidak usah terlalu memikirkan toko itu. Engelskraft sudah membawa banyak keramaian di mall kita, kita bisa mengambil sebagian keuntungan yang kita dapat dari mall Abram City untuk kelangsungan toko elektronik kita. Tenang saja, aku sudah menghitung semuanya!” Tegas Lina meyakinkan.


“Tidak! Abram Corporation bisa menjadi besar awalnya karena bisnis elektronik orang tuaku. Tanpanya, mereka tidak akan bisa membangun Mall Abram City. Aku ingin meneruskan legacy kedua orang tuaku.” Jelas Kevin pantang menyerah.


“Tapi, daripada kita memikirkan bisnis yang sudah mulai meredup, bukankah sebaiknya kita memikirkan bisnis lain yang menjadi potensi besar bagi perusahaan ini?” Lina terdengar tidak mau kalah. Sifat dominannya kembali muncul.


“Kamu tidak akan mengerti. Panggil tim marketing kita, aku yang akan mengurus semuanya.” Kata Kevin tegas sambil menatap mata Lina dengan tajam.


Lina yang pandai berargumen langsung luluh melihat kuatnya tekad Kevin. Matanya memancarkan keteguhan yang kuat dan tak tergoyahkan. Suasana hening terbentuk beberapa saat di antara keduanya sebelum akhirnya Lina mengiyakan.


“Baiklah. Jika CEO yang meminta, aku bisa apa. Akan aku panggil tim marketing kita untuk membicarakan hal ini. Aku akan membantumu, tunanganku.” Balas Lina patuh.


Kevin tersenyum senang mendengar kepatuhannya. Dia tidak sabar untuk membuat terobosan di toko elektronik miliknya. Sekali pun orang-orang mulai berpindah dari toko offline ke toko online, namun Kevin tetap ingin mempertahankan warisan pertama orang tuanya itu. Ibaratnya, toko elektronik itu yang menjadi saksi bisu terbentuknya Abram Corporation hingga menjadi raksasa bisnis properti di Indonesia seperti sekarang.


Mall Abram City sebelumnya adalah sebuah pusat perbelanjaan tua yang fokus pada penjualan barang-barang elektronik. Orang tua Kevin membuka usaha toko elektronik pertamanya di sana dengan nama Abram Elektronik yang masih digunakan oleh penerusnya, Kevin. Usaha mereka sangat maju hingga dapat membuka beberapa cabang di kota-kota besar lainnya. Namun, sayangnya 6 tahun lalu pusat perbelanjaan tersebut dikabarkan gulung tikar. Karena merasa memiliki ikatan yang kuat dengan tempat itu, orang tua Kevin membeli properti tersebut untuk mempertahanakan lokasi pertama usahanya dibuka. Dibantu oleh pamannya yang merupakan investor terkemuka di Asia, akhirnya pusat perbelanjaan tua itu direnovasi dengan wajah baru bernama Mall Abram City. Bahkan, pamannya ikut membeli tanah di sekitarnya untuk memperluas area mall tersebut. Jelas saja Kevin sangat membanggakan mall itu, termasuk toko Abram Elektronik yang ada di dalamnya.


“Lina, tampaknya kamu harus lebih baik terhadap karyawan baru itu.” Lanjut Kevin.


“Siapa? Maksudmu Ailey?” Tanya Lina ketus.

__ADS_1


“Terkadang, kita tidak tahu hal baik apa yang bisa dilakukan oleh orang lain untuk kita.” Jawab Kevin sambil mengedipkan matanya. “Aku ke ruanganku sebentar. Kabari aku jika tim marketing sudah berkumpul di sini.”


Perkataan Kevin mengganggu Lina. Dia masih tidak mengerti maksud perkataan pria itu dan hubungannya dengan Ailey. Tampaknya ada yang dilewatkan olehnya hari itu hingga membuatnya penasaran. Lina hanya bisa menatap punggung Kevin yang akhirnya berlalu dari hadapannya. Sudah lama sekali Kevin tidak sehidup itu.


__ADS_2