Engelskraft: Cinta Malaikat Terbuang

Engelskraft: Cinta Malaikat Terbuang
Obrolan Antar Lelaki


__ADS_3

Sudah hampir satu jam berlalu selepas jam kerja Ailey berakhir. Dia berdiri di sebelah meja bar dengan tas yang menggantung di bahunya. Sesekali dia mencocokkan jarum jam yang ada di pergelangan tangannya dengan jam dinding yang terpasang di dinding kafe Engelskraft.


“Masih belum dijemput?” Tanya Ferdi yang sedang menyiapkan kopi pesanan pengunjung.


“Iya, tidak biasanya CEO itu terlambat.” Jawab Ailey.


“Sudah kamu telepon belum?” Tanyanya kembali.


“Sudah, Fer. Tapi tidak diangkat. Mungkin ada meeting mendadak.” Kata Ailey lesu.


Wajah Ailey terlihat cemas. Sekalipun dia berusaha untuk berpikir positif, namun sebenarnya dia takut bila terjadi hal buruk pada Kevin. Pemandangan tersebut mencuri perhatian Milo yang sedang mengobrol dengan salah satu pengunjung kafe hingga ia menghampirinya.


“Mana Kevin?” Tanya Milo.


Ailey hanya menggelengkan kepala. Sepertinya dia malas menjawab pertanyaan yang sama. Ponselnya tiba-tiba bergetar dan dia melihat pesan masuk dari Kevin.


“Katanya dia tidak bisa menjemputku karena masih ada urusan di kantor.” Kata Ailey sambil membaca pesan tersebut.


“Ya sudah. Aku antar kamu pulang, ya.” Milo memberikan tawaran.


“Tidak perlu. Merepotkan kamu saja.” Tolak Ailey.


“Tidak usah sungkan, seperti orang asing saja. Ayo!”


Dari kejauhan terlihat Kevin sedang memegang ponselnya. Dia mengamati Ailey dari sudut gedung yang tersembunyi. Dia melihat wanita tersebut berjalan lesu bersama Milo menuju ke parkiran. Wajahnya terlihat sendu karena telah berbohong padanya.


Selama perjalanan pulang, Ailey duduk melamun di kursi penumpang. Matanya menerawang ke ponsel yang ada di atas pahanya. Milo merasa ada yang tidak beres pada perempuan itu.


“Kenapa hari ini kamu lemas sekali? Apa yang sedang kamu pikirkan?” Tanya Milo penasaran.


Ailey menghela napas panjang, “Hari ini ada yang berbeda pada Kevin.”


“Berbeda kenapa?”


“Biasanya dia selalu mengirimkan pesan dengan cerita yang penuh antusias. Tapi pesannya hari ini hanya pesan-pesan singkat seadanya.”

__ADS_1


“Kalian sedang bertengkar?” Lanjut Milo bertanya.


“Tidak. Justru semalam kami makan malam dengan orang tuanya dan semuanya berjalan lancar. Makanya aku bingung dengan sikapnya hari ini.” Jelas Ailey.


Sambil memegang setir, Milo mencoba untuk melihat apa yang sedang terjadi melalui kekuatan malaikatnya. Kepingan-kepingan visual terlihat begitu jelas mempertontonkan kejadian sebenarnya yang tidak diketahui oleh Ailey setelah makan malam kemarin. Ailey yang menyadari tatapan kosong di mata malaikat itu segera menggoyangkan lengannya yang sedang memegang kemudi.


“Hei, kamu jangan bengong! Berbahaya di jalan yang ramai begini.” Tegur Ailey membuyarkan penglihatan Milo.


“Ah, maaf. Aku tetap memperhatikan jalan di depan, kok.” Balasnya.


“Oh, iya. Kamu pasti bisa menggunakan kekuatanmu untuk mencari tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi. Please, bantu aku!” Rajuk Ailey.


“Tidak mau! Aku… Aku akan kelelahan jika menggunakan kekuatanku. Kamu lebih baik tanya langsung padanya.” Kata Milo mengelak.


“Ah, percuma memiliki teman malaikat sepertimu! Sebal!” Kata Ailey kesal.


Milo sengaja tidak ingin memberitahukan penglihatannya pada Ailey. Jika dia tahu, pasti dia akan sangat sedih dan kecewa karena orang tua Kevin tidak menyetujui hubungan mereka. Oleh karena itu, dia menyimpannya rapat-rapat dan menolak permintaan Ailey.


“Mungkin aku saja yang terlalu overthinking. Pasti dia sibuk sekali hari ini. Ya, pasti dia sibuk!” Gumam Ailey berusaha memvalidasi pemikirannya sendiri.


***


Begitu jam menunjukkan pukul 12 siang, karyawan Abram berbondong-bondong keluar untuk makan siang, termasuk si resepsionis. Melihat kesempatan itu, Milo menerobos masuk untuk mencari Kevin yang dari tadi tidak muncul di hadapannya. Dia menyusuri lorong perkantoran tersebut untuk mencari ruangan sang CEO. Pada akhirnya, dia menemukan Kevin sedang melamun di dalam ruangan yang cukup besar.


“Jadi begini caramu memperlakukan Ailey?” Tanya Milo tanpa basa-basi sambil masuk ke dalam ruangan tersebut.


“Milo?” Kevin mendadak kaget melihat pemilik Engelskraft itu menerobos masuk ke dalam ruangannya. “Apa yang kamu lakukan di sini?”


“Jawab saja pertanyaanku! Mengapa kamu memperlakukan Ailey dengan cara yang sangat pengecut?” Sambungnya sambil meraih kerah sang CEO hingga membuatnya berdiri dari kursi malasnya.


“Hei, hei! Kasar sekali!”


“Jawab!!” Teriak Milo sambil mendorong Kevin hingga terjatuh ke atas kursinya.


CEO tersebut menunjukkan muka tidak senang sambil memperbaiki kerahnya yang berantakan.  Dia mengatur napasnya untuk tidak menyulut pertikaian di kantornya itu.

__ADS_1


“Kamu tidak perlu ikut campur. Lagipula, apa yang kamu ketahui tentang kami berdua?” Tanya Kevin penuh konfrontasi.


“Aku tahu semuanya! Jika kamu memang lebih memilih perusahaan ini dibanding Ailey, lebih baik kamu mundur. Jangan sakiti hati perempuan itu!”


“Kamu tahu dari mana? Ahhh, sudahlah itu tidak penting! Keluar dari ruanganku sekarang!” Perintah Kevin dengan suaranya yang lantang.


“Jadilah laki-laki yang gentle! Jika kamu memang ingin menjauh dari Ailey, katakan langsung padanya! Jangan membuat dia menerka-nerka sendiri!” Jelas Milo.


“Keluar!” Teriak Kevin tidak tahan lagi sambil beranjak dari kursinya. “Kamu tidak mengerti apa yang aku alami dan rasakan. Tidak perlu mengajariku seolah-olah kamu yang paling pintar.”


“Aku memang tidak mengerti cara berpikir manusia rendahan sepertimu.”


Brukk!


Kepalan tangan Kevin mendarat di muka sang malaikat hingga membuatnya terjatuh. Hal tersebut menyulut api amarah Milo lebih lagi. Tanpa pikir panjang, Milo membalas pukulan CEO tersebut dan terjadilah baku hantam hingga menarik perhatian karyawan-karyawan yang ada di sana. Pukulan demi pukulan dilancarkan silih berganti. Karyawan yang terusik dengan kegaduhan tersebut segera menerobos ke dalam dan berusaha melerai mereka berdua.


***


Kevin dan Milo duduk bersebelahan sambil mengobati luka mereka masing-masing dengan obat merah yang disediakan oleh karyawan Abram. Di dalam ruangan CEO yang besar itu, keheningan membuat seisi ruangan terasa sangat hampa.


“Milo…” Kevin memecah kesunyian.


Milo yang masih kesal padanya akibat pukulan-pukulan yang menyebabkan memar di wajahnya hanya bisa menoleh ke arah CEO itu tanpa membalas.


“Jaga Ailey untukku.” Sambung Kevin.


“Aku akan menjaganya tanpa kamu suruh.” Ujar Milo dengan ketus.


“Mungkin memang aku ini pria pengecut. Tapi satu yang perlu kamu tahu, perasaanku pada Ailey benar-benar tulus.”


“Benarkah?” Tanya Milo meragukan.


“Biar aku menyelesaikan permasalahanku dulu. Jadi, sampai semuanya beres, tolong gantikan aku untuk menjaganya karena aku tidak mau membawa Ailey terjerumus ke dalam masalahku yang rumit.” Ucap Kevin dengan suara lirih.


Kedua pria tersebut tidak saling menatap satu sama lain karena gengsi. Meskipun Milo tidak membalas perkataannya, sekalipun Kevin tidak melihat seperti apa ekspresi Milo saat mendengarnya, Kevin tahu bahwa Milo dapat dipercaya untuk menjaga wanita yang dicintainya. Keheningan kembali terjadi di ruangan itu. Lalu, mereka berdua kembali melanjutkan mengobati memar yang ada di wajah masing-masing tanpa mengucapkan satu kata pun.

__ADS_1


__ADS_2