Engelskraft: Cinta Malaikat Terbuang

Engelskraft: Cinta Malaikat Terbuang
Selamat Tinggal, Abram


__ADS_3

Matahari pagi tampak malu-malu bersembunyi di balik awan. Cuaca yang cukup kelabu mempengaruhi suasana hati Ailey. Entah mengapa dia merasa tidak nyaman sejak bangun pagi tadi. Seakan alam semesta melarangnya untuk beraktivitas.


Sesampainya di toko, dia melihat Siti duduk termenung di meja kasir. Wajahnya tampak cemberut memandangi layar monitor di depannya. Matanya terlihat fokus membaca sesuatu yang ada di sana.


“Pagi Siti. Ada apa pagi-pagi begini, kok sudah cemberut?”


Siti yang kaget dengan kedatangan Ailey segera mengganti window yang sedang dilihatnya. Perilakunya seperti sedang menyembunyikan sesuatu.


“Hmm, kenapa panik begitu? Penjualan kita turun?” Tanya Ailey khawatir.


“Tidak, bukan apa-apa. Ayo segera ganti baju sebelum toko buka!” Kata Siti mengalihkan pembicaraan.


Rasa penasaran menyelimuti wanita itu. Begitu melihat Siti sudah tidak ada di dekatnya, Ailey membuka komputer dan melihat beberapa laman yang sedang dibuka oleh rekannya. Namun dia tidak menemukan kejanggalan satu pun. Satu per satu laman itu dia tutup dan menyisakan sebuah laman inbox perusahaan yang tersambung di email toko elektronik Abram. Di situ dia melihat sebuah email berjudul “Pengumuman Pemecatan Karyawan” yang dikirim oleh personalia.


Email itu mengusik hatinya. Dengan tangan gemetar dia membuka email tersebut. Ailey terperanjat begitu melihat isinya. Terpampang jelas foto wajahnya yang menerangkan bahwa dia dipecat dari Abram. Sungguh sesuatu hal yang tidak masuk akal karena penjualan toko mulai membaik, mengapa ada pemecatan karyawan? Tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, dia membaca dengan teliti kalimat yang ada di bawahnya:


“Hal Pemecatan: Kondisi kesehatan yang tidak memungkinkan dirinya untuk bekerja”


Tubuhnya membatu, pandangannya kabur. Kenapa alasan pemecatan dirinya berhubungan dengan kondisi kesehatan? Apa penyakit HIV yang menjangkitnya sudah diketahui oleh manajemen? Pikirnya dalam hati.


“Siti, Siti! Kamu tahu hal ini? Apa yang sebenarnya terjadi?” Tanya Ailey panik sambil memanggil temannya tersebut.


Siti yang melihat Ailey berlinang air mata hanya bisa menatapnya iba tanpa berbicara sepatah kata pun. Matanya ikut berkaca-kaca karena dia tidak mampu menyembunyikan berita buruk itu dari temannya.


“Email ini yang dari tadi kamu perhatikan? Kenapa aku dipecat?” Ailey menggenggam kedua lengan Siti dengan histeris.


“Ailey, kamu… Kamu menderita HIV?” Tanya Siti gemetar.


Ailey tersentak dan melepaskan genggamannya perlahan. Air mata mengalir semakin deras tak tertahankan.


“HIV? Kamu tahu dari mana?” Suara Ailey terdengar gugup.


“Berita ini sudah menyebar sejak tadi pagi di seluruh pegawai toko. Katakan padaku, apakah kamu benar-benar mengidap HIV?” Lanjut Siti bertanya.


Wanita itu tidak menjawab, dia hanya memalingkan mukanya dengan raut yang cemas. Terlalu berat hal yang dia terima pagi itu sehingga membuatnya tak sanggup memberikan jawaban dengan tegar.


“Jadi, semua itu benar?”

__ADS_1


“Maaf, aku menyembunyikannya selama ini. Tapi bukankah penderita HIV masih memiliki hak yang sama untuk bekerja?” Kata Ailey sambil menunjukkan wajahnya yang basah karena air mata.


Siti hanya menatapnya dalam diam. Perlahan air mata juga mengalir di pipinya karena kasihan pada temannya itu. Belum sempat dia berbicara, Ailey langsung pergi meninggalkannya seorang diri.


***


Langkah seribu diambil oleh Ailey menuju gedung Abram Corporation. Dia menerobos masuk ke dalam tanpa mengindahkan pandangan sinis dari orang-orang sekitar. Dengan segera dia berada di dalam ruang personalia untuk meminta penjelasan.


“Apa maksudnya ini? Mengapa saya dipecat?” Protesnya.


“Ailey, maaf kami tidak dapat menerima karyawan yang memiliki penyakit serius sepertimu. Hal ini tentu akan mengganggu pegawai yang lain saat berada di dekatmu.” Jelas karyawan personalia itu.


“Bukankah tidak ada aturan dari pemerintah yang melarang pengidap HIV untuk bekerja? Jika memang ada, sebutkan peraturan yang mana!” Jelas Ailey tanpa bisa mengontrol emosinya.


Karyawan tersebut hanya terdiam mendengar protes dari Ailey. Dia menghela napasnya lalu menjawab, “Kamu benar. Mungkin kamu bisa tanyakan pada atasanmu yang meminta pemecatan ini.”


Ailey terperangah. Emosinya memuncak. Dia tidak pernah segeram ini semenjak kasus pemerkosaannya dulu. Dia langsung meninggalkan ruangan itu dan menuju ruangan bosnya.


Pintu ruangan Lina dibuka dengan kasar tanpa permisi oleh Ailey. Lina yang berada di dalamnya kaget hingga hampir melompat dari kursi.


“Ternyata benar Anda yang memecat saya? Apa maksud Anda?” Tanya Ailey penuh amarah.


“Kenapa masih bertanya? Sudah jelas kalau penderita HIV sepertimu akan menjadi beban bagi perusahaan ini. Kamu tidak memikirkan karyawan yang lain karena merasa tidak nyaman bekerja?” Jelasnya angkuh.


“Lalu apakah Anda dan perusahaan memikirkan saya? Selama ini saya bersabar menghadapi atasan seperti Anda. Tapi hal ini sudah di luar batas.” Timpal Ailey.


“Sungguh tidak sopan!” Protes Lina.


Plak!


Tamparan melayang ke pipi Ailey dari tangan Lina. Sesaat ruangan tersebut hening seketika.


“Anda benar-benar tidak tahu malu. Sudah memecat saya masih berani menampar saya. Apakah Anda seorang manusia?” Kata Ailey dengan suaranya yang parau. Air mata menggenang di kantong matanya. Sebisa mungkin dia menahannya agar tidak mengalir di depan atasan yang sombong itu.


“Jangan salahkan aku! Salahkan dirimu sendiri karena berani mendekati tunanganku.” Jelasnya tanpa rasa bersalah.


Ailey menegakkan badannya dan menghela napas panjang karena sudah lelah mendengarkan drama seperti itu terus-menerus dari Lina.

__ADS_1


“Aku tidak pernah mendekati tunangan Anda. Silahkan tanyakan sendiri padanya.”


Lina menatap Ailey dengan tajam seolah ingin mengatakan bahwa dirinya tidak peduli dengan pembelaan yang diberikan. Dia beranjak dari kursi dan menuju pintu ruangannya. Sambil membenahi rambutnya, dia mengulurkan tangannya keluar.


“Silahkan pergi dari sini, kamu bukan bagian dari Abram Corporation lagi.” Katanya tanpa melihat Ailey.


Emosi yang menggebu-gebu memenuhi Ailey. Tidak ingin menambah lelah dirinya dengan berdebat, dia bergegas melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu. Baru melangkahkan kakinya beberapa meter, sekujur tubuhnya gemetar karena baru saja meluapkan amarah yang dipendamnya selama ini. Air mata yang ditahannya mulai mengalir dengan deras. Karyawan-karyawan Abram di sekitarnya melihat wanita itu dengan kasihan tapi tidak ada yang berani mendekatinya karena isu HIV yang sudah tersebar.


Kakinya yang lunglai berjalan dengan lemas menuju lift. Pandangannya kosong karena pergolakan emosi yang dirasakannya begitu hebat. Suara bel dari lift terdengar dan pintu lift terbuka otomatis. Tanpa melihat sekeliling, dia masuk ke dalam dan lift mulai bergerak turun.


“Sedang apa kamu di sini? Bukankah kamu ada shift di toko?” Suara Kevin membuyarkan lamunan wanita itu.


Ailey menoleh dan melihat Kevin di sebelahnya tanpa ada orang lain di sana. Muka sembab dan pipi yang memerah akibat tamparan mencuri perhatian Kevin hingga membuatnya cemas.


“Kamu habis menangis? Kenapa dengan pipimu? Apa yang terjadi?” Tanyanya lembut.


Ailey mengusap pipinya yang basah dengan tangannya. Lalu dia merapikan bajunya yang kusut. Dia tidak sanggup menatap CEO-nya tersebut yang tampaknya tidak tahu apa-apa.


“Pak, jika saya boleh meminta sesuatu padamu, saya mohon untuk jangan memperlakukan saya dengan baik seperti ini lagi.” Katanya terbata-bata dengan kepala yang menunduk ke bawah.


“Maksudnya?”


“Jangan baik padaku…” Lanjutnya sambil mendongak menatap Kevin. “Saya sangat menghargai perlakuan baik Bapak kepada saya selama ini. Tetapi apa kata orang nanti jika melihat seorang CEO seperti Bapak memperlakukan karyawan seperti saya dengan begitu spesial. Saya tidak mau ada yang salah paham.” Kata Ailey sambil menyunggingkan senyuman yang penuh kesedihan.


“Kenapa tiba-tiba kamu berbicara seperti ini?” Tanya Kevin penasaran saking bingungnya.


“Berbahagialah dengan Bu Lina. Mulai saat ini, cukup perlakukan saya selayaknya karyawanmu.” Ailey tercekat mendengar omongannya sendiri. “Oh, saya lupa bahwa mulai hari ini, saya bukan karyawan Bapak lagi.”


Ting. Suara lift berbunyi menandakan perhentiannya di lantai dasar. Ailey menerobos pintu lift dan berlari keluar dengan kencang meninggalkan Kevin yang masih dipenuhi tanda tanya. Dia menerka-nerka maksud perkataan Ailey tersebut. Wajah sembab dengan pipinya yang bengkak mengganggu pikirannya.


Beberapa karyawan Abram memasuki lift yang sama dengan Kevin. Tanpa sengaja dia mencuri dengar pembicaraan mereka.


“Kasihan, ya Ailey dipecat begitu saja oleh Bu Lina tanpa pemberitahuan terlebih dulu. Selain itu, pemecatan harusnya personal. Masa diumumkan melalui email ke seluruh jaringan kantor?” Bisik salah satu karyawannya.


“Iya, sih. Tapi sejujurnya aku setuju, sih dengan pemecatan itu. Aku tidak mau ada penderita HIV bekerja di sekitarku. Takut.” Balas yang lainnya.


Kevin terkejut mendengar pembicaraan tersebut. Lututnya lemas hingga dia harus menyandarkan tubuhnya pada sisi lift di belakangnya. Dia bahkan belum sempat mengkonfirmasi obat HIV yang ditemukan Lina pada Ailey. Terngiang di benaknya, wajah Ailey yang masih memaksakan senyuman di pipinya walau telah dipecat. Saat itu, Kevin menyadari betapa tegarnya perempuan tersebut.

__ADS_1


__ADS_2