Engelskraft: Cinta Malaikat Terbuang

Engelskraft: Cinta Malaikat Terbuang
Orang Tua Kevin


__ADS_3

Suara klakson kendaraan memadati jalan protokol malam itu. Mobil dan motor saling berebut mengambil jalur karena tidak sabar terlepas dari kemacetan. Bisingnya Jakarta benar-benar tidak dapat diampuni.


“Sudah jam segini, bagaimana ini?” Keluh Kevin di kursi kemudi.


“Memangnya kita mau kemana, Vin?” Tanya Ailey.


“Makan malam seperti yang sudah aku bilang.”


“Santai saja. Aku belum terlalu lapar, kok.” Kata Ailey menenangkan.


“Bukan itu masalahnya. Hmm…” Ujar Kevin dengan ragu.


“Hmm kenapa? Ada yang kamu sembunyikan dariku?”


Kevin mengetuk-ngetuk jarinya di atas kemudi. Dia menelan ludah saking gugupnya. Sepertinya memang ada yang disembunyikan dari pria itu.


“Katakan padaku!” Paksa Ailey.


“Iya, iya! Sebenarnya aku juga mengajak orang tuaku untuk makan bersama kita.” Jawabnya panik.


“Apa?! Kenapa kamu tidak bilang hal sepenting ini?”


Dengan cekatan, Ailey membuka tasnya dan mengambil beberapa kosmetik. Dia mengarahkan cermin kecil yang ada di tangannya dan mulai memoles mukanya dengan bedak. Sambil memastikan tidak ada yang terlewat, dia melanjutkan mengecat bibirnya dengan lipstik berwarna merah muda.


“Ya, ampun. Masih sempatnya berdandan di saat macet begini.” Ucap Kevin sambil tertawa.


“Justru itu, mumpung macet. Memangnya kamu janji makan malam jam berapa?” Tanyanya kembali.


“Jam 7. Sekitar 5 menit lagi.” Kata Kevin gusar.


“Kevin! Bagaimana ini? Mukaku mau ditaruh di mana???” Ailey berteriak histeris.


“Hahaha. Nah, sekarang kamu yang panik!” Kevin tertawa melihat reaksi wanita itu.


“Klakson lagi! Lama sekali, sih mobil di depan!” Keluh Ailey.

__ADS_1


Karena kejamnya kemacetan Jakarta di malam hari, mereka berdua hanya bisa mengumpat di dalam mobil sambil memperhatikan jam tangan masing-masing. Sepertinya, pertemuan pertama Ailey dengan kedua orang tua Kevin akan menjadi hal yang tak terlupakan.


***


Keheningan meliputi meja makan dengan berbagai macam masakan Jepang. Dari sushi, sashimi, takoyaki, hingga yakitori telah tersedia dengan rapi tanpa tersentuh. Suasana yang terbentuk tidak menunjukkan kenyamanan sama sekali.


“Ayah, Ibu. Kenalkan, ini Ailey.” Sapa Kevin mengenalkan Ailey dengan rasa berdebar.


“Selamat malam. Saya Ailey. Maaf kami telat karena macet.” Kata Ailey dengan sungkan.


Kedua orang tua Kevin tidak membalas sepatah kata pun. Mereka berdua hanya diam memandang dua anak muda tersebut dengan dingin. Menyadari suasana yang kurang mengenakkan, Kevin mencoba untuk mencairkan suasana.


“Wah, kalian tahu saja makanan kesukaanku. Aku duluan, ya!” Katanya sambil mengambil sushi dengan sumpit di kedua tangannya lalu melahapnya.


“Masih enak? Sudah 15 menit, lho sushi itu berada di atas meja.” Sindir sang ibu.


Kevin terdiam sambil mengunyah dengan perlahan sushi tersebut. Sesekali pandangannya bertemu dengan Ailey yang ada di sebelahnya. Mereka berdua merasa tidak enak dengan kedua orang tua Kevin.


“Langsung saja, jadi perempuan ini yang membuatmu membatalkan pertunangan dengan keluarga Marliani?” Kata sang ayah tanpa basa-basi.


“Ayah, aku yang membuat keputusan itu. Jangan salahkan Ailey! Dia tidak tahu apa-apa.” Bela Kevin.


“Saya ingin tahu apa yang membuatmu lebih memilih wanita ini dibanding Lina. Katakan pada ayah, tiga alasan saja.” Kata ayah.


Kevin menelan ludahnya. Dia tahu ayahnya sedang menguji dirinya apakah dia benar-benar serius terhadap Ailey atau tidak. Dia menoleh ke arah Ailey dan wanita itu hanya membalasnya dengan mengangkat kedua bahunya yang mungil. Kini, hanya Kevin yang dapat mengontrol situasi makan malam tersebut.


“Ehem… Jujur, aku tidak pernah membayangkan akan menyukai seseorang seperti Ailey. Dia sama sekali bukan tipeku.” Terang Kevin.


Ailey yang mendengar hal tersebut refleks mencubit pinggang Kevin hingga pria itu mengernyit kesakitan. Kedua orang tuanya tetap diam menunggu Kevin selesai menjelaskan.


“Meskipun begitu, Ailey adalah satu-satunya wanita yang mampu menurunkan egoku. Entah dia mendapat kekuatan magis dari mana hingga membuat arogansiku tak berdaya di hadapannya. Hanya dia yang mampu membuatku menyukai seseorang dengan tulus tanpa mengharapkan imbalan apa pun.” Sambung Kevin menjelaskan.


Ibu Kevin yang tadi menunjukkan tatapan sinis mulai mengubah raut mukanya. Dia menatap anaknya tersebut dengan rasa bangga dan haru. Ailey yang menyadari perubahan tersebut menyenggol sikut Kevin dan memberikan jempol di balik meja hingga membuat Kevin tersenyum kecil dengan lega.


“Ehem!” Ayah berdeham mencoba untuk mengambil alih suasana di sana. “Lalu alasan kedua dan ketiga?” Lanjutnya.

__ADS_1


Kevin terperangah mendapatkan jawabannya tersebut tak mampu membuat ayahnya mengerti. Dengan gugup, dia menangkap tangan Ailey yang berada di bawah meja dan menggenggamnya kuat. Terasa sekali bahwa Kevin menaruh rasa hormat dan sungkan yang begitu besar terhadap ayahnya.


“Ayah ini jangan kaku begitu! Jawaban Kevin tadi sudah cukup memuaskan.” Sela sang ibu, lalu dia melanjutkan, “Ailey, saya perhatikan pakaian yang kamu pakai itu adalah tren lima tahun lalu.”


“Eh, itu…” Ailey kaget mendengarnya, dia takut ibu Kevin akan memandangnya rendah karena cara berpakaiannya, sama seperti perlakuan Lina terhadapnya.


“Tante suka sekali, lho tren yang sudah lewat. Apalagi pakaian-pakaian retro. Selera kita sama.” Kata ibunya.


Ailey terheran-heran mendengar hal tersebut. Padahal, dia memakai pakaian tersebut karena memang tidak ada pakaian lain di lemarinya.


“Ayo, kamu juga makan yang banyak. Lihat, tubuhmu begitu kurus!” Kata ibu sambil menaruh sashimi segar ke piring Ailey.


“Te…terima kasih.” Balas Ailey kebingungan melihat perangai baik ibu Kevin.


“Kamu ini mengganggu suasana saja. Saya ‘kan sedang ingin serius.” Kata sang ayah kepada ibu.


“Maaf, saya tidak kuat melihat mereka berdua tegang seperti itu. Sudahi saja drama ini, ya.” Jawab sang ibu.


Kevin tertawa mendengar hal tersebut keluar dari mulut orang tuanya. Ailey pun melihat situasi tersebut dengan perasaan lega. Dia kira, kedua orang tua Kevin akan memberi perlakuan buruk terhadapnya. Namun, dia melihat senyuman bahagia dari keluarga tersebut yang menenangkan hatinya.


“Jadi, apakah Kevin sudah menyatakan cintanya kepadamu?” Tanya ayah penasaran pada Ailey.


“Ah, itu… anu…” Ailey tersipu malu.


Melihat Ailey yang kembali grogi, Kevin mengambil alih pembicaraan tersebut. “ Ayah, sebenarnya Ailey belum menjawab pernyataan cintaku.”


“Wah, jadi kalian sudah pacaran atau belum? Mana mungkin anakku berani mengenalkan seorang wanita pada kami jika belum terjalin hubungan yang serius.” Balas ayah.


“Hehehe. Sepertinya Ailey memang tidak suka ditembak. Hubungan kami berjalan secara organik, terjadi begitu saja.” Lanjut Kevin.


“Hoo, benar begitu Ailey? Kamu juga menyukai anakku, ‘kan?” Tanya ayah.


“Itu… Anu… Iya.” Jawab Ailey dengan muka tertunduk malu.


“Ayah, sudah jangan membuat Ailey merasa tidak nyaman. Dia pasti malu ditanya hal seperti itu olehmu.” Tegur ibu.

__ADS_1


Malam itu terasa begitu menentramkan jiwa. Kegusaran yang ada di hati Ailey telah sirna melihat keakraban yang ditawarkan oleh keluarga Kevin. Apalagi bila melihat sang ibu, ia merasa telah menemukan sosok seorang ibu yang sudah lama tidak dirasakannya. Kebahagiaan merasuk ke setiap sumsum tulangnya, dia bersyukur malam itu dikenalkan kepada orang tua Kevin yang penuh kehangatan.


__ADS_2