
Guguran daun dan bunga musim gugur yang hijau menguning memenuhi setiap sudut bagian ibukota kekaisaran dun ming daratan xia, penuh dengan sukacita dan kebahagiaan yang berturut-turut. Perayaan festival musiman yang akan diadakan beberapa hari lagi menambah rasa senang yang begitu dinantikan selama penghujung musim gugur.
Selama musim gugur, semua tanaman dan juga pertanian diseluruh daratan Fangxiang berhasil panen dengan hasil yang melimpah dan penuh, beberapa dari hasil panen itu juga digunakan oleh kekaisaran untuk membawa dan memberikannya pada wilayah kerajaan dongnan yang semua orang dari daratan xia mengetahui bahwa salah satu kerajaan besar didaratan xiang setelah kekaisaran xi mengalami penurunan karena wabah dan penyakit. Selama beratus tahun dan secara turun temurun kedua daratan besar telah menjalin hubungan yang tidak akan saling menyinggung ataupun sebaliknya, dan apa yang dilakukan kekaisaran dun ming juga hanyalah sebagai bentuk untuk daratan xiang agar mengingat tentang batas yang harus dilakukan oleh kedua daratan agar tidak saling berbenturan satu sama lain dan berakhir seperti daratan lain yang sampai saat ini masih saling melahap wilayah mereka satu sama lain.
Daratan fangxiang yang makmur, daratan fangxiang yang kuat dan damai tak mengalami banyak peperangan sebelum kaisar baru yang diangkat secara tiba-tiba menyebabkan banyak ketidaksetujuan dan juga pertentangan disetiap wilayah kerajaan yang dipimpin kaisar baru kekaisaran dun ming. Karena hal itu juga banyak dari wilayah dibawah kekuasaan kekaisaran dun ming diam-diam mulai melakukan persiapan pemberontakan berbeda dengan kondisi di daratan xiang yang mana kaisar kekaisaran xi sendiri yang berambisi untuk menaklukan seluruh wilayah didaratan xiang sebagai wilayahnya sama halnya seperti kekuasaan besar milik kekaisaran xia.
Keramaian dan juga sukacita hiruk pikuk keramaian yang memenuhi setiap jalanan ibukota dan desa-desa. kediaman dan halaman sederhana milik bangsawan serta rakyat biasa yang menyalakan lampion-lampion merah keberuntungan disetiap sudut rumah terlihat sangat damai dan ramai menyimpan banyak rasa kekhawatiran dan harapan agar wilayah mereka akan selalu damai dan damai.
Kelopak yang berjatuhan di halaman kecil desa an menyebarkan warna hijau, merah dan kekuningan yang memenuhi tanah hingga menutupinya. Pagar-pagar tinggi yang menutupi halaman itu disudut ujung desa terlihat tertutup rapat dan penyendiri. Lalu-lalang pengembala dan petani yang membawa sapi mereka sesekali terdengar samar, semua orang yang tinggal didesa an mengetahui bahwa didalam halaman kecil itu berdiam seorang nona bangsawan yang sakit-sakitan dan juga lemah hingga harus menyembuhkan dirinya sendiri didesa terpencil ini.
Menghadap kearah luar jendela, jing mei bersandar dikursi santai bambu sambil menatap kosong kearah luar, ia menunduk melihat tangan kecilnya yang cantik dan lembut terlihat lemah. Ia kembali menatap kosong kearah pohon yang saat ini sebagian besar daunnya telah berubah warna dan hampir habis.
Tiba-tiba, suara teriakan terdengar dari arah luar kamarnya. Ia mengetahui jelas siapa pemilik suara ini dan mengabaikannya.
“Xiaojie, apakah anda tahu di pinggir hutan yang terakhir kali aku datangi saat itu terdapat beberapa tunas baru bunga biru, kita harus cepat-cepat mengambilnya. Ah, dan oh astaga kenapa nona masih berdiam diri ??... cepat, cepat, ayo kita lihat sebentar, saat ini mama tua sedang menerima tamu di halaman milik pemimpin desa”, ucap gadis itu bersemangat.
Jing mei yang mendengar ucapan pelayan mudanya dengan pandangan sunyi. Pelayannya yang satu ini sangat energik dan ceria, ia sendiri sedikit bingung kenapa gadis muda ini sangat ingin mengikutinya hingga diasingkan ditempat kecil dan desa tersembunyi seperti ini.
“jangan lakukan hal itu, aku akan tetap berada ditempat ini, jangan membuat masalah untuk dirimu sendiri dan mama tua, xin er”, jawab lembut jing mei.
__ADS_1
“uh, baiklah, xiaojie”, jawab xin xin lemah.
Ruangan kembali sunyi, suara xin xin yang sebelumnya memenuhi ruangan kamar milik jing mei telah lenyap karena gadis pelayan itu pergi untuk mengambil beberapa makanan ringan untuk nona mudanya.
Jing mei yang melihat hari telah beranjak semakin sore, ia berdiri dan duduk dimeja tempat dimana ia biasa memakan makanannya. Dirinya sedikit menghela nafasnya, akan lebih baik jika dirinya bisa menghidupi dirinya sendiri dan melepaskan ikatan di kediaman yang menjeratnya selama tiga tahun terakhirnya, jika bukan karena sakitnya ia akan melakukan semuanya dan pergi jauh dari pandangan mereka.
“xiaojie, xiaojie, hari ini mama tua memasakkan masakan kesukaan anda”, ucap xin xin yang saat ini menata semua mangkuk didepan jing mei.
“xin er, cukup panggil diriku dengan nama lain kecuali panggilan itu”, ucap jing mei sembari mengambil sumpit kayunya.
Xiaojie, kalimat itu selalu membuatnya harus ingat siapa dirinya.
“tidak apa, terserah kau ingin memanggilku apa”, ucap jing mei.
Xin xin yang mendengar ucapan tuannya yang entah kesekian kalinya memberikan izin kepadanya tersenyum senang. Ia mengangguk beberapa kali sembari menuangkan teh kedalam cangkir kosong milik nona mudanya, dan masih tetap dengan senyuman yang sukses membuat jing mei sedikit menggeleng ringan.
...
Mama tua yang saat ini berada di rumah pemimpin desa an terus menerus mengeluarkan keringat dingin, wanita tua itu tanpa sengaja mendengar bahwa furen kediaman utama akan melakukan sesuatu pada nona mudanya. Ia sangat khawatir mengingat bagaimana kondisi kesehatan nona mudanya yang lemah dan lemah.
__ADS_1
“daren, apakah ada hal lain yang furen sampaikan waktu anda berada di ibukota ??”, tanya mama tua.
Mama De setelah mendengar semua ucapan pemimpin didesa an itu bergegas pergi kembali ke halaman nona mudanya. Wanita itu terlihat begitu gelisah dan berjalan cepat menuju halamannya. Masuk kedalam halaman dan mengunci rapat-rapat pintu pagar, ia bergegas pergi ke kamar nona mudanya saat melihat lampu kamar itu masih hidup.
“mama, kenapa begitu larut ??”, tanya jing mei pada wanita paruh baya didepannya yang saat ini duduk menghadap kearahnya.
“nona, apakah akan senang jika suatu hari nanti kembali ke ibukota”, tanya mama de hati-hati.
Jing mei yang saat ini tengah membaca bukunya menghentikan tangannya yang akan membuka lembar halaman, tapi tak berapa lama ia kembali melanjutkan aktivitasnya seperti tidak terjadi apapun setelahnya.
“jika itu fuqin yang mengizinkan, bukankah aku harus tetap akan kembali walaupun aku mau atau tidak itu akan tetap sama saja bukan”, ucap jing mei tanpa nada apapun disuaranya yang terdengar begitu lembut dan datar.
“mama, beristirahatlah, malam sudah larut”, lanjut jing mei.
“mengerti, xiaojie, anda juga beristirahat”, jawab mama de lembut.
“en, jangan khawatir”, jawab jing mei.
Jing mei sangat mengetahui apa yang ingin dikatakan mama de untuknya, dan dirinya sendiri juga sangat tahu apa yang akan dilakukan kediaman Li kali ini. jika bukan karena sebuah kontrak pernikahan itu juga bisa jadi sesuatu tengah terjadi dikediaman dan mengharuskannya untuk menunjukkan dirinya di ibukota. Ia sendiri juga mengetahuinya, jika itu tentang kontrak pernikahan kemungkinan akan terjadi di tahun berikutnya karena umurnya akan menginjak dewasa pada tahun itu. Tapi kali ini sepertinya sesuatu yang lain terjadi didalam kediaman dan ia hanya bisa menunggu dengan tenang.
__ADS_1