
Malam ini langit begitu cerah dan cerah, awan tak menutupi bintang-bintang yang bersinar, sinar bulan sabit yan lembut juga terlihat cerah saat ini. Malam yang damai.
Jing mei yang saat ini bersembunyi di dalam ceruk akar pohon terlihat begitu kelelahan, dengan satu tangannya yang kini telah menahan pergelangan kakinya yang mulai membengkak, ia berusaha sekuat tenaga untuk tidak mengeluarkan suaranya.
Belati masih ia pegang dengan erat ditangannya, ia tak tahu kapan dan bagaimana pembunuh itu akan menemukan tempat persembunyiannya. Saat ini tenaganya sudah hampir habis.
Telinga jing mei sedikit bergerak saat ia mendengarkan sebuah langkah kaki yang menuju kearah dimana ia bersembunyi. Saat ia semakin waspada dan waspada, ia dikejutkan dengan kehadiran pembunuh itu yang dengan cepat menariknya keluar dari dalam ceruk akar pohon.
Pembunuh itu dengan kejam mencengkeram leher jing mei dan membanting tubuh lemah itu kearah batang pohon.
“akh…”, desis jing mei kesakitan, ia menggerakkan tubuhnya dengan kasar berusaha untuk melepaskan cengkeraman kuat dilehernya ini.
“lepas..lepaskan”, bisik jing mei serak, ia memukul tangan pembunuh didepannya ini, saat ini ia benar-benar sangat putus asa. Tenaganya semakin melemah saat tubuhnya mulai terangkat dan laju nafasnya semakin menipis, pandangan jing mei semakin memburam dan buram.
Ditengah ambang batas kesadarannya, tiba-tiba ia merasakan tubuhnya menjadi ringan diikuti dengan suara teriakan kesakitan dari arah pembunuh yang akan menghabisi nyawanya ini.
Jing mei yang terjatuh dan tergeletak diatas tanah saat ini bisa melihat tangan pembunuh itu terpotong, darah yang keluar dari luka menganga membuat tubuh pembunuh itu terlihat kejang menahan sakit yang luar biasa. Jing mei yang melihat kedua orang asing ini saling berhadapan memanfaatkan situasinya untuk mengambil belati miliknya yang berada tak jauh darinya. Ia menggenggam erat belati itu ditangannya dan semakin beringsut bersandar kearah pohon dibelakangnya.
“BAJINGAN !! KAU !! ARRRGGHHHH”, teriak marah pembunuh itu terputus karena lelaki asing yang menolongnya ini terlihat menghempaskan kipasnya kearah pembunuh itu dan secara mengejutkan dari arah hembusan kipas lelaki asing ini mampu membuat tubuh pembunuh itu terkena luka goresan yang dalam diseluruh tubuhnya.
“tuaann… tuaann… maafkan.. maafkan.. bawahan dungu inii !!!”, ucap kaget pembunuh itu saat menyadari sesuatu yang telah menyerangnya ini ternyata milik seseorang yang begitu ia takuti. Tiba-tiba saja suara pembunuh itu dipenuhi dengan rasa takut terdengar dari suara gemetaran dan tubuh yang bersujud di depan lelaki asing ini.
Jing mei melihat tak ada tanggapan apapun dari lelaki asing itu, tapi sebelum pembunuh itu membuka mulutnya lelaki asing itu dengan cepat menghabisi nyawa pembunuh itu. dan ia yakin bahwa dua orang asing ini mempunyai hubungan satu sama lain. Ia semakin waspada, dan berusaha untuk membangun paksa kesadarannya.
__ADS_1
Suara benda tajam yang saling berbenturan mengagetkan jing mei, ia melihat tak percaya pada sosok yang saat ini berada tak jauh darinya dan entah kenapa ia merasa bahwa saat ini ia bisa menyerahkan sisanya pada lelaki itu.
Pedang zheng bai tertahan oleh sisi lain dari kipas lelaki asing itu, tapi hembusan udara yang dihasilkan dari dua benda yang berbenturan itu membentuk gelombang angin yang besar.
Zheng bai menatap tajam lelaki didepannya ini, sama seperti zheng bai, lelaki ini juga memakai topeng diwajahnya.
“tuan, pengembara ini hanya kebetulan berpas-pasan jalan dan melihat sesuatu yang buruk terjadi, jadi hanya menolong orang yang lewat saja”, ucap lelaki itu santai, suaranya yang terdengar santai mengandung makna lain bahwa lelaki itu tidak ingin ada perselisihan disini.
Zheng bai mengetahui maknanya, tapi melihat kondisi jing mei yang terlihat begitu mengerikan membuatnya hampir hilang akal. Disisi lain, ia juga bisa merasakan rasa sakit yang dirasakan jing mei.
Zheng bai melirik pria yang tergeletak tak jauh dari lelaki asing didepannya ini, ia yakin bahwa itu adalah pembunuhnya.
“sepertinya, anda terlalu terburu-buru hingga menghilangkan nyawa yang lain”, jawab zheng bai dingin.
Lelaki itu yang mendengar jawaban zheng bai melirik pembunuh yang saat ini telah mati dan zheng bai.
“dan sepertinya kita tidak bisa melanjutkan perbincangan ini karena nona muda ini sangat butuh perawatan, tuan, kebetulan tuan yang dungu ini mengetahui beberapa jenis pengobatan, jika tidak keberatan, biarkan nona muda ini tuan ini yang akan merawatnya”, ucap lelaki asing itu yang saat ini berbalik dan berjalan menuju kearah jing mei.
“berhenti !!!”, ucap zheng bai tajam.
“enyah, jauhkan tanganmu”, desis zheng bai.
“baiklah, baiklah, tuan yang dungu ini tidak akan mendekatinya”, jawab lelaki asing itu yang mengangat kedua tangannya.
__ADS_1
Zheng bai sendiri dengan cepat berjalan menuju kearah jing mei, dan membungkusnya kedalam jubah miliknya kemudian mengambil jing mei kedalam gendongannya.
“wangye”, bisik jing mei yang saat ini bersandar dibahu zheng bai.
“bertahanlah, benwang akan menjagamu”, bisik zheng bai. Zheng bai mengangkat tubuh jing mei semakin mendekat kearahnya, menggenggamnya erat.
Ia bergegas pergi meninggalkan lelaki asing di belakangnya ini yang memperhatikan setiap pergerakannya saat ia membawa jing mei. Sebelum zheng bai benar-benar pergi, ia berhenti.
Dan secara tiba-tiba saja, sebuah api kehitaman keluar dari bawah kaki zheng bai menuju kearah mayat pembunuh, tubuh mati itu tanpa ampun ia bakar habis.
“jika hari ini adalah kebetulan, dilain hari benwang tidak akan menganggap hal ini kebetulan, jadi jaga kepalamu agar tetap diposisinya berada”, desis zheng bai dingin.
Tak ada sahutan dari arah belakangnya. Zheng bai hanya mendengar suara kipas yang terbuka, dan ia melanjutkan jalannya meninggalkan sosok asing itu dibelakangnya. Prajuritnya yang berjaga tidak jauh darinya bergegas bergerak melindungi tuan mereka.
Zheng bai bergerak naik keatas kudanya dengan satu tangan ia memacu kudanya menuju keibukota kekaisaran.
“ugh… hiks”, isak jing mei tertahan. Disepanjang perjalana mereka, ia merasakan rasa sakit karena lukanya yang tanpa sengaja terkena tekanan dari pacuan kaki kuda yang berlari di tanah yang tidak rata. Itu sangat menyiksanya.
Zheng bai bisa mendengarnya.. ia semakin mengeratkan pelukannya ditubuh jing mei dan menghentikan laju kudanya.
“kalian pergi lebih dulu menuju kekaisaran, dan katakan pada kaisar bahwa benwang mengalami luka berat, jangan ada cela”, ucap zheng bai.
“mengerti, yang mulia”, ucap seluruh prajurit zheng bai.
__ADS_1
Sepuluh orang prajurit itu bergegas pergi menarik kuda mereka untuk kembali keistana kekaisaran sekaligus melaksanakan perintah dari panglima mereka saat ini. Sepertinya rumor diantara para prajurit itu benar adanya bahwa panglima mereka telah memilih wangfei masa depan kediaman mereka. Dan secara tidak sadar para prajurit zheng bai ini mengingat nona muda yang dibawa tuan mereka.
Zheng bai yang melihat seluruh prajuritnya pergi terlihat mengucapkan sesuatu dan tak berselang lama suara gemuruh dari atas langit terdengar.