
Udara malam di ujung musim gugur semakin terasa dingin dan mencengkam, ribuan kelopak bunga api yang bergerak hebat ditiup angin semakin panas dan panas memakan banyak hal kedalam perut ganas api merah membara. Desa an kini hanyalah sisa sebuah desa yang berkobar akan merahnya api panas, terlihat terang dan mematikan. Malam semakin larut, kegelapan semakin menyelimuti, dan cahaya bulan purnama perak bersinar tinggi diatas langit kelam.
Chao gu melihat sekitarnya dengan waspada, ia takkan begitu waspada jika yang mereka hadapi hanya sekelompok bandit atau penjahat lain, tapi akan berbeda jika yang mereka hadapi adalah sosok lain dari panglima muda di bawah bulan penuh ini. ia lebih memilih untuk tidak bersinggungan dengan mahluk ganas itu, atau menjadi seorang pengecut itu juga tidak masalah.
“jika kalian melihat tuan, jangan dekati dia !!”, ingat chao gu lagi.
Para prajurit khusus yang mendengar lagi ucapan jenderal muda mereka sedikit kebingungan tapi mereka tetap menuruti ucapan jenderal mereka dan kembali menatap sekitar dengan waspada. Setelah serangan panas api itu hingga detik ini tidak ada lagi pergerakan lain yang mengancam atau mungkin saja panas itu mengincar seseorang lain.
“disana, apakah kalian mengenal nona bangsawan itu ??”, tanya chao gu.
Beberapa orang hanya menggelengkan kepala mereka. Mereka hanya mengetahui sebatas seseorang yang tinggal ditempat itu, selebihnya tidak mengetahui karena nona muda itu selalu berada didalam halaman dan tidak pernah keluar dari tempat itu.
Perhatian mereka teralihkan ketika mendengar suara gemerisik dari dalam sudut hutan, dan semua orang yang tadinya saling berbicara langsung diam melihat kearah dimana suara gemerisik itu berada.
Semuanya menunggu dengan tegang tapi tak ada sesuatu yang keluar dari sana, chao gu memberikan isyarat pada beberapa prajurit dan mereka berjalan kearah rimbunan rumput tinggi didepan mereka dengan pedang yang mengacung waspada.
Chao gu terbelalak saat melihat seonggok tubuh wanita didepannya.
...
SEBELUM KEBAKARAN DI DESA AN, penginapan desa an.
Zheng bai yang memerintahkan bawahannya untuk pergi membawa semua penduduk desa ke tempat yang telah ia tunjukkan, ia sendiri bisa merasakan bahwa orang-orang ini tengah mengincar sesuatu.
__ADS_1
Api semakin bergerak liar memakan semua bangunan rumah didesa an, ia terlihat tidak perduli dan masih tetap berdiri didalam kamar penginapan ini dengan satu tangannya yang lain memegang pedangnya.
Ekspresi zheng bai yang dingin dan kejam terlihat bertambah gelap saat ia melihat ratusan anak panah api melesat kearahnya. Ia bisa merasakan beberapa orang berpakaian hitam yang juga bergerak kearahnya. Tanpa membuat suara zheng bai melompat turun dari tempatnya dan bergerak liar menebas orang-orang dalam balutan pakaian hitam itu. Gerakannya yang ganas dan cepat dalam membunuh orang-orang itu membuat beberapa dari mereka bergerak waspada.
“siapa kau !!”, teriak seseorang yang mencari keberadaan orang yang menyerang mereka.
Zheng bai tersenyum dingin, senyumannya terlihat mengejek mayat-mayat yang kini berada disekitarnya, ia dengan santai menendang salah satu mayat dan berjalan lagi.
Suara peluit keras yang terdengar khas membuat zheng bai mengangkat alisnya, ia mengetahuinya. Orang-orang ini dari lembah hantu. Sinar ganas dimatanya semakin bersinar seperti melihat mangsa empuk ketika orang-orang didepannya ini berkumpul. Tapi, ia sedikit menaikkan alisnya ketika salah satu dari mereka terlihat terkejut satu sama lain.
“kau, apa yang kalian lakukan ditempat ini !!, tidak, jika kalian mendapatkan pesanan, kita harus membunuh lelaki itu dulu”, ucap seseorang dari kelompok itu.
“benar, kakak seperguruan, dia telah membunuh banyak bawahanku, cih”, jawab seseorang lain, ia memandang remeh kearah lelaki yang saat ini terlihat berdiri dengan sombong diantara mayat-mayat bawahannya. Lihat saja, aku akan membuat tubuhnya terpotong-potong dan memberikannya pada hewan buas di lembah hantu, pikir kejam lelaki itu.
“kalian menyebar dan cari nona muda itu”, ucapnya lagi memberikan perintah, orang-orang yang ia perintahkan mengangguk, tapi ketika mereka akan berpencar mencari kilatan tajam menembus tubuh mereka dan dengan cepat lautan darah merah segar memenuhi area itu.
“BEDEBAH !!”, umpat orang itu saat melihat bawahannya mati dengan cepat bahkan sebelum memberikan perlawanan.
“karena kalian menyerahkan nyawa dengan sukarela bukankah benwang harus mempercepatnya khekhekhe”, ucap zheng bai, tawanya terdengar begitu serak dan gelap, aura disekitarnya juga terasa semakin gelap dan kelam. Beberapa dari orang-orang itu mundur karena aura spiritual kelam dihadapan mereka ini seperti tanpa sadar membuat jiwa mereka bergetar ketakutan.
Melihat aura spiritual tidak biasa yang dikeluarkan orang didepannya ini membuat mereka semua menjadi waspada, dan bergerak cepat membentuk formasi khas lembah hantu untuk menjerat musuh mereka, zheng bai yang sudah terikat kuat didalam formasi laba-laba buatan mereka hanya semakin melebarkan senyuman dinginnya.
Suara daging yang terpotong dari dalam formasi terdengar begitu nyaring dan nyata. Cipratan darah merah dibawah sinar bulan purnama membasahi semua bagian di sekitar tempat itu. Orang-orang dari dunia bawah itu mati dengan mata terbelalak, terlihat tak percaya bahwa formasi rumit yang mereka pelajari malah menyerang kembali penggunanya.
__ADS_1
Zheng bai berjalan mendatangi satu orang diantara mereka yang masih tersisa. Ia menghunuskan pedangnya tepat diarah leher orang itu yang kini terduduk ketakutan, dan melihat zheng seperti mahluk ganas mematikan.
“katakan”, desis zheng bai dingin.
“is..aakkhhh”, jawaban orang itu terpotong karena zheng bai yang lebih dulu memotong lehernya.
...
KEMBALI KEMASA SEKARANG.
Butiran-butiran putih turun dari atas langit malam. udara yang dingin semakin terasa membekukan karena salju pertama telah turun diseluruh wilayah kekaisaran zhong. Penduduk desa an yang melihat kondisi in menjadi semakin mengeluh dan ketakutan, bagaimana mereka akan bertahan hingga esok pagi ditengah kondisi butiran-butiran salju yang semakin banyak turun. Chao gu melihat kondisi yang tak bisa ia prediksikan ini, ia sedikit kebingungan karena disatu sisi mereka harus menunggu panglima perang mereka dan disisi lain puluhan nyawa penduduk desa saat ini juga harus ia pikirkan.
Tiba-tiba saja, sebuah suara peluit khas dari zheng bai berbunyi nyaring dari arah seberang desa an. Chao mendengarkan suara peluit itu dengan seksama dan menyahutinya dengan peluitnya.
“baiklah, malam ini, kita semua akan pergi ke ibukota, semua kebutuhan kalian istana kekaisaran yang akan menjaminnya”, teriak chao gu yang menganggetkan semua penduduk desa an. Mereka tak percaya bahwa orang-orang yang melindungi mereka ini berasal dari ibukota dan bukan pengembara biasa.
“tuan, bagaimana dengan tuan muda anda ??”, tanya bibi pemilik penginapan.
Chao gu terdiam mendengarnya, tapi kemudian ia tersenyum.
“tuan muda akan baik-baik saja, bibi, setelah kami mengantarkan kalian ke ibukota kami akan kembali”, ucap chao gu.
Bibi pemilik penginapan itu mengangguk, ia sedikit melihat kearah wanita muda yang berbalut hanfu dengan kualitas kain terbaik itu kini tengah dibawa chao gu yang terlihat menahan kesakitan dan masih tetap menutup matanya.
__ADS_1
“kita harus cepat berjalan menuju wilayah ibukota kekaisaran, kemungkinan besar di ibukota salju masih belum sampai, jadi kalian hanya perlu menahan diri sebentar”, teriak chao gu.
Penduduk desa yang mendengar ucapan chao gu sedikit lega. Mereka pada malam itu seluruhnya pergi menuju ke wilayah ibukota kekaisaran dengan prajurit kekaisaran yang mengawal mereka.