
Jing mei yang berada didalam ruangannya sedikit merinding dingin, ia merasakan ada seseorang yang tengah memperhatikannya dan itu sangat membuatnya tidak nyaman. Menutup gulungan yang saat ini tengah ia baca, jing mei mengambil jubah hitam yang ditinggalkan jiang wang dan memakainya. Bukan tanpa alasan ia memakai jubah besar ini, karena setelah pesta itu ia meminta mama luo untuk pergi menanyakan bahan jubah itu dan yang mengejutkan bahwa kain jubah itu selain berkualitas tinggi juga menyimpan sedikit aura spiritual pemilik jubah yang bisa menghangatkan tubuh ditengah cuaca dingin seperti ini. Dan pemilik toko kain itu juga mengatakan bahwa sangat sulit untuk menemukan bahan kain yang bisa mempertahankan aura spiritual dikain itu sendiri. Sama seperti jubah sebelumnya yang ia pakai, ia sangat penasaran saat ini.
Jubah milik jiang wang juga sangat membantu tubuhnya yang dingin ini ditengah cuaca seperti ini, jing mei sedikit mengingat jika setiap musim dingin ia harus membungkus dirinya dengan lapisan-lapisan tebal kain dan itu sangat menyiksanya hingga musim dingin berakhir.
Ia mengingatkan dirinya, dimasa depan jika ia bertemu kembali dengan jiang wang ia akan membayar harga atas jubah berharga ini. Jing mei sedikit memerah ketika tanpa sadar ia menghirup aroma lelaki yang tertinggal jubah itu dan dermawannya yang lain.
Jing mei berjalan keluar dari dalam kamarnya, dengan satu lentera di tangan kirinya dan tangan yang lain mengangkat kain jubah yang menutupi langkah kakinya. Ia melihat sekeliling halamannya yang tenang dan penuh dengan warna putih. Jing mei tak biaa menemukan apapun, tapi ia sedikit tenang mengingat ada rambatan tanaman berduri di sekeliling tembok halamannya. Tapi, tapi ketika ia berbalik. Ia dikejutkan dengan seseorang yang berdiri tepat, sangat dekat didepannya. Jing mei yang terkejut, tanpa sadar ia mundur dan menginjak ujung kain jubahnya. Jing mei menutup matanya ketika arah tubuhnya terasa menyeretnya jatuh, tapi rasa sakit tak kunjung ia rasakan tapi rasa terkejut sangat menguasainya saat ini.
Sebuah lengan kuat dan keras bisa ia rasakan melingkar erat di pinggangnya, menahannya. jarak antara dua tubuh yang terasa sangat dekat hingga ia bisa merasakan sedikit kehangatan lain. Sisi tangan jing mei yang membawa lentera sedikit lemas, jika bukan karena tangan besar dan kasar yang menyelubungi tangannya mungkin saja lentera itu akan jatuh dan membakar halaman ini.
Tangan besar dan kasar yang anehnya terasa hangat sedikit menyadarkan saraf jing mei.
"Itu, anda", bisik jing mei. Ia cepat-cepat menarik dirinya sendiri dari dalam lengan jiang wang. Ia bisa mengetahui siapa lelaki ini karena aroma yang tak asing tercium dari pakaian yang di pakainya.
Lelaki yang mengenakan jubah gading bersulam benang emas murni terlihat elegan namun suasana dingin berbahaya terpancar darinya.
Lelaki ini terlihat jauh lebih tinggi darinya yang mungkin hanya setinggi dadanya. Ada suara tawa kecil yang keluar diantara kedua bibir tipis dinginnya, seolah-olah ia sedang melihat seorang anak kecil yang keluar di jam malamnya. Tapi anehnya wajah tampan yang terlihat jahat itu terasa tidak mengejeknya.
Bibir lelaki itu terangkat menampilkan senyuman jahat namun menggoda, tiba-tiba entah dari mana sebuah belati ada ditangannya.
__ADS_1
Jing mei berusaha menahan detak jantungnya yang mulai meningkat, ia berusaha keras menekan dirinya sendiri dan menghembuskan nafasnya dengan hati-hati saat gagang belati itu mengangkat dagunya hingga ia bisa dengan jelas melihat wajah tampan jahat lelaki dihadapannya.
Ikatan rambut hitam panjang yang dibiarkan terikat setengahnya menampilkan rambut panjang lurus yang sedikit berserakan dibelakangnya, beberapa anak rambut terlihat terkulai malas diantara kedua sisi wajahnya, dibawah alis tebal berbentuk pedang, sepasang mata hitam phoenix yang jika lebih dilihat disana terlihat sembrutan merah berbentuk bunga mekar yang samar berkilat basah, hidung tinggi dan lurus, serta bibir tipis sedikit pucat itu sedikit naik, samar. Kulit yang tanpa sengaja sedikit terekspos sewarna gandum pucat.
Penampilan lelaki ini sangat bermasalah, dan membahayakannya, benar-benar kecantikan ganas yang menggoda.
Jing mei tanpa pilihan lain hanya bisa menatap wajah jiang wang yang entah apa tujuannya berada didalam halamannya ini. Tapi, hatinya yang dingin hanya melirik sebentar wajah itu dan ia menurunkan matanya melihat dagu lelaki ini. Ia sedikit linglung dan pusing karena penampilan sosok yang terasa tidak asing ini.
Tangan lain zheng bai yang kosong menarik pinggang ramping nona muda didepannya ini dan sedikit meremasnya agar tetap tertahan dekat. ia sendiri seumur hidupnya tak pernah menundukkan kepalanya dan saat ini ia tanpa sadar kembali menundukkan kepalanya dihadapan nona muda yang terlihat seperti ranting kering ini.
Pinggang ramping yang bisa ia genggam ini terasa sangat rapuh jika saja ia memakai banyak tenaga dilengannya, ia akan hancur.
Keinginan untuk melahapnya sangat menyiksanya, ia hampir kehilangan akal sehatnya. Ia berusaha menekan keinginan hewani miliknya yang baru pertama kalinya ia rasakan sangat mengejutkannya.
Zheng bai sedikit menutup matanya, menikmati aroma jing mei yang bercampur dengan udara sejuk malam ini, ia juga sedikit menarik garis bibirnya saat merasakan aroma miliknya bercampur dengan aroma manis ini. Ia hampir melupakan tujuan awalnya ketempat ini.
Nona muda ini sangat berbahaya !!!
Jing mei melihat kedua mata jiang wang yang tertutup cepat-cepat memanfaatkannya dan menggeliat, ia berusaha mundur dan memberi jarak diantara mereka. Tapi, lagi-lagi tangan lelaki ini begitu keras mencengkramnya.
__ADS_1
"Diam, sebentar lagi, benwang tidak akan berbuat hal lain", bisik zheng bai dingin.
Suaranya terdengar parau dan basah ditengah cuaca yang dingin ini jing mei sedikit merasakan merinding ditelinganya.
Jing mei hanya bisa diam, ia sedikit berusaha menuruti ucapan zheng bai saat sekilas ia melihat kedua alis lelaki ini yang terlihat berkerut menahan rasa sakit.
Zheng bai meraih pinggang jing mei, ia menarik tubuh yang seperti ranting kering ini masuk kedalam pelukannya. Jarak tinggi yang berbeda diantara keduanya sangat kontras. Zheng bai menghirup banyak-banyak aroma yang keluar dari dalam tubuh jing mei. Ia terlihat mengisi dirinya sendiri dengan aroma dari ceruk leher jing mei yang begitu membuatnya serakah.
Jing mei bisa mendengar suara detak jantung jiang wang ditelinga, detak jantung yang berdetak keras perlahan mulai halus terdengar ditelingannya seiring dengan hembusan nafas teratur yang terasa di puncak kepalanya.
Jenis pelecehan macam apa ini !!!, suara dikepala jing mei berdering keras. Ia sangat marah, bingung dan malu disaat bersamaan. Jika ia berteriak mungkin saja akan ada skandal besar dan itu akan merugikannya dan lelaki ini, jadi ia hanya bisa tabah.
"daren", panggil pelan jing mei.
"wangye", panggil jing mei lagi.
Suara jing mei yang memanggilnya menarik kembali seluruh indera yang ada ditubuh zheng bai. Ia dengan cepat melepaskan tubuh nona muda ini, dan sorot matanya yang dingin melihatnya.
Jing mei yang di tatap dengan pandangan dingin menusuk sedikit merinding. Ia mengalihkan pandangannya dari mata tajam jiang wang, diam-diam jing mei memberi jarak antara dirinya dan jiang wang.
__ADS_1