
Jing mei yang tengah tertidur lelap saat ini begitu malas untuk membuka matanya, perasaan nyaman dan hangat sangat dirindukannya seperti musim semi yang hangat. Dan untuk pertama kalinya setelah beberapa tahun musim dingin ia lewati dengan sengsara, ditambah lagi dengan mimpi-mimpi buram yang selalu ia mimpikan selalu bertambah disaat musim dingin karena penyakitnya yang begitu menyiksa tubuhnya, saat ini adalah musim dingin yang sangat melegakan karena ia bisa terlelap dengan sangat lelap. Jing mei semakin mengubur dirinya didalam selimut hangat. Ia terdiam sedikit lama, tekstur yang ia rasakan sedikit berbeda jika harus dikatakan bahwa itu adalah sebuah kain selimut.
Jing mei membuka matanya, ia terduduk karena sangat terkejut melihat satu lagi jubah asing ada diatas tubuhnya dan disaat yang bersamaan mama lou masuk kedalam kamarnya.
"Nona, apakah anda kembali merasa lelah ??", tanya mama lou yang melihat nona mudanya bangun.
Jing mei sedikit panik, ia menarik seluruh jubah besar gading yang sangat mencolok itu kedalam jubah yang ia pakai saat ini.
"Ada apa, nona ??, apakah kondisi anda semakin buruk ??, apakah boleh pelayan tua ini membawa tabib masuk ??", tanya mama lou khawatir.
"Tidak apa, mama", jawab cepat jing mei dari dalam tirai tempat tidurnya.
"Aku hanya ingin beristirahat lagi. mama, bisakah katakan pada fuqin bahwa penyakit lamaku kembali", jelas jing mei hati-hati.
data-p-id\=691274861a2e1e77a1ba7ecb23db231e,Sampai saat ini, ia masih belum menghadiri jamuan makan resmi ataupun berbincang dengan saudara-saudaranya serta para selir ayahnya. Ia hanya melihat mereka sekilas dari semenjak acara jamuan itu diadakan. Jadi, sangat tidak nyaman terutama selir niu mei, ia berfikir mungkin wanita itu sedang menyembunyikan taringnya dan menunggu waktu yang tepat untuk menyerangnya jika ia pergi keluar. Penindasan yang ia alami selama ini masih sangat membuatnya berfikir keras untuk menghindari selir ayahnya itu.
Mama lou yang melihat kondisi nona mudanya yang lemah ini terlihat begitu sedih.
"Baik, nona. Pelayan tua ini akan membawakan sarapan anda", jawab mama lou yang pergi untuk memberitahukan keadaan jing mei pada tuannya.
Ruang Makan kediaman perdana menteri Li.
Li changhai yang duduk di kursi kepala keluarga dan para selirnya yang duduk di kursi mereka yang letaknya sedikit jauh dari kursi utama kepala keluarga dan kursi istri sah kediaman keluarga. Kursi itu sudah sejak lama menjadi kosong, dan tak ada yang berani untuk duduk disamping menteri li karena pria itu tidak mengatakan apapun dan dari sikapnya juga menunjukkan bahwa tidak ada yang boleh duduk dikursi yang berada di sampingnya itu.
__ADS_1
Niu mei furen yang sudah sejak lama sangat mengidam-idamkan kursi sah milik furen terdahulu terlihat masih tidak nyaman, ia hanya menyandang gelar furen tapi tuannya sendiri tak mengizinkannya untuk duduk disana. dan perasaan itu juga dirasakan oleh dua selir lainnya.
Suara pintu yang terbuka memperlihatkan sosok tua mama lou yang berjalan masuk keruang makan.
Ruangan dengan letak meja-meja yang diletakkan saling berhadapan dengan satu ruang besar ditengah-tengahnya sebagai jalan masuk untuk kepala keluarga yang duduk diatas tempat tertinggi disana. Saat ini mama lou memberikan salamnya untuk menteri li.
Li changhai yang melihat mama lou berjalan dengan tangan kosong tanpa putrinya itu sedikit mengerutkan dahinya.
"Dimana putriku ??", tanya li changhai.
"Maafkan pelayan tua ini, tuan besar. Tapi, kondisi xiaojie sedikit kurang baik hari ini", jawab mama lou hati-hati.
"Apakah kau sudah memanggil tabib untuknya ??", tanya li changhai.
Tapi, tiba-tiba sebuah suara lembut dan lemah terdengar dari arah samping. Li jiao li terlihat menyentuh mulutnya dengan sapu tangan miliknya, tapi ia terlihat sengaja membuka sapu tangan di telapak tangannya itu untuk memperlihatkan bercak darah segar diatas sapu tangannya. Sontak saja, karena hal itu seluruh orang yang berada disana terkejut.
Seluruh perhatian tertuju ke arah dimana jiao li duduk, disebelahnya xing xheng dengan sigap menyentuh bahu adik perempuannya itu. Ia melihat ekspresi kesakitan yang terlihat jelas di wajah adiknya ini.
’’apa yang kalian lihat !!!... cepat panggil tabib kediaman untuk jiao jiao !!!”, ucap marah xing xheng.
“ge ge, tidak apa, mei mei tidak merasakan sakit yang begitu parah, tabib sudah lebih dulu dipesan putri fuqin”, bisik jiao li lemah, walaupun begitu semua orang yang berada didalam ruangan itu bisa mendengar dengan jelas apa yang dikatakan oleh jiao li.
Wajah niu mei furen terlihat menahan rasa kesal sekaligus panik yang ia rasakan, tapi mendengar bahwa secara pribadi putrinya langsung bertindak mengalah dan lemah dihadapan ayahnya, ia sedikit tenang. Secara pribadi ia sangat mengetahui bahwa perdana Menteri sangat memanjakan anak-anaknya.
__ADS_1
Li changhai yang mendengar ucapan putrinya yang lain itu sedikit mengerutkan kenignya, entah apa yang tengah Ia pikirkan tapi ia sedikit menghela nafasnya saat pandangan selir-selirnya melihat kearahnya.
”perintahkan tabib kediaman untuk merawat jiao er sampai penyakitnya benar-benar sembuh, dan untuk jing mei aku sendiri yang akan membawakan tabib lain”, ucap li changhai.
“mama lou pergilah keluar dan cari tabib kenalan tuan ini di tempat biasanya kediaman mengambil tumbuhan obat-obatan”, ucap li changhai.
“mengerti, laoye”, jawab mama lou pelan, ia perlahan memundurkan langkah kakinya dan pergi dari ruang makan tuannya ini.
Sedangkan itu disisi jiao li, ia dengan bantuan xing xheng berdiri ditengah-tengah aula ruangan itu.
“fuqin, maafkan jiao jiao yang tidak mengerti akan kondisi kakak perempuan, tapi jiao jiao juga sangat sedih karena terlihat sengaja mengambil tabib terbaik dikediaman ini, fuqin, maafkan jiao jiao”, ucap lemah jiao li.
Ia sedikit menutup mulutnya dengan sapu tangan, dan terbatuk kecil disana. Jiao li menahan kernyitan di dahinya yang halus, ia diam-diam terus menggigit keras bibir dan pipi bagian dalamnya dengan giginya hingga rasa besi dari darahnya sendiri terus keluar.
Jiao li sendiri bisa merasakan sedikit lelehan darahnya mengalir keluar dari sudut bibirnya, dan sapu tangan berbordir putih miliknya telah berubah warna merah basah karena ia secara terus menerus menutupi bibir dan mulutnya.
Li changhai yang melihat betapa menyedihkannya wajah jiao li serta sapu tangan yang terlihat basah merah itu sontak saja merasa bersalah. Apakah ia mulai membagi seluruh kasih sayangnya pada mei hua, putri kecilnya yang tak pernah ia berikan kasih sayang.
Li changhai mengelap wajahnya sendiri dengan telapak tangannya. Ia melambaikan tangannya pada jiao li dan xing xheng.
”kalian bisa pergi, dan jiao er bawa tabib itu hingga tubuhmu mendapatkan perawatan, untuk jing mei biarkan fuqin yang mencari tabib lain, bukankah kau lihat sendiri mama lou fuqin perintahkan untuk membawa tabib lain, saat ini akan menghadiri pengadilan kaisar. Jadi, sembuhkan dirimu didalam halamanmu, jiao er”, jelas li changhai.
“niu mei, pergi dan rawat tubuh berharga jiao jiao”, ucap li changhai lagi.
__ADS_1
Ia kemudian berdiri dan meninggalkan ruangan itu.
Seluruh ruangan terasa hening sejak kepergian li changhai, tuan kediaman di kediaman itu.