Eternal Love : The Most Pampered General'S Wife

Eternal Love : The Most Pampered General'S Wife
Chapter 15


__ADS_3

Kediaman perdana menteri Li.


Li changhai saat ini duduk didepan meja kerjanya, tumpukan buku-buku serta berbagai laporan dan surat resmi terlihat menumpuk penuh. Pandangan lelaki tua itu terlihat kosong dan berat. Ia memikirkan sesuatu yang tak bisa lagi ia peluk dan ia rawat dengan sepenuh hatinya, putri kecilnya, harta berharga miliknya dan mendiang istrinya.


Ia merasa telah menjadi ayah yang gagal karena tidak bisa melindungi buah hati kecilnya yang berharga.


Di luar ruang kerja, semua selirnya berkumpul, ia mengetahuinya, tapi ia tidak memperdulikan mereka, yang ia inginkan saat ini adalah tidak melihat siapapun.


Li changhai berjalan keluar dari dalam ruangannya, beberapa selirnya terlihat berjejer dengan kondisi menyedihkan, suara tangisan dan mata merah mereka terlihat jelas tapi hatinya sama sekali tidak terketuk.


“laoye, anda akan kemana ??”, tanya nui mei yiniang.


“jangan memikirkan aku, kalian semua bisa kembali ke halaman masing-masing”, ucap li changhai, lelaki paruh baya itu berjalan lurus menuju ke sebuah bangunan lain didalam kediaman li.


Li changhai saat ini berada didalam ruang berdoa untuk para leluhurnya, dan dibawah papan-papan nama arwah leluhur ada satu nama yang terukir elegan disana. Ya, nama anaknya saat ini bergabung dan bersanding bersama dengan papan nama istrinya. Li changhai membakar dupa untuk putri dan istri sahnya, berkoutow, dan membakar banyak uang kertas untuk keduanya. Ia masih tetap duduk dengan posisi yang sama hingga malam dan cahaya sinar pagi datang, perdana menteri li masih tetap pada posisinya. Ia mengakui semua kesalahannya karena tak bisa menjaga satu-satunya harga berharganya dan istri sahnya. Ia merasa telah menjadi seorang suami dan ayah yang gagal untuk kedua wanita yang sangat ia cintai.


“laoye, laoye, keluarlah sebentar untuk beristirahat”, ucap lembut niu mei yiniang, tapi ia tak mendapatkan sahutan apapun dari dalam, ia berusaha menunggu hingga matahari naik setengah dan sosok yang ia tunggu masih belum keluar dari aula leluhur. Akhirnya,niu mei yiniang pergi dari sana dengan wajah yang terlihat sedang menahan sebuah emosi.


“lihat, niu mei yiniang, sepertinya hati tuan besar masih tetap berada di dalam genggaman nyonya utama dan nona muda pertama”, bisik salah satu pelayan disudut.

__ADS_1


“benar, dan tutup mulut kalian, jika niu mei furen mengetahui bahwa kalian memanggilnya yiniang bukankah kehidupan baik akan berakhir !!”, tegur salah satu pelayan.


Para pelayan itu cepat-cepat pergi dari tempat mereka tanpa mengetahui bahwa ada beberapa orang yang tengah mengdengar semua pembicaraan mereka. Anak dari niu mei yiniang, kandidat kuat calon pewaris kediaman li, Li Xing xheng, dan adiknya, Li jiao li yang sering dikenal di luar kediaman sebagai nona muda pertama kediaman menteri Li. Ekspresi keduanya begitu gelap, disisi mereka terlihat seorang lelaki yang terlihat tertawa mengejek. Li quon, anak dari selir ketiga, sa shuang.


“gege, tidak sopan”, tegur lembut li shan li.


“fen mei, sepertinya quon ge membenturkan kepalanya, ayo kita kunjungi, ayah”, tegur lembut saudari kembar li shan li, li shen li. Tapi saat ini li shen li membuka kipasnya dan sedikit terkikik, ia melirik li jiao li dengan pandangan mengejek dan membawa tangan adiknya untuk berjalan menuju ke aula leluhur. Dibelakang kedua saudari kembar itu, li quon mengikuti keduanya.


“gege”, panggil li jiao li menahan kesal.


“sst, mei mei, lihat bagaimana gege lulus ujian kekaisaran dan menjadi pewaris ayah selanjutnya, gege akan membuat a niang menjadi nyonya sah dikediaman ini”, ucap li xing xheng penuh ambisi.


“en, lihat dimasa depan nanti gege, mereka akan melolong seperti anjing diluar kediaman”, ucap li jiao li, wajahnya yang muda dan kecil terlihat kembali lembut seperti lotus murni tanpa dosa.


Disampingnya, li xing xheng mengangguk, ia telah berjuang sejauh ini untuk mengikuti ujian bergengsi dan hanya satu langkah lagi dirinya akan diangkat sebagai pejabat muda tingkat satu, ia harus bisa mengejar fuqinnya yang berada di tingkat tiga dan menjadi pewaris sah kediaman li ini.


Kelima anak li changhai yang bersal dari selir-selirnya itu berjalan menuju halaman tempat dimana aula tempat berdoa untuk roh para leluhur berada. Beberapa penjaga kediaman yang sering bersama dengan li changhai membawa semua bawahannya untuk menjaga setiap sudut bangunan ini atas perintah dari li changhai sendiri yang memerintahkan untuk tidak membiarkan siapapun masuk kedalam ruang berdoa.


“biarkan kami masuk”, ucap li quon tegas.

__ADS_1


“benar, kami juga ingin mendoakan jiejie”, sahut li shan li.


Dari arah belakang mereka terdengar suara li xing xheng yang mengejek.


“tidak tahu malu !!.. jangan membuat keributan diluar ruang berdoa, kalian sangat tidak berpendidikan”, desis li xing xheng tegas.


Li quon, li shan li dan li shen li melihat li xing xheng dengan pandangan kesal dan menahan amarah dimata mereka. Saat ini mereka yakin bahwa li xing xheng tengah berusaha memikat hati fuqin mereka.


“maafkan pengawal rendahan ini, tuan dan nona muda, tapi laoye tidak ingin siapapun untuk berada di tempat ini, jadi sebaiknya anda kembali ke halaman”, tegur pengawal setia li changhai, shiming.


Shiming melihat putra dan putri tuannya ini begitu gaduh dan berisik, ia sangat tahu bahwa mereka pasti mencari celah agar bisa menempati tempat dihati tuannya yang saat ini sedang sedih tapi bukankah semua terlalu terlihat jelas dan hal ini cukup tidak baik apalagi didepan roh-roh orang mati. Terutama keributan yang dibuat oleh semua selir tuannya cukup membuatnya sakit kepala.


“da ge, benar apa yang dikatakan shiming, kita kembali dan membakar dupa untuk kakak perempuan pertama”, ucap li jiao li lembut. Ia memberikan isyarat pada kakak lelakinya untuk pergi dan kembali, ia sendiri sangat tahu apa yang tengah di pikirkan bawahan fuqinnya itu tentang mereka, dan mungkin saja lewat bawahan ini ia bisa sedikit menarik minat fuqinnya.


“tuan shiming, berikan ini untuk semua bawahan dan dirimu”, ucap li jiao li tersenyum lembut, ia menyerahkan sekeranjang jeruk manis dan beberapa kue ringan didalam keranjangnya untuk shiming.


Shiming mengambil keranjang itu dan mengangguk berterimakasih. Dari samping, li shan li dan li shen li melirik sinis perbuatan yang dilakukan li jiao li, ia melihat jelas wajah cantik itu penuh dengan racun.


Saat malam hari dikediaman menteri li terjadi keributan besar karena kedatangan seorang pejabat tinggi ke kediaman itu. Seluruh kediaman begitu penasaran dan ingin tahu siapa pejabat yang datang ke kediaman saat malam hari dan dalam keadaan kediaman yang sedang berduka.

__ADS_1


Niu mei yiniang membisikkan sesuatu ditelinga pelayannya, ia memerintahkan pelayan itu untuk pergi memberitahukan dapur bahwa ada pejabat penting rumah mereka. Sa shuang yiniang dan shu wan yiniang juga ikut pergi menyambut tamu penting. Saat ini mereka yang berpakaian putih berkabung tergesah-gesah menuju ke halaman depan dimana tempat para tamu biasa berada.


Tapi, sampai di aula untuk menyambut tamu, tak ada seorangpun disana.


__ADS_2