Eternal Love : The Most Pampered General'S Wife

Eternal Love : The Most Pampered General'S Wife
Chapter 24


__ADS_3

Seorang prajurit berlari tergesah-gesah pergi kehadapan zhong dun ming, prajurit itu cepat-cepat menundukkan dirinya di hadapan kaisar.


“katakan”, ucap Kaisar zhong dun ming.  


“yang mulia kaisar, jiang wang memberikan pesan bahwa ia lebih dulu untuk kembali dari perjamuan karena ada beberapa hal yang harus jiang wang lakukan”, ucap prajurit itu.


“apa yang jiang wang lakukan diluar pintu”, tanya Kaisar zhong dun ming.


“jiang wang membawa seseorang keluar bersamanya, yang mulia”, jawab prajurit itu cepat.


“prajurit rendahan ini tidak mengetahuinya yang mulia, tapi tubuh seseorang yang dibawa jiang wang terlihat seperti seorang wanita, dan juga jiang wang membawa tangan seseorang itu dengan genggaman tangannya”, jelas prajurit itu, di akhir kalimatnya ia terlihat was-was karena mengetahui bahwa rumor putri keenam kekaisaran menaruh rasa pada jiang wang yang adalah saudara sepupu sekaligus putra dari adik perempuan kaisar terdahulu yang juga adalah ayahnya sendiri.


“APA !!! HEI KAU, KATAKAN LEBIH JELAS”, sahut putri xuan yi yang tak percaya dengan apa yang ia dengar.


Suara putri zhong xuan yi yang melengking terdengar di seluruh aula perjamuan, dan kali ini semua perhatian teralihkan. Prajurit yang mendengar ucapan putri zhong xuan yi yang terdengar melengking marah itu semakin berkeringat dingin, ia semakin menundukkan kepala dan tubuhnya yang gemetaran bertambah gemetar.


“be..benar, tuan putri”, jawab prajurit itu cepat.


Mata zhong xuan yi melotot merah, ia terlihat berusaha keras menahan amarahnya saat tangannya disentuh dengan pelan oleh kakak perempuan keempatnya, zhong cheng yao. Zhong cheng yao memperingatkan xuan yi atas tindakannya, ia juga memberikan isyarat mata pada xuan yi untuk melihat kaisar yang melirik ke arah tempat duduk mereka. Zhong xuan yi cepat-cepat menundukkan kepalanya, ia terlihat berusaha menahan amarah yang saat ini benar-benar memakannya.


Siapa ****** busuk yang berani mendekati bai ge nya, miliknya !!!, desis xuan yi dalam hatinya. Ia saat ini sangat ingin berlari dan memerintahkan para pengawal untuk menangkap dan mengejar bai ge dan wanita yang dibawanya itu.


Bisik-bisik terdengar keras, dan aula perjamuan saat ini penuh dengan argumentasi antara bangsawan tentang siapa wanita yang dibawa jiang wang. Dan sialnya, karena hari perayaan festival musim dingin ini kaisar sendiri yang memerintahkan untuk membawa beberapa selir kesayangan tiap bangsawan serta anak-anak mereka, begitu banyak gadis muda dan tuan muda didalam ruangan ini yang bahkan siapa dan siapa gadis itu, semua ingin tahu dan mengetahuinya.                                                            


“wangye, anda akan membawa saya kemana ??”, tanya jing mei yang saat ini berada didalam kereta kuda.


Ia sendiri bisa merasakan dengan jelas perbedaan kelas antara kereta kuda dari kediamannya dengan kereta kuda yang saat ini tengah ia naiki.


“diam, dan jangan berisik”, jawab zheng bai dingin.


Jing mei yang mendengar nada suara dingin dari arah sampingnya hanya diam, ia tak berani berbuat apapun, dan ketika ia akan menarik kain jubah yang menutupinya sebuah tangan yang terasa besar menahan laju tangannya, gesekan antara dua kulit yang bersentuhan membuat jing mei sedikit terkejut, ia cepat-cepat menarik tangannya. Jing mei sedikit memberikan celah untuk dirinya dari balik kain jubah ini, diam-diam ia melihat ke arah luar jendela kereta yang sebelum perjalanan ke istana belum ia lihat dengan jelas.

__ADS_1


Ia melihat dingin ke arah orang-orang dan beberapa anak-anak yang saling berlarian melemparkan gulungan bola putih satu sama lain dengan membawa manisan merah mereka, beberapa ibu-ibu yang berlari panik dengan membawa jubah hangat untuk anak mereka terasa asing baginya. Seperti apa perasaan untuk sebuah rasa hangat atas hal yang tak pernah ia rasakan. Jing mei menyandarkan kepalanya ke dinding kereta, tanpa sadar ia merasakan rasa kantuk menggantung dimatanya, ia yang berusaha untuk tetap terjaga akhirnya kalah dan menutup matanya.


Zheng bai yang saat ini terlihat diam, duduk lurus sedikit mengalihkan perhatiannya saat merasa bahwa gadis kecil di sampingnya ini tidak bergerak. Ia mengerutkan keningnya, dan mengabaikannya.


“berhenti”, ucap zheng bai.


Kereta yang berhenti secara tiba-tiba, dan tubuh jing mei yang tertidur tersentak ke depan, hampir terjatuh jika tidak ada sebuah tangan kuat menahan tubuhnya.


“gadis kecil”, panggil zheng bai.


Tak mendapat respon, zheng bai sedikit menggoyahkan tubuh jing mei. Dan ia tetap tidak mendapatkan respon apapun.


“pergi dan bawa tabib muda zi”, ucap zheng bai memberikan perintahnya.


Seseorang yang berada di luar kereta dengan cepat mematuhi ucapan tuannya dan menghilang.


Zheng bai menarik tubuh jing mei ke atas pangkuannya, ia merasakan bagaimana pucatnya kulit gadis ini, dan dinginnya suhu tubuh gadis ini. zheng bai menepuk pelan pipi pucat jing mei dan gadis ini masih tetap tidak terbangun, kedua alis yang saling mengerut terlihat menahan rasa sakit membuat zheng bai tanpa sadar menggertak.


Ia bergegas membungkus rapat tubuh jing mei dan membawanya dalam gendongannya, zheng bai keluar dari dalam kereta dan melesat pergi menuju ke arah kediaman menteri li.


Di tengah-tengah turunnya salju lebat yang semakin turun banyak, zheng bai tanpa perduli apapun bergerak cepat dengan qinggongnya. Ia mengeratkan pegangan kedua tangannya ditubuh jing mei. Matanya menatap dingin lurus ke depan.


.                                                            


.


.


.


Sesak.

__ADS_1


Ia begitu sesak.


Ruangan yang terlihat suram, kamar yang terasa memuakkan, ia sangat muak.


Ada rasa sakit yang menyelimutinya, rasa sakit yang menggaruk hatinya.


Rasa nyeri yang tak sebanding dengan rasa yang terasa menyesakkan.


Ia menyentuh perutnya yang rata.


Ia menatap kosong ke atas langit suram yang selalu terlihat suram.


Suara pintu yang terbuka, ketika ia menoleh untuk berbalik, kesadaran nyata membangunkannya.


Jing mei membuka matanya, ia terlihat linglung dan sedikit kebingungan dimatanya. Sedikit memijat keningnya yang terasa sakit, jing mei terdiam mengumpulkan sisa-sisa kesadarannya. Dan semua ingatan sebelumnya, ia lebih terkejut saat ia menyadari bahwa ia telah berada di kediamannya. Melihat ke sekelilingnya, ia tak menemukan lelaki itu, jing mei sedikit menghela nafasnya. Tapi, yang kembali menyadarkannya akan sisa keberadaan lelaki itu adalah jubah hitam yang saat ini membungkus tubuhnya dengan hangat.


Saat ia akan membuka jubah hitam ini, ada rasa dingin yang menyerang tubuhnya, tak tahan karena selimut tebal yang ia miliki tidak bisa menahan rasa dinginnya dan bahkan beberapa jubah tebal miliknya masih belum bisa menghilangkan rasa dinginnya, jing mei menatap lama jubah hitam yang saat ini teronggok disudut tempat tidurnya.


Pelan. Ia keluar dari dalam tumpukan selimut dan jubah miliknya.


Ia mengambil jubah itu dan memakainya.


Aroma khas, ia bisa mencium baunya yang terhirup asing namun nyaman dari jubah ini.


Ia sangat ingin berterimakasih pada dermawannya, pemilik jubah ini.


Lelah.


Ia tak ingin memikirkan apapun saat ini, kepalanya begitu sakit, sisa-sisa mimpinya terasa jelas di setiap tubuh dan jiwanya, ia sedikit merinding dingin, takut.


Jing mei kembali tertidur karena apa yang ia lakukan sebelumnya entah kenapa begitu menguras tenaganya. Aura spiritual yang sengaja zheng bai tinggalkan pada jubah itu terlihat bercahaya redup dan hangat menyelimuti tubuh jing mei.

__ADS_1


__ADS_2