
Zheng bai dari atas pohon melihat seluruh penduduk yang pergi meninggalkan wilayah desa an. Zheng bai sedikit menghela nafasnya dalam, ia sedikkit bisa berfikir normal saat ini dan dirinya tidak tahu apakah beberapa jam kedepan ia bisa menahan pikiran gilanya ini, tiba-tiba ia merasakan sesuatu dan sedikit mengedarkan pandangannya ketika merasakan seseorang dengan aura spiritual besar datang dari sisi lain desa. Ia memperhatikan dalam diam, beberapa sosok dalam balutan jubah hitam datang ke arah penginapan, awalnya ia berfikir orang-orang ini mengincarnya. Tapi sepertinya ia tidak sepenuhnya salah dan benar karena di kelompok orang-orang itu mengincarnya tapi bagaimana dengan yang lain ?? siapa yang mereka tuju hingga memusnahkan desa ini.
Zheng bai terus melihat tiga orang berjubah hitam yang menyelimuti seluruh identitas mereka berjalan disekitar penginapan, tapi mereka tak berhenti dan terus berjalan kearah halaman yang berada tidak jauh dari penginapan itu.
Dari pada tempat lain, kondisi halaman itu jauh lebih baik dari pada rumah-rumah yang ada di desa an yang keseluruhannya telah hangus terbakar. Tapi, ia menaikan alisnya saat melihat orang-orang itu membakar halaman kecil itu dan melemparkan semua mayat kedalam kobaran api.
Zheng bai tertawa sinis, ia terlihat mengejek karena melihat orang-orang ini sepertinya ingin menghapus jejak mereka ditempat ini.
...
Bulan tampak semakin tinggi di tengah langit gelap tanpa satu bintang yang terlihat diatas sana, cahaya bulan tampak bersinar perak pudar. Butiran-butiran salju yang turun semakin banyak hingga beberapa terlihat mulai menumpuk ringan diatas ranting-ranting pepohonan yang kini hanya tersisa beberapa bagian daun.
Zheng bai bisa merasakan rasa sakit menyengat mulai menyerang jiwanya, rasa panas membakar dan juga panggilan untuk terus membunuh dan membunuh semua mahluk hidup mulai berdentang ngilu didalam pikiran dan telinganya. Zheng bai menggeram marah dan kesal, aura spiritual disekitarnya ikut bergerak liar dan kelam, begitu gelap menyelimuti tubuhnya, aura kematian yang pekat terlihat mulai naik dan merasuki tubuhnya. sinar mata yang terlihat dingin beriskan kekejaman gila didalam sana, saat ini dirinya telah sepenuhnya masuk dalam kegilaan.
...
Kelopak mawar hitam, tersebar diatas angin lembut yang terasa dingin menusuk. Ranting-ranting berduri saling mengait dan menjalin lingkaran penuh disisi-sisi dinding pagar sebuah taman terlihat seperti akan mengoyak apapun yang menyentuhnya. Seluruh bagian yang terlihat gelap. Aroma dingin yang terasa suram, dan langit kelabu yang selalu terlihat kelam. Rasanya sangat menyesakkan, sisa harapan yang perlahan mulai ia lupakan tapi tetap berusaha ia pertahankan sisa-sisa serpihannya. Seperti cahaya lemah yang samar, ingatan itu terlalu memuakkan.
Jing mei terbelalak terkejut, seperti mayat yang baru saja di hidupkan dari kematian. Rasa dingin yang begitu mencengkram menyelubungi seluruh tubuhnya yang mengigil saat merasakan sisa-sisa mimpinya yang samar. Jing mei menyentuh lehernya, tanpa sadar air matanya terjatuh dengan deras tanpa bisa ia menahannya.
Sesak.
Sesak.
__ADS_1
Kenapa rasanya begitu sesak.
Ia muak, tapi ia begitu sesak.
Rasa sakit yang luar biasa mengguncang seluruh tubuhnya, itu tidak sebanding ketika ia dihukum di gudang lusuh didalam kediamannya, atau ketika pelayan tua selir niu mei memberikannya racun dingin ia bahkan tidak berteriak waktu itu. Tapi, rasa yang ia rasakan saat ini sangat menyesakkan dan begitu memuakkan. Disatu sisi, ia sangat merasakan kesedihan yang sangat-sangat besar, disisi lain ia merasakan kemarahan yang juga sama besarnya dengan kesedihannya. Benar, xin xin, apa yang gadis itu berikan pada tubuhnya ??, bagaimana dengan mama tua. Segala sesuatu disekitarnya tampak asing dan menakutkan, ini kali pertamanya menginjakkan kakinya keluar dari dalam halaman kecilnya.
Jing mei beringsut memeluk tubuhnya sendiri, dan terisak, ia sangat takut.
Tiba-tiba, ia bisa merasakan sesuatu datang mendekatinya, dan ketika ia mengangkat kepalanya, matanya membulat, jantungnya terasa berhenti ditempat. ia begitu terkejut saat sesuatu yang berkilat tajam datang kearahnya.
Suara sesuatu yang tajam seperti merobek daging terdengar tepat didekatnya membuat tubuh jing mei meremang lemas, wajahnya bertambah pucat dan dingin. Pikiran dan tubuhnya terasa mati rasa ketika ia berusaha menggerakkan dirinya untuk pergi menjauh dari pria asing yang terlihat mengerikan karena aura yang ia keluarkan, disisi lain geraman yang menusuk memenuhi telinga jing mei. Tenggorokan jing mei semakin kering, wajahnya terlihat menjadi lebih pucat saat suara-suara itu semakin terdengar keras dan dekat.
Apa yang terjadi ???
“diam”, desis rendah suara yang terdengar dingin masuk kedalam telinganya. Pedang tajam masih bisa ia rasakan berada tepat didekat lehernya.
Tubuh jing mei tanpa sadar mematuhi ucapan lelaki asing didepannya ini, ia tetap diam, tak berani bergerak. Ia semakin beringsut kebatang pohon dibelakangnya walaupun ia sendiri tahu apa yang ia lakukan hanya sia-sia belaka dan pedang tajam masih tetap bisa ia rasakan dinginnya ketika menyentuh kulit leher telanjangnya.
Zheng bai melirik sekilas gadis didepannya ini ketika ia merasakan binatang-binatang buas spiritual ganas berukuran dua kali lipat dari binatang biasa mengelilinginya. Wajah jing mei semakin pucat dan ngeri saat binatang-binatang besar disekitarnya mulai mendekati mereka, rasa takut semakin menyebar keseluruh tubuhnya. ia berusaha menahan air matanya walaupun ia tahu bahwa air matanya sendiri lebih memilih mengkhianatinya.
Zheng bai menarik pedangnya dari leher wanita didepannya, tapi ia bisa merasakan sesuatu tengah menarik kain ujung jubah luar hanfunya. Ia menunduk, dan melihat jelas wajah kecil pucat yang terlihat menyedihkan dengan pipi dan ujung mata kemerahan, jejak bekas air mata yang berkilat terkena sinar bulan membawa kesedihan besar serta ketakutan didalam sana.
Ia ingin mengabaikan wanita ini, tapi pikirannya entah kenapa kembali normal beberapa saat lalu, ia sendiri sedikit bingung dan tidak percaya. Tapi, aroma yang ia rasakan, samar berasal dari gadis ini.
__ADS_1
“to..long, tuan, hiks, jangan, tinggalkan aku, hiks”, ucap jing mei serak.
Zheng bai masih tetap terlihat didalam pikirannya, tapi disisi luar, jing mei mendongak melihat lelaki didepannya ini seakan tidak ingin menolongnya. Ia bertambah takut dan putus asa, tapi ia begitu terkejut saat mendengar suara lelaki diatasnya ini.
“bisakah kau berdiri, nona ?”, tanya zheng bai dingin.
Jing mei menggelengkan kepalanya, ia menunduk lesu.
“sial !!”, umpat zheng bai.
Jing mei kaget karena mendengar ucapan kasar dari lelaki asing didepannya, tapi ia lebih kaget ketika tubuhnya ditarik masuk kedalam gendongan lelaki asing ini. tangan jing mei mencengkram leher zheng bai saat lelaki itu melompat tinggi menghindari serangan dari binatang buas disekitar nereka, dirinya menahan nafas dan matanya terpejam erat, jing mei semakin mengeratkan tangannya di leher zheng bai. Ia tak berani mengeluarkan suaranya dan menyembunyikan kepalanya di bahu kiri lelaki itu.
Suara raungan berat dibawah mereka terdengar semakin penuh dan mengancam. Zheng bai mengeratkan pegangan tangan kirinya dipaha jing mei, ia melompat keatas salah satu dahan dan kembali terjun masuk kedalam kerumunan binatang buas dibawah sana.
Binatang buas spiritual, berbulu abu-abu gelap, dan berdarah karena tebasan pedang zheng bai begitu brutal dan tepat sasaran terlihat seakan tidak takut akan apapun dan siapapun, lelaki itu bergerak sombong dan sombong menghabisi semua mahkluk mengerikan itu dengan pedangnya.
Binatang buas spiritual ini dikirim oleh orang-orang misterius itu, awalnya ia berfikir salah satu dari mereka mengikutinya dan tahu keberadaannya tapi lagi-lagi ia salah. Sepertinya yang orang-orang itu incar adalah gadis ini. apapun itu sepertinya lembah hantu telah berani melewati batas.
Baiklah, ia sendiri yang akan memberikan peringatan untuk mereka. Senyum iblis tampak diwajah tampannya. Gerakan zheng bai semakin liar dan brutal, ia menebas habis semua binatang buas spiritual itu tanpa menyisakan satu dari mereka yang berhasil bertahan.
Getaran yang mengguncang tubuhnya, saat ini jing mei sepenuhnya menyerahkan hidupnya ditangan lelaki asing ini.
Raungan berat khas binatang buas yang kesakitan dan marah saling bersahutan, tapi tebasan di tengah raungan mereka tampaknya tidak memberikan rasa pengampunan dan rasa kasihan. Binatang buas yang tampak seperti srigala raksasa itu kini telah habis terbantai. Sisa-sisa bagian anggota tubuh binatang buas yang berserakan disepanjang hutan, darah merah kental mereka membasahi salju putih yang mulai menumpuk, dan mewarnainya menjadi merah darah yang membeku diatasnya. Jing mei yang tanpa sengaja melihat hal itu merinding ngeri.
__ADS_1
“serahkan wanita itu”, ucap seseorang yang membuat jing mei semakin mengeratkan cengkeraman tangannya dileher zheng bai saat merasakan tangan lelaki itu bergerak turun darinya.