
Sudah hampir satu bulan ia berada didalam halaman persik. Jing mei merasakan ketenangan yang nyaman dan aman didalam halamannya. Tapi, ia masih sedikit kaku ketika bertemu sosok lelaki yang menjadi ayahnya ini, kasih sayang dan kelembutan ayahnya terasa begitu asing dan asing. Ia sedikit bingung harus bertindak karena apa yang terjadi selama hampir belasan tahun umurnya yang sebagian besar ia habiskan jauh dari ibukota membuatnya menjadi bingung. Antara ia dan ayahnya, ia merasakan keterasingan yang renggang karena tiga tahun terakhir ini ia sama sekali tidak melihat sosok ayahnya, dan ia telah berfikir bahwa ia benar-benar telah dibuang.
Dan sudah hampir sepuluh hari ini, ayahnya tidak mengunjunginya. Ia juga selalu diperingatkan momo lou untuk tidak melangkahkan kakinya keluar dari dalam halaman persik, ia sendiri tidak tahu apa alasannya tapi ia menuruti ucapan momo tua itu. ia sendiri tidak ingin perduli dengan hal lain.
Momo lou sendiri, yang ia ketahui adalah mama asuh dari ibunya. Jadi, ia menghormati wanita tua ini sama seperti momo tua yang merawatnya didesa an.
Selir niu mei yang terlihat berulang kali berada di luar halaman persik dibuat kesal karena beberapa pengawal yang di tempatkan disekitar halaman sangat ketat dan patuh. Bahkan, ia yang biasa merayu mereka dengan beberapa patah kata dan hadiah, para pengawal ini masih tetap diam seperti patung dan tetap menyilangkan pedang mereka dan menghalanginya.
Ia begitu kesal dan kesal.
Selir sa dan selir shu yang melihatnya berwajah murah dan gelap terlihat begitu santai meminum teh mereka di pinggiran kolam teratai.
“jie jie, bukankah hari ini terlalu cerah untuk meratapi perubahan nasib”, ucap selir shu, wanita yang terlihat masih muda, mengedipkan matanya malas dan menyesap tehnya.
“mei mei, apa yang kau katakan sedikit menyakiti hati jie jie mu ini, ah, aku sangat merindukan daren”, jawab selir sa yang suaranya terdengar sedih, ia mengambil sapu tangan berbordirannya dan mengusap ujung matanya yang tak berair.
Selir niu mei yang mendengar percakapan kedua orang didalam gazebo santai itu berhenti, ia terlihat mengeratkan tangannya dan kembali melanjutkan jalannya bersama dengan beberapa pelayan dibelakangnya.
Sampai didalam halamannnya, selir niu mei berteriak kesal dan mengambil barang didekatnya, ia membanting keras barang-barang miliknya. Ia begitu kesal dan sangat kesal, ia juga sangat penasaran dengan siapa yang berada didalam halaman yang ia inginkan itu. Sampai saat ini, kasih sayang tuannya selalu ia dapatkan lebih dari yang lain karena ia berjasa dalam mengatur semua didalam kediaman ini, kecuali halaman persik dan gudang lain yang ia ketahui memilik banyak harta langka didalamnya, ia tak di perbolehkan mengambil alih atau bahkan melihat tempat itu.
Dan sampai saat ini juga hal itu masih membuat batu besar didalam hatinya setelah ia berhasil menyingkirkan batu kecil yang telah ia buang dipinggiran itu, kenapa harus ada batu lain yang menghalanginya !! ditambah lagi dengan kehadiran seseorang yang ia yakini berada didalam halaman itu.
Lihat saja, dimasa depan, ia akan membuat kedua selir rendahan itu pergi dari kediaman ini dan setelah ia menjadi nyonya resmi kediaman ia akan membuat segala sesuatu menjadi miliknya !!... lihat apa yang akan mereka lakukan, pikir kesal selir niu mei yang mengingat tingkah menyebalkan dua orang itu beberapa hari terakhir ini.
Li jiao li yang baru saja kembali dari kediaman perdana menteri chang, ia didalam keretanya terlihat melirik kesembarang arah dari dalam balik tirai tipis yang menutupi jendela kereta. Sebulan terakhir ini ia begitu mengharapkan untuk bertemu dengan lelaki yang begitu ia idamkan itu. Bahkan, ia begitu bersemangat dan rajin datang keberbagai perjamuan selama kurun waktu sebulan lebih ini. tapi, ia tak mendapatkan informasi apapun dan siapa lelaki itu.
__ADS_1
Wajah mudanya yang terlihat segar dan cantik terlihat mendung, ia sangat kesal. Beberapa kali, li jiao li menghela nafasnya. Tiba-tiba saja, ringkikan kuda mengagetkannya, dari arah samping seseorang mengetuk jendela keretanya.
“gege !!”, seru li jiao li manja ketika ia mengetahui siapa sosok yang berani mengetuk jendela keretanya.
Dari arah luar, kekehan suara kakak lelakinya membuatnya sedikit meredakan rasa kesal dihatinya. Keduanya akhirnya pergi dan berhenti disalah satu kedai teh bergengsi diibukota kekaisaran.
Kakaknya yang telah menjadi pejabat tingkat satu ini terlihat begitu rapi dengan seragam khusus pejabat kekaisaran, beberapa orang yang melewati mereka terlihat bedecak kagum dan iri. Seluruh kekaisaran tahu bahwa tuan muda dari kediaman li begitu berbakat dalam usia muda karena ia berhasil meraih peringkat seorang pejabat muda tingkat satu yang rata-rata para pejabat tingkat satu memliki usia diatas pertengahan dua puluh begitu juga tingkatan selebihnya.
Li jiao li yang berjalan disamping kakaknya terlihat mengangkat dagunya, ia terlihat sedikit menaruh rasa sombong dan angkuh diatas angkatan dagunya, walaupun ia berusaha untuk tidak memperlihatkannya.
Nona muda kediaman li sendiri juga telah dikenal sebagai kecantikan kedua setelah tuan putri zhong xuan yi, putri keenam kaisar terdahulu sekaligus adik langsung dari kaisar zhong dun ming, kaisar yang sekarang. Tentu saja, dengan predikat kecantikan teratai putih kedua setelah tuan putri membuat li jiao li semakin memandang tinggi status dan kedudukannya.
Kedua bersaudara itu berjalan dengan lurus dan terlihat begitu menjaga martabat mereka layaknya nona muda dan tuan muda resmi dari sebuah kediaman.
Zheng bai yang saat ini tengah meminum tehnya, terlihat berkerut kesal. Ia sangat membenci kebisingan, dan lagi manusia-manusia bodoh yang tengah menjadi pusat perhatian itu sangat menjijikan dimatanya.
Bahkan melihat wajah xuan yi cukup mengiritasi matanya, dan saat ini kecantikan kedua ?? sungguh membuat kotor matanya !!!
“wangye, apakah anda akan pergi lagi ??”, tanya pejabat keempat kekaisaran, ming hao.
Zheng bai menganggukkan kepalanya santai sebagai responnya.
Lelaki muda yang sangat misterius dari kediaman perdana menteri ming. Tuan muda ming yang begitu jenius dalam usia mudanya yang berhasil meraih dua jabatan dan melompati beberapa tes hingga bisa duduk ditempat yang berada dibawah langsung perintah kaisar. Lelaki itu terlalu misterius dan malas bersosialisai, bahkan banyak rumor yang mengatakan bahwa tuan muda dari kediaman perdana menteri ming ini sangat buruk rupa tapi memiliki berkah langit. Tapi, berbanding denganr rumor, wajah khas seorang cendikiawan muda tapi dengan ekspresi malas diwajahnya saat ini terlihat sama bosannya dengan wajah yang ditampilkan zheng bai.
“kau tau, dia menyebalkan”, desis ming hao yang juga melihat dimana jiang wang melihat.
__ADS_1
“apa yang kalian bicarakan ??”, tanya chao gu penasaran.
Ming hao menoleh dengan malas dan berdecih.
“idiot”, decihnya sembari melanjutkan minum tehnya.
“bajingan kutu buku !!”, balas kesal chao gu.
Chao gu ikut melihat kearah bawah dilantai satu, dan melihat bagaimana kerumunan menjijikan dibawah itu membuatnya menggidik ngeri.
“bahkan ia tidak bisa menyamai kecantikan yu qi er ku yang manis”, lanjut chao gu lagi.
Ming hao yang mendengar ucapan chao gu hanya memutar matanya. Tapi, ia mengangguk kemudian.
“dimana han zhi ??”, tanya ming hao.
Chao gu menoleh, ia menggelengkan kepalanya.
“aahhhh, wanita memang menyusahkan”, decak kesal ming hao. Ia berdiri.
“kau mau kemana ??”, tanya ming hao.
“aku ?? tentu saja mencari wanita itu, zi furen menginginkan gadis itu pulang”, ucap malas ming hao.
Chao gu yang mendengar keluhan ming hao hanya tertawa terbahak-bahak, ia sangat tahu bahwa zi furen hanya mengetahui bahwa gadis muda dari kediamannya itu hanya takut pada sosok pejabat muda dari kediaman ming. Itu akan sangat lucu jika ia bisa menyaksikan bagaimana wajah pucat han zhi saat bertemu dengan wajah malas dan frustasi ming hao yang sangat jarang ia lihat itu mungkin akan sangat menyenangkan.
__ADS_1
Ming hao yang melihat chao gu tertawa atas penderitaan yang sering ia alami ini hanya bisa terus berkata kasar padanya, sangat berbeda seperti kepribadiannya yang terkenal berbudi luhur dan dingin.