
“yang mulia”, panggil jing mei.
“yang mulia”, panggil jing mei lagi. Ia sedikit mengerutkan keningnya karena jiang wang yang tidak merespon panggilannya. Mereka telah berdiri hampir satu jam, dan ia mulai merasakan kesemutan dikakinya.
“jiang wang, apakah anda tertidur ??”, tanya jing mei.
“hmm”, jawab zheng bai.
Jing mei merengut kesal, saat ini bahunya mulai terasa keram sebab beban kepala jiang wang dan dengan santainya lelaki ini tertidur, jing mei yang akan menarik dirinya terhenti karena ketukan ringan dari biarawati yang bertugas untuk memberikan makan malam terdengar dari luar pintu kamarnya.
Jing mei panik.
“nona”, panggil lembut biarawati muda didepan pintu jing mei, dan ia Kembali mengetuk pintu itu.
Biarawati muda yang bertugas membawa makan malam untuk setiap ruangan itu mengetuk pintu beberapa kali sembari memanggilnya sangat membuat jing mei merasa berdosa. Ia sedikit berdehem dalam diam agar suaranya khas seperti seseorang yang baru bangun tidur.
“maafkan nona muda ini, tapi aku tidak akan makan malam ini, tubuhku sedikit lelah”, jawab lembut jing mei.
“ah, maafkan saya, nona muda, silahkan beristirahat, jika anda merasa lapar atau butuh sesuatu anda bisa memanggil saya kembali”, jawab biarawati muda itu dibalik pintu jing mei.
“en, maaf merepotkan anda, nona biarawati”, jawab jing mei lembut.
Jing mei menempelkan telinga ke dinding pintu mendengarkan langkah kaki biarawati muda yang telah menjauhi kamarnya. Ia terkejut saat mendengar suara kekehan dibelakangnya.
“ternyata nona muda kediaman perdana menteri bisa berbohong dengan mulus”, bisik zheng bai.
“jika bukan karena anda saya mungkin akan kelaparan selama sisa malam yang Panjang ini”, jawab jing mei asal, tapi ia juga tidak berbohong karena selama seharian ini nafsu makannya agak menurun dan ia kurang berselera.
“apakah kau ingin memakan sesuatu ??”, sahut zheng bai cepat.
__ADS_1
“apa yang bisa saya lakukan, nona biarawati telah berlalu beberapa saat yang lalu, bukankah anda melihatnya sendiri”, balas jing mei malas.
“yang mulia, bisakah anda melepaskan saya”, lanjut jing mei lagi. Ia mulai merasa tidak nyaman.
“benwang akan melepaskanmu jika kau menuruti satu permintaan benwang”, balas zheng bai licik, ia bisa merasakan keluhan kecil nona muda ini.
“apakah jika saya menolak, yang mulia akan melakukan hal ini sampai pagi menjelang”, tanya jing mei.
“bukan hal yang buruk”, sahut cepat zheng bai.
“apakah anda gila !!!!”, ucap kesal jing mei. Ia sendiri mulai kehilangan ketenangannya dan berusaha menenangkan dirinya sendiri.
“wangye, apakah anda tidak merasa berdosa karena menahan seorang gadis kecil ??!”, ucap jing mei yang menekan semua kalimatnya.
“tidak”, jawab singkat zheng bai.
Zheng bai terdiam.
“tidak buruk juga, Sekarang kau calon wangfei masa depan benwang ini”, jawab zheng bai lain, sembari tersenyum jahat.
Jing mei tak bisa lagi mengeluarkan kata-katanya. Ia sangat ingin muntah darah karena ucapan jiang wang begitu sembrono.
“bagaimana apakah kau ingin menuruti permintaan benwang atau menjadi wangfei masa depan jiang fu ??”, tanya zheng bai licik.
Saat ini yang jing mei sangat ingin lakukan adalah menendang kaki lelaki dibelakangnya ini.
Dan akhirnya mereka berada salah satu ruangan kedai popular diwilayah wen. Diatas meja, segala jenis masakan khas wilayah wen tersedia, jing mei yang duduk didepan makanan yang begitu banyak sedikit kebingungan, apa yang akan dilakukan jiang wang ini. Dan jujur saja aroma masakan yang unik sedikit membangunkan cacing-cacing kecil diperutnya.
“apa yang nona muda lihat ?? makanlah dengan nyaman”, jawab zheng bai sembari menyesap anggur putihnya. Ia secara terang-terangan melihat kearah jing mei, tangan zheng bai dengan santai mengambil sumpit kayu, ia dengan elegan mengambil sedikit potongan daging bebek peking dan meletakkannya diatas piring milik jing mei.
__ADS_1
“rasakan, itu akan meleleh dimulutmu”, ucap zheng bai santai.
Jing mei menuruti ucapan jiang wang, ia mengambil daging itu dengan sumpitnya, dan benar apa yang dikatakan lelaki ini bahwa daging bebek yang dilumuri rempah-rempah terasa lembut dan meleleh didalam mulutnya, jing mei hampir tidak bisa menahan dirinya sendiri, ia berusaha menahan ketenangannya tapi tetap saja matanya yang berbinar tak luput dari perhatian jiang wang yang memperhatikan bagaimana reaksi nona muda kediaman perdana menteri ini. Zheng bai sendiri secara pribadi membawa piring berisikan daging potongan bebek peking itu didepan jing mei, dan ia sendiri secara pribadi juga Menyusun beberapa jenis masakan disekitar meja jing mei, zheng bai sendiri memilihkan masakan yang menurutnya bisa membuat jing mei nyaman.
“makanlah, benwang sedikit kurang berselera”, ucap zheng bai, ia Kembali menyesap anggur putihnya.
Jing mei sedikit mengerutkan keningnya, sebenarnya apa yang Tengah dipikirkan jiang wang saat ini. Ia melihat penampilan tinggi dan menyendiri dari sosok yang kini duduk didepannya, aura sombong dan elegan yang mutlak terasa mengancam membuat beberapa orang enggan untuk berurusan dengannya. Aura yang mana membuat semua orang akan menunduk hormat dan ketakutan karena esensinya.
“apa yang nona muda ini pikirkan tentang benwang ??”, kekeh zheng bai.
“anda, apa tujuan anda sebenarnya, yang mulia ”, tanya jing mei.
“benwang ??”, tanya zheng bai pada dirinya sendiri.
“habiskan makananmu terlebih dahulu, dan benwang akan melakukan transaksi dengan mu”, lanjut zheng bai lagi.
Kali ini giliran jing mei yang sedikit waspada atas ucapan jiang wang, ia melihat makanannya dan jiang wang, jika seperti yang sebelum-sebelumnya lelaki ini tidak akan menyerah untuk mendapatkan apa yang ia inginkan. Jing mei akhirnya Kembali menggerakkan sumpitnya dan memakan hidangan yang tersaji. Ia sedikit melirik jiang wang yang hanya diam menatap dingin kearah luar jendela, dan melihat ke piring kosong jiang wang serta Sebagian besar hidangan yang memenuhi separuh mejanya. Jing mei sendiri tanpa sadar berinisiatif memberikan potongan daging bebek peking tadi kepiring kosong jiang wang.
Zheng bai mengangkat alisnya karena gerakan jing mei.
“anda, juga makan, saya tidak merasa nyaman jika hanya saya yang memakan semua hidangan ini”, ucap jing mei.
“mungkin saja, anda ingin membuat saya tampak seperti babi”, lanjut jing mei singkat.
Zheng bai sedikit menahan kedutan diujung bibirnya karena ucapan jing mei, akhirnya setelah menimbang-nimbang sedikit mungkin tidak ada salahnya jika ia mencoba juga.
“anda juga harus mencoba ini”, ucap jing mei lagi sambil mengangkat piring hidangan kedekat mangkuk zhen bai.
Jing mei sendiri lagi-lagi tanpa sadar memberikan apa yang ia makan sebelumnya dan menurutnya itu nyaman dilidahnya untuk jiang wang coba juga. Dan tak terasa keduanya menghabiskan hampir Sebagian besar hidangan yang ada diatas meja. Jing mei yang melihat apa yang ia lakukan sedikit menahan rasa malu, ia sendiri secara pribadi mungkin sudah hampir setahun ini sejak kebakaran besar itu terjadi dirinya sudah lagi tidak mempunyai teman semeja untuk memakan makanan, dan terasa sedikit menyenangkan saat ada seseorang yang menemaninya walaupun jiang wang hanya diam dan memakan hidangan yang ia berikan dalam keheningan. Dalam hati kecilnya, tanpa sadar jing mei merasa puas. Dalam diam, keduanya menikmati makanan mereka satu sama lain.
__ADS_1