
Daun maple yang bermekaran jingga kemerahan saat ini sepenuhnya telah rontok dan jatuh diatas tanah, hanya batang pohon dan ranting-rantingnya yang terlihat masih berdiri kokoh walaupun mahkota cantik yang menghiasinya telah gugur dan menjadi sampah daun kering. Udara kian mendingin karena sebentar lagi musim dingin akan segera datang dan segala hal akan menjadi lebih dingin dan dingin.
Seperti biasa jing mei kembali duduk ditempat duduk favoritnya dan dengan malas melihat sosok xin xin yang menyapu halaman depan dengan penuh semangat dan hati-hati, saat gadis itu menyadari bahwa nona mudanya tengah mengawasinya dari dalam jendela yang terbuka lebar, gadis muda itu dengan ceria mengangkat tangannya dan melambaikannya semangat. Jing mei sedikit tersenyum tipis saat melihat tingkah menggemaskan pelayan mudanya itu. Suara mama tua zhi sedikit mengalihkan pandangannya.
“ada apa, mama ??”, tanya jing mei lembut.
“nona, sepertinya pelayan tua ini akan pergi ke ibukota, apakah anda akan baik-baik saja ??”, tanya mama tua zhi.
Jing mei terlihat memandang mama tua zhi dengan pandangan kosong, ia memikirkan hal apa lagi yang akan di lakukan wanita-wanita merak itu pada mama tuanya. Musim lalu, ia diam-diam melihat kedua pergelangan kaki dan tangan mama tua zhi memerah dan memar hita keunguan, hatinya begitu sakit tapi seolah tak terjadi apapun ia hanya bisa bersabar dan menahannya.
“tidak apa, mama, berhati-hatilah”, ucap jing mei lembut, ia tersenyum tipis kepada orang tua didepannya ini.
Mama tua zhi yang melihat senyum tipis tergantung di bibir nona mudanya yang pucat itu merasa sangat bersalah, tapi ia yang hanya pelayan rendahan harus mematuhi perintah furen di kediaman mereka.
“mama, bawalah beberapa perhiasanku dan jual, hanya itu yang bisa kuberikan kepadamu”, ucap jing mei lembut.
Mama tua zhi yang mendengar ucapan nona mudanya terkejut sekaligus terharu, setiap musim berganti, nona mudanya selalu melakukan sesuatu yang membantunya dan itu sangat membebani hati tuanya karena kediaman begitu kejam pada gadis muda yang belum menikah ini, setiap musim furen kediaman li selalu memberikan beberapa perhiasan perak yang rapuh dan usang, dan juga kiriman persediaan makanan untuk musim berikutnya dengan kualitas buruk dan layu. Jika bukan karena semua perhiasan itu kembali dijual mungkin saja mereka tidak akan bisa bertahan selama ini bahkan untuk semua bahan pakaian kualitasnya tidak lebih baik daripada seorang budak milik kediaman.
“mungkin, sebentar lagi kereta akan datang, mama, bersiaplah”, ucap jing mei.
“baik, nona, terima kasih, nona”, jawab mama tua zhi.
“en, hati-hati, mama”, ucap jing mei lembut.
...
__ADS_1
Jing mei menutup jendela kamarnya saat mendengar suara kereta kuda berhenti didepan pintu masuk halaman. Dari celah kecil jendela yang sengaja tak ia tutup dengan rapat, ia melihat mama tua zhi dan xin xin yang saling berpelukan. Tapi ada satu hal yang menarik perhatian adalah bagaimana ekspresi terkejut xin xin dan juga wajah sedih mama tua zhi yang beberapa saat lalu berbincang dengan seorang mama lain.
Apa yang mereka bicarakan, pikir jing mei.
Xin xin berdiri didepan kereta hingga kereta itu menghilang, ia terlihat tergesah-gesah menutup pintu masuk halaman dan menguncinya. Gadis pelayan itu juga menarik beberapa kayu dan menaruhnya secara terbalik dibalik pintu, ia juga terlihat dengan panik menarik sisa-sisa benda yang bisa menahan pintu. Melihat hal itu jiing mei semakin bingung.
“xin er, apa yang kau lakukan ??”, tanya jing mei. Ia berdiri tidak jauh dari xin xin.
Xin xin yang mendengar suara nona mudanya terkejut, ia menoleh dan wajahnya terlihat begitu pucat berkeringat.
“ah, xiaojie, ayo, ayo, kita harus masuk kedalam, diluar udara semakin dingin dan itu tidak baik untuk anda”, ucap xin er, suaranya terdengar gugup dan sedikit gemetar.
... ...
Jing mei hanya menuruti ucapan pelayannya ini, ia masuk kembali kedalam ruangannya dan duduk. Tak berselang lama, sosok xin xin dengan nampan ditangannya berjalan masuk kedalam kamar jing mei.
Satu gigitan pertama, rasa manis dan segar memasuki indera pengecapnya.
Gigitan selanjutnya, entah kenapa ada rasa lain selain campuran yang biasanya.
Jing mei mengambil tehnya dan meminumnya.
“katakan, apa yang kau lakukan”, tanya jing mei dingin.
Xin xin tak sanggup lagi menahan air matanya, gadis pelayan itu menangis keras dan memandang nona mudanya dengan pandangan bersalah.
__ADS_1
“maafkan aku wwuuuuu huhuhu... nona muda, mama, mama tua zhi”, jawab xin xin ketakutan.
Hal itu yang terakhir jing mei dengar saat seluruh tubuhnya terasa mati rasa dan gelap.
...
Zheng bai dan beberapa orang dibelakangnya bergerak cepat menggunakan kuda perang yang saat ini mereka naiki, sedikit lagi mereka akan mendekati kawasan desa an. Dan karena hari semakin gelap, mereka memutuskan untuk berhenti sebentar dipenginapan desa itu.
Tapi, ada satu hal yang aneh. Desa yang biasanya selalu ada beberapa orang dan gerobak sapi berjalan kini sepi selayaknya desa mati. Saat ini mereka berada dijalan yang sedikit tidak terlihat jika seseorang tidak berjalan kearah mereka karena beberapa pohon menghalangi, tapi di posisi zheng bai saat ini yang memicingkan matanya dan orang-orang dibelakangnya bisa melihat ada beberapa orang dengan pakaian serba hitam yang menutupi tubuh mereka bersembunyi dibalik semak-semak dan pohon saat melihat ada satu orang lelaki dari desa an yang lewat dengan gerobak sapinya. Dan yang mengejutkan, lelaki itu dibunuh oleh orang-orang berpakaian hitam. Zheng bai menahan tangannya saat merasakan bahwa chao gu akan bergerak tapi terlambat.
“mereka, ada banyak”, ucap zheng bai.
“tapi, apa yang mereka lakukan didesa kecil ini”, lanjut zheng bai dingin.
“sssttt”, desis zheng bai.
“suara, yang mulia, ada suara”, ucap chao gu.
Zheng bai mengangguk, prajurit yang dibawa zheng bai juga bisa mendengar suara yang terdengar lirih, sangat lirih untuk bisa didengar telinga orang biasanya. Seluruh prajurit zheng bai turun dan bergerak cepat mencari asal suara itu, tak berapa lama mereka menemukan seorang wanita tua yang tubuhnya penuh dengan lumuran darah serta luka besar di beberapa bagian tubuh tuanya.
“daren, daren, to...tolong.. no..nona.. nona.. ugh.. nona.. mudaku.. kedia...man..”, ucap mama tua zhi yang terlihat begitu sekarat.
“li.. daren.. ugh.. mo.. hon”, lanjut mama tua zhu, dan setelahnya wanita tua itu menutup matanya.
“panglima, apa yang akan kita lakukan ??”, tanya salah satu prajurit zheng bai.
__ADS_1
“abaikan dan kuburkan dia dengan baik, apapun itu sepertinya kita tidak harus terlibat”, desis zheng bai dingin.
Para prajurit zheng bai dan chao gu terlihat tidak percaya dengan apa yang panglima mereka katakan, tapi mereka juga tidak bisa menolak perintah panglima mereka karena hal itu juga bisa membawa sesuatu lain yang buruk untuk mereka. Lebih baik tidak bersinggungan satu sama lain.