Eternal Love : The Most Pampered General'S Wife

Eternal Love : The Most Pampered General'S Wife
Chapter 37


__ADS_3

Di atas lantai kedua kuil terlihat seorang lelaki muda dengan penampilan halus dan elegan melihat kebawah dimana sosok jing mei yang menghilang dari pandangannya. Suara halus dari sampingnya sedikit mengalihkan padangannya.


“jun hui die”, panggil lembut putri ke empat kekaisaran zhong, Zhong cheng yao.


“cheng yao jie jie”, kaget Zhong jun hui, pangeran kelima kekaisaran Zhong.


“apakah kondisi tubuhmu telah membaik, jun hui di ??”, tanya putri ketiga, Zhong zhiyu.


“bahkan zhiyu jie juga datang”, ucap senang  Zhong jun hui.


Zhong zhiyu menyentil ringan hidung adik kelimanya ini yang lebih tinggi darinya sekarang.


“apa yang a die makan hingga tumbuh sebesar ini”, keluh Zhong zhiyu.


Zhong jun hui yang mendengar keluhan kakak perempuannya ini hanya terkekeh.


“zhiyu jie, dimana kakak ipar lelaki ??”, tanya jun hui.


“semenjak jie jie mu tiba ditanah kelahirannya ia lebih dulu berlari keluar Kembali ke kediamannya”, ucap Zhong zhiyu yang terlihat menahan rasa kesal.


Disampingnya, cheng yao terkikik.


“bukankah calon suami ku juga begitu jie jie”, balas cheng yao menggelengkan kepalanya.


“dan lihat apakah keponakan kecilku ini akan menjadi putra yang memarahi ayahnya karena mengabaikan ibunya hahaha”, lanjut cheng yao lagi.


Zhiyu hanya bisa menggelengkan kepalanya sembari mengelus-elus perutnya yang besar.

__ADS_1


Jun hui memperhatikan interaksi antara kedua kakak perempuannya ini dengan pandangan sejuk dan lembut, ia terlihat senang melihat bagaimana keduanya bahagia karena memiliki pasangan yang sama-sama berasal dari kediaman yang sama.


“jie jie, apakah dia benar laki-laki”, goda jun hui.


“tentu sudah pasti, hahaha jika bukan laki-laki, bukankah kita akan membuat adiknya yang selanjutnya menjadi lelaki, benar kan, yue er”, bisik wen li an, putra tertua kediaman bangsawan militer wen. Ia mengelus lembut perut istrinya. Sedangkan itu, zhiyu memerah malu karena ucapan suaminya ini.


“berhenti menggodaku, lian”, ucao zhiyu ringan, tapi wajahnya masih memerah malu karena ucapan suaminya ini didepan saudara-saudaranya.


“kakak, jangan membuat a die kecil kita berkecil hati karena belum mempunyai pasangan”,sahut seseorang dibelakang wen li an, wen li pei, putra kedua kediaman bangsawan wen.


Zhong jun hui hanya tersenyum menanggapi ucapan kakak iparnya.


“lipei, jangan mengganggu a die”, ucap zhong cheng yao sembari menahan manja lengan adik kelimanya ini yang saa ini perbedaan tinggi antara mereka semakin terlihat.


“hahaha, baiklah, baiklah, aku tidak akan menggoda pangeran kecil kesayangan kalian lagi”, ucap wen li pei tersenyum. Ia mengangkat kedua tangannya.


Zhong cheng yao hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku calon suaminya dimasa depan ini, tapi sembrutan Bahagia masih terlihat jelas diwajahnya yang sedikit kemerahan itu.


Kelima orang itu turun dari atas lantai dua, mereka berjalan santai sembari berbincang satu sama lain hingga mencapai pagoda, diatas meja pagoda masakan yang masih mengepulkan asap ringan tersaji rapi. Mereka duduk kursi yang sudah disiapkan dan mulai menyantap makanan disana dengan suasana hangat.


“salam kepada yang mulia pangeran, dan putri kekaisaran Zhong, salam untuk kedua tuan muda dari kediaman militer wen”, ucap zheng bai yang saat ini berdiri memberikan salamnya secara tiba-tiba.


Kelima orang yang sedang menikmati makanan mereka sontak saja terhenti karena keberadaan dewa perang kekaisaran Zhong di dalam biara ini atau lebih tepatnya didepan mata mereka.


Pakaian hitam yang selalu dipakai zheng bai saat ini tampaknya seperti seseorang telah meninggal, terlihat suram dan gelap.


“kami juga memberika salam kepada jiang wang”, jawab wen li an.

__ADS_1


“apakah wangye ingin bergabung dengan meja kami ??, maaf jika terkesan tidak sopan. kebetulan kami masih memiliki satu set alat makan”, lanjut wen li an.


“tidak, benwang hanya ingin saudara wen menyampaikan pada tuan besar wen bahwa seseorang harus dikembalikan, disini kami hanya ingin berdoa untuk menebus dosa”, ucap zheng bai.


Wen li an dan wen li pei saling melihat satu sama lain dan mengangguk.


“baiklah, akan kami sampaikan, maafkan jika kami membuat sebuah keributan, karena kedatangan jiang wang sungguh diluar sepengetahuan kami, sebagai perwakilan kediaman wen, maafkan kami jika menyinggung jiang wang”, ucap wen li an yang mengepalkan tangannya satu sama lain dan menunduk memberikan gestur hormat pada zheng bai.


“tidak apa, ini juga kesalahan benwang yang juga membuat pihak lain berpikiran macam-macam”, jelas jiang wang.


Zheng bai mengangguk dan mengundurkan dirinya.


“jun hui, apakah kau megetahui tentang kedatangan jiang wang ??”, tanya wen li an.


“tidak, kakak ipar, mungkin saja jiang wang tidak ingin membuat keributan besar tapi ia juga membuat keributan besar karena hal ini”, ucap jun hui ringan, ia Kembali memasukkan lauk kedalam mulutnya.


Wen li an dan wen li pei saling melirik, dan keduanya hanya mengangguk satu sama lain setuju dengan ucapan adik ipar mereka. Setelah acara berkunjung selesai, mereka pergi menuju ke kediaman wen kecuali pangeran kelima, Zhong jun hui.


Pangeran kelima kekaisaran zhong, zhong jun hui adalah pangeran yang lahir dari selir kekaisaran, sama halnya dengan keenam anak kaisar terdahulu yang dilahirkan dari empat selir tinggi kekaisaran zhong, kecuali zhong dun ming dan juga zhong xuan yi yang lahir dari rahim permaisuri. Sejak kaisar terdahulu meninggal, dan keempat selir utama diberikan dekrit untuk menemani kaisar, zhong jun hui telah tinggal di dalam biara wenli milik wilayah bangsawan wen.


Tubuh pangeran yang telah lemah sejak lahir semakin bertambah lemah karena kematian mendadak kaisar dan juga keempat selir yang menemaninya termasuk ibunya membuat jun hui lebih memilih untuk menjauhi wilayah kekaisaran dan lebih nyaman untuk tinggal di wilayah kelahiran ibunya.


Saat ini pangeran junhui telah menginjak usia yang pantas untuk menikah, tapi karena kondisi fisiknya pangeran kelima dari kekaisaran zhong  ini hanya bisa berdiam diri didalam biara. Mungkin selama sisa hidupnya ia akan menjadi seorang biarawan.


Zhong jun hui melihat kereta kuda milik kediaman wen yang membawa kedua kakak perempuannya itu semakin menjauh dan mengecil lalu hilang. Ia menatap lama tempat dimana kereta kuda itu menghilang, ia sedikit batuk ringan dan berjalan masuk kedalam pavilion yang secara khusus oleh kediaman wen disiapkan sebagai tempat tinggalnya.


Saat malam semakin larut, biara mulai diterangi oleh lampu-lampu yang mulai digantung disepanjang jalan utama dan beberapa tempat tinggal. Cahaya lilin yang redup mulai menerangi seluruh ruangan, saat ini suasana didalam biara terasa sangat hening, nyaman dan penuh ketenangan. Keheningan yang menenggelamkan seseorang untuk lebih nyaman berada disana walaupun mereka tidak tahu bahaya apa yang sedang mengincar dibalik kegelapan malam yang mulai semakin larut dan larut.

__ADS_1


Ketenangan yang begitu menghanyutkan.


__ADS_2