Eternal Love : The Most Pampered General'S Wife

Eternal Love : The Most Pampered General'S Wife
Chapter 43


__ADS_3

“bagaimana anda bisa berada diwilayah ini ??”, tanya jing mei, ia sedikit kebingungan karena sepertinya antara dirinya dan jiang wang sepertinya selalu bersinggungan satu sama lain.


“benwang tidak akan menjawabnya, tapi saat ini benwang benar-benar sedang berdoa didalam kuil”, jawab zheng bai sembari memutar-mutar cangkir anggur putihnya.


Jing mei hanya menghela nafas atas ucapan lelaki yang ia temui setengah tahun yang lalu, dan juga obat yang ia miliki hanya tersisa beberapa butir lagi. Walaupun ia tak membutuhkannya karena musim semi beberapa hari lagi akan datang tapi tetap saja dikeadaan lain ia akan sangat membutuhkan obat itu.


“apa lagi yang kau pikirkan ??”, tanya zheng bai, ia sendiri sangat penasaran dengan isi otak didalam kepala kecil nona muda didepannya ini.


Zheng bai melihat jing mei menggelengkan kepalanya, ia sedikit menaikkan alisnya.


“jadi, apa tujuan anda mendekati nona muda tanpa koneksi ataupun sesuatu yang membuat yang membuat yang mulia bermanfaat ??”, tanya jing mei.


Zheng bai terkekeh jahat saat mendengar pertanyaan langsung dari bibir merah jambu berisi itu padanya, tatapan mata seperti singa betina yang tak takut apapun sedikit menggelitik dirinya.


“menurutmu, apa yang benwang inginkan ??”, tanya balik zheng bai.


“apakah anda benar-benar akan menjadikan saya calon wangfei ??”, tanya langsung jing mei. Matanya saat ini tanpa sadar benar-benar melebar penuh rasa penasaran.

__ADS_1


Zheng bai yang melihat ekspresi kekanakan yang penuh dengan rasa penasaran saat menatapnya itu ditampilkan jing mei tak bisa lagi menahan dirinya, ia menutup mulutnya dan tertawa dengan suara tertahan. Jing mei yang mendengar tawa rendah dan berat dari seberang mejanya mendadak bersemu merah, ia malu sekaligus bingung.


“apakah saya mengatakan sesuatu yang salah ??”, tanya jing mei, ia sedikit merengut terlihat dari bibirnya yang sedikit mengerucut.


“ah, maafkan benwang, tapi bisa dibilang pemikiranmu terlalu jauh, nona muda”, jawab zheng bai dengan suara yang masih terdengar sisa-sisa tawa puas disana.


“anda !!!..”, balas cepat jing mei kesal.


“jika nona muda ini menginginkan posisi disamping benwang, benwang akan memberikannya tanpa diminta”, jawab zheng bai dengan suaranya yang terdengar serius.


Jing mei yang untuk pertama kalinya mendengar pernyataan itu dari mulut seorang lelaki paling dihormati kedua setelah kaisar merasa gugup tanpa alasan, tapi ia juga mulai menyadarkan dirinya sendiri, ia Kembali membalikkan ekspresi tenangnya dan sedikit menghela nafas.


“nona, apakah anda baik-baik saja ??”, tanya zheng bai.


“hah, apa yang ku minum ?? manis sekali, aku menyukainya”, bisik jing mei, kedua bibirnya tidak bisa menahan lengkungan yang manis dan cantik, terlihat candu seperti anggur putih langka yang di fermentasi.


“apakah kau tidak mabuk ??”, tanya zheng bai.

__ADS_1


“apa maksud anda, yang mulia ??.. hal seperti ini tidak akan membuatku mabuk, perutku terasa hangat dan aku menyukainya, air ini terasa nyaman”, balas jing mei yang Kembali menuangkan botol berisi arak anggur putih kedalam cangkirnya, pandangan matanya terlihat mulai kabur ia sendiri berkedip beberapa kali untuk menuangkan botol anggurnya, pipinya yang putih itu mulai ikut berwarna kemerahan. Zheng bai dari samping masih terlihat waspada dan benar saja jing mei menumpahkan isi botol anggur itu karena pandangannya yang mulai kabur dan sekelilingnya mulai tampak bergoyah. Zheng bai dengan cepat menarik tubuh jing mei untuk menghindari tumpahan dari arak yang mulai melebar jatuh.


“ukh, wangye, apa yang anda lakukan ?? air ku tumpah”, ucap jing mei dengan suara setengah linglung.


Setengah tubuh jing mei yang berada didalam dekapan zheng bai saat ini merosot, ia terlihat lemas karena efek berat dari arak anggur putih, kepalanya terkulai kebelakang karena tak sanggup lagi menahan beban berat tubuhnya sendiri, mungkin jika tidak ditahan zheng bai ia akan menggelepar dibawah lantai dingin.


Zheng bai menahan pinggang dan kepala jing mei dengan tangannya, lelaki itu tampak berdecak karena kelalaiannya. Kepala jing mei yang terkulai dengan lemas ia tahan dan bawa kedalam pelukannya. Zheng bai menggendong tubuh jing mei, dan meletakkannya dikursi panjang didalam ruangan ini, tapi pandangannya teralihkan oleh sesuatu yang berkilat terkena cahaya terang lilin.


Zheng bai melihat bagaimana mulut mungil berkilat nona muda ini yang sedikit terbuka seperti ikan kecil, bibir dan pipi merah merekah jing mei membawa aroma anggur putih yang keluar samar dari nafasnya. Zheng bai tanpa sadar mengusap bibir merah jing mei, ia menutup bibir jing mei dengan ibu jarinya, mengusap pelan sisa anggur yang tersisa disudut bibir nona muda ini, saat ini keinginan besar untuk merasakan sesuatu yang menggoda sangat kencang dipikirannya saat ibu jarinya yang kasar menyentuh daging kenyal lembut yang terasa basah ditangannya. Bulu mata lentik jing mei yang terkulai sedikit bergetar karena sentuhan sensual ibu jari zheng bai diatas bibirnya.


Ia ingin sekali melahap bibir mungil yang sekarang terlihat mulai berisi ini masuk kedalam mulutnya, saat ini mulutnya terasa kering, berberapa kali jakunnya terlihat bergerak naik turun.


Zheng bai sedikit menyadarkan dirinya sendiri dari pikiran-pikiran gila di kepalanya, mungkin saja ia juga terkena efek dari anggur putih yang ia minum sebelumnya, tapi bukankah tubuhnya sangat kebal terhadap hal semacam itu atau mungkin racun disini bukanlah arak itu melainkan nona ini sendiri sangat beracun untuknya. Zheng bai berjalan kearah meja dan menuang penuh air putih kedalam cangkirnya, ia dengan cepat menegaknya sekaligus.


Mata tajam zheng bai memperhatikan sosok jing mei yang terbaring diatas kursi panjang, sepertinya vitalitas tubuh jing mei sedikit tidak terganggu karena penyakit dingin yang bersarang diinti perutnya.


Matanya tanpa sadar melihat kearah leher ramping jing mei yang mungkin hanya seukuran dengan lengannya ini, dan lagi-lagi pandangannya tertuju pada bibir jing mei yang terbuka. Zheng bai membuang wajahnya.

__ADS_1


 Sangat berbahaya berada didekat nona muda ini !!!, pikir zheng bai yang untuk pertama kalinya sedikit tersiksa.


Ia dengan cepat mengambil mantel biru bersulam milik jing mei dan membungkus wanita itu, merasa bahwa masih berbahaya, ia mengambil mantel hitamnya dan membungkus tebal tubuh jing mei. Zheng bai sedikit menghela nafas rendah, dan mengangkat tubuh jing mei setelah sebelumnya melemparkan kantung penuh koin perak diatas meja. Ia sendiri keluar dengan melewati jendela besar dan menghilang dalam kegelapan.


__ADS_2