
Ming hao turun dari atas lantai dua, dan bertepatan dengan itu. Ia berpas-pasan dengan kedua orang yang sebelumnya menarik perhatian dan membuat berisik tempat ini. wajahnya yang khas seperti seorang cendikiawan tinggi yang lelah dan malas berlalu melewati li xingsheng dan li jiao li. Seperti ia melewati tiang, ia tak bereaksi apapun dan terus berjalan lurus. Di belakangnya terdengar suara seseorang yang berusaha mengejarnya keluar pintu kedai.
“astagaa, tuan muda ming, apakah anda akan datang di lain hari ??”, tanya pemilik kedai itu pada ming hao.
“ya, dan jangan biarkan siapapun menempati ruanganku, ini bonus untukmu dan uang untuk perawatan tempatku”, ucap ming hao yang dengan santai melemparkan kantung koinnya pada orang dibelakangnya.
Chao gu yang melihat tingkah laku ming hao hanya mendecih.
“lihatlah, wangye, lelaki bodoh, bukankah sama saja, ia mengeluarkan koin itu atau tidak bukankah akan tetap berakhir didalam kantungnya, dasar lelaki picik”, ucap chao gu yang terlihat tidak habis fikir dengan jalan pikiran temannya yang satu itu.
Zheng bai hanya terkekeh dingin melihat bagaimana ming hao yang tengah menutupi fakta bahwa tempat terkenal ini adalah milik kantung pribadinya sendiri.
“chao gu, sepertinya kau memang idiot”, ucap zheng bai santai.
“benar, chao gu idiot hihihi”, sambung zi han zhi yang tiba-tiba saja masuk kedalam ruangan. Tabib muda itu mengambil kue diatas piring dan memakannya dengan santai.
“kalian !!!!... kau !!, gadis nakal !!”, umpat chao gu kesal.
Zi han zhi hanya meringis terlihat seperti tidak mempunyai salah apapun pada lelaki yang beberapa tahun lebih tuan darinya ini.
“apa yang kalian temukan ??”, tanya zheng bai.
“beberapa pergerakan asing, dan transaksi terjadi dibeberapa titik, wangye”, jawab zi han zhi.
__ADS_1
“benar, aku melihat beberapa kereta kuda pengantar barang saling bertukar peti dan berjalan berlainan arah, aku juga sudah mengirim beberapa orang untuk mencarinya”, lanjut chao gu serius.
“malam ini, kita akan bergerak, dan kau, han zhi, kembali ke kediaman zi, zi furen yang memerintahkan ming hao, jadi serahkan dirimu”, ucap zheng bai dingin.
Zi han zhi yang mendengar ucapan jiang wang yang terdengar seolah dirinya adalah seorang penjahat yang harus menyerahkan diri itu terlihat menekuk wajahnya, ia tak ingin pulang,. Ibunya selalu memaksanya untuk pergi mengikuti perjamuan dan mencari seorang tuan muda dari kediaman bangsawan lain, walaupun ia sendiri tahu bahwa ibunya juga mengetahui tentang hobi dan keterampilannya ini tapi bukankah ini sangat menekannya.
Chao gu yang melihat han zhi menuruti ucapan zheng bai dengan mudahnya itu hanya bisa menggelengkan
kepalanya apalagi wajah suram dan tertekuk diwajah han zhi, ia sangat ingin menyeret gadis itu pulang dan mengikatnya ditiang leluhur kediaman tabib zi.
“ah, benar, wangye, perdana menteri li diam-diam tengah mencari seorang tabib untuk putrinya”, jelas chao gu.
Zheng bai mengangkat alisnya, seakan teringat sesuatu yang manarik minatnya, ia tersenyum miring.
Han zhi yang mendengar tawaran zheng bai langsung berbalik arah, ia terlihat seperti seekor anjing yang mendapatkan makanannya, matanya terlihat berbinar senang.
Chao gu hanya mendecih melihat ekspresi bisnis di wajah tabib muda didepan mereka ini.
Beberapa orang yang berada dilantai bawah kedai mendengar bagaimana seorang pemilik kedai teh bergengsi berani turun dan mengejar lelaki muda itu terlihat penasaran. Dan mereka lebih terkejut ketika pemilik kedai teh memanggilnya sebagai tuan muda kediaman ming.
Dan kediaman ming hanya memiliki satu orang tuan muda, dan hanya satu orang pewaris sekaligus seorang pejabat tingkat empat termuda diseluruh kekaisaran. Tentu saja, walaupun rumor mengatakan bahwa tuan muda ming hanyalah seorang dengan wajah buruk atau hal buruk lain, semua wanita muda di seluruh ibukota akan tetap ingin menjadi nyonya resmi kediaman perdana menteri ming yang bergengsi setelah kediaman jiang wang.
Ming hao yang mendengar keributan besar dibelakangnya, ia menutup pintu keretanya dan memerintahkan kusirnya untuk segera pergi.
__ADS_1
Beberapa orang yang berada didalam kedai itu terlihat sangat kecewa karena tidak bisa melihat secara dekat wajah asli dari pejabat tinggi keempat kekaisaran itu.
Li xingxheng yang mendengar helaan nafas kecewa dan pusat perhatian yang teralihkan membuatnya malu, wajahnya menghitam merah. Ia menarik li jiao li naik keatas lantai dua tapi langsung dihadang oleh dua orang yang menjaga diantara tangga naik keatas.
“tuan, nona, sebelum itu anda harus memilik token khusu untuk naik keatas lantai”, ucap penjaga kedai ditangga.
Li xing xheng itu memerah malu karena ucapan penjaga rendahan didepan mereka, dan untuk menutupi rasa
malu, li xing xheng menutupinya dengan berkata bahwa ia lupa membawa tokennya. Akhirnya dengan perasaan kecewa bercampur rasa malu yang luar biasa menarik tangan adik perempuannya itu dan keluar dari dalam kedai teh.
Ia masuk kedalam kereta adiknya dan memerintahkan kereta untuk kembali kekediaman.
Didalam kereta, li xing xheng tidak lagi menutupi rasa malu dan kemarahannya yang bercampur jadi satu. Disampingnya, li jiao li terlihat kebingungan dengan apa yang terjadi pada kakaknya. Ia mengerti dan tahu bahwa kakaknya tidak mempunyai akses naik keatas lantai dua itu, karena harga token yang dibayar sangatlah tinggi dan tidak mudah untuk mendapatkanya. Ia juga hanya pernah sekali naik keatas lantai dua kedai teh itu, dan hal itu saat tuan putri xuan yi membawa mereka naik keatas untuk menikmati jamuan teh disana.
Ah, benar !!, pikir li jiao li yang secara tiba-tiba memikirkan sesuatu. Senyuman serakah dan rasa haus akan sebuah kekuasaan terlihat jelas dari pantulan matanya.
“gege, hal yang terjadi hari ini, biarlah terjadi, gege, kau harus fokus pada karirmu didalam istana dan kita harus bisa membuat seluruh orang dikekaisaran ini menghormatimu dan tidak berani menolakmu... gege bukankah itu hal yang menarik dan bagus untuk masa depanmu jika gege berani mendekati tuan putri xuan yi ??”, ucap li jiao li hati-hati.
Li xing xheng yang tengah memikirkan sesuatu terdiam saat mendengar ucapan adik kecilnya. Ia memikirkan apa yang dikatakan jiao li padanya dan ia hanya diam, tidak menjawab ataupun menanggapi ucapan adiknya ini. tapi, ekspresinya saat ini sangat dalam dan penuh perhitungan.
Li jiao li yang melihat kakaknya sepertinya memikirkan ucapannya, ia hanya bisa diam-diam mengangguk senang. Jika hal itu terjadi, ia bisa dengan mudah menunjuk siapapun untuk menjadi suami masa depannya dan lelaki itu yang akan ia incar.
Segala hal yang terbaik didunia ini hanya untuknya, dan hanya akan pantas berada di sekitarnya, pikirnya bangga.
__ADS_1