Eternal Love : The Most Pampered General'S Wife

Eternal Love : The Most Pampered General'S Wife
Chapter 10


__ADS_3

Pandangan pertama.


Kecurigaan, godaan, obsesi dan rasa serakah.


Pertemuan, pengorbanan.


Tangisan, penderitaan.


Disamping satu sama lain, belenggu terikat dalam kegelapan.


Pertempuran dingin yang sulit ditemukan dalam satu helaan nafas santai.


Hari-hari kelam yang panjang, obsesi gila yang memberatkan.


Berharap untuk satu tidak bertemu, untuk satu bersama.


Tangisan dingin sebuah penjara emas kelam.


Yang tak bisa dilupakan hanyalah rasa sakitnya.


Dan ketika takdir benang merah mulai merajut kembali kenangan samarnya.


 


...                                         

__ADS_1


 


Zheng bai melihat sekelilingnya dengan waspada, ia menajamkan semua indera di tubuhnya, saat ini dirinya berada didalam sebuah goa. tak sengaja ia injak lubang goa yang tertutup diantara tumpukan salju dan dirinya sendiri tidak tahu apakah orang-orang yang mengejarnya itu akan mengikutinya masuk kedalam sini.


Ia memperhatikan sekitarnya, udara disini jauh sedikit lebih hangat daripada di luar. Tapi, tubuh dilengannya ini terus gemetar dan dingin. Ia melihat wajah kecil ini terlihat begitu pucat, bibir yang mulai membiru mengeluarkan suara nafas lemah yang terputus-putus. Zheng bai bisa mengetahui bahwa gadis ini masih setengah sadar. Tak ada cara lain, ia menurunkan tubuh jing mei dan melepaskan jubah luarnya, ia membungkus tubuh gadis ini dengan pakaiannya. Merasa cukup, zheng bai memeriksa suhu di kening jing mei dengan lengannya yang hampir terasa hilang. Tanpa sadar zheng bai mendecih saat beberapa langkah kaki berhenti tepat diatasnya. Ia melihat sekitarnya dan merasakan beberapa langkah kaki diatas sana yang bergerak menjauh, memastikan aman. Menyelipkan pedangnya disabuk pinggang belakang. Zheng bai kembali membawa tubuh jing mei, ia naik keatas dengan qinggongnya.


“dingin”, bisik jing mei lemah, ia semakin mendekatkan dirinya kearah sumber hangat yang berada didekatnya.


“dengarkan, lingkarkan tanganmu dileher benwang, jika tidak, benwang akan meninggalkanmu, gadis kecil”, ucap zheng bai tegas.


“en”, jawab jing mei, ia berusaha membawa kedua tangannya keatas leher seseorang ini, tapi tenaganya seperti habis terkuras dan tangannya hanya terkulai lemah. Zheng bai yang melihat hal itu sedikit menahan diri, ia secara pribadi membawa tangan jing mei kelehernya. jika bukan karena apa yang ia alami malam ini, ia tidak habis fikir kenapa dirinya ingin menolong gadis ini.  Zheng bai semakin mengeratkan pegangan tangannya dilengan dan punggung jing mei, ia bergerak cepat dengan qinggong dikakinya.


Lapisan salju yang semakin menumpuk tebal, dan ranting dahan pohon yang terlihat mulai membeku, sejauh mata melihat hanya hamparan putih. Zheng bai terus bergerak, entah berapa waktu telah berlalu, ia tak memperdulikan apapun hingga dirinya sampai disatu desa kecil, desa sungai ru.


Lampu-lampu lentera yang mulai terlihat redup karena fajar pagi mulai beranjak naik, cahaya kemerah-merahan mulai tampak terlihat terang. Zheng bai berjalan kearah rumah-rumah yang saat ini telah penuh dengan putih tumpukan salju dimana-mana.


“ASTAAAGAA”, teriak salah seorang penduduk yang terlihat akan pergi menuju suatu tempat.


Penduduk itu terkejut ketika melihat seseorang yang berjalan dengan pakaian tipis dan juga buntalan besar didepannya, dan lagi melihat bagaimana cara jalannya yang santai menambah rasa terkejutnya.


“tuan, ah maafkan orang kasar ini, apa yang anda lakukan ditengah badai salju pertama ini ??”, tanya hati-hati penduduk itu.


Zheng bai menghentikan langkah kakinya ketika ia mendengar suara teriakn kaget dari lelaki tua yang berdiri tak jauh darinya dan terima kasih atas berkat teriakan terkejut itu beberapa pintu halaman terbuka.


“dimana penginapan didesa ini ??”, tanya zheng bai, beberapa menatapnya dengan pandangan penasaran.

__ADS_1


“ah, ke..kebetulan, penginapan didesa ini berada didekat sini, anda bisa berjalan lurus, jika bertemu tiga jalan, tepat disebelah kanan”, jelas seseorang.


Zheng bai mengangguk, ia melanjutkan perjalannya.


Beberapa penduduk didesa itu berbisik-bisik saat melihat pedang dibelakang tubuh zheng bai, pedang yang terlihat merah gelap karena noda darah membuat semua penduduk kaget sekaligus terkejut, tapi mereka tidak berani untuk bertanya. Dan lagi terlihat dua lengan halus yang memeluk erat leher lelaki itu membuat beberapa penduduk berfikir bahwa lelaki itu hanya bertahan diri karena disebelah barat setelah keluar dari jembatan itu hanyalah berisi hutan lebat yang diisi banyak binatang buas, yang terburuk adalah binatang buas spiritual, sangat beruntung keduanya berhasil selamat.


Zheng bai masuk kedalam tempat yang disebut sebelumnya, disana ia mengucapkan beberapa patah kata dan langsung dibawa masuk kedalam kamar penginapan besar. Ia melirik sekilas kamar tidur ditengah dan sisi lain ruangan yang ia rasa berisi bak mandi air panas, ia sangat membutuhnya saat ini.


Ketukan dari arah luar pintu membuatnya menoleh, ia melihat seorang pelayan muda masuk kedalam dengan membawa sup hangat yang masih mengepul, beberapa lauk serta perapian kecil juga telah disiapkan, ruangan in perlahan mulai hangat dan nyaman dengan suhu yang pas ditengah musim dingin ini.


Zheng bai sedikit mengacuhkan pandangannya ketika ia tak sengaja melirik seluruh ruangan dan melihat pelayan muda didepannya ini, terlihat jelas pelayan muda ini meliriknya dengan malu-malu.


“selesaikan semuanya dengan cepat, dan ucapkan pada pemilik penginapan ini untuk membawa dua jubah hitam kualitas terbaik”, ucap zheng bai singkat.


“ba..baik, tuan”, jawab malu-malu pelayan itu.


Zheng bai mengabaikannya, ia menarik pedangnya dan meletakkanya disudut tempat tidur, kemudian menurunkan jing mei dari lengannya keatas tempat tidur. Melepaskan jubah luarnya, ia secara pribadi membawa tubuh jing mei masuk kedalam tempat pemandian yang berada dibalik sekat samping kamar ini. pelayan penginapan yang melihat tindakan tuan tampan didepannya ini terkejut karena apa yang dia pikir itu hanyalah anak kecil ternyata seorang wanita, ia tak sempat melihat wajah wanita itu karena tertutup oleh tubuh tuan tampan itu.


Itu bukan apa-apa, bukankah memilik dua atau tiga selir sangat wajar, pikir gadis pelayan itu tidak tahu malu. ia sangat ingin mengubah nasibnya dan menikahi kediaman kaya serta tuan tampan, melihat bagaimana cara tuan itu memesan kamar penginapan dan tanpa ragu memilih semua kualitas yang terbaik membuatnya yakin bahwa tuan tampan itu adalah bangsawan kaya.


Zheng bai menyandarkan tubuh jing mei ke tubuhnya, ia menarik sabuk halus di pinggang ramping jing mei dan menutup matanya dengan kain itu. Perlahan, ia melepaskan semua pakaian gadis ini dan menaruhnya diatas sekat.


“keluar”, desis zheng bai dingin. Ia sangat tidak suka pada setiap pelayan wanita dan juga nona bangsawan, karena tipu muslihat murahan yang terlalu sering mereka pakai untuk membunuh satu sama lain demi kedudukan dan memperebutkan kasih sayang.


“ah, ma..maafkan pe..pe..pelayan ini, tuan”, jawab pelayan itu gugup, ia sedikit melirik pada pakaian wanita yang tergantung diatas sekat.

__ADS_1


__ADS_2