
“lihat, lihat, wanita yang dibawa tuan itu, sangat lembut dan cantik seperti peri”, bisik salah satu orang yang tengah menikmati makanan dikedai teh itu pada teman-temannya, saat ini karena meja mereka dekat dengan tempat dimana jalan untuk naik ke lantai atas.
“ssst, itu bukan hanya peri, tapi kecantikan surgawi”, sahut yang lain.
“lihat, apakah mereka kawin lari ??”, tanya salah satu dari mereka.
“hahaha bodoh, tidak mungkin, lihat bagaimana aura tidak biasa dari mereka, bukankah mereka seperti sepasang suami istri yang melakukan perjalanan rahasia atau mungkin hanya sepasang kekasih”, jawab yang lain.
Zheng bai bisa dengan jelas mendengar bisikan-bisikan disekitarnya, ia dengan tangan kanannya yang kosong menarik tudung jubah jing mei.
“diam”, ucap zheng bai saat mengetahui bahwa jing mei akan memprotesnya.
“tunjukkan kudanya”, ucap zheng bai.
“baik, baik, daren”, jawab pemilik penginapan itu cepat. Ia memerintahkan pelayannya untuk menjaga kedai sementara dirinya pergi ketempat kuda-kudanya. Pelayan yang melayani zheng bai melihat penuh iri kearah wanita yang saat ini dibawa tuan tampan itu, bagaimana tidak, wanita itu sangat beruntung karena memilik kecantikan yang terlihat seperti wanita muda dari kediaman bangsawan, ia sendiri yang sering mendapat pujian sebagai bunga cantik didesa ini merasa kesal karena kecantikan wanita muda itu. Untungnya mereka cepat pergi, tapi ia sangat ingin menggoda tuan tampan itu dan naik keatas ranjangnya.
Lihat, di masa depan ia akan menikahi tuan dari ibukota, pikir pelayan itu ambisius.
Sampai dikandang kuda, zheng bai memilih kuda hitam yang menurutnya bisa dengan cepat membawanya ke ibukota. Kuda-kuda ini terlihat sehat tapi ia lebih memilih kuda hitam disudut kandang. Dan tak butuh waktu lama untuk menjinakkannya, ia langsung menaikkan jing mei keatas punggung kuda dan mengikutinya dibelakangnya.
“kami akan pergi”, ucap zheng bai.
“baik, baik, daren”, jawab pemilik kedai itu yang menganggukkan kepalanya beberapa kali.
Tuan seperti tuan ini, ia sangat mengetahui bahwa mereka bukan orang biasa atau pun bangsawan biasa, karenya ia tak ingin membuat sesuatu untuk menyinggungnya. Dan lagi apa yang diberikan padanya sangat murah hati, bahkan untuk membeli lagi kuda ia tak perlu harus menabung selama dua tahun.
....
__ADS_1
Zheng bai memacu kudanya dengan cepat, kedua tangannya berada di kedua sisi tubuh jing mei. Pandangannya tetap lurus kedepan, ia terlihat begitu tidak perduli akan apapun yang ia lewati berbeda dengan jing mei yang baru pertama kali ini ia melihat semua hal di luar.
Dingin, sejuk, dan putih.
Angin yang menerpa wajahnya terasa begitu dingin, tapi ia menyukai hal ini, semua terlihat tidak menyesakkan, jing mei menutup matanya, ia sangat menikmati sesuatu yang baru ia lihat ini. Tapi, ia kembali merasakan sesuatu yang tidak mengenakan didalam tubuhnya, rasa sakit dan dingin diperutnya sangat tidak nyaman, ditengah cuaca dingin, jing mei mengeluarkan keringat tipis, ia yang tak bisa lagi menahan rasa sakitnya langsung tak sadarkan diri.
Zheng bai sedikit terkejut ketika tubuh jing mei menyandar didepan tubuhnya, apa yang nona bangsawan ini coba lakukan. Zheng bai mendadak menghentikan pacuan kudanya, dan tubuh jing mei yang tak sadarkan diri itu sedikit terdorong ke depan tapi dengan cepat ia menahan pinggang jing mei agar tidak terjatuh.
“nona, nona, apa yang terjadi ??”, tanya zheng bai, ia menepuk halus beberapa kali pipi jing mei tapi tak mendapatkan respon apapun.
Ia sedikit mendecakkan lidahnya, dan dengan dingin menarik tubuh jing mei agar semakin dekat dengan tubuhnya dan ia membuka ikatan jubahnya, membawa jing mei masuk kedalam tubuhnya dan membukusnya dengan jubahnya. menahannya kembali dengan satu tangan dan tangan lain memegang kendali kuda, zheng bai lebih cepat dan kasar memacu kudanya. Ia mengubah jalannya dan bagaimanapun juga harus cepat sampai di batas sungai.
Ekspresi zheng bai menajam ketika ia sampai disisi lain penghalang yang disebutkan pemilik penginapan itu, ia mengerti. Beberapa kamp telah dibangun didekat penghalang sungai, memikirkan untuk berhenti sebentar, ia mengurungkan niatnya saat melihat kondisi jing mei yang berada di tangannya.
Suara kuda yang melengkik menarik perhatian prajurit-prajurit yang berjaga diperbatasan penghalang sungai. Melihat ada kuda asing dan orang asing yang datang mendekati sungai membuat para prajurit itu mengeluarkan tombak mereka.
Zheng bai turun dari atas kudanya dengan satu lengan kiirnya ia membawa tubuh jing. Zheng bai mengeluarkan pedangnya, saat ini sepenuhnya ia dan jing mei ditutupi oleh tudung jubah.
“lihat pola ini”, ucap zheng bai dingin.
Beberapa prajurit tidak mengerti dengan apa yang diucapkan sosok asing didepan mereka ini, dan saat sebuah gagang pedang dengan satu pola yang khas memasuki mata mereka, akhirnya mereka mengerti dan melihat tidak percaya pada sosok didepan mereka ini. pola yang berada di satu sisi gagang zheng bai berbentuk sebuah lambang kekaisaran zhong tapi dalam warna emas yang menandakan dirinya adalah salah satu jenderal tinggi, ia sendiri menutupi sisi lainnya agar mereka tidak mengetahui bahwa dirinya adalah panglima dimedan perang. Dan hanya orang-orang dengan jabatan tinggi dimedan perang yang bisa memilik pedang dengan pola tingginya jabatan mereka.
“apa kalian tidak mengerti ?.. cepat beri jalan dan satu perahu serta satu orang untukku”, ucap zheng bai dingin.
“ah, maaf, maakan kami, jenderal”, jawab para prajurit itu.
Mereka bergegas membawa zheng bai menuju perahu terbaik ditempat itu, tapi saat zheng bai akan naik keatas perahu, seorang yang terlihat sebagai penanggung jawab di tempat itu menegur semua prajurit.
__ADS_1
“apa yang kalian lakukan ???!!! siapa orang itu !!”, teriak pemimpin prajurit di tempat itu.
Zheng bai memutar matanya kesal, ia berusaha menahan dirinya tapi tetap saja decakan tajam keluar darinya. Semua orang yang mendengar decakan tajam dari arahnya sedikit meliriknya takut-takut. Salah satu dari prajurit berlari mendekati pemimpin mereka, dan membisikan sesuatu.
“jika daren adalah seorang jenderal, bukankah lebih baik untuk membuka tudung anda”, ucap pemimpin prajurit itu.
“apakah benwang harus menunjukan wajah ini sedangkan kalian sendiri selalu melihat benwang dengan zirah perang”, desis zheng bai dingin.
Benwang ?
Mereka semua terdiam.
Seseorang yang berani memanggil dirinya sendiri dengan sebutan benwang, berarti orang didepan mereka ini adalah iblis medan perang. Beberapa dari prajurit diam-diam mundur dan memasang sikap hormat. Tapi pemimpin prajurit ditempat itu yang melihat semua bawahannya memasang sikap hormat untuk orang asing didepannya ini menyulut emosinya.
“bisa saja anda hanya jenderal kecil yang mengaku menjadi panglima jiao long”, desis pemimpin prajurit itu mengancam.
Tiba-tiba saja seberkas kilatan cahaya yang meluncur cepat datang kearah pemimpin prajurit itu, dan entah sejak kapan sebilah pedang meluncur melewati lehernya, disusul dengan keluarnya sedikit dari dari luka gores di lehernya.
“menyedihkan, lain kali benwang sendiri yang akan mendatangi tempat ini”, desis zheng bai dingin. Ia menarik plat miliknya dari dalam saku dan dengan jelas menunjukkan apa yang mereka pikir bahwa ia adalah pembohong.
Ia berdiri disamping perahu, dan tangan kanannya seolah menarik sesuatu, pedang miliknya yang awalnya tertancap disalju meluncur kearahnya. Seluruh prajurit ditempat itu termasuk pemimpin mereka bergetar ketakutan. Tapi, walaupun ketakutan, pandangan pemimpin prajurit ditempat itu terlihat menatap tajam punggung zheng bai.
Zheng bai dengan kekuatan spiritualnya menggerakan perahu. Ia selama perjalanan ini masih tidak habis fikir, kenapa ia sejauh ini masih bisa menahan dirinya untuk tidak menumpahkan darah.
“dingin, hiks”, bisik jing mei lemah.
Zheng bai mengalihkan pandangannya, ia menunduk melihat sosok jing mei yang terlihat menggulung dirinya ke tubuhnya untuk mencari sumber hangat.
__ADS_1