Eternal Love : The Most Pampered General'S Wife

Eternal Love : The Most Pampered General'S Wife
Chapter 31


__ADS_3

Jing mei terbangun karena ketukan ringan didepan pintu kamarnya, ia sedikit linglung dan memerintahkan mama lou masuk, dari balik tirai ia bisa melihat mama lou masuk dengan sosok lain dibelakangnya. Apakah itu tabib milik kediaman ??, pikir jing mei.


“mama, aku baik-baik saja”, ucap jing mei sebelum mama lou lebih dulu mengatakan sesuatu.


Mama lou yang melihat bagaimana sikap nona mudanya yang tidak ingin tabib dibelakangnya ini untuk memeriksa kondisi tubuhnya sendiri itu sedikit panik, ia melirik tabib dibelakangnya ini yang terlihat tersinggung karena ucapan nona mudanya.


“nona, tapi tuan besar yang memerintahkan secara pribadi untuk mencari tabib terbaik, apakah anda akan menolak niat baik tuan besar nona ??”, tanya mama lou hati-hati.


Jing mei terdiam, ia sedikit memikirkan bagaimana sikap ayahnya saat ini. Dari balik tirainya, jing mei perlahan mengeluarkan tangannya.


“baiklah”, ucap jing mei.


Tabib tua yang dibawa mama lou dari tempat tabib mu, tabib kediaman li berasal dengan cepat membuka kotak yang ia bawa. Tabib tua itu mengeluarkan sapu tangan tipis putih dan mulai memeriksa denyut nadi milik nona muda kediaman ini. Ia sendiri sedikit penasaran dengan nona muda kediaman li yang tak pernah ia dengar tentangnya, bahkan halaman yang ia masuki ini begitu mewah dan terlihat begitu dirawat dengan hati-hati.


Tabib tua itu dengan cepat menarik tangannya, dari keningnya terlihat keringat dingin menetes. Ia Kembali menaruh tangannya diatas denyut nadi nona muda kediaman li ini untuk memastikan Kembali apa yang ia rasakan sebelumnya. Dan benar saja, keringat dingin semakin mengalir diatas kening tuanya.


Ia sedikit melirik mama lou, dan berdehem sembari sedikit mengelap keringatnya.


“tabib, apakah nona muda kediaman kami memilik penyakit yang serius ??”, tanya mama lou khawatir.


Jing mei yang berada didalam tempat tidurnya hanya diam. Ia juga sedikit menantikan apa yang akan diucapkan tabib tua ini.


“nona muda hanya kelelahan dan karena ini musim dingin tubuh nona muda hanya perlu beristirahat beberapa hari lagi tubuhnya akan kembali membaik”, jawab tabib itu sedikit gugup.


“mama, temani tabib”, ucap jing mei pelan.

__ADS_1


Ia secara pribadi menyadari bahwa tabib ini tengah berbohong, dan siapa dikediaman ini yang berani secara pribadi untuk melukainya ia sendiri masih belum bisa memikirkannya, tapi tidak menutup kemungkinan selir niu terlibat. Pandangan mata jing mei terlihat begitu dingin. Tangan jing mei yang tanpa sengaja menelusup masuk kedalam bawah bantalnya sedikit terkejut saat tangannya menyentuh sesuatu.


Sebuah kertas, dan ia membukanya dengan rasa penasaran.


Lelaki itu masih meninggalkan sesuatu yang lain untuknya, pikir jing mei yang melihat liontin giok imperal jade yang saat ini berada ditelapak tangannya, ia mengelus ringan tulisan yang menonjol diatas liontin giok itu.


“jiang, jiang zheng bai”, bisik jing mei pelan, ia terlihat melafalkan nama lelaki itu.


Ia sedikit tersenyum saat melihat nama kecil di bawah nama resmi milik lelaki itu.


“baobei ?? bukankah nama itu terlalu manis untuk sosoknya”, ucap jing mei lagi yang memikirkan aura suram dan gelap disekitar zheng bai. Serta ekspresi dingin datar yang selalu ada di wajahnya itu.


Jing mei membawa liontin milik zheng bai di dalam ikat pinggangnya setelah sebelumnya ia mengikat tali liontin itu di dalam keliman ikat pinggangnya. Setelah beberapa saat ia bisa merasakan rasa hangat yang nyaman menyelimutinya, jing mei terlihat menghela nafas dengan nyaman.


Ia merasakan sebuah berkah di musim dingin ini, setiap musim dingin dimasa lalu ia selalu mengharap untuk mati tanpa rasa sakit tapi dimasa ini ia mendapatkan kenyamanan dan kehangatan yang nyata.


Saat ia berbaring, ia mengangkat tangannya dan melihat gelang putih rantai yang melingkar di tangannya.


Apakah mungkin gelang ini juga di pasang oleh lelaki itu ??, pikir jing mei. Jika benar, kenapa lelaki itu memberikan gelang ini padanya, sejak awal ia memasuki kediaman ini, gelang putih ini telah berada di pergelangan tangannya. Ia sendiri tak bisa melepaskan gelang ini sudah cukup membuatnya merasa risih dan tak nyaman pada awalnya, tapi sekarang ia sedikit terbiasa mungkin dimasa depan jika mereka bertemu lagi ia secara pribadi akan meminta lelaki itu untuk melepaskan gelang ini.


Tabib yang sebelumnya keluar dari dalam halaman persik itu berjalan tergesah-gesah meninggalkan tempat itu. Tabib tua itu terlihat keluar dari kediaman perdana menteri li dan masuk kedalam kereta kuda.


“jalan”, ucap tabib itu pada kusir didepan kereta.


“apa yang kau temukan, saudara mu ??”, tanya tabib mo.

__ADS_1


“nona muda memiliki racun dingin, tubuhnya begitu rusak dan rusak, ia sangat layu, kemungkinan di masa depan nona muda tidak memiliki masa depan dirumah tangganya”, ucap tabib Mu. Ia sangat terkejut mengetahui fakta bahwa tubuh seorang nona muda yang sangat rusak itu masih bisa bertahan hingga saat ini, dan lagi penyakit dingin sangat rentan terhadap musim dingin seperti ini.


“tubuhnya benar-benar beracun, saudara mo”, lanjut tabib mu lagi.


Tabib mo mengangguk.


“di masa depan jangan katakan tentang penyakit dingin yang di derita nona muda kediaman li ini, biarkan tetap menjadi rahasia dan telan bulat-bulat jauh didalam perutmu”, ucap tabib mo memperingatkan tabib mu.


Tabib mu mengangguk mengerti, tapi ia juga sedikit bingung kenapa hal sebesar ini harus dirahasiakan ataukah mungkin tabib mo melakukan sesuatu yang bertentangan tentang etika seorang tabib.


“saudara mo, apakah kau sendiri yang secara pribadi akan merawat nona muda ??”, tanya tabib mu penasaran.


Tabib mo sedikit terdiam, dan kemudian ia mengangguk tanpa memberikan pernyataan yang pasti. Tabib mu yang melihat keterdiamanan tabib mo bisa merasakan dengan jelas bahwa saudaranya ini telah melakukan sesuatu yang bertentangan. Akhirnya, ia hanya bisa menghela nafas dan mengeluarkan sesuatu dari balik pakaiannya.


“saudara mo, apapun yang kau lakukan dibelakang punggung kami, tapi satu hal yang harus kau ingat bahwa paviliun tidak akan terkena dampaknya”, ucap tabib mu tegas.


Tabib mo terlihat ragu, tapi ia mengerti dengan apa yang telah ia lakukan selama bertahun-tahun ini. Tabib mo melihat kertas yang berada didepannya ini dengan pandangan kosong, akhirnya hingga kereta berhenti didepan paviliun obat, tabib mo masih tetap diam hingga suara batuk dari tabib mu menyadarkannya.


Lelaki tua itu terlihat mengambil kertas yang diberikan tabib mu padanya dan ia secara pribadi mencap kertas itu dengan darahnya sendiri dan namanya disana.


“berikan saudara tua mu ini liontin paviliun milikmu”, ucap tabib mu lagi.


Dan sekali lagi tabib mo terlihat mengeluarkan liontin paviliun yang digunakan sebagai tanda pengenal mereka yang berasal dari paviliun obat, dan diatas liontin seukuran ibu jari itu juga tertulis nama mereka. Dan liontin itu tak bisa ditiru oleh sembarang orang ataupun kelompok lain karena tuan mereka yang misterius telah mengantisipasinya jika terjadi sesuatu.


“saudara mo, saat ini kau masih bisa Kembali”, ucap tabib mu.

__ADS_1


Untuk terakhir kalinya tabib mu mengatakan sesuatu kepada tabib mo, dan lelaki tua itu hanya bisa tetap pada pendiriannya. Surat perjanjian dan liontin identitas pengikut paviliun obat milik tabib mo telah berada di tangan tabib mu.


__ADS_2