
Keesokkan harinya, jing mei terbangun dengan kepala yang terasa berat. Ia sedikit mengernyit karena ia juga merasakan tubuhnya lengket karena keringat dan benar saja saat ini ia berada didalam buntalan kain mantel. Mungkin jika itu adalah musim dingin ia akan dengan senang hati menerima kebaikan ini tapi kali ini adalah musim semi yang udaranya sedikit lebih hangat. Orang gila mana yang akan melilit dirinya sendiri dengan kain yang tebal.
“uh, apa yang terjadi”, bisik jing mei serak. Ia sendiri berusaha keluar dari dalam buntalan kain yang membungkus tubuhnya. Dan berhasil mendudukan dirinya, hal pertama yang jing mei lakukan adalah ia menuangkan air putih untuk dirinya sendiri dan meminumnya. Tapi, perhatiannya teralihkan pada kain mantel yang masih melilit setengah tubuhnya ini, dan jing mei tersedak karena ingatan semalam tentang bagaimana ia menumpahkan botol anggur dan linglung setelahnya ia tak ingat lagi hal memalukan apa yang telah ia lakukan.
Jing mei terdiam cukup lama.
“apa yang telah aku lakukan”, pikir jing mei, sekilas pikiran buram bagaimana ia menempel erat di tubuh jiang wang cukup membuatnya merinding. Dimasa depan, wajah seperti apa yang akan ia tampilkan didepan jiang wang. Tapi, bukankah itu juga salah jiang wang yang tidak memperingatinya dulu.
Saat ini jing mei benar-benar sangat malu. Tapi, tiba-tiba saja ketukan dari luar ruangannya terdengar dan beberapa saat kemudian pintu terbuka dengan sosok wanita muda dalam pakaian kuil masuk kedalam kamar jing mei, wanita itu juga membawa sesuatu diatas nampannya.
“nona, apakah tubuh anda telah Kembali normal ??”, tanya biarawati muda.
“maafkan aku, hari ini aku merasa tidak sehat, nona biarawati, sudah waktu berapa ini ??”, tanya jing mei saat melihat keluar jendelanya.
“anda tertidur sangat pulas, dan saya berfikir bahwa anda mungkin saja terkena demam karena kulit wajah anda terlihat begitu pucat dan dingin”, jelas biarawati itu pada jing mei.
“saat ini telah menjelang malam, nona muda harus memenuhi tubuh anda dengan energi karena besok pagi anda akan melakukan perjalanan Kembali keibukota”, jelasnya lagi.
Jing mei sendiri tidak percaya dengan apa yang ia dengar, apa yang terjadi pada tubuhnya dan apa yang telah jiang wang lakukan pada tubuhnya selama masa ia tak sadarkan diri. Ditengah kebingungan jing mei, zheng bai saat ini terlihat sedikit sehat berbeda dengan malam bulan purnama sebelumnya, saat ini ia sedikit lebih bisa mengendalikan dirinya dan bahkan akal sehatnya. Ia sendiri selama hampir sisa malam itu tetap berada didalam kamar jing mei dengan memeluk tubuh wanita itu serta menghirup sebanyak-banyaknya aroma tubuh jing mei dan baru kembali saat biarawati mulai mengetuk pintu jing mei. Ia juga secara pribadi menuliskan pesan bahwa jing mei dalam kondisi tubuh yang lemah dan kelelahan karena terus berdoa sepanjang malam diruangan tertutup.
“nona muda, anda sangatlah berbakti tapi dikemudian hari anda tidak boleh menyia-nyiakan tubuh muda anda untuk terus memaksakan diri untuk berada didalam ruangan tertutup”, lanjut biarawati itu lagi yang menambah kebingungan jing mei.
Apa yang sebenarnya telah dilakukan jiang wang !!!
.
.
__ADS_1
.
.
.
.
“apa yang kau lakukan ??”, tanya zheng bai. Ia melihat chao gu yang sejak awal kedatangannya saat ini masih membawa air suci dari kuil dan mengusap berkali-kali tubuhnya dengan air itu.
“kediaman wen sungguh gila, terutama nona muda kediaman itu lebih gila, tubuhku yang bersih ini telah ia nodai, aku berharap dengan air suci ini tubuhku bisa Kembali bersih”, balas chao gu sekarang yang terlihat benar-benar merasakan merinding ditubuhnya. Ia Kembali mengelap seluruh tubuhnya, lagi. Chao gu mengedipkan matanya memberikan kode pada jiang wang bahwa ada seseorang yang Tengah mendengarkan pembicaraan mereka.
“wangye, kali ini kita harus pergi sejauh mungkin dari wilayah ini, anda juga sudah hampir beberapa hari berdoa bukan ??, aku ingin cepat-cepat menemui tunanganku”, ucap chao gu lagi.
“dasar bajingan”, desis zheng bai.
“baiklah, siapkan kereta kuda, benwang akan Kembali ke ibukota untuk beristirahat”, lanjut zheng bai lagi.
Zheng bai yang ditinggalkan sendirian didalam ruangannya saat ini jari telunjuknya Tengah mengetuk, mengetuk gagang kursi tempatnya duduk. Ekspresi wajahnya saat ini terlihat malas tapi tidak dengan tatapan mata yang dingin itu terlihat kejam, sangat menusuk, seperti seorang dewa kematian yang haus darah.
Ketukan jarinya yang ringan itu terdengar berat didalam ruangan yang hening.
.
.
.
__ADS_1
.
.
“kakak perempuan kedua, kenapa dia belum keluar ??”, tanya li shen li, ia saat ini begitu bosan dan benar-benar bosan.
Jiao li menoleh melihat shen li yang saat ini memangku dagunya dengan wajah jengah. Ia tahu bahwa gadis muda ini sangat merindukan suasana mewah di ibukota, sama sepertinya tapi ia sendiri tidak bisa untuk tidak menampilkan emosinya sendiri ke permukaan karena bisa saja karakter murni yang sudah ia bangun selama ini akan hancur. Jadi, ia sendiri hanya tersenyum menanggapi pertanyaan shen li.
“mei mei, mungkin saja kakak Perempuan pertama sedikit terlambat hari ini”, jawab lembut jiao li, ia Kembali focus menyalin kitabnya.
Disisi shen li, shan li memutar matanya bosa melihat jawaban yang diberikan jiao li. Sama seperti shen li, ia sangat merindukan ibukota, dan sangat tidak sabar untuk membeli pakaian baru, serta serta menghadiri perjamuan yang diadakan teman-temannya, para nona bangsawan diibukota.
“nona jing mei saat ini tidak bisa menghadiri Pelajaran, nona muda”, bisik seorang biarawati ditelinga jiao li.
Jiao li hanya menganggukkan kepalanya. Ia sedikit tersenyum tipis. Kali ini wajahnya yang cantik itu terlihat tersenyum seperti menerima kabar yang sangat ia tunggu-tunggu.
“sepertinya kita akan Kembali dengan cepat”, ucap jiao li, ia menutup Salinan kitabnya dan berdiri.
Shen li dan shan li yang mendengar ucapan jiao li sontak saja keduanya menoleh dan menatap jiao li dengan tatapan tak percaya.
“apa yang kau katakana itu benar ??”, tanya shan li.
“en, aku ingin menyiapkan diriku sendiri, sore ini kita akan kembali”, jawab jiao li sembari tersenyum manis.
Jiao li pergi dengan cepat dari dalam ruangan itu, dibelakangnya ia sengaja memanggil biarawati sebelumnya untuk membantunya membersihkan barang-barangnya.
“apakah semua persiapan selesai ??”, tanya jiao li. Ia menyesap tehnya, dan memperhatikan wanita muda didepannya.
__ADS_1
“seperti yang anda inginkan, nona, semua telah saya persiapkan secara hati-hati”, jawab biarawati muda didepannya ini dengan hati-hati, ia sepertinya sangat ketakutan saat ini karena pertanyaan jiao li dan apa yang telah ia lakukan, ia sendiri telah berjanji pada dirinya sendiri bahwa setelah hal ini terjadi dimasa depan ia akan menebus dosanya sendiri.
Jiao li menyeringai senang karena jawaban dari biarawati yang telah ia ancam ini.