
“ukh”, desis tertahan jing mei saat pergelangan kakinya dengan kejam di injak lelaki diatasnya itu.
“hhaaa.. ternyata mulutmu sangat hebat nona”, ucap kasar lelaki itu yang menambah tenaga dikakinya yang menginjak pergelangan kaki jing mei. Lelaki itu terkejut saat sebuah gelombang energi menyerangnya, tapi ia lebih dulu bisa menepis gelombang energi yang berasal dari nona muda yang ia injak ini. Gelombang energi ini sepertinya melindungi nona muda yang akan ia habisi nyawanya malam ini. Tapi, ia menyeringai dan semakin menambahkan kekuatan spiritual dikakinya untuk memecahkan pelindung yang melindungi nyawa gadis muda ini.
Jing mei tak bisa menahan lagi rasa sakit yang bertambah, menyengat dipaha dan kakinya saat ini membuatnya hampir berteriak kesakitan, ia menggigit keras bibirnya hingga darah keluar dari sana mewarnai bibirnya yang robek. Matanya yang memerah menahan rasa sakit bercampur air mata itu terlihat sangat menyedihkan namun kegigihan yang dingin terlihat disana.
“siapa tuanmu”, tanya jing mei dengan suara serak. Wajahnya saat ini begitu pucat.
“haaaa… ternyata tikus muda ini tau bagaimana caranya berbicara”, jawab pembunuh itu yang suaranya terdengar meremehkan jing mei.
Jing mei melihat pembunuh yang kini berdiri didepannya ini dengan pandangan dingin. Ia mendongak melihat sosok yang berdiri diatasnya ini dengan mata dinginnya.
“sungguh menjijikan”, balas jing mei dingin.
Pembunuh yang mendengar suara jing mei menghinanya sontak saja dipenuhi amarah. Jing mei melihat langkah kaki pembunuh didepannya ini yang semakin mempersempit jarak diantara mereka, ia menarik jepit rambutnya dan menusukkan bagian yang tajam ke arah kaki pembunuh dengan sekuat tenaga, teriakan kesakitan bisa ia dengar hingga tubuh pembunuh itu mundur kebelakang karena rasa sakit dipahanya, darah merah merembes keluar dari paha lelaki itu yang kini dengan ganas mencabut jepit rambut milik jing mei dan dengan kasar ia membuangnya sembarangan. Saat ini dirinya sangat berniat untuk menghancurkan kaki jing mei, tapi ia terkejut saat wanita muda yang ada didepannya ini telah berhasil mengambil belatinya. Ia menggeram marah karena terbodohi oleh trik murahan.
Disisi lain, jing mei tak bisa untuk tidak mengambil kesempatan kecil yang terlihat dimatanya. Ia menarik tubuhnya untuk lebih jauh dari hadapan pembunuh ini dan dengan cepat berguling untuk mengambil belatinya. Jing mei berdiri dengan menyeret satu kakinya yang terluka. Rasa sakit yang berdenyut di pergelangan kakinya sangat menyiksa. Ia bertahan dengan kondisinya saat ini dan berusaha untuk melarikan diri masuk kedalam hutan dengan menyeret satu kakinya yang terluka.
Nafas jing mei begitu berat saat ia memaksa kedua kakinya yang terluka untuk terus berlari mencari tempat bersembunyi.
Berlari…..
Ia terus berlari….
__ADS_1
Jing mei tak memperdulikan duri tanaman yang menggores hampir keseluruh bagian permukaan kulitnya yang terbuka, bahkan pakaiannya sendiri saat ini telah sobek karena tersangkut saat ia berlari. Saat suara tawa lelaki yang terdengar keras didalam hutan itu menambah rasa waspada jing mei yang saat ini bersembunyi disalah satu ceruk akar pohon. Jing mei menekan mulutnya sendiri untuk menekan rasa ketakutannya saat ini.
Disisi lain, saat ini rombongan prajuirt yang zheng bai bawa menuju ke wilayah ibukota kekaisaran zhong berada di ujung hutan perbatasan antara wilayah kekaisaran dan tanah wilayah milik kediaman militer bangsawan wen. zheng bai yang menaiki kudanya tiba-tiba saja menarik tali kekang kudanya, suara lengkingan kuda yang melengking mengejutkan kuda-kuda dibelakangnya.
“yang mulia, apa yang terjadi ??”, tanya salah satu bawahan zheng bai.
Sisa prajurit yang dibawa zheng bai saat ini sedikit penasaran dengan apa yang panglima mereka lakukan saat ini. Suara rendah dari panglima mereka saat ini bisa didengar jelas karena suasana disekitar mereka yang hening, karena mereka selalu berada dimedan peran suara geraman itu terdengar seperti seseorang yang terkena luka, dan seluruh prajurit yang zheng bai bawa langsung merubah posisi mereka untuk melindungi tuan mereka.
“zheng bai, apa yang terjadi ??”, tanya chao gu yang melihat sekeliling mereka dengan mata tajam dan waspada.
Zheng bai menggelengkan kepalanya, ia membuka lengannya dan menemukan luka goresan merah seperti seseorang yang habis menggaruk kulitnya, tidak hanya dilengannya dilengan lainnya pun ia bisa merasakan dan melihat hal yang sama, bahkan rasa sakit yang parah juga ia rasakan dari pergelangan kaki kirinya. Zheng bai menggertakkan giginya, tatapan matanya berkilat dingin.
Jangan-jangan !!!
Ia dengan gila menarik tali kekang kudanya dan memacunya dengan kecepatan gila. Seluruh prajurit zheng bai dengan cepat berbalik arah dan mengikuti panglima mereka kembali menuju kearah dimana wilayah militer wen berada.
Kuda-kuda yang berlarian itu bergerak di bawah sinar rembulan malam, bayangan-bayangan gelap saat kuda-kuda itu melintasi banyak pohon dan rumput hingga rombongan itu terhenti oleh kereta didepan mereka. Zheng bai bisa melihat lambang kediaman bangsawan li di depan atap kereta.
Zheng bai mengeratkan gagang pedangnya, tapi ia melepaskannya kembali saat chao gu yang bergerak lebih dulu kearah kereta kediaman perdana menteri li.
“mundur”, desis zheng bai.
Chao gu yang mendengar nada dingin menekan dibelakangnya sontak terkejut, dan ia lebih bertanya-tanya saat zheng bai secara pribadi mendatangi kereta kuda ini.
__ADS_1
“tuan-tuan, kenapa anda memberhentikan kereta ini ??”, tanya kusir kereta yang terlihat tidak panik karena rombongan orang-orang asing berkuda didepan kereta yang ia bawa ini.
Zheng bai yang mendengar ucapan seorang penarik kereta kuda ini menaikan alisnya, ia ingat jelas bahwa ada tiga kereta kediaman dan saat ini hanya tersisa dua kereta kediaman. Mata zheng bai bertambah dingin, aura gelap disekelilingnya begitu menyeramkan dan sangat menekan.
“siapa tuan yang kau bawa”, tanya zheng bai dingin.
“tuan, anda sungguh tidak sopan”, ucap suara seorang wanita didalam kereta.
Ini bukan suara yang ia cari, tapi ketika ia akan membuka mulutnya dua suara berisik dibelakang kereta mengalihkan perhatiannya.
Zheng bai berbalik dengan cepat, chao gu yang melihat urusan tuannya selesai ikut bergegas mengikuti zheng bai.
Kusir kereta yang melihat dua orang asing ini pergi begitu saja ia tanpa menunggu apapun dengan cepat menarik keretanya dan melewati rombongan asing ini, kusir kuda itu hanya melirik sekilas tampilan orang-orang asing bertudung jubah yang using dan lusuh itu dengan pandangan menghina. Mereka tidak lebih hebat daripada kelompoknya yang bergengsi dan menakutkan, pikir kusir kuda itu sombong.
“awasi dua kereta ini untuk benwang dan juga kusir itu”, desis zheng bai. ia menaiki kudanya dan kembali memacu kudanya masuk ke persimpangan jalan lain yang berada didalam hutan perbatasan wilayah itu.
Mata tajam zheng bai semakin menyipit saat aroma menyengat mengalihkan perhatiannya, aroma seperti kayu yang terbakar tercium semakin kuat dan kuat saat ia mendekati satu sudut hutan perbatasan ini yang ia ketahui memiliki satu jurang tajam disana.
Mata zheng bai sedikit terbuka ketika ia melihat sisa-sisa kerangka kereta kuda yang hangus terbakar. Ia dengan cepat turun dari kudanya dan berjalan kearah kereta terbakar itu, zheng bai dengan ganas mengedarkan pandangannya hingga ia melihat bekas tetesan darah dan sobekan-sobekan kain.
Nafas zheng bai mulai memburu.
Luka yang bisa ia rasakan saat ini berasal dari gelang yang di pakai jing mei bisa menghubungkannya. Seharusnya ia tidak terlalu ceroboh hanya memberikan gelang spiritual itu tanpa menambahkan lebih banyak kekuatannya !!!....
__ADS_1