Eternal Love : The Most Pampered General'S Wife

Eternal Love : The Most Pampered General'S Wife
Chapter 22


__ADS_3

Li jiao li yang senang karena banyak tuan muda serta beberapa nyonya dari kediaman pejabat bergengsi yang mengajak a niang dan dirinya berbincang-bincang. Beberapa kali ia diam-diam melirik gadis muda yang kelihatannya berada di bawahnya itu dengan pandangan mengejek, ia senang melihat jing mei yang hanya duduk diam di sudut dan menikmati hidangan seperti tikus mati.


Rasa bangga dan bangga merasukinya. Ia merasa bahwa di perjamuan ini dia adalah nona pertama kediaman perdana menteri li.


“niu mei yiniang ??”, ucap seseorang di belakang niu mei yiniang.


Seorang nyonya bangsawan dengan beberapa nyonya lain yang mengikutinya terlihat tertawa satu sama lain dan terkesan mengejek niu mei yiniang karena ucapan nyonya bangsawan itu.


“niu yiniang memberikan salam untuk wen furen”, ucap nie mei yiniang. Ia mengapit erat kedua tangannya di dalam kain lengan hanfunya yang panjang, menahan emosinya. Di sampingnya li jiao li yang melihat wen furen dari kediaman militer bangsawan wen yang memanggil a niangnya dengan nada bicara yang terdengar merendahkan dan mengejek mereka, ia ingin mengucapkan beberapa patah kata tapi sikutan a niangnya membuatnya tersadar dan ikut menundukkan dirinya menyapa wen furen.


Wen furen mendekati li jiao li, ia terlihat mengamati li jiao li dan menyentuh dagu li jiao li dengan kipas yang ia bawa, wen furen mengangkat dagu li jiao li dan tersenyum.


“pantas, seluruh ibukota berkata bahwa anakmu adalah kecantikan nomor dua, berbeda dengan putri berhargaku yang disebut sebagai yang nomor tiga, itu cukup menyinggung perasaan kecil a niangnya ini”, bisik wen furen lembut.


Li jiao li sedikit menegang saat wen furen yang melihat kulit wajahnya dengan tatapan membunuh walaupun di luar tampak senyuman di wajah wen furen, tapi ia bisa tahu bahwa wanita tua ini ingin membuat sesuatu di atas kulit wajahnya yang berharga. Li jiao li perlahan mundur, ia sedikit menjauh dari wen furen dan menundukkan kepalanya.


“wen furen terlalu memuji bunga lain dari  pada bunga sendiri, itu akan menyakiti yang lain”, balas li jiao li lembut.


Wen furen tertawa mendengar jawaban nona muda dari kediaman li ini. ia sendiri bisa melihat keserakahan dimata gadis muda ini.


“giok berhargaku tetaplah giok berharga, tidak bangga seperti buruk merak, bahkan terlihat indah namun tetap saja kotoran ada ditubuh mereka”, jawab santai wen furen.


Niu yiniang melotot marah, disisi lain mata li jiao li terlihat memerah seakan-akan menahan tangisannya agar tidak jatuh. Semua orang yang berada di perjamuan itu melihat bagaimana wen furen yang terlihat menindas gadis kecil yang umurnya jauh di bawahnya. Beberapa bisik-bisik mengikuti setelahnya karena tindakan wen furen yang melewati batas.

__ADS_1


Wen furen yang merasa dirugikan karena satu gerakan dari nona muda di depannya ini, ia hanya tersenyum ringan dan menutup setengah wajahnya dengan kipas.


“aiyo, li guniang sangat sensitif, ini hanya kesalahpahaman bukankah kita sedang membicarakan hiasan halus yang guniang beli karena furen ini sangat tertarik untuk membawa yang lain”, belok wen furen.


Niu yiniang yang merasa bahwa wen furen memberikan peringatan padanya, ia cepat-cepat menyahuti ucapan wen furen dengan beberapa patah kata dan senyuman.


Disudut ruangan, jing mei yang melihat dari awal hingga akhir pergulatan kata-kata antara wen furen dan li jiao li hanya menghela nafasnya. Ini yang tak ia sukai dari perjamuan dan perkumpulan bangsawan karena akan ada status yang membatasi mereka.


Jing mei berdiri dari duduknya, ia berjalan keluar dari dalam ruang perjamuan karena merasa bahwa di dalam terlalu sesak dan pengap.


Jing mei berjalan menyusuri taman istana kekaisaran, semua terlihat samar dan gelap. Mungkin jika siang hari, pemandangan yang ia lihat akan sedikit menenangkannya. Jing mei memeluk dirinya sendiri saat ia menyadari bahwa dirinya sedikit lebih jauh dari istana tempat dimana perjamuan diadakan.


Putih ??


Ia menadahkan tangannya dan beberapa butiran itu jatuh menumpuk diatas tangannya. Salju yang turun terlihat sangat kontras antara hitamnya malam dan putihnya salju. Ia tanpa sadar tersenyum hampa, ada rasa kesakitan yang jelas terpancar dimatanya saat melihat langit hitam diatasnya ini. Dan ingatan ketika ia dikejar oleh mahluk buas mengerikan teringat jelas didalam pikirannya, jing mei tersentak kaget dan gemetaran hebat. Ia yang hampir terjatuh tiba-tiba saja tubuhnya tertahan oleh sesuatu yang membuatnya tidak jatuh diatas tanah yang keras.


Benar !!!.. ia melupakan wajah lelaki itu, jing mei terlihat berusaha keras untuk mengingat tentang wajah dermawan yang menolongnya itu.


“gadis kecil, apa yang kau lakukan ditengah salju dengan pakaian tipis”, bisik  suara berat di belakangnya.


Jing mei terkejut dan meremang karena suara berat yang berbisik terdengar begitu jelas di samping telinganya. Dan setelahnya, ia merasakan sesuatu tergantung di antara kedua bahunya dan membungkus tubuhnya, hangat. Sebuah jubah hitam bersulam tersampir rapi memeluk tubuhnya, aroma yang asing tapi menyegarkan menyeruak masuk memenuhi indra penciumannya.


Zheng bai melihat perawakan kecil dan ramping nona muda kediaman li ini yang bertambah kecil karena jubah hitam bersulamnya yang membungkus tubuh kecil itu. Mungkin karena tubuh jing mei yang ia rasa kurang bertumbuh karena batas tinggi gadis muda ini hanya berada didadanya, atau mungkin dimasa depan ia akan bertumbuh tinggi lagi, pikir zheng bai yang saat ini menunduk  melihat sosok jing mei di depannya.

__ADS_1


Sangat kecil, pikirnya.


Sebelum bertemu dengan gadis ini, sebelumnya ia yang baru saja masuk bersama dengan kaisar secara tidak sengaja perhatiannya langsung tertuju pada gadis ini yang terlihat memisahkan diri dari percakapan membosankan antara bangsawan. Dan saat melihatnya keluar dari dalam ruangan, ia juga tanpa sadar ikut berjalan di belakangnya.


Saat salju turun, dan semakin deras. Ia bisa melihat dengan jelas, kulit tipis perempuan muda ini yang putih pucat dan tirus, terlihat lebih kecil dari yang terakhir ia lihat. tanpa ada senyuman di wajahnya yang terlihat tak berekspresi apapun.


Saat ia tersenyum, zheng bai merasa bahwa itu bukanlah senyuman dingin ataupun sesuatu yang lain, ia merasakan rasa hampa, dan sesuatu yang menyesakkan, ia mengerutkan keningnya, ia merasakan sesuatu yang tengah menggaruk jantungnya. Dan saat tubuh itu hampir terjatuh, ia tidak bisa membiarkan manusia yang seperti boneka rapuh itu jatuh dan hancur.


Jing mei cepat-cepat mundur beberapa langkah dari zheng bai, ia sedikit menundukkan kepalanya dan diam-diam menarik nafasnya kemudian mendongak.


“terima kasih atas bantuannya, daren”, ucap jing mei, ia melihat lelaki asing yang sebagian wajahnya tertutupi topeng hitam.


Ia sedikit menahan rasa ngerinya karena aura yang tidak biasa dikeluarkan lelaki asing didepannya ini, aura gelap dan suram terasa dingin lebih dingin dari udara dingin yang ia rasakan saat ini.


Zheng bai menaikkan alisnya mendengar ucapan nona muda di depannya ini. ah, benar. Ia baru ingat bahwa dirinya saat ini tengah memakai topeng dan mungkin saja gadis ini tidak mengingatnya. Senyuman dingin terlihat sekilas menghiasi bibirnya. Zheng bai melihat jarak yang jelas di buat jing mei untuknya disaat nona-nona muda yang lainnya berharap ingin berada lebih lama didalam pelukannya.


Jing mei membuka jubah hitam bersulam yang lelaki ini berikan padanya, ia dengan hati-hati mengulurkan jubah itu pada pemiliknya. Zheng bai memandang tangan ramping yang terlihat seperti ranting rapuh tengah mengulurkan jubah miliknya kepadanya.


Ia terkekeh, dan melangkah mendekati jing mei.                                                            


“tu...tuan, anda, ambil kembali jubah anda”, ucap jing mei sedikit terkejut dengan apa yang dilakukan lelaki di depannya ini.


Ia sendiri berusaha membuat suara yang stabil tapi tetap saja ia merasa terancam dan waspada karena langkah kaki lelaki asing di depannya ini terlihat ingin mendekatinya dan terasa mengintimidasi. Ia melirik sekitarnya tapi malah dikejutkan dengan sosok-sosok yang ia kenali, jing mei melihat ke arah lelaki asing di depannya dan arah dimana ia melihat niu yiniang dan jiao li, jing mei menarik tangan zheng bai tapi lelaki ini tidak bergerak satu incipun dari tempatnya, dan itu membuat jing mei frustasi.

__ADS_1


Ia sangat panik, dan zheng bai yang senang melihat ekspresi baru yang di keluarkan jing mei. ia menikmatinya.


__ADS_2