Eternal Love : The Most Pampered General'S Wife

Eternal Love : The Most Pampered General'S Wife
Chapter 26


__ADS_3

“Sejak kapan kediaman ini menjadi sangat menjijikkan”, desis zheng bai. Suara dingin jiang wang terasa jauh berkali-kali lipat lebih dingin daripada udara dingin disekitar mereka saat ini. Seluruh pelayan dan pengawal kediaman terlihat menggidik menahan rasa takut sekaligus ngeri.


Para pelayan dan pengawal kediaman jiang wang terlihat semakin menundukkan kepala mereka, dan hampir sebagian besar dari mereka menahan rasa gemetar ketakutan karena suara dingin tuan mereka.


“wang, wangye, apa yang anda katakan, ini adalah kediaman mendiang wangye dan wangfei terdahulu”, ucap lembut mama shi, suara tuanya itu terdengar gemetar sedih.


Tapi, walaupun wajah tua yang saat ini terlihat penuh dengan kesedihan dan juga sapu tangan yang mengusap kedua sisi mata yang mulai berkeriput itu tidak menggoyahkan zheng bai. Jiang wang masih menatap dingin dan lurus, terlihat begitu muak dengan wanita tua ini yang selalu mengatasnamakan orangtuanya.


Sayangnya, saat ini masih belum saatnya ia membuang wanita tua menyebalkan ini.


“dimasa depan, siapapun yang memasuki ruangan benwang tanpa persetujuan langsung. Benwang pastikan, tidak akan ada kepala yang akan selamat didalam kediaman ini”, ucap zheng bai dingin.


“tanpa terkecuali, dan jika dari kalian yang tidak menerima bahwa benwang adalah pemilik sah kediaman ini pintu luar kediaman selalu terbuka” , desisnya lagi. Suaranya terdengar membawa ancaman yang nyata dan benar-benar membuat semua bawahannya tunduk padanya.


“chao gu, bawa kasim dari kekaisaran langsung kedalam ruanganku”, ucap zheng bai yang kemudian berjalan masuk meninggalkan halaman luas di tengah kediamannya.


Di belakangnya, suara para pelayan dan pengawal terdengar berterima kasih atas kemurahan hatinya, dan ia masih tetap lurus berjalan tanpa menoleh kebelakang.


Mama shi yang melihat sifat kejam dan dingin jiang wang terlihat sedikit mulai tertekan. Apa yang akan ia lakukan jika tuan putri mengetahui bahwa ada sosok wanita lain yang masuk secara pribadi tempat yang bahkan dirinya sendiri tak bisa masuk kedalamnya. Wanita tua itu terlihat resah dan cemas, tapi ia tak menyadari. Semua pergerakannya terlihat oleh seseorang. Mama shi juga tidak sempat lagi memikirkan ucapan terakhir yang diucapkan zheng bai ditujukan untuknya. Ia terlalu khawatir dengan respon yang akan tuan putri berikan padanya jika putri itu mengetahui apa yang saat ini tengah terjadi di dalam kediaman.


Zheng bai membaca isi dari gulungan resmi yang kaisar berikan untuknya. Kali ini, ia sendiri diperintahkan untuk menugaskan beberapa pasukannya untuk melihat semua pergerakan di sepanjang aliran sungai. Zheng bai menutup gulungan itu dan menyimpannya.


“sebelum bulan penuh dibulan berikutnya, kita akan pergi menyusuri aliran sungai kekaisaran”, ucap zheng bai.

__ADS_1


Chao gu yang mendengar ucapan zheng bai langsung terbangun dari tidur santainya, ia memandang zheng bai dengan pandangan yang terlihat sangat tidak percaya.


“apakah kaisar yang menugaskannya ???” , tanya chao gu.


“.........”, zheng bai hanya meliriknya sekilas dan kembali melihat gulungan geografis wilayah kekaisaran.


Chao gu terlihat menghela nafas. Ia terlihat tak bisa membayangkan bagaimana hari-hari mereka kedepan dan hanya akan mengapung diatas aliran sungai yang semakin telam membeku dan dingin. Ditambah lagi, sepanjang mata melihat hanya akan ada warna putih yang membutakan matanya.


“kita hanya akan melakukan perjalanan diatas air untuk beberapa tempat, selain itu kita akan menggunakan kuda, sekarang pergi kebarak militer dan siapkan semua keperluan didalam tas spiritual”, lanjut zheng bai.


Chao gu kembali melihatnya dengan tatapan sengsara.


Kaisar bajingan !!!, umpatnya pada orang nomor satu dikekaisaran itu. Ia sangat kesal dengan orang nomor satu di kekaisarannya sendiri. Bukan tanpa sebab, setiap kali rombongan prajurit yang dibawa jiang wang dari perbatasan pulang, kaisar selalu memberikan perintah. Chao gu menghela nafas kasar, seperti biasa sebelum melakukan perjalanan ia selalu meminta ramuan ke kediaman tabib zi.


Liontin giok milik nona muda itu tergeletak tepat disebelah pedangnya. Tatapan matanya terlihat dalam, entah apa yang zheng bai pikirkan. Ia mengikat liontion giok itu di pinggangnya, tepat berada disamping liontin giok biru miliknya.


Satu hari tersisa untuk keberangkatannya, dini hari besok mereka akan pergi dan saat ini seluruh pasukan yang akan dibawa zheng bai telah berkumpul penuh di barak militer.


Zheng bai yang berada didalam ruangan bersama dengan dua orang pemimpin pasukan, serta chao gu dan han zhi. Mereka terlihat membicarakan sesuatu dan pergi kemudian, didalam ruangan itu hanya tersisa chao gu dan zi han zhi yang menyerahkan dua kantung ramuan ke zheng bai.


"Apa ini ?", tanya zheng bai, karena ia selalu menerima satu kantung ramuan dan saat ini tabib han zhi memberikannya dua.


Han zhi yang melihat wajah zheng bai merengut kesal.

__ADS_1


"Apakah anda lupa ?!!... satu yang lain untuk kecantikan lembut milikmu, bodoh", ucap han zhi kasar.


Zheng bai menaikkan alisnya, ia sedikit mengangguk dan mengambil dua kantung yang berisi ramuan yang kemudian ia masukan kedalam kantung dalam jubahnya. Seakan tak terjadi apapun sebelumnya, zheng bai melenggang pergi.


Han zhi hanya memutar matanya bosan, dan chao gu yang menatap penasaran kepergian zheng bai.


"Kemana ia akan pergi ??", tanya chao gu penasaran.


Han zhi melirik sinis chao gu.


"Idiot", ucap han zhi.


Chao gu melotot marah, tapi ketika ia akan  menarik telinga tabib muda itu, sosoknya telah lebih dulu melarikan diri sembari mengejeknya dari kejauhan.


Hari semakin gelap, sosok lelaki yang masih terus berdiri diatas tempat tertinggi dikekaisaran itu menatap dingin senja merah yang menghilang digantikan dengan kegelapan.


Di atas benteng kekaisaran, zheng bai melihat semua aktivitas seluruh rakyat kekaisaran. Kedamaian yang terasa jauh berbeda dengan daerah perbatasan dimana banyak prajurit yang terus terjaga ditengah dinginnya salju musim dingin.


Zheng bai terlihat menimang-nimang kantung ramuan berwarna biru cerah diatas tangannya. Lelaki itu terlihat memikirkan sesuatu dan pergi menghilang dari sana.


Tumpukan salju semakin lebat dan lebat malam ini, sebagian atap-atap rumah yang  sebelumnya telah dibersihkan kini penuh oleh tumpukan salju.


Beberapa jalanan mulai lambat lalu lalang kereta kuda, semakin larut malam semakin sedikit yang berani keluar ditengah cuaca dingin ini.

__ADS_1


Berbeda dengan sosok lelaki terbalut jubah elegan yang memeluk pas tubuh tegap besarnya. Ia tanpa rasa dingin berdiri diam diatap salah satu kediaman bergengsi dikekaisaran itu. Ia menatap dingin kesatu arah dimana satu halaman yang masih bersinar cahaya lilin lembut.


__ADS_2