Eternal Love : The Most Pampered General'S Wife

Eternal Love : The Most Pampered General'S Wife
Chapter 45


__ADS_3

Ketukan ringan terdengar dari luar pintu kamar jing mei, jing mei yang saat ini tengah tertidur lelap sedikit terganggu dengan ketukan didepan pintunya, jing mei sedikit mengernyit ketika rasa sakit yang menyengat menyerang kepalanya, ia bisa merasakan nafasnya sendiri mulai memanas sama seperti suhu tubuhnya. Jing mei membungkus dirinya sendiri dengan kain selimut dan berjalan kearah pintu.


“ada apa, nona biarawati ??”, tanya jing mei, ia sedikit menyandarkan dirinya sendiri ke sisi pintu.


“no,no,nona, sebentar lagi kereta kuda dari kediaman anda akan datang, se…sebelum pergi anda bisa meminum ramuan Pereda demam ini, nona, saya secara pribadi yang membuatnya”, ucap biarawati muda didepan jing mei, suaranya terdengar gagap dan ia menundukkan kepalanya dihadapan jing mei. Tangannya terlihat menyerahkan semangkuk kecil cairan bening kehijauan dihadapan jing mei.


Jing mei terkejut mendengar bahwa kereta kuda kediamannya datang, apakah terjadi sesuatu dikediaman karena seharusnya mereka akan Kembali besok sore. Jing mei sedikit menggelengkan kepalanya yang saat ini terasa berat dan kacau, ia hanya menganggukkan kepalanya sembari menerima mangkuk obat itu, dan Kembali kekamarnya untuk mempersiapkan semua keperluannya.


Karena ia hanya membawa sedikit barang, jing mei lebih cepat keluar. Saat ini ia ingin cepat-cepat berbaring didalam keretanya.


Jing mei menutupi dirinya sendiri dengan jubahnya, tudung jubah yang ia pakai saat ini telah menutup sempurna tubuhnya. ia sendiri agak terkejut melihat ketiga saudara perempuannya yang ternyata juga telah berada didalam kereta, jing mei mengerutkan keningnya. Ia bisa merasakan sesuatu yang aneh. Tapi, ia sendiri berusaha untuk tidak berpikir lebih banyak karena demamnya saat ini begitu menyiksanya.


Tapi, sebelum ia memasuki keretanya jing mei melihat sekitarnya dan kembali melanjutkan Langkah kakinya masuk kedalam kereta. Ia sendiri diam-diam telah membawa belati yang secara pribadi diberikan jiang wang untuknya, entah apa maksud lelaki aneh itu tapi ia juga secara pribadi selalu membawa belati ini. rasa kantuk yang berat saat ini sangat menguasainya, entah apa yang terjadi ia sendiri tidak bisa mempertahankan kesadarannya dan mulai tertidur.


Laju kereta kuda milik kediaman perdana menteri li bergerak cepat melewati kota wilayah militer bangsawan wen, hari semakin gelap saat kereta kuda memasuki wilayah hutan perbatasan antara wilayah militer bangsawan wen dan wilayah kekaisaran zhong. Perjalanan kereta kuda itu terlihat normal tanpa suatu kendala hingga akhirnya kereta kuda yang melaju kencang berada tengah-tengah hutan tiba-tiba saja terhenti.


Jing mei yang berada didalam keretanya terbangun karena pergerakan keretanya terhenti terlihat mulai waspada. Ia melihat sekelilingnya yang gelap, tidak ada tanda-tanda lentera kereta yang dihidupkan. Mata jing mei mulai menyipit saat ini mendengarkan langkah kaki diluar kereta kuda yang bergerak mengelilingi keretanya.


Alarm peringatan diseluruh tubuhnya terdengar nyaring saat ia menghirup aroma asap yang terbakar diluar, didalam kepanikannya, jing mei yang ingin membuka pintu keretanya harus terkejut saat beberapa kali ia mencoba membuka pintu keretanya, pintu itu telah tertutup sempurna. ia tak bisa keluar dari dalam kereta ini !!!!

__ADS_1


Rasa panas dan sesak mulai ia rasakan, jing mei melihat sekelilingnya dan mendongak kesegala arah, tak menemui jalan keluar, jing mei menundukkan tubuhnya. benar, dibawah, ia bisa melewati pintu bawah kereta  !!!


Jing mei membuka karpet berbulu yang melapisi lantai kereta, dan benar seperti apa yang ia pikirkan disini ada satu pintu kereta. Dan saat ia akan membuka pintu kecil itu, itu tertutup dengan rapat. Jing mei semakin panik, wajahnya yang pucat terlihat berkeringat karena udara disekitarnya semakin menipis.


Rasa panas dan udara yang semakin pekat menipis. Ia sendiri hampir kehilangan kesadarannnya.


Jing mei sekuat tenaga kembali menendang pintu berkali-kali, ia mendengar suara rantai dari luar sana, sepertinya kereta ini telah di ikat dengan rantai.


Dan jalan satu-satunya hanya pintu dibawah kereta in atau melewati atap kereta. Jing mei lebih memilih untuk membuka paksa pintu dibawah keretanya. Ia mengeluarkan belatinya dari ikatan dipahanya. Sekuat tenaga jing mei menginjak pintu dibawahnya hingga ia bisa mendengar suara “krak” dari kayu dibawahnya.


Udara semakin panas, seluruh tubuh jing mei mulai berkeringat dan melemas, tapi ia tetap berusaha untuk menginjak kuat-kuat pintu kereta dibawahnya ini.


“hah, hah, hah”, suara nafas jing mei yang terdengar mulai goyah dan lemas, saat ini ia berusaha mempertahankan kesadarannya yang mulai menipis. Ia terus menginjak kuat pintu kayu dibawahnya ini dengan tubuh yang telah basah karena keringat.


KRAKKK…


KRAAAAKKK….


BRAAKK…

__ADS_1


Jing mei berhasil keluar dan terjatuh dibawah keretanya, menahan rasa sakit karena tubuhnya yang menghantam tanah, ia secara paksa menggulingkan tubuhnya keluar dari dalam bawah kereta.


Tubuh yang kotor dan penuh dengan bekas tanah saat ini tergeletak tak jauh dari kereta kuda yang terbakar, kobaran api yang besar terlihat begitu menakutkan, ia sendiri tak bisa menyangka bahwa dirinya akan dibakar hidup-hidup didalam kereta kuda kediamannya sendiri.


Belum sempat jing mei bernafas lega, sabetan pedang yang berkilat karena terkena cahaya dari kobaran api membuatnya mengayuhkan belatinya. Suara benturan dua besi tajam terdengar diantara suara api yang memakan habis kereta kuda, jing mei berusaha sekuat mungkin menahan ayunan pedang yang mengincar lehernya ini dengan belati miliknya.


“jalang, kenapa kau masih bisa bertahan hidup !!”, ucap marah lelaki yang saat ini Tengah menekan pedangnya kearah leher jing mei.


“ukh”, desis jing mei yang kedua tangannya menggenggam erat gagang belatinya hingga kulit jemarinya memutih. Jing mei dengan satu tangannya yang gemetaran itu berusahan menahan tekanan pedang yang mengarah kelehernya dan secara tiba-tiba satu tangannya yang lain mengeruk tanah disampingnya kemudian melemparkannya kearah wajah lelaki yang berniat ingin membunuhnya ini.


“aarrrggghhhh….”, teriak kaget lelaki itu, ia menyentuh wajahnya yang terkena tanah lemparan dari jing mei, rasa sakit yang pedih bisa ia rasakan dimatanya yang terkena butiran-butiran tanah.


“KAUU !!! ****** !!! kali ini aku tidak akan bermain-main lagi !!!”, desisnya marah.


Jing mei yang saat ini berdiri mulai waspada, ia tak bisa lari saat ini karena pergelangan kaki kanannya terasa sangat perih, mungkin saja saat-saat terakhir ia berusaha mendobrak pintu kereta kakinya mengenai salah satu kayu yang terbakar dibawah.


Lelaki itu yang melihat jing mei menahan rasa sakit mulai menyeringai, ia bisa melihat kaki nona muda itu terluka. Bagus, karena hal ini tidak akan bertahan lama, dan ia bisa menyelesaikan pekerjaannya. Lelaki itu dengan kejam mulai menyerang jing mei, beberapa ayunan pedang mengenai kedua lengan jing mei dan membuat luka yang dalam disana tapi jing mei masih tetap berusaha untuk melindungi dirinya sendiri dengan belati yang ia miliki saat ini. Beberapa serangan dengan susah payah berhasil ia hindari dengan kondisi kakinya yang mulai terasa menyakitkan, disisi lain pembunuh itu dengan licik mengecoh jing mei dan berhasil membuat jing mei kembali terjatuh karena kakinya yang bergerak mengincar kaki jing mei. Ia menendang belati milik jing mei. Jing mei berusaha menarik tubuhnya mundur untuk meraih belatinya, tapi pembunuh itu lebih cepat melangkah kearahnya dan sebilah pedang tajam yang ia bawa ditangannya.


Jing mei semakin berusaha untuk menyeret tubuhnya, ia begitu putus asa saat ini.

__ADS_1


Jing mei berteriak serak saat rasa tajam yang menyengat menyerang pahanya, tapi ia di Tengah rasa putus asanya berusaha untuk terus menyeret tubuhnya. ceceran darah segar yang keluar dari luka dipahanya terlihat merembes terseret dibawah tubuhnya, dan suara tawa pembunuh itu yang senang melihat buruannya mulai menggelepar putus asa.


Dan sosok pembunuh yang sedikit mengernyitkan dahinya karena pelindung spiritual di tubuh nona muda ini menghalanginya sebelumnya.


__ADS_2