
Salju semakin turun dan menumpuk di seluruh tempat dimana butiran-butiran putih dingin itu jatuh.
Saat ini di kediaman perdana menteri li, terasa sepi karena setiap anggota di kediaman itu menetap hangat di halaman mereka masing-masing.
Dan berbeda dengan keadaan di dalam halaman besar di kediaman itu. Nona muda resmi pertama kediaman perdana menteri berada di luar kediaman halamannya. Sekarang ia mengingat, walaupun sebelumnya lelaki ini ditutupi oleh banyak bekas darah, ia ingat bahwa lelaki ini adalah dermawannya.
"Apa yang dilakukan seorang lelaki dewasa di dalam halaman seorang nona muda yang belum menikah", tanya jing mei sekaligus menyindir sikap sembrono dermawannya ini padanya.
Zheng bai yang mendengar suara lembut namun terdengar sinis terasa menggelitiknya. Ia tersenyum menggoda.
"Bukankah terakhir kali nona muda yang belum menikah ini telah menyentuh seluruh bagian tubuh benwang dan membawa pakaian benwang diatas tubuhnya, ah, bukankah nona muda ini juga menarik benwang ketempat sepi", balas zheng bai santai.
Zheng bai terlihat ingin menggoda lebih banyak gadis muda ini, dan melihat banyak perubahan ekspresi disana.
Jing mei melotot kesal, tapi ia juga menahan rasa malu karenanya. Jing mei sedikit mengeratkan kedua tangannya di belahan kain jubah ini karena takut jiang wang akan mengambil kembali jubah yang sangat berguna untuknya.
Zheng baji menaikkan alisnya saat melihat reaksi jing mei, sesuai perkiraan zi han zhi, nona muda ini tidak bisa bertahan di musim dingin. Ia mengambil kantung ramuan dan memberikannya ke jing mei.
Kantung ramuan yang bergantung di depannya membuat jing mei bingung.
"Apakah kau tidak ingin menerimanya ??", tanya zheng bai dingin.
Jing mei cepat-cepat mengambil kantung itu dan membukanya, pil-pil berwarna hijau pucat terlihat penuh didalam kantung ramuan dan itu menambah rasa penasaran jing mei.
"Selama benwang pergi dan kembali, bertahanlah dengan pil itu", bisik zheng bai tepat di samping telinga jing mei. Kedua tangannya menyentuh kedua sisi lengan jing mei, aura spiritual samar berwarna merah kehitaman keluar dari tangan zheng bai dan mengalir keseluruh tubuh jing mei, lebih tepatnya zheng bai menambah aura spiritualnya didalam jubah miliknya yang tengah dipakai jing mei.
Ditengah kebingungannya, jing mei bisa merasakan rasa hangat yang nyaman mengalir diseluruh tubuhnya karena kekuatan spiritual yang dimiliki jiang wang.
“te..terima kasih telah menyelamatkan ku sebelumnya”, bisik jing mei pelan.
__ADS_1
“apa ?? benwang tidak mendengarnya”, balas zheng bai santai. Ia sedikit menahan kekehnya.
“terima kasih karena telah menyelamatkan nyawa nona muda ini, dan juga nona muda ini memaafkan ketidaksopanan wangye sebelumnya”, ucap jing mei sedikit keras, dan kali ini wajahnya memerah menahan malu. Ia menahan dirinya sendiri agar tidak gugup dan bertambah malu.
Terdengar suara tawa rendah dari atas kepalanya, ia semakin memerah menahan rasa malu.
“baiklah, benwang akan menerimanya”, jawab zheng bai santai.
Suara pintu gerbang halaman jing mei yang berbunyi membuat jing mei terkejut, ia takut jika mama lou ataupun pengawal kediaman mengetahui keberadaan jiang wang tapi sebelum ia berhasil bertindak, jiang wang lebih dulu membawanya masuk kedalam kamarnya.
"Hah", ucap jing mei saat melihat jiang wang menutup jendela kamarnya.
Lelaki itu dengan santainya duduk ditempat dimana ia biasanya duduk disamping jendela besar itu, mengabaikan jiang wang. Jing mei cepat-cepat keluar dari kamarnya.
"Mama", panggil jing mei.
Jing mei menggelengkan kepalanya. Ia tersenyum lembut. Mama lou yang melihat wajah memerah nona mudanya, langsung terkejut.
"Nona, apakah pelayan tua ini begitu lama membawakan anda sup dan teh hangat, lihatlah wajah anda memerah", ucap mama lou panik.
Jing mei bertambah memerah karena ucapan mama lou, tapi ia menggelengkan kepalanya dan berusaha meyakinkan pengasuhnya itu bahwa ia baik-baik saja, ia juga memerintahkan mama lou untuk segera beristirahat. Setelah memastikan beberapa kali bahwa mama lou telah pergi dari halamannya, jing mei cepat-cepat masuk kedalam kamarnya tapi ia terkejut karena sosok jiang wang yang telah pergi.
Apa yang lelaki itu inginkan darinya. Ah, ia baru ingat, ia belum sempat menanyakan nama lelaki itu, pikir jing mei.
Ia berusaha menghilangkan pikirannya tentang lelaki itu, dan melihat kantung ramuan yang diberikan lelaki itu padanya. Jing mei membawa kantung itu dan memasukkan dikotak penyimpanan miliknya. Jika jiang wang mengetahui penyakitnya bukan tanpa kemungkinan bahwa ia memang tidak bisa bertahan ditengah cuaca dingin musim ini sama seperti ditahun-tahun lalu yang menyiksanya.
Jing mei berbaring ditempat tidurnya, ia berusaha memejamkan matanya tapi bayangan lelaki itu sangat mengganggunya hingga ia mulai lelah dan memejamkan matanya karena kehangatan yang nyaman dari jubah yang ia pakai semakin membuat matanya berat, terlelap tidur tanpa menyadari bahwa sosok yang ia pikirkan masih berada diluar halamannya.
Zheng bai kembali masuk kedalam kamar jing mei, ia menunduk melihat dingin nona muda yang saat ini begitu terlelap. Entah apa yang berada didalam pikirannya, zheng bai melepaskan jubah gading yang saat ini ia pakai. Lelaki itu dengan santai menutupi tubuh jing mei dengan jubah gadingnya. Ia juga menambahkan banyak energinya di dalam jubah itu, melihatnya dengan puas. Zheng bai membuka kotak penyimpanan milik jing mei, ia melepaskan liontin giok miliknya dan menaruhnya disebelah kantung ramuan itu. Dirinya mengambil Kembali liontin gioknya, ia mengikat liontin giok jadenya itu di pinggang jing mei setelahnya ia terlihat puas dengan apa yang ia lakukan.
__ADS_1
Zheng bai melirik gelang perak ditangan ramping jing mei, Ia telah meninggalkan tandanya, dan jika ada yang masih berani mengambil apa yang sudah ia tandai sebagai miliknya, ia akan menghancurkan pencuri itu dibawah kakinya. Sebelum benar-benar pergi, zheng bai menyelipkan sebuah kertas kecil dibawah bantal jing mei.
Seluruh pasukan yang dibawa oleh panglima jiao long hanya berisikan dua puluh orang terpilih dan panglima jiao long sendiri sebagai pemimpinnya.
Persiapan matang telah mereka persiapkan, kuda-kuda militer kuat berbaris rapi menunggu para prajurit itu dengan gagah dan tegap ditengah cuaca dingin malam hari ini.
Zheng bai yang baru saja kembali disambut dengan tatapan bingung dari para bawahannya karena sangat tidak biasa melihat pemimpin mereka yang hanya memakai pakaian biasa ditengah cuaca dingin seperti ini. Karena sebelumnya mereka jelas mengingat bahwa panglima mereka ini memakai jubah hangat.
Chao gu yang melihat kedatangan zheng bai sedikit terkejut.
"Apakah ada penyusup yang menyerang ??", tanya chao gu.
Zheng bai hanya meliriknya sekilas, ia berjalan mengambil jubah lainnya yang berada dibarak militer mereka.
"Dimana han zhi ??", tanya balik zheng bai.
"Ah, gadis nakal itu sedang menyiapkan beberapa kantung obat lagi untuk perbekalan para prajurit", jelas chao gu.
Zheng bai mengangguk.
"Beritahu seluruh prajurit, kita akan berangkat", ucap zheng bai saat ia melihat han zhi yang terlihat memberikan satu kotak besar yang ia yakini berisikan obat-obatan dan kantung ramuan berisi pil.
"Baik, panglima", jawab tegas chao gu.
Chao gu dengan cepat pergi menuju sisi barak militer lain dimana para prajurit khusus dari pasukan shizi yang dibawa secara pribadi oleh panglima besar jiao long kembali ke ibukota kekaisaran.
Zheng bai memakai jubah hitam bertudung berjalan menaiki kuda perang miliknya, dibelakangnya chao gu dan seluruh prajurit mengikutinya. Malam itu rombongan panglima perang pergi untuk melihat apa yang terjadi disetiap aliran sungai wilayah kekaisaran. Pacuan kuda terus bergerak kearah dimana tempat yang zheng bai perkirakan sebagai tempat yang harus mereka lihat kembali. Entah apa yang akan menanti mereka disana tapi hal ini sangatlah mencurigakan.
Pertengahan musim dingin dengan tumpukan salju yang kian menebal sejauh wilayah daratan xiang, warna putih mewarnai daratan itu. Bulan yang masih bersembunyi diatas sana terlihat malas untuk menunjukkan dirinya dari balik awan, malam gelap dan dingin, suara ringkikan kuda yang terus melaju cepat membelah malam bersalju.
__ADS_1