
Rumah sakit..
Brian terlihat sedang duduk dengan kepala menunduk.Hati dan pikirannya kini merasa kalut dan khawatir.Melihat keadaan Lidya sedang terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit.
Tidak berapa lama,perlahan Lidya membuka matanya.Brian yang menyadari langsung menghampiri Lidya.
"Sayang..Akhirnya kau sadar..aku sangat mengkhawatirkan keadaan mu.." sahut Bria sambil mengusap rambut Lidya dengan sangat lembut.
Sesaat Lidya melirik kearah Brian dengan tatapan yang sendu.
"Maafkan aku sayang,aku sudah membuat mu seperti ini..Aku bisa jelaskan semuanya nanti,setelah keadaan mu membaik."ucap Brian lagi sambil mengecup tangan Lidya.
"Kita berpisah saja." sahut Lidya tiba-tiba dengan nada lemah.
Sontak membuat Brian terkejut.
"Jangan bicara seperti itu sayang..istirahat lah,jangan bicara yang aneh." ucap Brian mengabaikan ucapan Lidya.
Lidya pun mengalihkan tatapannya dan memejamkan mata untuk tidur.
__ADS_1
Brian hanya bisa menarik nafas panjangnya dan membiarkan Lidya beristirahat.
Brian keluar dari kamar perawatan Lidya dan duduk di kursi penunggu.Pikirannya pun semakin kalut,saat Lidya harus mengatakan ingin berpisah dari nya.Ia pun tidak ingin melepas Lidya begitu saja,wanita yang telah menjadi pelabuhan terakhirnya.Tapi ia juga bingung,apa yang harus dia lakukan jika keinginan Lidya menjadi kenyataan.
Brian kembali menarik nafas panjangnya sambil memejamkan matanya.
Namun,beberapa saat ia membuka matanya dan teringat akan sosok Nadine,yang telah membuat rumah tangganya terusik.
Brian langsung bergegas meninggalkan rumah sakit.Ia melajukan mobilnya dengan kencang menuju suatu tempat,karna seolah ia tidak sabar ingin menemui seseorang.
Tiba di suatu tempat,Brian langsung menekan tombol rumah seseorang yang ingin ia temui.
"Brian.." seru Nadine yang terkejut dengan kedatangan Brian tanpa memberi tahu dirinya sebelumnya.
Brian hanya tampak menatap dingin kearah Nadine.
"Apa kabar??kenapa kau bisa datang kesini??" tanya Nadine.
"Tidak usah basa basi..apa tujuan mu sebenarnya??" tanya Brian masih dengan tatapan dingin.
__ADS_1
"Sebaiknya masuk dulu,tidak baik bicara didepan pintu." ujar Nadine sembari berjalan kearah ruang tamunya.
Brian hanya mengikutinya dari belakang.
"Jadi,istri mu sudah memberitahu mu??"tanya Nadine langsung membahasnya sebelum Brian mengatakannya.Karna Nadine visa menebak,jika secepatnya Brian pasti akan menemuinya.
"Kenapa kau tiba-tiba muncul dan mengusik kami??apa kau sengaja ingin merusak pernikahan kami??" tanya Brian dengan nada ketus.
"Maaf Brian,aku tidak bermaksud untuk mengusik rumah tangga kalian,tapi kau bisa lihat kondisi ku sekarang??aku sedang hamil,dan anak yang ada di dalam kandungan ku adalah anak mu.." ungkap Nadine dengan tegas.
"Jangan bicara omong kosong..!!kau pikir aku akan percaya..kita memang pernah melakukannya bukan berarti aku bisa sembarangan menanamkan benih ku pada wanita sembarangan..!!" sentak Brian yang langsung menentang dan tidak mengakui pengakuan Nadine.
"Jaga ucapan mu Brian..!! kau pikir kau bisa sama kan aku dengan wanita ja*ang diluar sana?kau lah yang justru sudah membuat ku seperti ini..kalau aku tahu kau ternyata seorang buaya,aku tidak akan mau menyerahkan kehormatan ku dengan pria seperti mu.." jawab Nadine dengan nada sewot.
"Kau sudah tahu bahwa aku adalah seorang pria pemain wanita,tapi kenapa kau masih saja merelakan kehormatan mu??bukankah sama saja kau seperti wanita ja*ang??" sindir Brian
Plak.
Sebuah tamparan keras langsung mendarat ke pipi Brian.
__ADS_1
"Jangan seenak mu menghina diriku Brian..dan kau pikir aku akan menyerah jika kau terus menghina ku??kau harus bertanggung jawab atas anak ini,karena anak ini memang adalah anak biologis dari mu.."ujar Nadine dengan tegas.