
Beberapa hari kemudian..
Setelah Brian berangkat ke kantor,Lidya yang akan kembali beristirahat,karena kondisi kehamilannya sudah membesar membuatnya ingin merebahkan tubuh.
Tapi,baru akan ke kamar terdengar suara bel pintu rumahnya berbunyi.Seorang asisten rumah tangganya pun langsung membukakan pintunya.Lidya yang penasaran hanya melihat dari kejauhan.
Saat pintu di buka oleh sang ART,terlihat wanita tua paruh baya yang tidak dikenal.Berdiri tepat di depan pintu rumah Lidya.
Lidya yang merasa penasaran mencoba untuk melihat langsung wanita tua tersebut.
"Maaf,kalau saya menganggu waktu anda." sahut wanita tua itu.
Lidya dan sang ART menatap penasaran pada wanita tua itu.
"Nyonya mencari siapa??" tanya Art lebih dulu.
"Saya,saya adalah ibu dari Alfian." jawab wanita tua itu yang mengaku sebagai ibu kandung Alfian.
Lidya pun mempersilakan ibu Alfian untuk masuk ke rumahnya.Lidya tidak mengetahui jika Alfian masih memiliki ibu.Karena di masa lalunya,Alfian tidak pernah bercerita tentang ibu nya.Bahkan saat merencanakan untuk menikah pada saat ia masih menjalani hubungan dengannya.
__ADS_1
"Ada apa nyonya datang kesini??bagaimana nyonya tahu saya tinggal disini??" tanya Lidya dengan nada ramah tanpa menyimpan sakit hati karena ulah Alfian anaknya.
"Maaf sekali lagi kalau saya lancang datang ke kediaman kamu Lidya.Saya ke sini cuma ingin menyampaikan pesan dari Alfian.Mungkin kamu sudah tahu bagaimana keadaannya saat ini.Dan musibah yang menimpa Alfian." ujar ibu Alfian panjang lebar.
"Ya,saya sudah dengar.Saya cuma bisa ikut prihatin dengan musibah yang menimpa Alfian." jawab Lidya.
"Dan kedatangan saya kesini,karena Alfian meminta saya untuk menyampaikan pesan.Bahwa dia ingin bertemu dengan mu untuk terakhir kalinya.Sebelum vonis hukuman mati yang akan dijalani nya..Hiks.." ungkap ibu Alfian yang tiba-tiba langsung menangis karena tak kuasa mengatakan tentang vonis hukuman mati Alfian atas pembunuhan yang dilakukannya pada Tiara.
Lidya pun seketika terkejut mendengar jika Alfian akan menerima vonis hukuman mati.
Melihat ibu Alfian menangis,Lidya hanya bisa mencoba menenangkannya
Lapas penjara..
Lidya akhirnya memenuhi permintaan ibu Alfian untuk menemui Alfian secara langsung.Sayangnya Brian tidak dapat menemaninya karena terlalu sibuk dengan pekerjaan.Hanya seorang pengawal yang biasa menemani Lidya.
Alfian pun diperbolehkan menemui Lidya,saat Lidya datang mengunjunginya.
Terlihat Lidya tengah duduk tenang dengan dibatasi sebuah pembatas seperti kaca besar.
__ADS_1
Alfian pun langsung duduk tepat dibalik pembatas seperti kaca tersebut.Dan Lidya hanya menatap Alfian dengan rasa prihatin.Karena melihat penampilan Alfian yang tidak terawat dan berantakan.
"Apa kabar??" tanya Lidya mulai membuka topik obrolannya.
"Seperti yang kau lihat." jawab Alfian sambil tersenyum sendu.
"Aku turut prihatin dengan musibah yang menimpa mu." ungkap Lidya.
"Ya,tidak apa-apa.Terima kasih kau sudah menyempatkan waktu untuk bertemu dengan ku."jawab Alfian.
"Yah..Dan ku harap kau bisa ikhlas dengan semua yang sudah terjadi." kata Lidya mencoba menguatkan Alfian.
Sesaat Alfian pun menangis meneteskan air matanya.
"Maaf..Hiks..Maafkan aku Lidya..Hiks." isak Alfian sambil menunduk.
Lidya hanya memandang Alfian dnegan mengangguk.
"Tidak apa-apa..Aku sudah lama memaafkan mu." jawab Lidya.
__ADS_1
"Aku sudah banyak berbuat dosa padamu..!!Aku sangat menyesal dengan semua yang sudah ku lakukan padamu..hiks.." isak Alfian lagi mengungkapkan rasa bersalah dan penyesalan nya.