
HAPPY READING GUYS.
"Esaaaa!" teriak seorang lelaki paruh baya.
"Iya, Pa." sahut seseorang yang baru saja di panggil.
Anak yang bernama Esa itu langsung keluar dari kamarnya. Ia melangkahkan kakinya menuju ruang makan.
"Pagi, Pa." sapa Esa.
"Pagi sayang, ayo makan." ucap Andi Ayah Esa.
Setelah itu Esa langsung duduk di kursi makannya, tidak banyak basa-basi kedua makhluk itu langsung melahap makanannya.
***
"Esa masuk ya, Pa. Papah
hati-hati jangan ngebut-ngebut." kata Esa ketika ia hendak turun dari mobil dan masuk kedalam sekolah.
"Iya sayang, kamu yang rajin belajarnya jangan nakal ya." Andi.
"Siap Papa," sahut Esa dengan tangan hormat.
Setelah itu Esa mencium tangan Ayahnya itu dan langsung turun dari mobil.
5 detik kemudian mobil Andi sudah melesat pergi dari hadapan Esa.
"ESAA!" teriak seseorang.
Esa langsung mengembalikan badannya, senyumnya terukir sangat manis di wajahnya. Dengan langkah yang panjang Esa langsung berjalan menuju area parkir motor sekolahan.
"Pagi," sapa Esa sambil ber-tos ria dengan ke 3 temannya.
"Tumben lo gak chat gue, Sa. Biasanya lo minta jemputan," kata Yoland teman sekelas Esa.
"Kebetulan Bokap lagi santai kerjanya jadi ya udah lah gue berangkat sama Bokap aja," Esa.
Yoland mengangguk paham.
"Udah sarapan, Sa?" tanya Ibnu.
"Udah kok, kalian udah pada sarapan?" tanya Esa balik.
"Udah," jawab Yoland, Ibnu, dan Arka secara bersamaan.
"Yang lain masih belum dateng juga, lama banget sih." kata Esa.
"Yaelah biasa kali, Sa. Mereka dateng kalo matahari udah tidur," kata Arka.
Esa terkekeh geli, "Yaudah kita ke kelas duluan aja yuk."
"Ayo deh," kata Yoland.
Lalu mereka ber 4 pun langsung melangkahkan kakinya menuju kelasnya.
Seperti biasa, koridor sudah ramai di huni anak-anak yang biasa duduk di depan kelas. Seperti biasa pula ketika Esa DKK sedang berjalan pasti mereka mendapatkan sorotan mata-mata elang.
Ada yang menatap mereka suka tetapi ada pula yang menatap mereka dengan tidak suka.
"Yoland!" teriak seorang perempuan.
Teriakan itu berhasil membuat ke 4 anak manusia itu menghentikan langkah nya.
"Tika?"
Tika berlari mendekat pada Yoland dan yang lainnya. Saat sudah sampai di hadapan Yoland, Tika melirik Esa sebentar.
__ADS_1
Jujur, Tika tidak suka dengan Esa. Karena Esa terlalu dekat dengan Yoland pacarnya.
"Kok kamu gak jemput aku?" tanya Tika.
"Tadi niatnya mau jemput Esa tapi gak jadi, jadi aku ga jemput kamu deh." kata Yoland.
Ini bukan untuk yang pertama kalinya untuk Tika mendengar kata-kata Yoland.
"Esa Esa dan Esa. Kenapa sih dia terus?!" tanya Tika sambil menujuk Esa.
Seketika suasana koridor langsung sedikit riuh, banyak anak-anak yang melihat posisi Tika dan 4 anak itu.
"Sa, kita ke kelas dulu yuk." ajak Arka.
Esa mengangguk setuju, saat Esa hendak melangkahkan kakinya tiba-tiba Tika menarik rambut Esa hingga membuat Esa tersungkur ke lantai.
Semuanya kaget, matanya langsung melotot.
"Tik! Apapaan sih kamu!" omel Yoland.
"Kenapa?! Kenapa kamu belain dia? Aku pacar kamu Land bukan dia!" kesal Tika.
Esa di bantu berdiri oleh Ibnu dan Arka.
"Mending lo urusin cewek lo dulu deh, Land. Jangan ribut di sini banyak banget yang liat," kata Arka.
Yoland menatap Esa yang memasang wajah datar, "Oke."
Setelah itu Yoland menarik Tika untuk menjauh dari koridor. Esa dan yang lainnya pun melanjutkan langkahnya menuju kelas.
Tak lama kemudian Esa dan yang lain sudah sampai di kelas. Esa langsung duduk di kursinya.
"Lo gapapa kan, Sa?" tanya Ibnu.
"Yaelah cuman kaya gitu doang kali, lagian udah biasa." Esa.
"Males banget gue lawan cewe manja, gak level."
Ibnu dan Arka bertepuk tangan.
"Salut gue sama lo, Sa." kata Arka.
"Biasa aja bor!" kata Esa sambil terkekeh.
***
"Aku gak suka ya kamu kaya gitu terus sama Esa, udah berapa kali kamu dorong Esa setiap kamu ketemu Esa?" kesal Yoland.
"AKU ITU PACAR KAMU YOLAND! AKU PACAR KAMU! AKU CEMBURU KAMU LEBIH DEKET SAMA ESA!" kata Tika.
Yoland memegang kedua pundak Tika.
"Aku sama Esa berteman udah dari SMP aku sayang sama Esa apapun bakal aku lakuin buat dia, karena aku udah nganggep dia sebagai adik aku sendiri." kata Yoland.
Tika menepihkan tangan Yoland dari pundaknya, "TERUS AJA NGOMONG KAYAK GITU SETIAP KITA KAYA GINI, AKU TAU KAMU SAYANG DIA, AKU TAU DIA TEMEN LAMA KAMU, AKU TAU! TAU BANGET! TAPI DI SINI KAMU UDAH PUNYA PACAR LAND! AKU PRIORITAS KAMU!"
"Tik! Stop ya! Dari awal kita pacaran aku udah ngomong sama kamu. Kalo kamu mau sama aku kamu harus nerima semua yang aku lakuin!" Yoland.
Mata Tika berkaca-kaca, "Nyesel aku suka sama kamu."
Yoland tertawa renyah, ini buka pertama kalinya ia mendengar kata-kata itu.
"Terus? Lo mau kita putus? Oke kita putus." ucap Yoland lalu pergi dari hadapan Tika.
"LAND! YOLAND!" panggil Tika tetapi tidak di hiraukan sama sekali oleh Yoland.
"Arrghhh!!!!" kesal Tika.
__ADS_1
"Awas lo, Sa!" ucap nya sambil mengepalkan tangannya.
***
"Land? Gimana?" tanya Esa saat melihat Yoland sudah kembali dan duduk bersamanya di kelas.
"Gak gimana-gimana," jawab Yoland.
"Marahan lagi?" tanya Esa.
"Gue sih biasa aja, gak tau sama Tika. Mungkin dia bakal nangis-nangis malem ini," kata Yoland.
"Nangis? Anak orang lo apain Land?" tanya Arka.
"Gue putusin," Yoland.
Esa, Ibnu, dan Arka tertawa tebahak-bahak.
"Gak ngerti lagi gue sama lo Land, setiap pacaran pasti gak tahan lama." kata Ibnu.
Yoland terkekeh, "Gue pengin punya pacar itu yang bisa nerima keadaan gue, yang terpenting bisa nerima Esa."
"Lah gue lagi di bawa-bawa," kata Esa sambil terkekeh.
"Iyalah kalo bukan lo siapa lagi, Sa. Lo kan prioritas pertamanya si Yoland," kata Arka.
Esa tertawa sambil menatap Yoland, yang di tatapun ikut tersenyum.
"Nanti pulang sekolah kita nongkrong dulu kan?" tanya Esa.
"Woyaa harusssss!" kata Ibnu semangat 45.
"Sa!" panggil Zahra teman kelas Esa.
"Apa?" sahut Esa.
"Ini ada surat," kata Zahra.
Esa dan 3 temannya itu menatap surat itu sebentar.
"Dari siapa?" tanya Ibnu.
"Dari anak IPS 2," kata Zahra.
"Lebai banget, kalo emang mau nantangin mah kesini aja. Kaya jaman 90-an aja pake surat-surat." kata Arka.
"Lo juga! Mau-an lo di suruh-suruh jadi tukang pos," kata Ibnu sambil menunjuk Zahra.
"Gue gak mau aja kena masalah, ya udah lah gue pergi ya bye!" kata Zahra.
"Buka coba," perintah Yoland.
Esa menurut, ia langsung membuka surat itu. Arka dan Ibnu mendekat ikut membaca surat itu.
'Oh shit!' batin Esa.
"Gue bakal temenin, Sa." ucap Yoland.
"Gue bukan pengecut, gue gak mau bawa kalian. Ntar di sangka gue berani karena ada pawang." kata Esa.
"Tapi kita tetep ikut, Sa. Kita bakal awasin lo dari jauh," kata Ibnu.
"Oke," Esa.
***
Banyak gaya gak menjamin lo bahagia. -Esa Tiara.
__ADS_1