
Setelah kejadian itu Avilian langsung di bawa ke rumah sakit oleh pihak sekolah, di susul oleh Firgian, Vian, dan Fira. Fira juga langsung mengabari Pita, Fira tidak mengabari Ibu Avilian karena ia tau bagaimana kondisi Ibunya. Sesampainya di rumah sakit mereka langsung bertanya pada suster yang ada di depan.
"Sus, pasien bernama Avilian anak sekolah yang jatuh dari gedung di ruangan mana ya?" tanya Firgian
"oh, ada di ruangan IGD de" jawab Suster itu
"baik, makasih Sus" ucap Firgian lalu pergi di buntuti oleh Fira dan Vian
Firgian berjalan dengan langkah cepat menuju ruangan Avilian, saat sudah sampai di sana Firgian melihat ada Bu Rina wali kelas Avilian dan Pak Irfan guru mapel yang ikut ke rumah sakit.
Bu Rina yang melihat Firgian datang bersama teman-temannya ia langsung berdiri dan menatap Firgian.
"Gian?" Bu Rina
"gimana keadaan Lian bu? " tanya Firgian khawatir
"Lian sedang di tangani oleh dokter" ucap Bu Rina
"lebih baik kalian pulang ke sekolah ya" ucap Pak Irfan
"saya mohon izin Pak untuk menemani Lian saya mohon" ucap Firgian dengan mata yang berkaca-kaca
Pak Irfan dan Bu Rina bingung tetapi akhirnya kedua guru itu mengizinkan Firgian dan yang lain ikut menunggu Avilian.
1 jam mereka menunggu, itu sangat lama membuat semuanya merasa khawatir dengan keadaan Avilian. Firgian dan yang lain terus berdo'a agar Avilian di beri kekuatan dan kesembuhan. Hati Firgian sangat tidak tenang ingin sekali ia melihat kekasihnya itu dan menyalurkan semua kekuatan yang Firgian miliki.
Vian yang melihat sahabat tidak tenang itu ia menepuk pelan bahu Firgian dan memberikan senyuman semangat.
"Lian itu orangnya kuat dia bakal baik-baik aja" ucap Vian
"semoga" jawab Firgian
Ceklekkk!
Pintu ruangan terbuka nampak sosok dokter keluar dari ruangan itu.
"dokter bagaimana keadaan murid saya?" tanya Bu Rina antusias
"pasien kekurangan banyak darah dia akan di pindahkan ruangan terlebih dahulu" ucap dokter itu
Kaki Firgian melemas ia langusng bersandar ketembok dan mengacak mukanya frustasi.
"apakah orang tua dari pasien ada di sini? " tanya dokter itu
"ah orang tuanya sibuk dok, apakah ada yang ingin di bicarakan? biar saya yang mewakili" ucap Bu Rina
"oh baik, iya mari ikut saya ke ruangan saya" ucap dokter itu
"kalian ikut ke ruangan Lian biar Ibu dan Pak Irfan ke ruangan dokter dulu" ucap Bu Rina yang di balas anggukan oleh Fira, Vian, dan Firgian.
3 suster dari ruangan IGD keluar membawa Avilian yang masih senantiasa menutup matanya, dengan refleks Firgian langusng memegang pinggir kasur Avilian.
"maaf mas kita pindah ruangan dulu ya" ucap salah satu Suster
Firgian langsung melepaskan tangannya dan mengekori suster itu dari belakang. Sesampainya di ruangan Avilian langsung di pasangi infus dan lain-lain.
__ADS_1
Setengah jam Firgian dan yang lain menunggu akhirnya suster itu keluar. Firgian langsung bertanya apakah dia sudah di bolehkan masuk atau belum. Dan harapan Firgian untuk bertemu dengan Avilian di dalam sudah pupus, Suster belum mengizinkan siapapun masuk ke dalam karena Avilian harus beristirahat. Firgian kembali duduk dengan mata terpejam, ia sama sekali belum tenang, ia sangat merindukan kekasihnya itu.
'bangun Lian... mimpimu ngga lebih indah dari pada aku' batin Firgian
Vian menepuk pundak Firgian membuat Firgian sedikit kaget.
"lo tenang aja ya Gi selalu berdoa, doa-doa lo yang buat Lian jadi kuat" ucap Vian yang selalu berusaha menenangkan Firgian
Firgian hanya tersenyum simpul menjawab ucapan Vian.
"gue dari tadi mikir kenapa Lian bisa jatoh" ucap Fira yang sendari tadi diam, perlu kalian tau Fira memang anaknya pendiam apa lagi dia cewe sendirian di sini
Firgian menghela nafasnya dan mulai bercerita, saat Firgian menceritakan kejadian Meilia mendorong Avilian Vian dan Fira sempat mengutup mulutnya.
"kurang ajar ya" ucap Vian
"gue juga ngga tau kalo bakal kaya gitu" Firgian
"Anak-anak" panggil Bu Rina yang sudah kelar dari ruangan dokter
"Bu, gimana? dokter ngomong apa? " tanya Firgian
Bu Rina menghela nafasnya panjang.
"Lian mengalami banyak sekali kekurangan darah dan dari pihak rumah sakit lagi cari donor darah untuk Lian" jelas Bu Rina
Firgian, Vian, dan Fira menghela nafas secara bebarengan.
"terus Bu? " Fira
"Lian kenapa Bu?" tanya Firgian penasaran
"Lian mengalami kebutaan" ucap Bu Rina melirih
Fira menangis dan langsung di peluk oleh Vian bahkan bukan hanya Fira yang menangis Firgian juga ikut menangis mendengar apa yang Bu Rina katakan.
"tapi kalian tenang aja, dokter kata kebutaan itu bukan buta permanen Lian bakalan sembuh kalo dia rutin makai pupuh yang di kasih" ucap Bu Rina
Firgian sedikit lega mendengar ucapan Bu Rina. Firgian mengambil jaketnya dan pamit untuk pergi sebentar.
"apa sudah boleh menjenguk Lian? " tanya Pak Irfan
"belum Pak" jawab Vian
"kalau begitu lebih baik kalian pulang saja biar Bapak sama Bu Rina yang menjaga Lian" ucap Pak Irfan
"saya di sini aja Pak nunggu Lian bangun" ucap Fira
"tapi Fir-"
"gue nggapapa" ucap Fira
"jangan lupa kabari orang tua kamu Fira"ucap Bu Rina
"iya Bu" Fira
__ADS_1
"ya sudah saya pulang duluan ya Bu permisi" ucap Vian lalu mencium punggung tangan Bu Rina dan Pak Irfan
"gue duluan ya Fir, sori ngga bisa nemenin lo" ucap Vian pada Fira
"iya, ati-ati makasih ya" Fira
"santai" jawab Vian lalu pergi dari hadapan mereka
Disisi lain, Avilian sedang membuka matanya secara perlahan. Ia merasa pandangannya masih gelap, ia bertanya-tanya dimanakah dia sekarang. Apakah ruangan ini mati lampu atau apa.
Avilian berusaha berbicara, tetapi suaranya masih serak. Kepalanya pusing dan tubuhnya sangat lemas. Untuk menggerakkan tangannya saja Avilian tidak bisa, sekarang ia sungguh-sungguh lemah.
"Mamah... Gian... " lirih Avilian
Kondisi di luar sangat tenang Fira sedang tertidur pulas di kursi panjang depan ruangan.
"Bu apakah bisa mengobrol sebentar? tetapi jangan di sini" ucap Pak Irfan memecahkan keheningan
"oh bisa, mari kita ke kantin saja sekalian makan" Bu Rina
Pak Irfan menyetujui ucapan Bu Rina lalu mereka pergi ke kantin rumah sakit. Sesampainya di kantin rumah sakit Pak Irfan langsung memesan makanan, beberapa menit akhirnya makanan datang. Di sela-sela makan Pak Irfan bertanya pada Bu Rina tentang kondisi keluarga Avilian. Akhirnya Bu Rina menceritakan kondisi Avilian.
"saya sama Lian bisa di bilang cukup dekat Pak, selain hubungan wali murid rumah saya dan Lian juga tidak terlalu jauh jadi saya juga bisa mengerti kondisi Lian dan keluarganya" ucap Bu Rina
"lalu? " Pak Irfan
"semenjak Lian sudah melanjutkan sekolah di SMA hubungan orang tuanya sudah mulai retak, banyak yang bilang karena Ayah Lian selingkuh. Ayah Lian berprofesi sebagai direktur di suatu perusahaan tapi beliau sering kali melakukan perselingkuhan entah itu bersama orang luar atau sekertaris nya" Bu Rina
"lalu? bagaimana dengan Ibu Lian? " Pak Irfan
"katanya si ada anak tetangga yang lihat kalau Ayah Lian sedang makan malam bersama seorang perempuan, anak itu langsung bilang pada Ibu Lian, awalnya Ibu Lian tidak percaya tapi Lian pergi untuk memastikan. Lian pulang dengan perasaan jengkel dan ternyata benar" ucap Bu Rina "intinya semenjak Ayah Lian ketauan selingkuh, di situ semua masalah kecil pasti menjadi besar" sambungnya
"terus? " Pak Irfan
"sampai pernah ada seorang wanita meminta pertanggung jawaban pada Ayah Lian karena di hamili oleh Ayah Lian" Bu Rina
Raut wajah Pak Irfan menunjukan bahwa ia kaget.
"dan di situlah Ibu Lian mulai setres sampai akhirnya di bawa ke rumah sakit jiwa" Bu Rina
"lalu hubungan mereka? " Pak Irfan
"seperti nya sudah cerai si" Bu Rina
Pak Irfan mengangguk paham.
"maka dari itu saya sangat dekat dengan Lian ketika di sekolahan, saya hanya kasihan melihat dia" Bu Rina
"saya bangga dengan Ibu" Pak Irfan
Bu Rina terkekeh mendengar ucapan Pak Irfan.
"sudahlah lanjutkan makannya Pak" Bu Rina
Lalu mereka pun melanjutkan acara makannya.
__ADS_1