
"Bagaimana keadaan mu nak?." Tanya ibu Mulyani dengan senyum teduh miliknya.
"Alhamdulillah sudah lebih baik Bu." Jawab Tina dengan senyum rama.
"Maafkan anak Ibu ya nak, gara-gara anak Ibu kamu jadi begini." Kata Ibu Mulyani merasa tidak enak hati.
"Tidak apa-apa Bu, ini bukan salah Nisa. Tina sendiri yang minta di tambah kecepatan sama Nisa, karena Tina takut mendengar suara hewan yang berada di semak-semak." Jelas Tina jujur.
Ibu Mulyani pun tersenyum sambil mengusap puncuk kepala Tina lembut begitu pula dengan Ibu Tina yang berada di samping Tina, ia tersenyum rama. Sedangkan Bapak Nisa bersama Bapak Tina sedang duduk di kursi dekat pintu agak berjarak di antara mereka bertiga." Terima kasih ya nak." Ujar Ibu Mulyani penuh syukur.
"Iya kak, tidak apa-apa namanya saja musibah. Tidak ada yang tahu, semua sudah menjadi kehendaknya." Sambung Ibu Tina.
Ibu Mulyani pun mengangguk seraya tersenyum bahagia karena keluarga Tina tidak membenci ataupun marah kepada anaknya.
Mereka pun mengobrol berbagai hal, hingga Ibu Mulyani pun pamit untuk segera kembali menghampiri putrinya Nisa.
*
*
*
Kini Arini sedang menikmati udara di luar ruangan. Di sana tampak sudah sepi, hanya ada beberapa perawat yang sedang bertugas malam serta penjaga yang berada di sana karena hari sudah memasuki waktu malam.
"Kenapa bulu kuduk ku merinding ya?." Arini mengusap tengkuk lehernya yang tiba-tiba terasa merinding.
"Nggak mungkin kan di sini ada hantu." Arini terus bermonolog di dalam hati. Arini celingak-celinguk melihat ke kiri dan ke kanan, namun ia tidak menemukan apa-apa.
Arini yang terus merasa bulu kuduknya merinding segera tancap gas kembali ke ruangan adiknya."Ya allah ternyata di sini banyak hantu, Aku cabut saja deh, dari pada di apelin sama hantu. Cantik-cantik gini masak iya di apelin sama hantu." Ujar kakak Nisa karena malam ini tepat malam minggu waktunya para pemuda alay untuk mengapel pacar namun tidak dengan Arini, karena ia memiliki perdikat jomblo akut.
Cicak di dinding yang melihat kepergian Arini pun kembali mencari mangsanya, tadinya cicak hanya ingin mencoba berkenalan lebih dekat dengan Arini, karena Arini terlihat menyendiri dan begong, cicak berniat untuk menemani Arini dari rasa kesepian walau hanya sekedar menempel di dinding.
__ADS_1
Namun sayang usaha cicak sia-sia begitu saja karena Arini meninggalkannya di saat dirinya belum melakukan pendekatan apa-apa untuk menjalin hubungan lebih dekat. Misalnya menjadi pendengar setia.
*
*
*
"Kakak kok udah balik lagi." Tanya Nisa, karena kakaknya keluar baru beberapa menit yang lalu, dan sekarang sudah kembali dengan tergesa-gesa seperti di kejar sesuatu.
Arini mengatur nafasnya yang terasa berat." Nggak apa-apa kok, di luar terlalu dingin untuk kakak. Makanya kakak ke sini, takut masuk angin lebih baik kakak nunggu kamu di sini saja." Elak Arini, ia tidak mau mengaku bahwa dirinya kembali karena takut. Gengsi, bisa-bisa di ejek sama Nisa karena takut sama cicak. Ee salah maksdunya hantu.
"Ayo nak siap-siap kata perawat Nisa sudah boleh pulang." Kata Ibu yang baru saja datang menghampiri mereka berdua.
"Oh iya Bu." Jawab Arini.
Nisa segera siap-siap untuk pulang, begitu pula dengan Tina bersama kedua orangtunya." Tin maaf ya, karena Aku kurang hati-hati kita jadi kecelakaan." Ujar Nisa ketika mereka akan pulang.
"Tidak apa-apa Nis, santay saja. Lagi pula Aku juga yang menyuru mu menambah kecepatan." Tina tersenyum ke arah Nisa.
"Enggak lah Nis, kita tetap berteman. Tapi lain kali Aku nggak mau lagi di bonceng sama Kamu, kapokk. Bagaimana dengan tangan mu?." Tanya Tina kerena dirinya di beritahu Ibu Nisa bahwa tangan Nisa mengalami keseleo atau terkilir.
"Masih terasa sakit dan sedikit membengkak, tapi tenang saja nanti akan di urut ketika sudah sampai rumah." Nisa menunjukkan tangan nya yang sedikit menonjol ke arah Tina.
"Waduh bengkak banget Nis, kayak balon udara. Bisa bawa kamu terbang itu." Ujar Tina antusias.
"Awww." Teriak Nisa karena tangannya yang bengkak baru saja di tekan oleh Tina.
"Kamu mau bunuh Aku Tin?, sadis bener dirimu." Ujar Nisa kesal.
Tina pun terkekeh dengan dahi tertutup kain kasa karena terdapat luka hasil ciuman dengan aspal." Jangan berlebihan Nis, Aku hanya ingin memastikan jika tanganmu masih merespon sentuhanku. Aku takut tanganmu harus di amputasi karena mati rasa."
__ADS_1
"Memangnya luka, sampai-sampai harus di amputasi. Yang ada kamu yang berfikir terlalu jauh." Cicit Nisa kesal.
"Baiklah yang waras mengala."
"Kakak mana ya, lama banget belum kembali." Nisa mengedarkan pandangan ke arah jalan menuju rumahnya.
"Tunggu saja sebentar lagi Nis, mungkin sedang di jalan. Atau mungkin sedang malam mingguan." Tina belum pulang karena juga sedang menungu jemputan dari ayahnya yang mengantar terlebih dahulu ibunya.
"Iya Tin tapi kalau di apel si belum pernah, kakak ku itu jomblo abadi, jadi aku nggak yakin kalau kakak lagi malam mingguan. Lah orang nggak ada pasangannya. Oh iya Bapak kamu juga belum sampai. Atau kamu sengaja di tinggal di sini, biar kamu di apelin sama hantu. Hhahhaha Aku turut prihatin." Kekeh Nisa.
"Enak saja kamu Nis, mana mungkin ayah ku mau punya mantu hantu. Yang cocok buat jadi mantu Bapak ya cuma Pak Andika. Karena nama pak Andika sudah tertulis di lauhul mahfudz sebagai jodohku." Ujar Tina dengan yakin dan lantang.
"Ternyata luka di keningmu tidak menyembuhkan fikiran mu Tin, tetap saja isinya hanya penuh dengan harapan semu. Pak Andika itu sudah tua, apa kamu mau nanti ketika anak mu sedang berjalan dengan suamimu dikira orang cucu dan Kakeknya."
*
*
*
"Bagaimana ini Pak, uang simpanan kita sudah tinggal sedikit karena harus membayar tagihan pengobatan Nisa." Kini Ibu Mulyani dan Bapak Syukri sedang berbaring di ranjang kamar mereka.
Bapak menghembuskan nafas berat." Jangan terlalu di fikirkan Bu, bagaimana pun juga ini semua sudah menjadi kehendak-Nya. Kita tidak bisa berbuat apa-apa, tugas kita hanya berusaha dengan ikhlas menjalani takdir yang sudah Allah tetapkan. Semua makhlunya tidak akan pernah luput dari yang namanya cobaan. Tugas kita hanya berserah diri, berusaha ikhlas menerima segala cobaan darinnya. Kalau masalah uang habis, nanti Bapak akan fikirkan bagaimana langkah kita selanjutnya. Biarkan itu menjadi urusan Bapak." Terang Bapak Syukri.
"Iya pak, maafkan Ibu. Karena jujur saja Ibu binggung dan sedih bagaimana membiayai sekolah Arini dan Nisa, sedangkan penghasilan kita sedang sedikit. Di tambah uang simpanan kita sudah terpakai sedikit, hanya cukup untuk beberapa hari saja." Ungkap Ibu dengan wajah tertunduk sedih.
"Kita berdoa saja Bu, semoga ladang kita segera membaik. Sehingga kita bisa panen dan menjualnya." Harapan Bapak Syukri.
"Iya Pak semoga saja." Jawab Ibu Mulyani.
"Ya sudah sekarang lebih baik Ibu istirahat saja, sambil menunggu Arini dan Nisa pulang." Ajak Pak Syukri, dan di jawab anggukan oleh Ibu Mulyani.
__ADS_1
Ibu Mulyani pun membaringakan tubuh lelahnya di samping suaminya, ia peluk tubuh rentah suaminya mencoba mendamaikan hatinya yang tengah dilanda gelisa.
************