
Avilian sangat jengkel dengan perlakuan Firgian, ini kedua kalinya Firgian meninggalkannya sendirian. Padahal ia sudah capek menunggu Firgian, saat Firgian hendak pergi posisi Avilian sedang membeli minuman karena haus dan saat Avilian kembali ke parkiran ia mendapati motor Firgian sudah tidak ada. Avilian langsung nelepon Firgian tetapi Firgian tidak bisa di hubungi. Avilian sangat marah dengan Firgian, saat Avilian hendak pulang ia bertemu dengan Vian dan bertanya apakah Firgian sudah pulang lebih cepat, Vian menjawab jika Firgian sudah keluar 5 menit yang lalu.
Avilian langsung meminta Vian untuk mengantar dirinya ke rumahnya, Vian hanya mengangguk sebagai jawaban iya. Sesampainya di rumah Avilian langsung membanting tas sekolahnya dengan kasar, ia langsung mengacak-acak kasurnya yang sudah tertata rapi.
Sedangkan di sisi lain Firgian sedang mengendarai motornya dengan kecepatan di atas rata-rata, seperti yang ia katakan pada Meilia ia hanya mengantar setelah itu ia pergi. Firgian kembali ke sekolah ia tak mendapati ada Avilian di sana. Sekolah juga sudah nampak sepi, Firgian langsung mengecek hpnya ia kaget 5 kali panggilan tak terangkat dari Avilian.
"mampus gue" ucap Firgian pada dirinya sendiri
Firgian langsung menyalakan motornya dan menuju ke rumah Avilian. Hatinya sangat tak tenang, jantungnya berdegub lebih kencang dari pada sebelumnya.
15 menit akhirnya Firgian sampai di rumah Avilian, ia langsung turun dari motornya dan melepas helmnya. Ia berjalan ke rumah Avilian dan menggedor pintu rumah Avilian.
Satu kali ketukan pintu Avilian belum membuka pintunya, dua kali Avilian belum membuka pintunya, tiga kali Avilian juga belum membuka pintu.
"Lian kemana siii" khawatir Firgian
Ia langsung menelfon Avilian namun nomornya tak aktif.
Ceklekkk!
Pintu terbuka dan mendapatkan sosok Avilian dengan wajah datarnya.
"Lian" panggil Firgian antusias
"ngapain lo kesini hah?! " Avilian
"Lian aku bisa jelasin sama kamu" Firgian
Plakk!
Avilian menampar pipi Firgian.
"PULANG SONO LO! NGGA USAH JELASIN APAPUN LAGI SAMA GUE!!" teriak Avilian
"Lian tolong banget dengerin aku, kalo aku ngga jelasin sama kamu nanti yang ada tambah panjang urusannya" ucap Firgian
Avilian menangis.
"PERGI LO! GUE MUAK SAMA LO! GUE SIAPA SI GI? GUE SIAPA LO?!!! " Avilian
Firgian memegang tangan Avilian.
"aku tadi mau nyemperin kamu tapi tiba-tiba.. " Firgian menggantung ucapannya
"tiba-tiba apa?! " Avilian
"aku ngga sengaja ketemu Meilia dan dia nangis karena ibunya masuk ke rumah sakit" jelas Firgian
Avilian melepaskan tangan Firgian.
"JIJI GUE SAMA LO! PERGI SONO! PRIORITAS LO BUKAN GUE LAGI!" ucap Avilian
"Lian plis engga kaya gitu maksud aku" ucap Firgian sambil berusaha menenangkan Avilian
__ADS_1
Avilian menangis dengan kencang ia berlari ke dalam di susul oleh Firgian. Avilian membanting semua yang ada di atas meja. Firgian berusaha menenangkan Avilian tetapi malah Firgian yang kena amukan oleh Avilian.
"PERGI SANA LO! NGGA USAH KE SINI! GA USAH NEMUIN GUE! TEMUIN SONO ****** LO!! " teriak Avilian
"sayang plis maafin aku" ucap Firgian sambil menangis
"AAARGGGHHHHH!!!!" teriak Avilian sambil meninju tembok
Firgian yang tak kuasa melihat Avilian ia memeluk kekasihnya itu dari belakang.
"berhenti Lian" ucap Firgian lirih tepat di kuping Avilian
Avilian menangis ia berhenti dan langsung tergeletak ke bawah.
"gue ga sukaaa, gue cemburu" ucap Avilian sambil menangis
"iya maafin aku" ucap Firgian
"LEPASIN GUE!!!!" teriak Avilian
"aku bakal lepasin kamu asal jangan kaya gini" ucap Firgian
Avilian tak menjawab ia hanya menangis dan menangis.
"kenapaaa? kenapa semua lelaki brengsek? kenapa" ucap Avilian yang lemah
"engga sayang engga" Firgian
"LEPAS LO! LO SAMA KAYA BOKAP GUE! SAMA SAMA BRENGSEK!! " ucap Avilian sambil mendorong Firgian
Firgian pasrah ia sudah tak bisa berkutik apapun akhirnya ia pergi dari rumah Avilian meninggalkan Avilian sendirian di rumah. Sebenarnya ia takut jika Avilian akan melakukan suatu hal yang membahayakan dirinya sendiri. Tetapi Firgian membuang jauh-jauh pikiran itu. Ia menyesal ini memang salahnya.
Avilian masih saja menangis ia menjedotkan kepalanya berulang kali ke tembok, sakit dan pusing itu yang di rasa tetapi ia sedang hancur.
"dasar cowo brengsek!" ucap Avilian
Firgian masih bisa mendengar ucapan Avilian ia langsung mengambil HPnya dan menelfon seseorang. Sesudah melefon orang itu ia menunggu di atas motornya, Firgian belum pulang sama sekali ia masih menunggu orang itu datang. Sesekali Firgian mendengar pecahan-pecahan kaca. Sungguh Firgian sangat khwatir dengan keadaan Avilian.
10 menit Firgian menunggu akhirnya yang di tunggu datang juga, dari tadi Firgian sedang menunggu Fira dan Pita akhirnya keduanya datang.
"dia masih kumat? " tanya Pita
Firgian mengangguk. Tanpa babibu Pita langsung masuk ke dalam rumah Avilian.
"kenapa Lian bisa kaya gitu ? " tanya Fira
"ini salah gue" ucap Firgian dengan suara melemah
"ya jelas lah ini salah lo!" Fira "jelasin sama gue kenapa bisa kaya gini!" sambung nya
Firgian menghela nafasnya panjang, lalu ia bercerita semuanya pada Fira. Setelah selesai berceita Fira mencubit lengan Firgian.
"udah sono pulang lo! gue juga ikut kesel sama lo! " Fira
__ADS_1
"tapi kan maksud gue baik Fir gue cuman bantu dia" ucap Firgian
"iya gue tau maksud lo baik tapi lo juga harus tau dong dan sadar kalo lo udah ada janji sama Lian, Lian Gi Lian! pacar lo! sedangkan Meilia dia siapa? lagian dia juga bisa naik Gojek naik Grab naik angkutan umum naik taxi dan lain-lain kan? " ucap Fira panjang lebar
"iya gue salah gue minta maaf" Firgian
"udah sono pulang, urusan Lian biar gue sama Pita yang nanganin" ucap Fira lalu masuk ke dalam rumah Avilian
Saat Fira memasuki rumah Avilian ia sangat terkejut dengan keadaan rumah, banyak sekali barang pecah tetapi ia tak mendapati keberadaan Avilian dan Pita. Fira langsung menaiki anak tangga menuju kamar Avilian. Sesampainya di kamar Avilian ia hanya mendapati Pita yang sedang duduk di atas kasur Avilian.
"Lian mana? " tanya Fira
"lagi di kamar mandi" Pita
"gimana? " Fira
"ya seperti yang lo liat, lo tau kan gimana Lian kalo udah bener-bener marah" Pita
"gue jadi khwatir" Fira
"gue juga, gue takut Lian macem-macem sama dirinya sendiri" Pita
Ceklekkk!
Pintu kamar mandi terbuka, Avilian keluar dengan langkah yang gontai.
"udah? " tanya Pita
Avilian hanya mengangguk samar.
"sini duduk" perintah Pita
Avilian berjalan dan duduk di samping Pita. Pita memegang tangan Avilian, ia menatap sahabatnya dengan sendu.
"Lian dengerin gue ya, lo boleh marah tapi bukan dengan cara kaya gini" ucap Pita
"GUE KESEL! GUE KESEL SAMA GIAN! GUE CEMBURU GUE MARAH!" teriak Avilian
Avilian kembali menangis. Pita yang tak tega melihat sahabatnya menangis ia memeluk Avilian Fira juga memeluk Avilian dari belakang.
"kenapa si semua cowo brengsek kenapaaa" ucap Avilian di sela-sela tangisnya
"udah ya udah jangan nangis lagi, kita di sini temenin lo kok" ucap Pita
"gue benci ini gue benci" Avilian
Pita mengelus punggung Avilian berusaha menenangkan sahabatnya itu. Avilian melepas pelukannya dan menatap Pita dan Fira secara bergantian.
"besok kan libur temenin gue ke rumah sakit ya" Avilian
Pita dan Fira hanya mengangguk dengan seulas senyum.
"ya udah kita istirahat ya" Fira
__ADS_1
Avilian mengangguk, mereka langsung menerbahkan tubuhnya dan tidur bersama.