
"Kebakaran, Kebakaran, tolonnnggg!!!!." Teriak Arini menggema memenumi kamar sang adik.
"Kebakaran?." Gumam Nisa di bawah alam sadarnya.
"Kebakarannn,, ahh tolongggg!!." Nisa panik, langsung lompat dari atas kasur, mata yang semula terpejam kini sudah benar-benar melek.
Cepat-cepat Nisa mencari pintu jalan keluar.
Arini yang melihat itu pun tertawa geli, dengan sebelah tangan ia dekap di mulutnya.
Mendengar tawa sang kakak, Nisa yang sudah di ambang pintu pun sontak menghentikan langkahnya. Ia sadar sekarang, bahwa tidak ada kebakaran seperti yang di teriaki kakaknya. Ini semua hanyalah akal-akalan sang kakak agar ia segera bangun.
Nisa memutar badan menghadap sang kakak. "Iissss, kakak." Desis Nisa tidak terima.
Arini menghentikan tawanya." Sudah, cepat sana mandi, ntar telat." Arini menghampiri Nisa yang masih memasang wajah kesal.
Siapa yang tidak kesal, di saat enak-enakan tidur malah di ganggu. Eh bukan di ganggu, lebih tepatnya di bangunkan.
Nisa masih mematung di tempat, lengkap dengan bibir yanh mengkerucut ke depan.
"Sudah sana, pergi mandi." Arini mendorong badan Nisa agar segera keluar, dan segera mandi.
"Iya, iya, dasar cereweeetttt." Cicit Nisa kesal.
Nisa pun pergi ke kamar mandi yang berada di bagian belakang rumah.
Sedangkan Arini pergi ke dapur, menghampiri ibu nya, siapa tau masih ada perkerjaan yang bisa ia bantu.
Ibu Mulyani menoleh sebentar ke arah Nisa yang sudah masuk ke dalam kamar mandi. "Kamu apa'in tu anak, sampai dia mau juga bangun?." Tanya ibu Mulyani pada Arini.
Arini terkekeh kecil." Nggak di apa'ain Bu, cuma di kasih pelajaran sedikit."
Ibu Mulyani pun ikut tersenyum.
"Masih ada yang bisa Arini bantu nggak bu?." Tanya Arini.
"Tinggal piring saja yang belum di ambil, kamu ambil sana. Ibu mau ke depan sebentar. " Ujar ibu Mulyani.
Arini mengangguk" Iya Bu." Arini segera mengambil piring yang bersebelahan dengan meja kompor gas.
*
*
__ADS_1
*
"Bangun pagi, gosok gigi, cuci muka tak usah mandi, kalau tak mandi banyak daki, percuma wajah cantik kayak berbie." Suara nyanyian Nisa memenuhi kamar mandi. Ini nyanyi versi author ya.
Arini yang mendengar suara nyanyian Nisa pun menggelengkan kepala.
"Nisa, cepat buruan, ntar telattt, sudah siangggg!!." Teriak Arini di balik pintu kamar mandi.
Sedangkan Nisa di kamar mandi cuek saja, malahan menambah volume suaranya agar tak mendengar suara kakaknya yang berteriak di luar.
Arini mengelus dadanya agar lebih bersabar." Dasar anak susah di atur, di bilangin malah tembah kenceng nyanyinya."
"Ada apa Ar?." Tanya Ibu Mulyani yang baru saja tiba dari depan.
Arini sontak melihat ke arah belakang, yang di mana ibu nya berada, sedang menenteng cangkir kopi yang sudah kosong.
"Nggak apa-apa bu, cuma ada manusia yang susah di atur, nyanyi-nyanyi nggak jelas, padahal hari sudah siang."
Nisa yang mendengar itu pun mendelik lebar." Dasar kakak duurjanaaa." Umpat Nisa di balik pintu kamar mandi.
Ibu pun paham jika yang di katakan Arini adalah Nisa anaknya yang susah di atur."Nisa cepat, waktu tinggal beberapa menit lagi, mau sampai kapan kamu di kamar mandiii!!!." Teriak Ibu Mulyani dari depan pintu kamar mandi.
"Iya bu sebentar." Nisa cepat-cepat mengulung rambutnya dengan handuk." Dasar cereweeetttt." Gumam Nisa kecil, saking kecil nya hanya mampu ia dengar sendiri.
*
*
*
Nisa segera menyambar tasnya yang berada di atas meja, menyambar kunci motor dengan tidak sabaran.
Karena Arini sudah lulus, otomatis motor Nisa yang membawanya.
Segera Nisa keluar dari kamarnya, menuju dapur di mana ibunya berada.
"Bu Nisa Pamit ya." Ujar Nisa.
"Nggak sarapan dulu?." Tanya ibu Mulyani.
"Nggak sempat Bu, Nisa buru-buru." Jawab Nisa.
Sedangkan Arini yang berada tak jauh dari Ibu Mulyani pun tersenyum mengejek." Makanya di bilangin tu nurut, tau kan akibatnya." Cicit Arini sinis.
__ADS_1
Nisa mendengus kesal."Ya sudah Bu, Nisa berangkat dulu." Nisa menyalami Ibu Mulyani dan Arini secara bergantian.
"Mana Bapak bu?." Tanya Nisa setelah memasukkan uang saku yang baru saja Ibu Mulyani berikan.
"Bapak ada di depan, Itu uang buat kamu jajan di waktu istitahat, datang ke sekolah nanti langsung di makan saja bekalnya, kalau masih ada waktu." Pesan Ibu Mulyani.
"Iya Bu." Nisa segera memasukkan bekalnya ke dalam tasnya.
"Nisa pamit ya Bu, Assalammualaikum." Pamit Nisa.
Nisa segera ke depan meninggalkan dapur.
"Pak Nisa pamit ya." Pamit Nisa ketika sudah tiba di teras depan rumah.
Bapak Syukri memang memiliki kebiasaan duduk di teras rumah ketika pagi hari, mencari udara segar, dan melihat orang-orang yang berlalu lalang, ada yang pergi berkeja sebagai guru, ada yang berkerja sebagai petani karet, dan ada pula yang pergi berkerja sebagai karyawat PT swasta yang ada di tampat mereka.
"Iya nak, hati-hati di jalan. Jangan ngebut bawa motor." Pesan Bapak Syukri.
Walaupun bibirnya sedikit mencabik, merasa tersentil dengan kalimat Bapaknya ,namun Nisa tetap mematuhi perintah Bapaknya."Iya pak." Setelah menyalami Bapaknya, Nisa pun pamit.
"Assalammualaikum." Ujar Nisa.
"Wa'alaikumsalam salam." Jawab pak Syukri.
Setelah Nisa hilang dari pandangannya, pak Syukri masuk ke dalam rumah, karena istrinya, Ibu Mulyani sudah mamanggil mengajak untuk segera sarapan.
Hari ini Ibu Mulyani dan Pak Syukri sengaja tidak pergi ke ladang.
Karena akan pergi ke rumah adik Pak Syukri yang akan mengadakan acara yasinan yang biasanya di lakukan setiap malam jum'at atau biasa di sebut yasinan kelompok, dan kebetulan malam ini giliran di rumah adik Pak Syukri. Maka Ibu Mulyani dan Pak Syukri berinisiatif datang lebih awal untuk membantu persiapan untuk nanti malam.
Tempat yasinan akan berubah-ubah setiap malam jum'at sesuai dengan nomor urutan peserta yang mengikuti dan akan berlanjut seperti itu sepanjang tahunnya.
Dan kebetulan malam ini adik Pak Syukri mendapat undian, maka yasinan kelompok akan di laksanakan di rumah adik Pak Syukri yang bernama Mawar.
Ibu Mulyani akan membantu istri Pak Mawar membuat hidangan untuk nanti malam bersama ibu-ibu yang lain yang merupakan kerabat juga tetangga yang berada di dekat rumah Pak Mawar.
Sedangkan Pak Syukri membantu menyiapkan peralatan apa saja yang di butuhkan untuk acara nanti malam, seperti menyiapkan meja khusus untuk hidangan serta menutup lobang parit menggunakan papan. Dan tentunya bertegur sapa dengan sanak saudara serta tetangga yang juga ikut membantu.
"Silakan pak di minum." Ujar anak Pak Mawar yang mengantarkan kopi ke meja di mana segerombolan bapak-bapak sedang bercengkrama.
Lesi, nama anak ke dua Pak Mawar yang kini sudah lima tahun lulus sekolah menengah atas. Dan sekarang berkerja sebagai tata rias di salah satu perias pengantin yang ada di kampungnya.
"Iya nak, terima kasih." Ucap salah satu Bapak-bapak yang juga saudara bapak ya.
__ADS_1
Setelah meletakkan teko yang berisi air kopi dan beberapa cangkir, Lesi pamit kembali ke dapur.
*********