Gadis Tomboy

Gadis Tomboy
Sparing.


__ADS_3

"Kamu kenapa Tin?, pucat amat." Tanya Dia ketika Nisa dan Tina baru saja duduk bergabung dengan mereka.


"Nggak apa-apa Dia, cuma abis senam jantung." Cicit Tina jutek.


Ayu dan Dia saling lempar pandangan dengan alis saling bertaut." Senam jantung bagaimana maksudmu?." Tanya Ayu penasaran.


Tina memutar mata malas." Tanya sama Nisa no, karena dia pelakunya."


"Emang kenapa Nis?, kok bisa Tina beruba kayak kuntilanak habis beranak begitu. " Cerocos Dia.


Mata Tina langsung mendelik melotot lebar melihat ke arah Dia." Ngomong apa kamu barusan!." Cicit Tina tidak terima dirinya di samakan kuntilanak.


Dia pun reflek menarik badannya kebelakang karena wajah Tina sangat dekat dengan wajahnya." Sabar sabar, Aku hanya bercanda. lagian ngapain Kamu marah kalau kamu nggak merasa, kalau merasa berarti itu benar." Jawab Dia dengan beraninya.


Tina yang merasa kesal pun menjitakk kening Dia.


Krrrttaakkkk,,,,,


" Aww, jangan pakai kekerasan dong. Nanti otak ku bocor bagaimana!." Dia mengusap keningnya dengan wajah kesal, karena baru saja mendapat hadia persatuan jari dari Tina.


Tina tersenyum mengejek." Memangnya enak, teruskan saja menghinaku begitu biar Aku puas menghajarmu." Ujar Tina.


Nisa dan Ayu yang melihat itu pun berusaha untuk menghentikan mereka yang tengah perang muka masam.


"Sudah sudah tidak usah berebut ingin Aku bonceng begitu, nanti Aku ajak kalian naik motor jalan-jalan keliling desa satu-satu sampai kalian puas. Tenang saja Aku rela jadi supir sukarela kalian, jangan berebut lagi." Cicit Nisa menghentikan pertikaian kedua nya.


"Nggak mau!!. Siapa juga yang rebutan kamu bonceng, bisa-bisa jadi perjaka seumur hidup calon suamiku karena gagal nikah sama Aku." Jawab Tina.


"Nanti bonceng saja lagi Nis, supaya Pak Andika perjaka tua." Cicit Dia.


"Kalau nggak mau, hentikan acara arisan kalian. Teliga ku budek dengar ocehan kalian!, berisikkk." Ujar Nisa tegas.


"Kita nggak lagi arisan Nisa, ya ampunnn malang nya hidupku punya teman kayak kalian ini. Selau saja terzolimii." Jawab Tina frustrasi.


Ayu yang sejak tadi menjadi pendengar hanya geleng-geleng tersenyum melihat teman-temannya yang menurut dirinya sangat lucu, seperti sedang mendapat hiburan gratis.


"Terserah kamu Tin, ayo kita kumpul." Ajak Nisa kemudian, karena latihan akan segera di mulai.

__ADS_1


Saat bersiap-siap memulai barisan pun Ayu tetap masih cekikikan mengingat kejadian barusan, ada-ada saja kelakuan teman-temannya.


"Hey Yu, kenapa senyum-senyum. Kamu nggak gila kan?." Selidik Nisa.


Ayu segera menghentikan cekikikannya dan menoleh ke arah Nisa." Apa'an Kamu Nis, ganggu saja."


"Ye Aku kan cuma nanya karena kamu dari tadi cekikikan tidak jelas. Aku takut kamu kenapa-kenapa, atau jangan-jangan kamu kesurupan penghuni pohon beringin ini ya, iiii seremm." Nisa bergidik ngeri.


"Jangan ngaur kamu Nisa, enak saja bilang Aku kesurupan." Ayu celingak celinguk melihat ke kiri ke kanan, entah mengapa bulu kuduknya terasa merinding.


"Kenapa yu, takutt." Ujar Nisa mengejek saat melihat Ayu celingak celinguk seakan sedang mencari sesuatu.


"Nggak, Aku cuma memastikan teman-teman yang lain sudah pada kumpul atau belum." Elak Ayu padahal dirinya memang sedang merasa takut.


"Alasan kam--" Ucapan Nisa terpotong karena mendengar teguran dari pemimpin pemanasan.


"Hey yang di sana berhenti bicara, jangan ribut." Ujar sang pemimpin pemanasan yang bernama Rizal.


Mendengar Rizal menegur seseorang sontak anak-anak yang lain melihat ke arah Nisa dan Ayu berada." Iya kak, maaf." Ujar Nisa dan Ayu serempak karena malu di perhatikan banyak orang.


Pemanasan pun berjalan dengan tertib, tak ada suara berisik seperti tadi yang ada hanya suara Rizal yang sedang menghitung pergerakan pemanasan.


Sekarang latihan pun di mulai dari belajar memukul, menendang, serta gerakan bantingan.


Gerakan Nisa sudah lumayan bagus, karena dirinya selalu memperhatikan dengan benar saat pelatih sedang memperagakan atau memberi contoh. Nisa bertekat dalam dirinya bahwa ia akan belajar dengan sungguh-sungguh, hingga perjuangannya tidak berujung sia-sia.


Setelah latihan dasar selesai sekarang tibalah intruksi baru, yaitu anak-anak di suru duduk membuat lingkaran.


Nisa dan teman-temannya cukup bingung, karena selama mereka latihan belum pernah di suruh membuat lingkaran seperti saat ini.


"Ayo anak-anak buat lingkaran." Intruksi sang pelatih.


Anak-anak didiknya pun segera mengambil tepat duduk, begitupun dengan Nisa dan teman-temannya. Walaupun bingung mereka tetap melakukannya, siapa tau mau bagi sembakoo.


"Kita mau di apakan Nis?." Tanya Dia.


"Nggak tau, mungkin mau di jadikan ikan asin." Jawab Nisa asal.

__ADS_1


"Mana ada ikan asin di jemur di waktu begini, yang ada pada ulatan." Jawab Dia.


"Kalau jawaban Aku begitu, berarti Aku juga nggak tau." Jawab Nisa kesal.


"Sudah lah, mendingan Kita segera mencari tempat duduk yang nyaman, supaya nyawa jantung kita aman." Ajak Ayu.


"Kok jantung?." Tanya Nisa dengan dahi mengkerut.


"Ya iyalah dari pada kena semprot, lebih baik kita ikuti saja." Ayu segera menarik tangan Nisa duduk sebelum mendapat siraman rohani dari sang pelatih karena tidak menurut intruksinya.


Kini Nisa dan teman-teman yang lain sedang duduk di atas rerumputan di pinggir lapangan sepak bola membentuk sebuah lingkaran.


"Mungkin di sini sudah ada yang tau mengapa kalian di suruh membuat lingkaran, karena sudah lama mengikuti kegiatan ini. Namun saya yakin bagi anak-anak yang baru ini akan membuat mereka bingung." Kata Pak Joni membuka suara.


"Baiklah saya akan jelaskan, di sini Kita akan melakukan sparing antar sesama teman yang memiliki berat badan yang hampir sama. Setiap orang yang saya tunjuk harus maju kedepan untuk melakukan sparing." Jelas sang pelatih yang bernama Joni.


Nisa mengangkat tangan memberanikan diri untuk bertanya."Maaf Pak, sparing itu apa ya?." Tanya Nisa mewakili teman-temanya yang juga sedang bingung.


Anak-anak yang lain melihat ke arah Nisa sekilas dan kembali melempar pandangan ke arah sang pelatih.


Pak Joni pun tersenyum."Sparing itu sama seperti bertanding, di mana kalain akan bertarung, melawan lawan kalian yang sudah di pilih. Sekarang saya akan contohkan dulu para kakak senior kalian yang sudah lama ikut latihan. Supaya kalian langsung mengerti." Ujar pak Joni kemudian.


Nisa pun mengangguk paham. Mulai lah pak Joni melihat-lihat anak didik seniornya untuk di pilih untuk sparing sebagai contoh yang pertama bagi para jenior baru.


Pilihan pertama yang sparing pun jatuh kepada Pak Andika dan Rizal.


Rizal merupakan kakak tingkat Nisa yang sekarang duduk di kelas tiga, ia memiliki bentuk tubuh tingi dan berisi, jadi badannya sedikit bisa mnegimbangi postur tubuh pak Andika yang juga bertumbu tinggi besar.


Pak Andika dan Rizal sudah memasang body pengaman di badan mereka masing-masing, agar mengurangi resiko cidera saat kontak fisik secara langsung. Keduanya sedang bersiap-siap menunggu intruksi selanjutnya.


Pak Joni sendiri ikut ke dalam lingkaran sebagai wasit." Semuanya tolong perhatikan yang sedang sparing." Setelah mengatakan itu dan memastikan anak didiknya memperhatikan pak Joni memulai pertarungan keduanya.


Pertarungan antara Andika dan Rizal sudah bagus dan mendapat banyak tepukan tangan dari anak-anak yang lain. Karena pertarungan mereka sama-sama gesit dan lincah. Mereka berdua memang sudah lama latihan dan juga merupakan anak didik kesayangan Pak Joni karena mereka adalah salah satu anak didik yang paling serius dan bersemangat saat latihan.


"Wah ganteng Ku keren sekali." Cicit Tina dengan mata berbinar memandang Pak Andika yang baru saja melakukan bantingan kepada Rizal.


Nisa, Ayu dan Dia saling melempar pandang dan mencabikkan bibir melihat Tina yang seakan sedang terhipnotis pesona lelaki pujaan hatinya." Biasa saja kali Tin, kak Rizal juga keren." Ujar Nisa tepat di depan telinga bagian kiri Tina.

__ADS_1


Tina mengusap daun telinganya yang baru saja mendapat bisikan goib Nisa." Sirik saja Kamu Nis." Ujar Tina sekilas dan kembali memperhatiakan pujaan hatinya yang sedang bertarung.


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


__ADS_2