
"Tega benar kamu Nis, kalau begini caranya bisa-bisa jadi perawan tua kamu. Nggak ada cowok yang baerani deketin sarang monster kayak kamu, yang ada jadi samsak hidup deket-deket kamu." Dia mengusap lengannya yang baru saja mendapat serangan dari Nisa.
Nisa mencabikkan bibir tak peduli." Biarkan saja."
Pembicaraan mereka pun harus terhenti karena bel pelajaran baru saja di mulai, yang menandakan mereka harus segera siap-siap memulai pembelajaran dengan serius.
Nisa mengaruk-garuk kepala nya yang tidak gatal, karena dirinya tidak mengerti dengan soal matematika yang sekarang tengah mereka kerjakan.
Beberapa menit yang lalu guru yang mengajar matapelajaran matematika baru saja memberi mereka tugas mengerjakan soal setelah menjelaskan tentang materi yang sedang mereka bahas.
Kini Nisa harus di pusingkan dengan soal yang menurutnya sangat rumit, serumit cinta Tina dan Pak Andika.
Nisa baru menyelesaikan lima soal dari sepuluh soal.
"Eh Yu, kamu udah dapat berapa?." Nampak Nisa sedang melihat ke arah buku tugas milik Ayu yang berada di sebelahnya memeriksa tugas milik teman sebangkunya.
Ayu sejenak menoleh ke arah Nisa." Sudah dapat enam, kalau kamu?." Tanya Ayu.
"Aku baru dapat lima, nomor enam aku nyontek punya kamu ya. Puyeng kepala ku, kayak habis minum racun semut, nggak ngerti aku sama soalnya." Keluh Nisa.
"Ya sudah ini, kalau salah jangan salahin aku. Maklum otak ku kadang oleng, habisnya terlalu ringan, nggak ada isinya." Ayu mengegeser tangan nya untuk memberi ruang agar Nisa bisa melihat tugasnya yang sudah di isi dengan otaknya yang seadanya.
"Nggak apalah yang penting otak ku nggak sampai stres mikirin jawaban dari mantan." Kekeh Nisa, dan dia mulai menyalin isi tugas punya Ayu.
Pyuuurrr.
"Aw." Keluh Nisa, karena baru saja mendapat jentikan di keningnya. Pelakunya ya tentu Ayu yang berada di sampingnya.
"Ngapain kamu bawa mantan segala, kita kan lagi belajar matematika. Kalau kamu sebut-sebut yang ada naik bahunya." Keluh Ayu napak tak terima Nisa membahas perkara mantan.
"Nggak lah, yang ada dia nya tersedak, karena disebut-sebut. Memangnya kamu punya mantan Yu, sampai-sampai kamu jeles begitu aku sebut mantan." Tanya Nisa antusias dan melupakan tugas nya yang masih banyak belum di isi begitu saja.
Ayu yang di tanya perkara mantan pun akhirnya pusing sendiri." Ya ada lah Nis." Ujar Ayu berbohong, karena sebenarnya dirinya belum pernah pacaran dan di tembak oleh laki-laki.
"Berapa." Nisa mendekatkan dirinya ke Ayu agar pembicaraan mereka tidak di dengar oleh orang lain, terutama tetangga yang biasa tebar pesona, eh salah tebar gosip maksudnya.
"Sepuluh." Ujar Ayu asal.
Nisa pun terperanga."Waw ternyata kamu banyak mantan, terus sekarang mantan-mantan mu sudah kamu kasih ke siapa saja. Siapa tau ada jodoh ku yang terselip di antara banyak nya mantan mu."
__ADS_1
Mulut Ayu pun menganga lebar mendengar penuturan Nisa barusan.
"Jangan di buka, nanti lalat masuk." Kekeh Nisa sambil membenarkan mulut Ayu yang masih terbuka.
Ayu pun tersadar." Ngawur kamu Nis, mantan aku itu jelek-jelek. Emang kamu mau?."
Nisa mencabikkan bibir." Bilang saja pelit, mana ada jelek, kalaupun jelek emangnya kamu mau. Kamu kan seleranya tinggi." Ujar Nisa sambil menyilangkan tangan nya di depan dada.
Ayu nampak berfikir." Iya juga ya Nis."
Nisa pun mendengus kesal." Terserah deh yang pelit, lebih baik aku kerjakan soal saja. Dari pada bicara dengan mu, yang ada otak ku tambah ngeheng."
Akhirnya Nisa kembali mengerjakan tugasnya yang sempat terhenti, dan Ayu pun begitu. Karena lima belas menit lagi bel istirahat akan segera di bunyikan.
*
*
*
"Alhamdulillah akhirnya kenyang juga." Kata Nisa setelah menyantap habis bekalnya yang ia bawah dari rumah.
Sebenarnya teman-temannya sempat mengajak Nisa ke kantin, namun Nisa menolak secara halus karena dirinya membawa bekal sendiri dari rumah. Demi menghemat agar ia bisa menabung uang jajan yang di berikan oleh Ibunya sebelum berangkat ke ladang. Namun ia tidak memberi tahu teman-temannya alasan mengapa dirinya sekarang memilih membawa bekal.
Teman nasi Nisa pun tidak lah mewah, hanya terdiri dari nasi, sambel tempe, dan sayur kangkung hasil Ibunya memetik di ladang.
Nisa segera membereskan kembali wadah bekalnya ke dalam tas sekolahnya. Nisa mengambil botol yang berisi air putih di bagian samping tas nya dan menegaknya hingga menyisahkan setengah.
Setelah menghabiskan bekalnya, Nisa segera beranjak menuju perpustakaan menunggu bel pelajaran di bunyikan. Karena sisa waktu istirahat masih tersisa delapan menit lagi.
"Aku baca buku apa ya?." Dengan jari di depan dagu, Nisa nampak berfikir akan membaca buku apa, karena dirinya pun bingung.
Ehheemm,,
Nisa pun menoleh ke tempat asal suara.
"Kamu nggak istirahat ke kantin?." Tanya sang lelaki.
Nisa menoleh ke kiri dan ke kanan demi memastikan bahwa lelaki yang berada di samping nya sedang berbicara dengan dirinya.
__ADS_1
"Enggak pak, saya bawa bekal sendiri dari rumah." Jawab Nisa kemudian, setelah memastikan bahwa hanya ada mereka berdua di dekat rak buku yang berada di dekat mereka.
"Oh." Hanya kata itu saja yang keluar dari mulut lelaki itu. Setelah mengatakan itu ia pun pamit untuk mencari buku yang ia cari di rak buku yang ada di sebelahnya.
Nisa pun menatap punggung lelaki itu dengan mengangkat kedua bahunya." Aneh."
Nisa pun melanjutkan mencari buku yang akan ia baca, karena pusing memilih buku apa, akhirnya Nisa memilih buku novel yang tidak terlalu tebal. Karena dirinya tidak terlalu senang membaca apalagi buku yang tebal.
Ia keperpustakaan hanya demi menghilangkan kebosanan menunggu bel di bunyikan.
*
*
*
"Nis kamu besok bawa bekal lagi nggak." Tanya Ayu setelah kembali dari kantin.
Nampak Dia dan Tina menunggu jawaban Nisa." Iya, besok aku bawa bekal lagi. Lebih hemat." Ujar Nisa.
Mereka bertiga pun manggug-manggut membenarkan." Kita rencananya juga pengen bawa Nis." Ujar Dia.
Karena mereka bertiga sudah berdiskusi di kantin, bahwa mereka besok juga akan membawa bekal seperti Nisa jika Nisa besok kebali membawa bekal.
"Bawa saja kalau kalian mau, malahan bagus. Karena aku bakalan punya teman makan di kelas. Nggak sendirian kayak nasib cinta ku, jombloooo." Cerocos Nisa.
Mendengar cerocos Nisa, mereka pun tertawa terbahak-bahak. Menertawakan nasib mereka berempat yang sama-sama jomblo.
"Eh kalian tau nggak?." Tanya Nisa ketika tawa mereka sudah reda.
"Enggakk." Jawab mereka kompak.
"Coba tebak aku tadi di perpustakaan ketemu sama siapa?." Tanya Nisa.
"Nggak tau, emangnya ketemu siapa. Artis korena?." Tanya Dia dengan antusias.
"Bukan, Aku tadi ketemu,,,." Nisa segaja mengantung ucapannya agar teman- temannya semakin penasaran.
Dan caranya itu pun berhasil, teman-temannya terlihat melongo menunggu Nisa menyebutkan bertemu dengan siapa.
__ADS_1
*******