
Tina baru saja tiba di rumah Nisa, bertepatan dengan datangnya Tika yang juga hendak ke rumah Nisa.
Kedatangan mereka pun tak luput dari pandangan Nisa yang kebetulan juga sedang duduk di teras menunggu jemputan Tina.
Nisa segera menghampiri mereka berdua yang berdiri di depan pagar rumahnya."Nis, Kamu mau kemana?." Tanya Tika Karena melihat tampilan Nisa yang sudah rapi.
"Aku mau latihan silat Tik." Nisa tersenyum kecil ke arah Tika.
"Ya, nggak jadi main dong." Ujar Tika cemberut disertai hembusan nafas panjang.
"Hhheee lain kali kan masih bisa Tik, nanti kalau Aku lagi nggak ada jadwal latihan. Aku janji bakalan ikut ngumpul lagi." Sebenarnya Nisa tak enak hati dengan Tika, tapi mau bagai mana lagi dirinya harus latihan, di tanbah ia lupa memberi tahu teman-teman lamanya jika dirinya sekarang mengikuti kegiatan ektrakulikuler di sekolah. Jadi waktu dirinya untuk berkumpul pun akan berkurang.
"Ya sudah Nis, nggak apa-apa. Lagi pula masih banyak waktu lain." Ujar Tika, dengan mata tertuju pada teman baru Nisa, yang tak lain adalah Tina.
Menyadari arah pandangan Tika, Nisa pun tersadar jika dirinya lupa memperkenalkan Tina kepada Tika." Oh iya Tik, kenalkan ini Tina. Kami satu sekolahan." Ujar Nisa memperkenalkan Tina kepada Tika.
"Hai Tina, senang bertemu dengan mu." Sapa Tika dengan senyuman manis di wajahnya.
Tina pun membalas Tika dengan senyuman tak kalah manisnya." Iya Kak Tika, Aku juga senang bertemu denganmu." Ujar Tina sopan.
"Panggil saja Aku seperti Nisa memanggilku, jangan kak." Jelas Tika.
"Memangnya kenapa, Aku lihat kakak sepertinya lebih tua dari kita berdua ?." Cicit Tina penasaran.
Tika menghembuskan nafas panjang." Panggil saja begitu, Aku tidak mau terlihat begitu tua saat dekat dengan kalian." Jelas Tika jutek.
"Baik kak, ee Tika makdusku." Ralat Tina cepat.
"Ya sudah Aku pulang dulu Nis, Tina." Ujar Tika kemudian.
"Iya Tik, maaf ya." Nisa tersenyum kecil karena merasa tak enak hati.
Tika tersenyum."Nggak apa-apa Nis, nggak usah khawatir. Biasa saja, santuy." Cicit Tika dengan mengibaskan rambutnya kebelakang.
Mereka bertiga pun tertawa.
__ADS_1
"Aku pergi ya, mau ke rumah Santi. Bye Nis, Tina." Tika berlenggang pergi meninggalkan Nisa dan Tika.
"Bye." Ujar mereka kompak.
Setelah kepergian Tika yang sudah tak terlihat mereka segera bersiap-siap untuk segera berangkat.
"Tin Aku yang nyetir ya." Pinta Nisa.
Tina mengerutkan kening."Memangnya Kamu bisa Nis, Aku belum pernah lo lihat Kamu bawa motor." Jawab Tina apa adanya, karena Nisa selalu duduk di boncengan kakaknya Arini saat berangkat sekolah maupun pulang.
"Bisalah Tin, Kamu lihat saja nanti kalau nggak percaya." Nisa menggeser Tina agar duduk di belakang, sedangkan dirinya mengambil alih kemudi roda dua milik Tina.
"Nis pelan-pelan sedikit napa, Aku belum mau mati muda." Teriak Tina dari belakang Nisa yang mengemudi dengan kencangnya.
Ya kini yang menyetir bukan lah Tina yang santuy melainkan Nisa. Nisa memang begitu kalau menyetir, ugal-ugalan seperti ada nyawa serep saja.
"Ini udah pelan Tina!." Jawab Nisa tak kalah berteriak karena amper motor bebek menunjukkan angka tujuh puluh.
Pelan katanya, ya ampun bagaimana dengan cepat yang ada di otaknya. Mungkin Aku sudah pindah rumah ke kuburan. Batin Tina.
"Siapa juga yang mau mati Tina, ini Aku udah pelan. Sudah jangan protes, yang penting kita cepat sampai. Pegangan kuat-kuat." Ujar Nisa tanpa mempedulikan detak jantung Tina yang sedari tadi sudah kembang kempis tak karuan.
Nisa menambah laju motor yang mereka tumpangi, dengan seringai tipis. Membayangkan seakan sedang berada di medan balap." Pegangan yang kuat Tin!!, Kita sedang balapan." Teriaknya namun tak mampu di dengar oleh Tina, karena indra pendengaran Tina sedang tidak berfungsi karena di terpa angin.
"Ibuuuu,, tolongin Tina. Tina belum mau ketemu malaikat izroilll. Tina belum jadi istri si ganteng ku." Teriak Tina dengan mata berair dan mulut ternganga karena di terpa angin kencang.
Wuuusss,,,
Motor yang merekka kendarai melaju begitu kencang, untung saja jalan yang mereka lewati tidak begitu banyak orang yang berlalu lalang hanya ada satu, dua kendaraan saja. Sehingga terasa aman bagi Nisa, namun tidak dengan Tina yang sudah takut luar biasa, memikirkan masa depannya yang sedang terancam.
rasa-rasanya Tina ingin muntah, isi perutnya bergejolak ingin segera di muntahkan.
"Gimana Tin, enak nga kalau Aku yang nyetir?. Keren kan!." Ujar Nisa dengan bangganya dengan kedua tangan bersedekap di depan dada. Kini mereka sudah sampai di parkiran rumah sekolah mereka.
Huuueekkk,,,
__ADS_1
Tina tidak menjawab, Tina segera turun dan mencari tempat yang aman untuk memuntahkan isi perutnya yang sudah lama ia tahan. Benar-benar terasa menyiksa.
"Kamu kenapa Tina?, Kamu masuk angin!?." Tanya Nisa khawatir dan menghampiri Tina yang sedang muntah. Nisa tidak tau padahal penyebab Tina begitu adalah dirinya sendiri.
"Nis pulang nanti Aku yang nyetir, Aku nggak kuat lama-lama di bonceng sama Kamu." Ujar Tina ketika sudah selesai mengeluarkan isi perutnya dan mengelap mulutnya dengan tisu yang ia ambil dari box depan motornya.
"Memangnya kenapa Tin?." Tanya Nisa dengan memasang wajah tanpa dosa.
"Nggak mau saja, bisa-bisa cepat nyusul nenek ku yang sudah meninggal kalau kamu yang nyetir." Tina bergidik ngeri mengingat kejadian tadi.
Nisa dan Tina melihat ke arah tempat latihan, dimana sudah banyak orang-orang yang berkumpul menunggu latihan di mulai. Lebih tepat nya menunggu sang pelatih.
"Bukannya tadi keren Tin?." Ujar Nisa mensejajarkan langkah Tina yang sudah berjalan duluan.
"Keren apanya, yang ada malah bisa bikin Aku jantungan." Cicit Tina ketus.
"Ya sudah Tin, begini saja demi kenyamanan bersama bagaimana jika pulang nanti Kamu yang nyetir. Tapi berangkat latihan berikutnya Aku lagi yang nyetir." Nisa berusaha bernego dengan Tina. Karena dirinya bosan selalu duduk di belakang tidak bisa melakukan trik apapun.
Tina membalikkan badan menghadap Nisa."Nggak mau Nisa, pokoknya Aku saja yang nyetir. Supaya jiwa raga ku Aman terkendali, Kamu tinggal duduk manis di boncengan Aku."
"Ya nggak keren dong, nggak bisa main balap-balapan." Ujar Nisa lesu.
Tina terkekeh melihat wajah lesu Nisa." Dari pada senam jantung, mending jalan dengan santai."
"Sudah jangan sedih begitu, ini demi keselamatan kita bersama. Ayo kesana Ayu dan Dia sudah nunguin kita." Ujar Tina menunjuk ke arah Ayu dan Dia yang melambaikan tangan ke arah mereka berdua.
"Iya, iya. Dasar pelit." Jawab Nisa kesal.
Tina yang sudah melangkah lebih dulu pun seketika menghentikan langkahnya." Ngomong apa Kamu tadi Nis?." Tanya Tina.
"Enggak, Kamu cantik. Tapi nggak cocok buat jadi istrinya pak Andika." Ujar Nisa ketus dan segera tancap gas meninggalkan Tina yang sudah mengeluarkan tanduknya dan siap menyerudup siapa saja.
"Dasar teman sebleng, Aku sumpahin jomblo seumur hidup baru tau rasa." Ujar Tina kesal dengan menghentakkan kakinya ke tanah.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
__ADS_1