Gadis Tomboy

Gadis Tomboy
Romadhon.


__ADS_3

Latihan pun di mulai, kini Nisa dan yang lainnya sedang di arahkan untuk menendang pecing yang di pegang oleh salah satu teman mereka.


Barisan di bagi dua, karena tidak memungkinkan jika hanya satu barisan saja. Karena anak didik nya banyak yang minat mengikuti ekstrakulikuler tersebut.


Ya mereka menedang secara giliran dengn sasaran pecing yang di pegang salah satu senior. Yang tentunya sudah terlatih dan kuda-kuda yang kuat supaya saat di tendang tidak mudah mundur atau goyah.


Romadhon, ya laki-laki itu tak hentinya mencuri pandang ke arah Nisa. Sesekali ia tersenyum manis ketika tak sengaja beradu pandangan dengan Nisa.


Nisa pun di buat tak karuan, karena selalu di perhatikan oleh salah satu laki-laki yang sedari tadi terus mencoba mendekatinya.


"Maunya apa si." Cicit Nisa kesal.


"Kenapa Nis?, kayak bete gitu." Tanya Ayu yang berada di barisan belakang Nisa.


Nisa sejenak menoleh ke belakang dan kembli meneoleh ke depan." Lihat sendiri no." Nisa menunjuk ke arah Romadhon dengan dagunya.


Ayu yang penasaran pun sontak melihat ke arah yang di tunjuk oleh Nisa."Siapa tu ganteng juga." Ujar Ayu yang langsung terpana ketika melihat ketampanan seorang Romadhon.


Alis Nisa mengkerut mendengar pujian yang keluar dari mulut Ayu." Ganteng dari hongkong."


"Kamu kenapa si Nis, cowok ganteng gitu. Memangnya kenapa, kok kayak nggak suka gitu?." Tanya Ayu.


"Nggak suka ajah, dari tadi liatin aku melulu. Aku kan nggak suka."


"Dasar aneh, di perhatiin cowok ganteng nggak mau. Kalau saja aku yang di perhatiin, akan ku sambut dengan senang hati."


Nisa memutar mata malas."Itu mah maunya kamu."


"Iddihhh, jangan salahin aku jika aku maju untuk mendapatkan hatinya. Lumayan dapat hiburan saat latihan." Ujar Ayu dengan mata terus tertuju pada Rommadhon yang tersenyum dan melambaikan tangan ke arah mereka berdua.


Sontak Ayu pun melambaikan tangan membalas sang pujaan hati.


"Kalau yang bening begini, pasti semangat aku latihan." Ujar Ayu lagi.


Mulut Nisa menganga lebar mendengar ucapan Ayu yang menurutnya agak berlebihan dalam memuji lelaki itu.


Nisa menempelkan telapak tangannya di kening Ayu." Nggak panas."


Ayu menepis tangan Nisa yang menempel indah di keningnya." Apa'an si, Aku masih sehat, yang ada kamu yang sakit. Masak iya cowok seganteng itu di abaikan." Ujar Ayu kesal.


Karena tak ingin terus berdebat masalah laki-laki, akhirnya Nisa membalikkan tubuhnya kembali ke arah depan, karena sebentar lagi giliran dirinya menendang pecing.


Dan juga dirinya tak mau Romadhon jadi besar kepala karena di debatkan oleh dirinya dan Ayu.


*


*

__ADS_1


*


"Hhuuussss, panas sekali." Dia mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajahnya.


Kini mereka tengah duduk di bawah pohon mangga rindang, yang tidak ada buahnya. Karena jika ada buahnya sudah tentu Nisa sudah naik di atasnya.


"Iya, cuaca kayak nya lagi panas-panas banget." Ujar Tina yang duduk di sebelah Ayu.


"Nggak apa-apa lah yang penting jangan hati yang panas karena melihat sang kekasih dengan yang lain." Ujar Tina ngelantur jauh.


Nisa, Ayu dan Dia kompak memutar matah jengah." Nggak bakalan, kamu kan jomblo." Ujar Nisa tanpa perasaan.


"Sekarang bener aku jomblo, tapi lihat saja nanti. Kalau aku jadian sama Pak Andika aku traktir kalian makan bakso di kantin." Bisik Tina karena tidak mau di dengar oleh orang lain yang kebetululan ada duduk di dekat mereka berempat.


Dia mencabikkan bibir." Kalau iya Tina jadian sama Pak Andika, gantian aku yang bayar kalian makan bakso sepuasnya." Ujar Dia, karena baginya tidak mungkin kalau Tina bisa jadian sama Pak Andika.


"Wwwiiiiiidiii, enak ni." Ujar Ayu dan Nisa kompak.


"Sombong amat." Jawab Tina jutek, karena iya tau kalau Dia tengah meremehkan omongannya.


"Aku doa'in ya Tin supaya kamu cepat jadian sama Pak Andika." Ujar Nisa penuh semangat.


Cepat-cepat Tina membekap mulut Nisa yang dirasanya cukup keras saat bicara." Kalau ngomong pelan-pelan nanti banyak yang dengar." Ujar Tina ketika melepas tangannya dari mulut Nisa.


Nisa tersenyum absur."Maaf, maaf khilaf." Kilah Nisa.


*


*


*


"Dek, bareng kakak yuk." Ajak Romadhon ketika hendak pulang.


Nisa memutar badan nya menghadap ke arah Romadhon." Nggak bisa kak, maaf, aku pulang bareng Tina." Tolak Nisa.


"Ya sayang banget, padahal kakak pengen kenal dekat sama kamu." Ungkap Romadhon.


"Hheeehe, maaf ya kak. Aku duluan." Ujar Nisa ketika ia melihat Tina yang sudah menuju ke arahnya.


Nisa menunggu di teras depan gerbang, saat Tina mengambil sepeda motornya yang terparkir di parkiran sekolah.


"Hay kak." Tina melambaikan tangan ke arah Romadhon ketika sampai di depan Nisa dan juga Romadhon.


Romadhon hanya menanggapi dengan senyuman kecil.


"Kita duluan kak, daa." Nisa melambaikan tangan ke arah Romadhon yang masih mematung melepas kepergian Nisa dan Tina.

__ADS_1


"Ciiiee, cieee ada yang lagi di incer ni yee." Goda Tina ketika mereka sudah melewati perkarangan sekolah mereka.


Nisa memutar mata malas."Apa'an si, biasa ajah."


"Kayak nya kakak tadi beneran naksir kamu deh Nis." Ungkap Tina." Siapa tadi nama nya." Tina mencoba mengingat-ingat nama lelaki yang di sebut Nisa saat istirahat tadi.


"Kak Romadhon." Jawab Nisa malas.


"Nah iya, kak Romadhon sampai lupa aku." Ujar Tina cengengesan." Tapi ya Nis, kalau di lihat-lihat lumayan juga, nggak jelek-jelek amat tu cowok."


"Ambil saja sana, aku nggak doyan."


Tina terperangah."Hah, nggak doyan, yang bener Nis, Kamu waras kan?." Tanya Tina tak habis fikir.


"Nggak, ambil ajah kalau mau, gratis."


Tina benar-benar tak habis fikir dengan Nisa, bisa-bisa nya cowok yang terang-terangan mendekatinya di kasih ke dia, gratis pula. Memang dia fikir barang yang bisa di beri dengan lebel GRATIS.


"Jangan-jangan kamu naksir aku lagi, idiiihh sorry ya Nis aku nggak mau. Aku masih waras." Tina bergidik ngeri.


Mata Nisa melotot, saking melototnya serasa mau keluar.


Pletakk..


"Aw, sakit tau Nis." Tina mengusap kepalanya dengan sebelah tangan kirinya karena baru saja mendapat jentikan dari Nisa.


Nisa mencabikkan bibir."Rasain, emangnya enak. Terus saja bilang aku nggak normal, gini-gini masih normal kali, masih naksir cowok. Tapi kalau modelan si Romadhon aku nggak tertarik." Jelas Nisa dengan tangan di silangkan di depan dada.


"Ya kali ajah Nis, kamu kan nggak pernah dekat sama cowok, dan lagi nggak pernah cerita tu masalah cowok pas lagi ngumpul, lah ini ada cowok ganteng yang deketin kamu malah terang-terangan nolak. Apalagi coba kalau nggak normal."


Nisa memutar mata malas." Memangnya harus cerita masalah cowok baru bisa di bilang normal, ya nggak lah. Aku malas saja kalau harus bahas masalah cowok." Terangnya.


"Terserah kamu deh Nis, nyerah aku. Aku masih sayang dengan kepala ku yang selalu jadi sasaran kekerasan kalian, terutama kamu Nis, ringan tangan banget sama teman."


"Habis nya kamu sih, ngomong sembarangan. Jadinya kan gatel pengen nabok." Ujar Nisa cekikikan.


Tina mendengus sebal." Dasar teman durhakim, sukanya main hakim sendiri."


Nisa pun berhenti cekikikan setelah mendengar nada suara Tina yang terdengar dongol." Iya deh, aku minta maaf. Lain kali akan aku ulangi."


Mata Tina seketika melotot, orang biasanya minta maaf agar tak mungulangi kesalahan lagi, namun Nisa malah sebaliknya. Meminta maaf untuk mengulangi kesalahan yang sama, entah nemu di mana Tina teman seperti seorang Nisa ini. Sungguh tak berperi kemanusiaan.


"Yang bener itu tidak akan mengulangi lagi Nisa, bukan malah mengulangi." Ralat Tina kesal.


"Oh salah ya, iya deh. Nggak akan mengulangi, tapi nggak janji." Setelah mengatakan itu Nisa kebali cekikikan.


"Terserah kamu deh Nis, pusing aku." Ujar Tina pasrah, lelah juga ternyata meladani Nisa yang bagi nya tak ada kasihannya sama teman sendiri.

__ADS_1


**********


__ADS_2