
Pagi pun kembali menyambut alam semesta, menyinari seluru isi dunia. Memberikan harapan baru bagi mereka yang tengah kembali berjuang menuju sebuah impian yang mereka harapkan.
Di depan cermin nampak seorang gadis manis yang berjiwa pemberani seperti laki-laki sedang memasang sebuah hijab berwarna putih.
Ya hari ini Nisa akan berangkat menuju sekolah seperti biasanya, tangan nya kini sudah agak mendingan dari sebelumnya. Tangan nya yang kemarin membengkak sekarang sudah mengempis dan hanya menyisahkan sedikit tonjolan saja, karena dirinya kerap di urut pada sang pengurut yang biasa mengurut di dekat rumahnya.
Sehingga tangannya lebih cepat sembuh dan tonjolannya berangsur mengempis.
"Kak ayo kita berangkat." Ajak Nisa pada sang kakak yang masih berdiri di depan cermin di dalam kamarnya.
"Iya sebentar dek, kakak lagi benerin jilbab kakak yang miring. Kamu duduk saja dulu, sebentar lagi kakak selesai." Ujar Arini yang melihat Nisa dari cermin yang berada di depannya.
Nisa pun melangkah masuk ke kamar sang kakak dan duduk di sisi ranjang sang kakak menunggu Arini selesai membenahi jilbabnya.
Setelah selsai dengan rutinitasnya Arini segera mengajak sang adik menuju teras depan untuk segera berangkat ke sekolah karena hari sudah semakin terang.
"Tangan kamu bagaiman dek, masih sakit nggak?." Tanya Arini sedikit berteriak karena mereka tengah dalam perjalan menuju sekolah dengan menaiki sepeda motor mereka.
Nisa merapatkan dirinya pada sang kakak."Masih sakit si kak, tapi udah nggak kayak kemaren lagi. Tinggal agak nyeri dikit." Jawab Nisa.
"Oh, iya dek, alhamdulillah kalau udah agak mendingan. Lain kali kamu harus hati-hati, jangan ngebut apalagi waktu menjelang magrib, bahaya." Arini mencoba kembali memberikan peringatan pada sang adik yang terkesan sering melalaikan peringatannya. Seakan acuh tak acuh.
"Iya kak, dasar bawelll." Cerca Nisa yang. berada di balik punggung sang kakak. Dirinya kerap mendapat peringatan dari sang kakak namun dirinya seakan lupa begitu saja ketika sudah berhadapan langsung dengan motor.
Terdengar helahan nafas panjang dari sang kakak." Dek bukannya kakak bawel, tapi kakak peduli sama kamu, kakak sayang sama kamu, kakak nggak mau lihat kamu terluka kayak kemarin. Apa lagi Ibu sama Bapak, emangnya kamu nggak kasihan sama Ibu dan Bapakk." Ujar sang kakak yang sudah mulai kesal dengan sang adik, yang terlihat santai terkesan tak peduli.
Nisa hanya diam tak lagi menyanggah ucapan sang kakak. Kakaknya benar selama ini dirinya seakan lupa dengan kekhawatiran kedua orangtuanya.
Tak terasa mereka pun sampai di depan gerbang sekolah Nisa, setelah berpamitan pada sang kakak Nisa segera melangkahkan kakinya ke dalam lingkungan sekolah menuju kelasnya berada.
__ADS_1
*
*
*
Sepanjang perjalanan Nisa terus memikirkan ucapan terakhir sang kakak sebelum tiba di sekolah.
"Kalau kamu nggak peduli dengan keselamatan dirimu sendiri, setidaknya fikirkan kedua orang tua kita. Mereka sedih saat orang datang kerumah dan memberi kabar bahwa kamu kecelakaan, kamu tau saat itu Ibu sampai pingsan mendegarnya. Karena mereka terlalu khawatir dan mereka peduli terhadap dirimu.
"Sekarang kamu mengatakan aku bawel, tidakkah kamu sadar kamu telah menyakiti hati kedua orang tua kita. Aku sering mengingatkanmu bukan berarti aku membenci mu tetapi aku sayang pada adik dan orang tua ku, aku tidak mau melihat mereka terluka atau pun sedih karena terus menghawatirka dirimu."
"Mulai dari sekarang berhenti lah mengebut saat berkendara dan berhati-hati lah di setiap langkahmu. Jangan hanya memikirkan kesenangan sesaat sehingga kamu lupa akan keselamatan dirimu sendiri."
Nisa hanya diam seribu bahasa mendengar setiap ucapan yang kakaknya keluarkan. Ia sadar bahwa selama ini dirinya memang kerap melupakan keselamatannya saat berkendara, tanpa ia sadari ia telah membuat kedua orangtuanya serta sang kakak cemas terhadap dirinya.
Mengingat hal itu Nisa, hati Nisa di penuhi pe yesalan. Ia selama ini selalu menganggap kedua orangtuanya tidak adil, karena orang tuanya selalu melarang dirinya menyetir, selalu saja berada duduk di belakang sang kakak.
Kini Nisa sudah sampai di depan kelasnya, ia segerah melangkahkan kakinya masuk ke dalam kelas. Dan menuju meja nya berada.
Nampak di sana Tina, Ayu dan Dia tengah mengobrol ria, sehingga kedatangan Nisa pun tak di sadari oleh mereka.
Ketika Nisa memanggil mereka barulah mereka mebalikkan badan dan melihat ke arah Nisa yang nampak murung.
"Kamu kenapa Nis, kayak ayam habis kecebur di kali. Lagi ada masalah ya?." Tanya Ayu.
Nisa mendengus kesal." Apa'an si, enak aja Aku di samain sama ayam." Wajah Nisa nampak kesal seketika hilang sudah wajah murungnya yang seperti awan mendung tadi setelah mendengar dirinya di samakan dengan ayam.
Nisa mendudukkan diri ke kursi yang biasa ia duduki dan menyimpan tas nya." Biasa aja Nis, nggak usah ngeluarin tanduk. Masih pagi juga, lagian aku cuma bercanda. Sensi amattt, lagi dapet ya." Celetuk Ayu lagi dengan berani nya sedangkan wajah Nisa sudah bertambah masam.
__ADS_1
Pletukkk
Nisa baru saja menjitak kening Ayu dengan jari nya.
Ayu menggosok kening nya yang terkena jitakan Nisa."Sakit tau Nis, kasar amat jadi cewek." Keluh Ayu, sedangkan Tina dan Dia terkikik geli melihat Nisa dan Ayu.
"Salah sendiri, orang cantik begini di sama'in sama ayam." Balas Nisa masak bodoh.
"Terserah lo deh." Ujar Ayu kemudian.
"Eh Nis, telor punya mu udah netas ya." Tanya Dia.
"Telor yang mana?, perasaan aku nggak punya telor." Jawab Nisa nggak nyambung.
Dia mencabikkan bibir." Telor yang itu noh, emang telur yang mana lagi. Telor punya si Bayu, ya nggak lah." Dia menunjuk ke arah tangan Nisa yang sudah mengempis.
Nisa pun melihat ke arah yang di tunjuk Dia."Oh tangan aku, Aku kira telor beneran. Udah agak mendingan Ia, Aku sering mintak di urut sama bibik tetangga aku yang biasa ngurut orang." Jelas Nisa.
Ayu, Dia dan Tina menganggukkan kepala." Baguslah kalau begitu, berarti kamu nggak lama lagi mulai latihan lagi, kita-kita nggak kesepin lagi." Ungkap Dia dan di angguki Tina dan Ayu.
"Sepi ya kalau nggak ada aku?." Nisa menaik turunkan alisnya.
"Sepi Nis, nggak ada mulut toa." Mendengar penuturan Dia sontak saja mata Nisa melotot tajam.
Buggghh
Nisa baru saja melakukan tindakan kekerasan lagi terhadap temannya, Nisa baru saja memukul pelan lengan Dia." Kalian tega benar samain aku sama yang nggak bagus, dasar teman durhakim kalian." Ujar Nisa kesal.
*
__ADS_1
*
*