
Plakkkk,,
"Kamu niat ngasi tau nggak si Nis, lama bener kayak nunggu antrian sembako." Ujar Ayu prustasi karena Nisa tak kunjung menyebutkan nama orang itu.
Nisa mengusap kening nya yang baru saja di pukul oleh Ayu dengan mulut komat kamit terus menggerutu." Sabar dong, aku lagi ngumpulin tenaga dulu buat mgomong." Elak Nisa.
Sedangkan Tina dan Dia menepuk jidatnya sendiri." Harus ya Nis." Ujar Dia tak percaya.
"Hooh lah, Aku mau minum dulu haus." Nisa tersenyum dalam hati, ia sengaja mengulur waktu agar teman-temannya kesal sendiri dan semakin penasaran.
Ayu yang sudah kesal akhirnya memilih membuka buku, sedangkan Dia dan Tina masih setia menunggu Nisa selesai minum.
"Sebenarnya aku tadi ketemu calon Tina di perpustakaan." Ujar Nisa setelah meletakkan kembali wadah air minumnya ke tempat semula.
"Calon apa'an?." Tanya Tina yang belum paham.
"Calon harapan semu milik Tina lah." Sambung Ayu yakin dengan tebakannya.
Tina yang mendengar celoteh Ayu pun melotot ke arah Ayu, sedangkan yang di pelototi hanya senyum-senyum tak peduli.
"Maksud mu Pak Andika Nis." Tanya Dia memastikan.
Nisa pun menganguk membenarkan."Hooh, sayang benar Tina nggak ikut. Hitung-hitung cuci mata." Kekeh Nisa kemudian.
"Kamu si nggak ngajak Aku." Tina menghembuskan nafas panjang karena melewatkan kesempatan dekat dengan sang pujaan hati.
"Ye kok nyalahin aku, kalian kan pada ke kantin." Nisa tak terima dirinya di salahkan oleh Tina karena dia merasa tak punya salah apa-apa.
"Iya juga ya." Ujar Tina kemudian.
Nisa melengos memutar mata malas.
"Terus kalian ngapain aja setelah itu?." Tanya Tina yang semakin penasaran dan juga cemburu. Seperti istilah. (Cemburu dak bekule, linjang dak tekate.). Ceburu tidak pacaran, suka tidak terucapkan. Begitulh kira-kira kata yang pas untuk Tina.
Melihat reaksi Tina, muncul ide cemerlang di otak Nisa." Tapi kamu jangan cemburu ya Tin, dan juga kamu harus siapkan mental mendengarnya."
Tina kalang kabut takut terjadi hal-hal yang tidak ia inginkan. Ia takut di tikung Nisa di saat dirinya belum memulai bahkan belum menyusun strategi untuk mendekati pak Andika.
"Iya-iya, cepetan ngomong. Udah dag dig dug ini jantung." Ujar Tina kesal, karena Nisa belum juga bicara.
"Sabar Tin, nggak sabaran bener." Umpat Nisa.
__ADS_1
"Kamu si ngomong nya bertele-tele, kayak nungguin anak ayam bertelur, lama bener." Cicit Tina lagi.
Nisa terkekeh pelen melihat muka sebel Tina."Iya deh, Aku tadi ketemu sama Pak Andika, terus pak Andika ngajak aku jalan-jalan sepulang sekolah nanti, sambil berangkat bareng ke sekolah latihan silat. Hari ini kamu berangkat latihan sendirian dulu ya tin." Ujar Nisa tegas, sedangkan di dalam hati ia sedang tertawa terbahak-bahak melihat wajah tak percaya Tina.
"Serius Nis?." Tanya Dia.
"Masak si Nis." Kedua alis Ayu nampak berkerut mendengar perkataan Nisa." Kalau iya, berarti Tina ketikung dong." Ayu tersenyum mengejek.
Tambah panas saja Tina di buatnya, melow sudah perasaanya, kalah sebelum berjuang. Itu lah kira-kira pepatah yang pas untuk dirinya saat ini.
"Tega bener kamu Nis, udah tau Aku naksir pak Andika. Terus kamu jawab apa?, kamu terima begitu saja ajakan pak Andika?." Ujar Tina dengan wajah yang nampak penuh dengan awan hitam.
"Iya Nis, kamu jawab apa?." Ayu juga nampak antusias menunggu jawaban Nisa.
"Iya Aku terima dong, masak iya nggak di terima. Di bonceng guru ganteng, gratis lagi." Jawab Nisa yakin.
"Hiks,, Hiks,,,. Tega bener kamu Nis. Sakit hati ku." Tina nampak mengeluarkan cairan di hidungnya dan menariknya.
Srooottt!!!!
"Uwek jorok banget kamu Tin." Ayu mual melihat Tina yang kembali menghirup lendir hingusnya.
"Kamu nikung Aku Nis, jangan pak Andika lah Nis, cari ajah yang lain. Pak Mukhlis misalnya." Ujar Tina penuh solusi.
Nisa geleng-geleng kepala."Idihhh main jodoin saja, nggak mau ah, lagian memangnya Pak Mukhlis mau sama aku, yang ada jantungnya nggak bakalan kuat kalau dekat sama Aku, habisnya dapat gadis cantik dan imut kayak aku." Ujar Nisa membanggakan dirinya sendiri.
"Hhhaahaha, kamu ini Nis, ada-ada saja. Terlalu percaya diri, yang ada ni pak Mukhlis setres berhadapan dengan wanita seperti mu." Cicit Dia dan di sambut gelak tawa Ayu dan Tina.
Sedangkan Tina memasang wajah dongkol namun selanjutnya ia ikut tertawa.
*
*
*
"Tin, nanti jemput Aku ya." Nisa mensejajarkan langkahnya dengan langkah kaki Tina yang sudah lebih dulu keluar kelas.
Bel pulang sudah di bunyikan beberapa menit yang lalu. Kini banyak siswa siswi yang berbondong keluar pagar kembali ke rumah masing-masing.
Alis Tina mengkerut membentuk bujur panah." Lah tadi katanya bareng Pak Andika, nggak jadi?." Tina nampak penasaran mengapa Nisa meminta dirinya menjemput, padahal tadi dengan lantang ia menyebut bahwa dirinya akan di jemput pak Andika.
__ADS_1
"Suuiitt, kecilin suara kamu Tin. Nggak usah teriak-teriak, nggak ada maling." Nisa membekap mulut Tina dengan telapak tangannya.
"Apa'an sih Nis, bauk tau tangan kamu." Tina menghempaskan tangan Nisa yang menempel di mulutnya.
Nisa cengengesan dan mencoba mencium tangannya sendiri." Masak si Tin, tapi ia deh aku tadi habis garuk-garuk ketek, gatel." Ujar Nisa dengan tampang tanpa dosa.
Mata Tina melotot hendak keluar dari sarangnya." Yang bener kamu Nis, uweekkk, jorok amat.Iiiiiii." Tina mengesek-gesek mulutnya di baju seragam Nisa.
"Bisa kena bisul besar bibirku Nis,, kurang ajar!!!, jangan lari kamu." Teriak Tina kesal dan segera menyusul Nisa yang sudah duluan ngacir.
Tina tak mau kalah, ia berlari sekuat tenaga mengejar Nisa yang berlari cepat menghindar dari kejaran Tina.
Mereka berdua pun jadi sorotan banyak pasang mata, karena masih banyak siswa siswi yang belum keluar gerbang.
Nisa sejenak berhenti berlari."Wek, sini Tin kejar Aku." Nisa menunjukkan ****** serta menjulurkan lidahnya ke arah Tina yang masih mengejarnya.
"Kurang asam, awas kamu Nis. Akan ku balas nanti." Tina kembali mengejar Nisa yang sudah semakin jauh.
Buukkkkk,,,
"Aw,,." Tina baru saja terjatuh, karena kurang berhati-hati saat berlari, sehingga kakinya tidak sengaja tersandung batu yang tergeletak diam di tempat.
"Dasar batu sialan, tidak lihat apa, ada princes cantik mau lewat. Pakai acara makal di sana pula, jadinya sakit kaki ku." Tina terus saja memaki batu yang sedari tadi hanya diam, seakan sedang bertanya di mana letak kesalahannya, sedangkan dirinya hanya diam duduk manis di tempat. Bahkan tidak bisa bergerak jika tidak di tendang oleh Tina.
"Awas kamu Nisa, tanggung jawab karena bau ketek sialanmu, membuat ku sial, terjatuh sendirian. Bahkan tidak ada sang pangeran yang mengurlurkan tangan untuk membantuku berdiri." Ujar Tina penuh drama berharap ada sesosok tangan kekar yang membantunya berdiri, namun apalah daya hanya impian yang tak kunjung tersampaikan.
"Malangnya nasibmu Tin, udah makan bau ketek, jatuh di lautan paling dalam lagi."
Aku terjatuh dan tak bisa bangkit lagi..
Aku tenggelam dalam lautan luka dalam..
Aku tersesat dan tak tau arah jalan pulang..
Aku tanpa mu butiran debu...
Tina sedang asik dengan nyanyiannya, sedangkan Nisa sudah lebih dulu pulang karena Tina tak kunjung menunjukkan batang hidungnya, karena tak mau kakaknya terlalu lama menunggu, akhirnya Nisa putuskan pulang lebih dulu tanpa menunggu Tina untuk meminta maaf.
Ya karena nanti mereka juga bakalan bertemu lagi, saat latihan silat.
*********
__ADS_1